Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.
Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.
Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Baru
Cahaya berwarna hitam dari tangan Adipati Renggana bertabrakan di udara dengan cahaya berwarna ungu dari Barnawi.
Wuss. . .
Duar. . .
"Akkkhh. . ."
Dua sosok terpental cukup jauh.
Ki Barnawi jatuh menyentuh tanah dalam posisi terduduk. Argadana dan Ningrum segera berlari menghampiri Ki Barnawi untuk menolongnya, tetapi Ki Barnawi mengangkat tangannya memberi isyarat agar mereka berdua tidak mendekat. Dia lalu memuntahkan darah hitam karena pengaruh racun dari pukulan yang dilepaskan Adipati Renggana. Ki Barnawi tidak menunggu lama segera bersamadhi mengatur pernafasannya dan berusaha mengeluarkan racun yang memasuki tubuhnya dengan tenaga dalam. Argadana dan Ningrum berjaga di sisi orang tua itu.
Setelah menghabiskan waktu sekitar sepenanakan nasi bersamadhi, Ki Barnawi membuka matanya dan kemudian memuntahkan darah lagi. Tetapi kali ini darah yang dimuntahkan lebih pekat dari yang pertama tadi. Terlihat asap berbau amis mengepul dari darah hitam yang dimuntahkan Ki Barnawi. Pendekar tua berjuluk si Tangan Seribu itu akhirnya pingsan setelah mengeluarkan seluruh racun di tubuhnya.
Bagaimana dengan Adipati Renggana?
Saat benturan tenaga dalam terjadi tubuhnya melayang deras dan baru berhenti setelah menubruk tiang gapura tempat kediamannya sampai berantakan. Ketika itu tulang rusuknya patah dan patahan tulang rusuknya itu melesak masuk menusuk jantungnya hingga tokoh tua aliran sesat itu tewas saat itu juga.
"Kakek tidak apa - apa? Sini biar saya bantu memapah kakek" kata Argadana menawarkan bantuan.
"Emm. . . Sudah, sudah. Aku sudah baikan, terimakasih sudah mau menawarkan bantuan anak muda" kata Barnawi tersenyum.
"Si bajingan itu tenaga setelah dalamnya bertambah dia jadi kuat sekali. Dadaku rasanya hampir jebol gara - gara pukulan beracunnya" keluh Ki Barnawi namun tetap dalam keadaan tersenyum
"Nah, anak muda. Urusanku di sini telah selesai, mau kalian apakan mayat para bajingan itu?" tanya Ki Barnawi
Ningrum dengan cepat menjawab sebelum Argadana sempat berbicara.
"Mayat - mayat mereka akan kami bawa ke Kerajaan Sampang Daru, kakek. Untuk memberi laporan pada kerajaan tentang kejadian hari ini dan agar pihak kerajaan dapat bertindak sesegera mungkin kalau - kalau masih ada sisa komplotan orang ini yang menyusup di dalam istana"
Argadana hanya menggeleng pelan ketika Ningrum mendahuluinya berbicara.
"Baiklah, kakek. Kami mungkin tidak bisa berlama - lama di sini. Kami harus melanjutkan perjalanan kami. Nama saya Argadana dan ini adik seperguruan saya, Ningrum. Semoga di lain hari kita dapat bertemu kembali dalam suasana yang lain juga" kata Argadana sambil menjura memberi hormat yang diikuti oleh Ningrum.
Keesokan harinya setelah Adipati Renggana dan sepuluh pembantunya dikumpulkan dalam satu gerobak, Argadana dan Ningrum pergi meninggalkan Kadipaten Suwela dengan membawa serta Danuswara sebagai tawanan dan ditemani sejumlah warga di kadipaten itu untuk dijadikan saksi atas pelanggaran yang dilakukan sang adipati.
***
"Kakang, kita akan berpisah di persimpangan jalan di depan sana" kata Ningrum lirih. Dalam ucapannya tadi terkandung kesedihan. Gadis itu sesungguhnya merasa berat untuk berpisah dengan Argadana, tetapi karena ingin segera pulang dan menghadap ayah dan ibunya di kerajaan dia memaksakan diri untuk menekan keinginannya untuk bersama Argadana.
Argadana pun demikian merasa berat, tetapi dia memiliki rencana tersendiri untuk Ningrum.
"Kita pasti bertemu kembali, dinda" kata Argadana singkat.
"Kapan saat itu akan tiba, kakang? Berapa lama aku akan menunggumu?" Ningrum tertunduk dan tanpa terasa air mata mengalir di pipi ranumnya.
"Tidak akan lama, dinda. Aku akan menemuimu pada perayaan hari ulang tahunmu"
"Benarkah, kakang?"
"Yah. . . Tidak lama, bukan?"
Argadana tersenyum meneduhkan. Tatapan keduanya saling bertemu, debaran keras di hati keduanya kembali hadir. Entah disadari atau tidak oleh keduanya, kedua bibir mereka bertemu.
Cukup lama adegan mesra keduanya berlangsung sampai Argadana menarik diri ketika menyadari baju Ningrum sudah tidak karuan bentuknya.
"Kenapa, kakang?" tanya Ningrum terengah - engah.
"Kita akan terjerumus jika diteruskan lebih lama lagi, dinda" kata Argadana mengingatkan.
"Ak. . . Aku rela jika dengan ini aku mendapatkan cintamu, kanda"
"Aku dengan setulus hati mencintaimu, dinda. Tetapi lebih dari itu, aku juga menghormatimu"
Ningrum tersenyum mendengar pengakuan Argadana itu.
"Ta. . . Tapi...."
Ningrum ingin mengatakan sesuatu namun segera dipotong oleh Argadana.
"Tidak ada tapi, dinda. Guru pernah berkata bahwa cinta itu suci. Jadi jangan pernah kita menodainya dengan nafsu belaka" kata Argadana seraya meraih tubuh Ningrum yang segera saja membenamkan kepalanya di dada bidang Argadana.
Beberapa saat kemudian Ningrum melepaskan pelukan Argadana dan menatap mata kekasihnya itu dalam - dalam.
"Kakang, apakah kakang tidak menghendaki diriku?" tanya Ningrum yang sudah pasrah andaikan Argadana menginginkan dirinya saat itu juga.
"Hanya Allah yang tahu betapa aku menghendaki hal itu, dinda. Tapi tentu saja tidak dengan merendahkan martabatmu sebagai seorang wanita"
Argadana membelai lembut rambut Ningrum lalu melanjutkan kata - katanya.
"Jadi karena aku sangat menghormatimu, maka aku ingin mendapatkan dirimu seutuhnya dengan cara yang juga terhormat"
Argadana menutup kalimatnya dengan kecupan di dahi Ningrum. Gadis Tuan Putri Kerajaan Sampang Daru itu sangat terharu mendengar penjelasan pria yang dicintainya itu. Dia masih merasa bagaikan bermimpi menemukan orang yang diimpikannya siang dan malam itu juga ternyata membalas perasaannya.
"Kakang berhati - hatilah"
"Hmm. . . Katakan saja di mana tempat tinggalmu, dan aku akan menemuimu di sana" kata Argadana sambil manggut - manggut.
"Kakang tidak akan kesulitan untuk mencariku. Nanti kakang tinggal datang ke kota raja, aku akan tinggal di dalam istana" kata Ningrum dengan senyum manisnya.
Argadana hanya mengangguk saja. Dia sebenarnya salah memahami arti kata Ningrum. Dia berfikir Ningrum akan bekerja di lingkungan istana setelah menunjukkan jasanya membongkar kejahatan Adipati Renggana itu. Padahal yang sebenarnya adalah Ningrum memanglah Tuan Putri dari Kerajaan Sampang Daru.
"Ingatlah untuk datang tepat waktu, sayang" kata Ningrum manja melepas kepergian Argadana yang telah membawa sekeping hatinya.
"Kupastikan akan mengejutkanmu nanti di saat pertemuan kita yang selanjutnya" teriak Argadana bersungguh - sungguh saat menoleh ke belakang setelah jarak mereka cukup jauh.
"Kau pun akan terkejut setelah menemuiku nanti, kakang" balas Ningrum berteriak cukup lantang.
"Berhati - hatilah di jalan Ksatria Lembah Neraka...!!!" teriak para warga Kadipaten Suwela yang ikut bersama mereka dalam kereta yang lain sambil melambaikan tangan pada Argadana.
Argadana terkejut dipanggil dengan sebutan Ksatria Lembah Neraka, tapi tetap tersenyum dan membalas lambaian tangan mereka.
"Ksatria Lembah Neraka" gumam Argadana
"Hehe. . . Ada - ada saja orang - orang itu. Memangnya aku pantas menyandang gelar Ksatria?" Argadana bergumam Pelang sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Pada hari itu sepasang kekasih dari Lembah Neraka itu berpisah untuk merencanakan pertemuan mereka selanjutnya di istana Kerajaan Sampang Daru pada hari perayaan ulang tahun Ningrum.
Di mulai dari hari itu Argadana melanjutkan perjalanannya. Pemuda itu terlebih dahulu mencari harta pusaka yang tersembunyi di suatu tempat yang tertera di dalam peta harta karun yang diberikan Peri Malam padanya sebagai ganti untuk keselamatannya.