Kehidupan yang enggan berpihak? atau pernikahannya yang salah? apakah takdir lebih senang mempermainkan hidupku? atau memang tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang tersisa untukku?
Saat aku mulai membuka hati.
Saat aku mulai jatuh cinta padanya.
Dia mengkhianati dan mencampakkanku seperti barang usang dan pergi dengan wanita lain.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk simak. jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di laporkan
Satu minggu setelah pertengkaran. Al masih penasaran dengan hubungan Marisa dan Samudra. Kebetulan Samudra dan Barra tengah berada di Bandung, sementara Raditya tidak ikut ke Bandung karena harus mengembangkan kafenya yang masih terbilang baru.
Diam diam Aleah mendatangi rumah Marisa lagi. Namun sayang sekali, pemilik rumah tersebut mengatakan kalau Marisa sudah tidak tinggal di rumah itu lagi sejak lima hari yang lalu.
Al pulang ke rumah dengan perasaan kecewa karena tidak dapat menemui Marisa lagi. Kemudian Al menghubungi Barra untuk mengintai kemanapun Samudra pergi, dan Barra menyanggupi permintaan Al tanpa ada bantahan.
"Jika mereka tertangkap basah selingkuh, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mereka," gumam Al pelan.
Setelah itu Al memutuskan untuk pergi ke pasar tradisional membeli cabai rawit dua kilo yang nantinya akan di tumbuk halus menggunakan blender.
Tanpa buang buang waktu lagi, saat itu juga Al pergi ke pasar dan membeli cabai rawit. Setelah selesai, ia pergi ke kafe Raditya. Kebetulan di kafe ada Hasby dan Dion tengah berbincang bincang dengan Raditya.
"Duduk Al, kau mau kopi?" tawar Raditya.
"Iya boleh!" sahut Al, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Hasby dan Dion.
Sementara Raditya mengambilakn secangkir kopi panas untuk Al. Tak lama kemudian Raditya kembali dan meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Kau dari mana Al?" tanya Dion.
Namun Al tidak menjawab pertanyaan Dion. Al sibuk berkirim pesan dengan Alya.
"Al!" panggil Hasby dengan nada tinggi.
Al mengangkat wajahnya menatap Hasby dan yang lain. "Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Al.
"Aku tadi bertanya, kau dari mana?" tanya Dion pelan mengulang pertanyaannya.
"Bukan urusanmu!" sahut Al kesal.
"Di tanya baik baik, jawabnya malah ketus!" timpal Hasby menatap jengah Aleah.
"Kalian bisa diam tidak?!" Al menggebrak meja lalu berdiri, memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. "Kalian bikin mood ku hancur!" Setelah bicara seperti itu, Al meraih kantong plastik berisi cabai di atas meja lalu beranjak pergi.
"Dia kenapa?" tanya Dion kepada Raditya.
"Dia bertengkar dengan abang gue," ungkap Raditya lalu menceritakan inti permasalahannya.
"Al.." ucap Dion lalu beranjak dari kursi, berlari keluar menyusul Aleah.
"Al!!" panggil Dion.
Al menoleh ke arah Dion. "Ada apa lagi?" tanya Al malas.
"Apakah kau baik baik saja?" tanya Dion. "Kalau kau butuh teman bicara, aku siap mendengarkan apapun yang ingin kau katakan."
"Apa aku terlihat tidak baik baik saja?" Al tersenyum menyeringai. "Lihat, aku baik baik saja bukan?"
Dion tertawa kecil melihat Al tersenyum yang di paksakan. "Ya, kau baik baik saja, bahkan sangat baik."
"ya sudah!" sahut Al, lalu balik badan.
"Mau kemana Al?" tanya Dion.
"Pulang!" sahut Al tanpa menoleh lagi lalu menyebrang jalan.
"Al, aku tahu kau tidak baik baik saja," ucap Dion pelan. "Tuhan, jagakan Al untukku. Dia yang selalu aku cintai meski kutahu dia tak sempurna."
****
Sudah hampir satu minggu Al menunggu kabar dari Barra. Setiap hari, setiap menit Al menjadi tidak tenang sebelum menangkap basah perselingkuhan Marisa dan Samudra.
Hingga di suatu malam, ponsel milik Al berdering. Dengan sigap Al mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Barra!" Seru Al senang, lalu ia menggeser icon berwarna hijau. Terdengar suara Barra di telepon yang mengabari kalau tempat tinggal Marisa sudah di ketahui dan kebetulan sekali, malam ini Samudra ada di rumah Marisa di Bandung.
"Kau tunggu di situ, aku dan Raditya akan segera ke sana sekarang juga." Setelah bicara seperti itu, Al mematikan ponselnya lalu ia letakkan di atas meja. Kemudian Al mulai menjalankan rencananya. Cabai yang ia beli sekitar dua kilo, sebagian ia blender sampai halus lalu di campur dengan air. Setelah itu ia masukkan ke dalam kotak berukuran besar, di tutupnya rapat rapat kotak itu.
"Radit!" panggil Al.
"Ada apa Al?" tanya Raditya dari arah pintu.
"Kita ke Bandung sekarang!" perintah Al.
"Ke Bandung?" tanya Raditya mengulang.
"Nanti aku cerita di jalan, ayo ikut!" Al menarik tangan Raditya keluar dari rumah.
"Mang Udin, ayo antarkan kami ke Bandung sekarang juga!" perintah Al.
"Baik Neng!" sahut Udin lalu masuk ke dalam mobil, setelah Al dan Raditya masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan, Al menceritakan semuanya kepada Raditya.
Tak terasa, kurang dari dua jam perjalanan Jakarta Bandung. Mereka telah sampai di lokasi yang di katakan Barra. Udin menepikan mobilnya di tepi jalan raya, kemudian Raditya menghubungi Barra dan memberitahu kalau mereka telah sampai.
Raditya dan Aleah keluar dari pintu mobil, di sambut oleh Barra yang sudah sejak dari pagi berada di lokasi tersebut.
"Kau yakin? ini rumahnya?" tanya Raditya.
"Aku mengintai sudah sejak pagi, tidak mungkin aku salah. Jelas jelas abang berada di rumah itu, aku tahu semuanya." Jelas Barra. "Al, aku harap kau tenang."
Al mengangguk, ia enggan bicara apa apa lagi. Dadanya serasa panas terbakar, napasnya naik turun menahan gejolak amarah.
"Ayo kita ke sana!"
Al berjalan mendahului Raditya dan Barra, di tangannya menenteng kotak berisi cabai halus. Tepat di depan kontrakan yang berjajar rapi, Barra menunjuk salah satu kontrakan yang paling tengah. Al mengangguk lalu berjalan mendekati pintu di ikuti Raditya dan Barra.
Perlahan Al mengetuk pintu berkali kali, hingga terdengar suara menyahut dari dalam, suara langkah kaki lalu pintu di buka lebar lebar. Nampak Marisa hanya menggunakan kain untuk menutupi tubuhnya. Dada Al semakin panas dan gejolak amarahnya tak dapat ia bendung lagi.
"Wanita sialan! di mana suamiku!!" teriak Al kencang, lalu mendorong tubuh Marisa hingga mundur ke belakang.
"Kau tidak perlu berteriak, suamimu memang sedang bersamaku!" sahut Marisa tanpa ada lagi yang ia sembunyikan.
"Plakkk!!" satu tamparan keras mendarat di pipi Marisa hingga tersungkur.
"Aaaaww!" erang Marisa memegang perutnya.
Samudra yang berada di kamar langsung keluar menghampiri Marisa yang tersungkur di labtai.
"Kau tidak apa apa?" tanya Samudra.
"Bagus sekali kau ya!!" pekik Al, lalu membuka kotak yang berisi cabai. Kemudian ia siramkan ke kepala Samudra dan Marisa
"Al, jangan!!" cegah Barra dan Raditya menghampiri Al lalu menarik tangannya mundur ke belakang.
"Huaaaaaa!!!!" teriak Marisa menutupi wajahnya, sementara Samudra berlari ke kamar mandi membasuh wajahnya dengan air, lalu membawakan air satu ember. Kemudian ia siramkan ke tubuh Marisa hingga air cabai di wajah Marisa kembali bersih. Namun rasa perih dan panas di mata Marisa membuat wanita itu berteriak histeris hingga mengundang perhatian tetangga kontrakan dan pak Sardim selaku ketua rt yang kebetulan pemilik kontrakan itu.
"Ada keributan apa ini??!!" tanya pak Sardim bersama beberapa penghuni kontrakan.
"Pak tenang, bisa kami jelaskan," ucap Barra dan Raditya.
"Mereka menganiaya saya Pak!!" jerit Marisa mengadu kepada pak Sardim.
Sardim memperhatikan air cabai yang bercanpur air di atas lantai, dan di tubuh Samudra dan Marisa, membuat pria itu percaya kalau Aleah sudah menganiaya Marisa. Di tambah lagi barang bukti kotak di tangan Al.
Tanpa pikir panjang, pak Sardim melapor kepada pihak berwajib telah terjadi penganiayaan di kontrakan miliknya.
Al, Raditya dan Barra di tahan oleh penghuni kontrakan tersebut sampai Polisi datang. Tak lama kemudian dua anggota polisi datang, dan memeriksa semuanya.
selamat buat dion dan al...
brasa masih gantung thor..
ditunggu undangannya bwt raka sm barra ya