TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itulah Kenyataannya
"Aku harus melihatnya!"
Tak ada jalan lain. Kegamangan itu sedari tadi mengusiknya. Pikiran akan Kinara dan keadaannya seakan memukulinya bertubi–tubi. Vino memilih untuk melihat rekaman CCTV yang ada di dalam kamarnya.
Ia mengotak–atik ponselnya itu, mencari rekaman video pada malam itu. CCTV itu telah dihubungkan dengan ponselnya.
"Ini dia," gumamnya. Rekaman CCTV pada hari itu telah ia temukan. Terselip rasa takut saat ia ingin menyentuh gambar play yang tertera di layar itu. Ia takut apa yang ia percayai selama ini keliru.
Rekaman itu perlahan mulai di putar, Vino melihat rekaman itu dengan saksama. Video itu diputar mulai dari Vino yang dipapah masuk oleh Kinara dan mereka terjatuh bersamaan di atas ranjang. Dan begitulah, akhirnya malam panjang itu pun terjadi. Ia menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Napas Vino tak beraturan. Vino meletakkan ponselnya. Ia menjambak rambutnya sendiri cukup keras, berharap apa yang ia lakukan itu hanya sebuah film yang diputar sebagai hiburan. Namun sayang. Itulah kenyataannya.
**********
"Apakah aku harus membukanya, atau sebaliknya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Kinara masih gamang akan hal itu. Ia tak tau akan apa yang harus ia lakukan. Satu sisi ia ingin bebas keluar dari tempat itu dan pergi bersama Gio. Namun di sisi lain, ia takut dengan ancaman itu.
"Aku harus melakukan ini."
Pada akhirnya Kinara pun memilih untuk membuka pintu itu. Ia yakin dan berharap Gio mampu melindunginya.
"Ada Kak Gio Kinara. Ada Kak Gio."
Kinara bergumam meyakinkan dirinya. Tangannya membuka pintu itu perlahan. Sayup–sayup ia mendengar suara kegaduhan dari luar.
"Suara apa itu?" gumamnya lirih sembari terus membuka pintu apartemen itu. Dan dia disuguhi oleh pemandangan dua pria yang tengah beradu mulut di sana ketika pintu telah terbuka sempurna. Kemunculannya semakin memperkeruh perdebatan di antara dua kakak beradik itu.
Vino menatap Kinara penuh ancaman. Catatan yang ia tinggalkan sebelum berangkat tadi telah dilanggar oleh Kinara. Kinara menunduk takut. Ia menyembunyikan diri dari tatapan Vino yang begitu membunuh.
"Hahahaha! Benar kan? Kau menyembunyikan dia di sini!" ucap Gio. Kedua tangannya memegang pinggangnya.
"Ayo Kinara ikut kakak!" ajak Gio. Namun ia tertahan. Karena Vino terlebih dahulu menarik Kinara dalam dekapannya. Kinara ketakutan bukan main. Dekapan Vino memang hangat namun terasa mencekam. Bahkan untuk sekadar bernapas saja ia kesulitan.
"Biarkan Kina bersamaku Vino!"
"Tidak! Tidak akan aku biarkan kau membawanya bersamamu!"
"Apa kau tak tahu? Dia sangat ketakutan bersamamu!"
Vino menatap wajah Kinara sementara. Kinara sangat ketakutan jika Vino berbuat seenak hatinya sendiri.
"Tidak. Dia tidak takut!" elak Vino. "Benar kan Kinara?" ucap Vino lembut namun tersirat ancaman yang bisa kapan saja terwujud.
"I–Iya Kak. Aku akan bersama dengan Kak Vino. Ka–kakak pulang saja dulu." Kinara mengucapkannya terbata. Bukan keinginan hatinya ia mengatakan itu, namun karena ingin menyelamatkan diri dari ancaman seorang Vino.
"Dengar kan keputusannya?!"
Senyum sinis penuh kemenangan terukir jelas di wajah Vino. Kinara ada dalam genggamannya.
Gio mengerang frustasi. Ia menatap Vino nyalang. Vino membalas tatapan itu tak kalah sengit pula.
Rahang Gio mengeras, tangannya pun telah mengepal sempurna, begitu erat. Tak tahan dengan semuanya ini, Gio menggerakkan tangannya itu ke udara, melayangkan sebuah tinju ke arah Vino.
"STOP KAK!"
Kinara berdiri menghalangi baku hantam antar dua kakak beradik itu, berharap Gio menghentikan niatnya. Dan benar saja. Layangan tinju itu tertahan tepat di depan wajah Kinara. Kinara memejamkan matanya, pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Arrgghh! Kenapa kau halangi kakak Kinara? Kenapa?! Biarkan kakak menghajar badjingan itu!" erang Gio frustasi.
"Kinara bukan barang untuk diperebutkan. Kenapa kalian lakukan ini padaku?" ucapnya dengan air mata yang mulai meleleh.
Sementara Vino hanya tersenyum sinis melihat live movie di depannya itu.
Hingga sebuah dering panggilan masuk terdengar dari ponsel Gio. Gio mengangkat panggilan itu.
"Baiklah! Aku akan segera ke sana!"
Wajah Gio nampak khawatir. Hal itu membuat Kinara dan juga Vino bertanya–tanya.