NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUAPULUHSEMBILAN

Pagi ini Bio baru saja sampai di Cafe.

"Pagi pak" sapa Dimas saat tengah sibuk membereskan beberapa barang.

Sedangkan Erik hanya membungkukan badannya. Bio mengangkat tangannya sebagai balasan.

"Baru kali ini gue liat bos kusut" bisik Erik saat Bio mulai berjalan menuju ruangannya.

Dimas menyenggol lengan Erik, "lo kalo mau ngomongin orang liat-liat dulu kek! Kalo tadi dia denger gimane?" ucap Dimas dengan perasaan kesal.

"Elah! Kagak-kagak denger dia bjirrr" balas Erik dengan muka tengilnya.

Dimas hanya bisa menanggapi dengan bombastic side eyes nya, "udah lanjutin lagi" ucap Dimas.

Sedangkan ditempat lain, Arun ternyata sudah sampai di Cafe tersebut. Namun saat ini Arun masih bersama dengan Akbar. Terdapat buku menu di tangan Arun yang masih di liat secara seksama oleh Arun.

"Menurut kamu menu kita ada yang salah?" tanya Akbar setelah lumayan lama hanya diam menatap Arun.

Tangan Arun masih sibuk membuka bolak-balik kertas tersebut, "mungkin menu ini terlalu jadul gak sih? Maksud gue gimana kalo kita lebih kreatif in lagi supaya wajah baru gitu" ujar Arun.

"Maksud kamu penyajiannya kita ubah?" Akbar mencoba memahami maksud Arun lebih dalam.

"Akhir-akhir ini kan, yang ke Cafe bukan cuma orang yang mau meeting soal pekerjaan aja kan tapi kadang anak-anak sekarang itu nongkrong itu di Cafe. Trend sesuatu yang 'viral' itukan mendominasi. Jadi kayaknya bukan cuma menu tapi semua dari Cafe ini harus kita tata ulang lagi Bar" jelas Arun sambil menatap ke arah depan.

"Tapi kan Cafe ini juga pernah dulu di ubah Run" ujar Akbar.

"Bar, trend itu bukan tahunan kayak zaman dulu berubahnya tapi bisa jadi satu bulan sekali. Dan kita bisa harus ikutin perkembangannya" ucap Arun.

Arun bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri Dimas dan Erik. Akbar tidak diam saja, dia pun mengikuti Arun hingga saat ini mereka sudah berkumpul berempat.

"Gimana menurut lo berdua bang?" tanya Arun setelah menjelaskan sama persis seperti yang mereka bahas tadi.

"Gue sih setuju aja" balas Erik santai.

"Gue juga sempat kepikiran begitu Run, tapi kalo sampe merubah Cafe kan berarti kita harus ada omongan sama pak Bio" saran Dimas sebagai yang tertua diantara mereka.

Arun terdiam. Benar apa kata Dimas kalo dulu Arun hanya harus berhadapan dengan Ilham. Dimana orangnya yang tidak terlalu ribet, tapi kalau Bio pasti akan membutuhkan waktu lama meski hanya sekedar perizinan apalagi jika harus Arun yang maju.

"Terus gimana Run?" tanya Akbar.

"Bang, gimana kalo lo yang ngomong sama pak Bio?" bujuk Arun pada Dimas sambil memegangi lengannya.

"Tapi kan yang tau semuanya, konsepnya lo" balas Dimas.

"Tenang, nanti gue kasih tau semuanya. Anggap aja ini ide lo bang" Arun menatap penuh harap pada Dimas.

"Kenapa gak lo aja yang maju?" tanya Erik.

Arun menggelengkan kepala, "jangan. Gue ... nih tangan gue lagi kayak gini susah buat buka-buka kertas" ujar Arun sambil menunjukan kedua jari telunjuknya.

Akbar langsung memegang kedua tangan Arun, "jari kamu kenapa?" tanya Akbar dengan nada khawatir.

"Cuma kegores pecahan gelas" balas Arun sambil melepaskan tangannya dari Akbar.

"Main debus lo, gelas dipecahin segala?" tanya Erik.

Bugh!

"Arghhhh! Sakit tolol!".

Kaki Arun langsung menendang tulang kering Erik. Bukan Arun dan Erik bila tidak satu hari aja damai.

"Nyebelin lo bang!" umpat Arun pada Erik.

Akbar dan Dimas hanya diam menyaksikan itu semua, sedangkan Erik masih mengusap-usap agar rasa nyerinya segera hilang.

"Ya udah, lo ikut gue bang. Gue jelasin disana" tunjuk Arun sambil mengajak Dimas.

Setelah beberapa waktu yang lalu Dimas mendengarkan semua penjelasan ide yang Arun punya, Dimas saat ini sudah berdiri di depan pintu ruangan Bio.

Namun Dimas merasa sedikit ragu hingga dia menatap kembali ketiga temannya yang melihat dari jauh.

Arun mengangkat tangannya untuk menyemangati sedangkan Erik sudah memperagakan untuk Dimas segera membuka pintu tersebut.

Dimas menatap pintu tersebut lalu menarik napasnya dan menghembuskan secara perlahan. Dimas mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tersebut.

Tok

Tok

Tok

Dimas langsung menarik tangannya kembali.

"Masuk" ucap Bio dari dalam sana.

Dimas kembali melihat ke arah teman-temannya sambil menganggukan kepala. Setelah itu Dimas membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.

"Elah si Dimas, timbang ngetok pintu doang banyak drama banget" ujar Erik sambil melangkah mundur untuk duduk karena mereka sudah lumayan lama berdiri sejak tadi.

"Butuh keberanian bang, tapi kalo dulu perasaan sama mas Ilham gak setegang ini gak sih?" ujar Akbar.

Arun dan Erik menganggukan kepala menyetujui, "dulu aja kita manggil bos pake sebutan mas, sekarang mah canggung anjirr" keluh Erik.

"Run, menurut kamu gimana?" tanya Akbar.

Namun yang ditanya malah hanya diam, "Arun?" panggil Akbar kembali.

"Ahh, iyaa jahat orang itu" ucap Arun.

"Jahat? Pernah di tipu lo sama pak Bio?" tanya Erik.

Arun melihat ke arah Akbar yang menatapnya seolah meminta penjelasan, "yaa ... soalnya pertama kali gue ketemu pak Bio itu dia marah-marah aja. Jadi gue gak suka, makanya gue bilang dia jahat" jelas Arun dengan sedikit terbata-bata.

"Itu sih salahnya lo" ujar Erik.

Arun memberikan tatapan ganasnya pada Erik, "eh eh, kenapa bang Dimas keluar lagi?" ujar Akbar sambil menunjuk Dimas yang keluar dari ruangan Bio.

Perkataan Akbar membuat Erik dan Arun langsung menghentikan pertengkaran mereka dan melihat arah yang ditunjuk Akbar dengan jarinya.

Mereka bertiga hanya bisa memandang Dimas yang berjalan gontai menuju mereka bertiga, "bang? Cepet banget?" tanya Akbar saat Dimas baru saja datang dihadapan mereka.

"Pak Bio setuju?" tanya Erik.

Dimas malah berjalan untuk duduk dikursi, "dia maunya lo, Run" ujar Dimas.

"Hah?" ucap Arun spontan.

"Dia tau kalo itu ide lo. Jadi dia minta buat lo yang ngehadap dia" Dimas menatap Arun.

Arun langsung menarik kursi yang berada dihadapan Dimas dan mendaratkan pantatnya disana, "lahh kan gue udah bilang bang, gue gak bisa. Bilang aja sama dia gue lagi sakit tangannya, lo ngewakilin gue gitu" ujar Arun.

"Udah, pak Bio tetap gak mau. Malah kalo gue tetap kekeh, itu gak akan di Acc".

"Ribet banget sih!" keluh Arun.

"Udah lo aja sana Run" Erik mencoba membujuk Arun.

Arun masih menampilkan wajah kesalnya, "kalo enggak saya aja gimana?" ujar Akbar mencoba menawarkan diri.

"Menurut gue, tetap gak akan berhasil. Bukannya gue meragukan lo Bar, tapi si Bos tetap maunya Arun yang langsung jelasin sama dia" jelas Dimas.

"Bener-bener ya tu orang! Gimana mau maju coba Cafe, orang bosnya aja modelan ribet kayak dia!" keluh Arun sambil mengepalkan tangannya diatas meja.

"Ya udah kita berempat masuk kesana aja dah, ribet amat" Erik mencoba mengompori mereka untuk menyerang Bio.

"Jangan! Biar gue aja" ucap Arun.

"Kamu yakin Run?" tanya Akbar.

Arun menganggukan kepala lalu bangun dari duduknya. Saat ini sebenarnya Arun sangat lelah jika harus berhadapan dengan Bio. Hidupnya terasa lebih damai saat Bio sama sekali tidak menganggapnya atau bahkan membeci dirinya sekalian.

Sepanjang Arun melangkah dalam hatinya selalu mengumpati suaminya tersebut. Persyaratan yang mereka berdua setujui seolah di anggap angin lalu oleh Bio.

Saat didepan pintu, Arun mencoba menarik napasnya namun sebelum mengetuk pintu tersebut, Arun memandang ketiga temannya yang senantiasa memantaunya meski dari kejauhan.

Tok

Tok

"Masuk" ucap Bio dari dalam ruangan tersebut.

Arun melangkah mendorong pintu tersebut lalu menutupnya kembali. Langkahnya terhenti saat tepat berada di depan meja kerja Bio.

"Selamat siang pak" ucap Arun menampilkan sikap profesionalnya.

"Cuma ada kita berdua disini" ujar Bio masih dengan santainya duduk dikursi kebesarannya.

"Maaf pak, harusnya tadi bapak mendengarkan penjelasan rekan saya. Karena saya yang meminta langsung untuk dia mewakili saya kesini" ujar Arun seolah tidak ingin menanggapi perkataan Bio yang tidak ada sangkut paut nya dengan Cafe.

Bio menatap Arun dengan dingin, "ini kan ide kamu. Hasil pemikiran kamu, kenapa harus orang lain yang menjelaskan pada saya? Ini itu tanggung jawab kamu" ujar Bio dengan jiwa bosnya.

Bio sepertinya tahu akan apa yang sedang diinginkan oleh Arun. Bio pikir dia ikuti saja dulu alur yang Arun ciptakan.

"Saya melakukan itu bukan tanpa alasan pak, karena jari saya luka. Kemungkinan itu akan menyulitkan saya nantinya, dan bapak akan merasa terganggu selamat penjelasan nantinya" Arun berusaha menjelaskan.

Bio bangun dari duduknya dan menghampiri Arun, "bapak jangan macem-macem ya" Arun mencoba memperingati Bio.

"Saya mau lihat lukanya" ujar Bio.

"Gak perlu pak, saya cuma butuh bapak liat proposal itu".

"Perbannya harus sering diganti kalau tidak nanti bisa ada kuman".

"Saya mohon bapak kembali duduk".

Bio mencoba meraih lengan Arun namun Arun terus menghindari dengan cara mundur beberapa langkah, "kenapa bapak egois sekali sih pak!" ucap Arun dengan sedikit teriak.

Bio berhenti melangkah berusaha mendekat pada Arun, "egois?" tanya Bio.

Arun membuang pandangannya pada Bio. Muak, jika Arun harus terus berada di ruangan ini.

"Mungkin bapak belum mau mendengar penjelasan mengenai perubahan yang akan kami lakukan. Kalau gitu saya permisi pak" pamit Arun sambil melangkah menuju keluar dari ruangan tersebut.

Grep!

Baru dua langkah kaki Arun berjalan, Bio langsung memeluknya dengan erat dari belakang, "saya khawatir sama keadaan kamu. Kenapa kamu tidak peka?" bisik Bio pada telinga Arun.

Tubuh Arun seketika menegang mendapat perlakuan seperti ini. Terlebih lagi mereka sedang berada di Cafe.

Tbc.

Vote nya mana yaaa???

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!