Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo
Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.
"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.
"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.
"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.
Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.
Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.
---
21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
"Papa......" teriak Sasa sambil berhambiur memeluk Baskara yang masih berdiri di ambang pintu, "Sasa kangen Pa," kata Sasa lagi yang masih terus memeluk Baskara.
Baskara juga memeluk putri semata wayangnya dengan erat, walaupun ia hanya diam saja sambil menutupi jika ia sangat merindukan putrinya. Namun tetap saja ia tidak bisa jika tidak membalas pelukan sang anak, se-kesal apapun se-benci apapun seorang Ayah pada anaknya ia tetaplah Ayah yang selalu ingin anaknya menjadi orang yang lebih baik dari pada dirinya.
"Papa, nggak kangen sama Sasa ya? Papa udah nggak sayang lagi sama Sasa?" tanya Sasa dengan sesegukan karena biasanya jika ia baru bertemu dengan sang Papa setelah sekian lama Baskara pasti menanyakan kabarnya, namun kali ini Baskara hanya diam saja, "Papa belum maaf pin Sasa ya?" tanya Sasa lagi yang masih terus memeluk Baskara tanpa mau melepasnya. Sasa sungguh sangat takut, setelah pelukan itu lepas Baskara langsung pergi begitu saja tanpa ada kata maaf untuk dirinya.
Sementara Brian hanya diam menatap saja, ia berdiri tidak jauh dari Baskara dan juga Sasa, tanpa ikut berbicara dan hanya menjadi penonton setia saja.
"Pa, maaf pin Sasa. Sasa janji nggak nakal lagi, Sasa bakalan jadi orang baik kalau Papa mau maafin Sasa, Sasa juga kangen sama Mama," ucap Sasa dengan tangisan, selain bertemu sang Papa ia juga ingin bertemu dengan sang Mama.
Baskara masih saja diam, ia melihat putrinya masih saja sama. Masih seperti anak kecil padahal ia sudah menikah, namun tingkahnya masih tak ubahnya anak umur yang baru lepas dari gendongan ibunya.
"Papa, Sasa kangen sama Mama....hiks.....hiks....." Sasa menangis dengan sekencangnya, karena takut Baskara tidak memaafkannya. Tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya selama satu bulan sudah sungguh membuat Sasa sangat merasakan rindu, "Papa, kenapa diam? Papa belum maafin Sasa ya," Sasa menjauh dari Baskara dan menatap wajah Baskara dengan lekat.
"Kamu anak Papa, anak Papa satu-satunya, jadi tidak mungkin Papa tidak memaafkan kamu," kata Baskara yang kembali memeluk Sasa dengan penuh kasih sayang, kasih sayang seorang Ayah yang tidak akan pernah luntur pada anaknya apapun yang terjadi.
"Maafin Sasa ya Pa."
"Kalau kamu berulah lagi, Papa nggak akan maafin kamu," terang Baskara, mungkin bibirnya berkata demi kian namun hatinya tetap saja tidak akan mungkin bisa membenci anaknya. Ia hanya ingin membuat anaknya berubah, menyadarkan anak dan istrinya jika uang dan kekuasaan bukanlah segala-gala nya yang bisa berbuat sesuka hati. Dan juga kita hidup harus memikirkan orang lain juga, tidak boleh sesuai dengan kemauan kita saja seperti memaksakan kehendak orang lain menjadi sesuatu keinginan kita.
"Sasa janji Sasa nggak akan nakal lagi," kata Sasa lagi mengulangi perkataannya dengan sungguh-sungguh.
"Iya, Papa percaya. Buktinya sekarang rumah tangga mu baik-baik saja kan? Kalau kamu berulah lagi pasti kalian sudah berpisah. Papa bangga sama kamu sekarang," terang Baskara dengan senyuman lebarnya.
"Em......." Sasa sedikit bingung dengan perkataan Baskara, namun ia tidak ambil pusing berarti sang Papa tidak tahu jika ia dan Brian sering bertengkar pikir Sasa, "Iya Pa," Sasa tersenyum lebar dan bahagia sungguh tidak bisa ia tutupi.
"Iya, makanya Papa mau kemari dan bertemu dengan mu. Sebentar lagi Mama juga sampai," kata Baskara, yang memang tadi selesai meeting dengan Brian langsung menghubungi istrinya untuk datang ke kantor Brian bertemu dengan Sasa, karena Brian yang memintanya.
"Mama juga datang Pa?" Sasa mengusap air mata haru yang mengalir, rasanya tidak percaya kini ia bertemu kembali dengan Zakira wanita yang sangat ia rindukan itu. Dan sangat tidak bisa ia temui selama satu bulan ini.
"Iya, tadi Brian bilang ke Papa. Kalau kalian akan menikah secara resmi dan akan mengadakan resepsi," terang Baskara, yang sebelum nya memang belum ingin bertemu dengan Sasa. Karena ia pikir Sasa belum berubah, namun saat Brian berbicara mengenai resepsi Baskara jadi merasa anaknya kini sudah menjadi lebih baik lagi, dan ia langsung menghubungi Zakira dengan bahagia.
"Menikah resmi, resepsi?" Sasa bingung dan menatap Brian penuh tanya, sementara Brian hanya diam masih sama dengan wajah datar yang Sasa pun tidak bisa menebak apa yang kini ada di pikiran Brian. Namun Sasa tidak perduli mau resepsi atau pun menikah resmi yang jelas kini ia bertemu kedua orang tuanya dan itu sangat membahagiakan sekali, kalau masalah Brian ia tidak perduli ia menghargai Brian karena Brian suaminya tapi jika cinta tidak ada sedikit pun untuk saat ini.
"Sasa kamu kenapa seperti bingung?" tanya Baskara.
"Nggak papa sih Pa," Sasa menarik Baskara duduk di sofa, karena ia masih ingin berbicara banyak dengan Baskara, "Papa kenapa susah banget Sasa temuin?" tanya Sasa yang mengingat selama ini jika ia tidak pernah berhasil menemui Baskara.
"Papa selalu ada di sekitar kamu, hanya saja kamu tidak melihat Papa," kata Baskara, ia sering kali ke rumah sakit menemui Sasa yang sedang bekerja, hanya saja ia melihat dari kejauhan dengan memakai kaca mata dan juga masker agar tidak ada yang mengenalinya. Setelah ia rasa sedikit kerinduannya terobati barulah ia pulang.
"Apa iya?" Sasa mendadak bodoh bila bersama dengan Baskara, gelar yang ia miliki mendadak hilang ketika kini ia berubah menjadi anak kecil.
"Iya."
CLEK.....
Pintu terbuka bahkan tanpa ada ucapan salam, Zakira masuk dan langsung berlari memeluk Sasa yang sedang duduk di sofa, "Hiks....hiks...." Zakira menumpahkan segala rindunya pada Sasa, menumpahkan segala ke kawatiran yang selama ini ia rasakan akan putrinya yang hidup bersama orang asing.
"Mama.....hiks....hiks....." Sasa juga menangis tersedu-sedu, ia sangat merindukan dekapan hangat sang Mama yang selama ini selalu ada untuknya.
"Kamu baik-baik saja Nak?" tanya Zakira dan melihat anaknya.
"Iya, Sasa kangen Mama......" Sasa kembali memeluk sang Mama dengan erat, melepaskan kerinduan yang tertahan.
"Mama juga kangen sama kamu," Zakira menghujammi putri nya dengan ciuman. Ciuman kerinduan seorang Ibu yang melahirkan, merawat, mengasuh, serta membesarkan. Tidak ada kata yang lebih indah saat ini selain dekapan hangat sang malaikat yang di sebut Mama.
"Mama hiks.....hiks...." Sasa lagi-lagi berteriak meluapkan rasa haru bercampur rindu yang tak terbendung itu, tidak ada rasa malu atau pun rasa yang harus di sembunyikan yang ada kini ia terlihat begitu rapuh.
***
Jangan lupa like, Vote, bintang lima, dan juga komen. kalau kalian bosan bilang ya, mungkin episodenya nggak akan banyak biar nggak bosen ya.