Verga Marchetti menyetujui pilihan ayahnya untuk menikahi putri salah satu relasi mereka. Belinda Antolini yang cantik, pendiam dan penurut. Namun di malam pernikahan, Verga menyadari istri barunya tidaklah sediam yang ia kira. Gadis itu penuh rasa ingin tahu, punya gairah yang besar, juga menikmati aktifitas pengantin baru sepenuh hati.
Kegembiraan dan kebahagiaan Verga tidak bertahan lama, karena keesokan hari ketika ia membuka mata, istrinya sudah pergi. Meninggalkan dirinya, juga pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Chasing Vito
Juan yang baru saja datang ke kamar hotel Verga berdiri diam menunggu ketika melihat tuannya masih bicara dengan seseorang dari ponsel.
Verga menunjuk sofa di dekatnya, kode agar Juan duduk. Asistennya itu segera menuruti perintah. Duduk menunggu tuannya selesai bicara.
Setelah beberapa menit kemudian, Verga menutup telepon. Juan bisa menebak siapa yang menelepon, karena duduk di dekat Verga, ia mau tidak mau mendengar jelas pembicaraan itu.
"Ayah bertanya kapan kami akan pulang ...," ucap Verga tanpa ditanya.
Juan tidak menjawab. Ia tahu tuannya menjawab apa pada tuan Verone saat ditelepon tadi. Tuannya mengatakan belum puas menikmati masa bulan madu. Jawaban yang pastinya membuat tuan Verone maklum dan tidak lagi menyuruh pasangan pengantin baru itu untuk cepat pulang.
"Dia mau bicara pada Belinda ... untung saja ia percaya ketika kukatakan Bel sedang ada di ruang gym. Pagi begini menantunya sedang berolahraga. Ck! Aku diburu waktu! Black tidak juga memberi kabar baik."
"Ah, bicara tentang tuan Black, saya kemari menyampaikan informasi tentangnya, Tuan," ucap Juan.
"Ada apa?'
"Dari seorang staf yang berhasil kita suruh untuk melaporkan kegiatan tuan Benjamin di hotel tempatnya menginap, saya mendapat informasi kalau Tuan Benjamin pagi ini sudah meninggalkan hotel, menggunakan helikopter dari landasan helipad di bagian atas gedung."
Verga menyipitkan matanya memandang Juan. "Kau tahu kemana tujuannya?"
Juan menggelengkan kepala. "Staf tersebut hanya tahu sebatas itu, Tuan."
Verga mengangguk-anggukkan kepala sambil berpikir. "Tadi malam dia bilang akan menemui Siena. Pelayan pribadi Belinda. Jika ia pergi untuk bertemu wanita itu, maka tujuannya adalah kediaman keluarga Antolini."
"Kediaman yang mana, Tuan? Mansion Tuan Belardo atau Mansion Nyonya Belinda di pulau ladang jagung?"
"Itu tugasmu berikutnya, Juan. Cari tahu Benjamin pergi ke mansion yang mana. Secepatnya."
Juan mengangguk, langsung berdiri dan berpamitan. "Itu tidak sulit, Tuan. Saya akan mengabari Anda secepatnya."
Verga menaikkan kedua alisnya. "Bagaimana caranya kau mencari tahu?" tanya Verga penasaran.
Juan menghentikan langkah. Berdiri menghadap tuannya dengan sebuah senyum simpul.
"Saya sudah berteman baik dengan Alana. Saya tahu pertemanan ini akan berguna suatu hari nanti," ucap Juan.
"Alana? Adik tiri Bel?"
Juan mengangguk. "Gadis itu tinggal di kediaman Tuan Belardo Antolini. Saya yakin dia dengan senang hati memberitahu kepada kita bila Tuan Benjamin pergi mengunjungi mansion ayahnya itu."
Verga mengangguk puas. "Jangan sampai Ben tahu kita mencarinya."
"Tidak akan, Tuan."
**********
Sebuah heli mendarat di samping mansion milik ibu Belinda. Siena sudah menunggu di pinggir landasan bersama seorang pria pekerja ladang.
Benjamin membenarkan letak kacamata hitamnya. Bergerak turun dari helikopter dan langsung merapikan jasnya sebelum berjalan mendekat ke arah Siena dan pria tadi.
"Dia ada di ladang?" tanya Benjamin.
Siena menganggukkan kepala. "Ya, Tuan. Ini Roberto. Dia akan membawa Anda ke tempat Vito."
Benjamin menganggukkan kepala. Ia menoleh dan memberi tanda dengan jarinya kepada pilot yang masih menunggu, lalu pergi bersama Roberto dan Siena menuju sebuah Land Rover yang sudah terparkir di dekat mansion.
Benjamin memandang berkeliling wilayah tersebut. Menyadari mereka melewati beberapa rumah penduduk, lalu mulai memasuki wilayah perkebunan jagung yang sudah tiba masa panen.
Setelah berkendara lebih kurang dua puluh menit, Roberto akhirnya menghentikan mobil di dekat sebidang tanah lapang yang lumayan luas. Siena yang duduk di belakang turun lebih dulu. Wanita itu menyipitkan mata, memandang ke arah beberapa orang yang sedang sibuk bekerja.
"Tessa!" panggil Siena sambil melambai.
Seorang gadis remaja langsung berjalan cepat mendekati Siena.
"Mam ...," sapa gadis itu.
"Dimana ibumu?"
Tessa langsung mengangkat sedikit ujung topinya, ia memandang di antara orang-orang yang sibuk bekerja mencari sang ibu.
Di kejauhan, di belakang punggung seorang wanita yang bertubuh agak subur, Vito Linardy sedang berdecak dan mengumpat berulang kali.
"Ck! Siall! Sialann! " desis Vito.
"Apa yang ... hentikan umpatanmu, Vito!"
Nyonya Linardy baru saja hendak berbalik, bermaksud mencubit putranya yang baru saja mengumpat ketika merasakan kedua bahunya ditahan dari belakang.
"Tidak ibu! Jangan berbalik. Ibu tetaplah berdiri di sini, tutupi aku," ucap Vito sambil membungkuk di belakang punggung ibunya.
Nyonya Linardy mengernyit kebingungan. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Ibu ... mmm ... aku sakit perut. Aku perlu ke toilet. Aku pergi sebentar, Bu."
Nyonya Linardy kemudian menoleh ke belakang ketika merasakan Vito mulai bergerak menjauh.
Vito berjalan cepat sambil menekan topi lebarnya semakin dalam ke kepala. Ia melewati beberapa pria, makin lama melangkah semakin cepat, hingga terlihat seperti berlari.
Benjamin yang telah turun dari Land Rover melihat ketika telunjuk Tessa mengarah pada seorang wanita di kejauhan. Ia menyipit ketika melihat ada seorang pria yang berjalan cepat di belakang wanita tersebut, makin lama makin cepat menuju ke arah pohon-pohon jagung yang masih belum dipanen.
Mengikuti instingnya Benjamin langsung berlari mengejar. Pria tersebut sempat menoleh ke arah belakang, tampak terkejut melihat sosok Ben yang mengejar, membuatnya makin kencang berlari ke arah ladang jagung.
"Berhenti, Vito!" teriakan Benjamin menggema dan menggelegar. Semua orang berdiri terpaku di tempatnya kecuali Siena dan Roberto. Dua orang itu ikut berlari di belakang Benjamin.
"Vito! Aku hanya ingin bicara!" teriak Benjamin lagi. Ia berlari di antara para penduduk yang menatap terpana, baru menyadari kalau pria tampan berpakaian rapi dengan jas dan sepatu mengkilat yang berlari di lapangan tersebut adalah tuan mereka.
"Astaga, apa yang telah dilakukan oleh Vito, sehingga Tuan Antolini mengejarnya," ucap seorang wanita dengan pandangan khawatir ke arah ujung-ujung pohon jagung yang telah mengering. Ujung pohon bergerak dan bergoyang tanda ada orang yang bergerak diantara pohon-pohon itu.
"Sesuatu yang buruk pastinya ... kalau tidak, ia tidak akan datang kemari langsung," celetuk seorang pria.
"Kau benar. Dia sampai mendatangi langsung tempat ini, pasti masalahnya sangat besar. Kau membuat masalah apa sebenarnya Vito?" pertanyaan yang memantul di setiap tatapan para penduduk yang memicingkan mata menatap ke arah ladang.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
jangan lupa ramein Give Away dari Belinda yuk.
dukung author dengan tekan like, love, bintang lima, vote dan komentar ya.
follow ig author @dianaz3348
fb Dianaz
Terimakasih semuanya.
Salam. DIANAZ
suka sekali gaya tulisan kak Di, enak dibaca, detail seolah kita melihat bukan membayangkan ❤️❤️❤️❤️❤️
terima kasih ya kak , ditunggu karya2 selanjutnya 😍😍😍😍