Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Hari pertama gue menjadi ibu dan istri. Gue bangun kayak biasa. Sejak kemarin malam gue udah mikirin apa aja yang gue lakuin hari ini.
Flashback On
Tubuh gue dan Richard masih sama - sama polos dan hanya tertutup selimut bahkan gue masih mencoba mengatur napas gue. Tapi pikiran gue melayang kemana - mana.
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" Richard mengecup pucuk kepala gue.
"Tentang besok apa saja yang harus aku lakukan. Appa apa ada kebiasaan dirumah ini yang harus tahu?"
"Eemm... seperti tidak ada sayang. Aku rasa semuanya normal saja."
"Benar kah? Apa kamu dan Angel makan dengan sumpit atau kebiasaan Korea lainnya?" sejak gue nerima Richard dan Angel gue selalu merasa insecure.
"Sayang... kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kamu bisa mempelajarinya perlahan. Jadilah dirimu sendiri. Aku dan Angel mencintaimu seperti apa adanya. Tidak perlu berubah untuk menyenangkan orang lain." So sweet banget ya lakik gue. Gue tersentuh setiap kali Richard membebaskan gue menjadi diri gue sendiri.
"Aku hanya tidak mau membuat mu malu, appa."
"Dengar, tidak ada yang salah dari dirimu, sayang. Kalau kamu mau berubah demi kebaikan mu aku setuju. Tapi tidak karena hal lain. Satu lagi, jangan biarkan orang lain merendahkan mu. Kalau kamu merasa tersindir atau tersakit, lawanlah. Aku tidak akan ada di samping mu 24 jam sayang, jadi jaga dirimu dengan baik."
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan sungkan" gue membenamkan wajah ke dada bidang Richard. Mendengar detak jantungnya yang berirama seperti musik yang menenangkan.
Flashback Off
Seperti kemarin gue bangun pagi jam lima, duduk di balkon hanya dengan piyama dan mulai merokok. Jujur gue belum bisa menghentikan ini, tapi gue coba. Gue hanya merokok pagi sebelum mandi.
Gue matikan rokok gue, berjalan ke kamar mandi dan memulai ritual mandi gue.
Gue memilih memakai baju kaos gak ketat dipadu dengan celana kulot. Berdandan tipis, hanya bedak dan lipgloss dan sedikit parfum. Gue gak mau kelihatan kucel didepan Richard.
"Appa, ayo bangun. Kita mau antar Angel ke sekolah kan?" Richard masih akan cuti menikah seminggu ini.
Richard menarikku masuk kedalam pelukannya. "Kamu wangi." matanya masih terpejam.
"Aku sudah mandi appa. Jadi jangan merusak penampilan ku."
"Itu jadi hobi baru ku nyonya Lee." Canda nya.
"Iisshh kamu ini. Lepaskan. Aku mau membangunkan Angel."
"Tidak sebelum aku mendapatkan Vitamin K ku." Richard mengeratkan pelukkan nya. Dahi gue mengerut tidak mengerti maksud Richard.
"Kiss me, honey. Aku butuh vitamin K ku supaya aku tidak lemas hari ini."
"Aaa... K for Kiss." gue manggut - manggut. Gue masih malu untuk memulai duluan.
Karena tidak sabar menunggu Richard yang terlebih dahulu nyambar bibir gue. "Appa... " gue mendorong Richard setelah dia membuat gue kehabisan napas.
Gue tinggalin Richard yang masih berbaring di ranjang. Saat nya membangunkan Angel.
Tubuh Angel masih tertutup selimut saat gur masuk kamar. "Angel, bangun sayang." gue menggoyangkan tubuh angel perlahan.
"Eomma. Apa sudah pagi?" gue mengangguk untuk menjawab Angel. "Eomma yang anter Angel?"
"Iya, sama appa juga. Jadi Angel ayo bangun dan siap - siap."
"Ye... ye... ye... " Angel turun dari ranjangnya. Mencium pipi gue. Menuju ke kamar mandi. Tidak lama mbak Lilis masuk ke kamar.
"Biar saya yang bantu Angel. Mbak disiapin aja bekalnya Angel." Gue mengeluarkan seragam Angel dari lemari. Menyiapkan tas dan sepatunya.
Gue bergandengan tangan dengan Angel. Menuruni tangga menuju lantai satu dimana ruang makan berada.
Ternyata ada oma nya Angel dan Aunty Jasmin, entah kapan mereka tiba. Oma menghampiri dan memeluk Angek seolah - olah sudah lama tidak bertemu.
Gak lama gue liat Richard turun. "Ma, sudah dari tadi?" Richard berbasa - basi. "Ayo sarapan bareng. Setelah ini saya dan Alana mau mengantar Angel ke sekolah."
Sarapan sudah tersedia di meja makan. Gue mengambilkan makanan untuk Richard setelah itu mengoleskan selai coklat pada roti Angel.
"Istri itu harusnya bisa masak" sindir oma tiba - tiba. "Ini pasti masakan pelayan kan? Dulu Rosaline pandai memasak, tidak seperti kamu."
Okey karena Richard sudah memberi ijin untuk gue membela diri, gue gak akan tinggak diam lagi. "Saya buka Rosaline, Nyonya. Saya juga bukan menantu anda. Jadi saya tidak harus memenuhi kriteria menantu idaman anda."
"Kamu! Gitu Rick kalau punya istri tidak berpendidikan. Gak tahu sopan - santun."
"Angel sudah selesai? Ayo kita berangkat." gue males ngeladenin oma nya Angel, bikin orang gak napsu makan aja. "Appa aku tunggu di mobil" Gue bangun tanpa menunggu jawaban dari Richard.
"Angel salim dulu sama Oma dan Aunty Jasmin." Sekesal apapun gue sama mereka berdua Angel gak ada hubungannya dengan itu. Selain itu mereka berdua adalah keluarga Angel.
Angel menurut. Angel mendekati oma dan Aunty Jasmin nya. Mencium punggung tangan mereka.
Dibanding dengan wanita lain itu sangat menyakitkan. Apalagi membanding gue sama mendiang ibu nya Angel. Gue gak mau menggantikan posisinya Rosaline dihati Angel. Gue juga gak mau menggantikan posisinya di hati Richard. Rosaline bagi mereka adalah istimewa.
Gue mau punya tempat sendiri. Tanpa perlu dibandingkan.
Richard menyusul ke mobil lima men it kemudian. Senyumannya melegakan gue bahkan Richard tidak terprovokasi sama oma nya Angel.
Richard melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Angel terlihat sangat senang. Dia bernyanyi dan bercerita tentang teman - teman sekolahnya yang diantar oleh mama mereka. Hari ini Angel pun akan merasakan hal yang sama.
Richard memarkir mobilnya di lahan parkir uwak Madin seperti biasa. Ujang dan Anto gue liat sedang sibuk dengan beberapa mobil lain. Selain itu ada Bang Blue, tangan kanan uwak Madin. Gue denger sejak gue gak ada Bang Codet sering dateng lagi kesini, maka dari itu uwak menunggaskan Bang Blue disini.
Gue, Richard dan Angel berjalan beriringan. Angel ditengah, gue dan Richard di kanan dan kirinya.
"Lana." Bang Blue nyamperin kita. "Pak Richard."
"Bang. Apa kabar?"
"Baik. Mobil lu dimana?"
"Disana, bang." gue nunjuk arah mobil gue. "Gue kedalem dulu ya bang." gue pamit setelah mendapatkan tatapan membunuh dari Richard.
Gue dan Richard mengantar Angel sampai di depan kelasnya. Gue dan Richard juga sempat ngobrol sama Miss Elsa gurunya Angel tentang perkembangan prilaku Angel dikelas.
Gue bisa menarik kesimpulan Angel takut dengan kerumunan orang dewasa tapi tidak dengan anak - anak seumurannya.
Pemandangan Angel yang bermain dengan teman - temannya berbanding terbalik dengan saat pernikahan gue. Angel selalu menempel dengan gue atau Richard. Setelah di rayu dia Angel mulai mau dengan uwak Madin dan Marlin.
Baiklah, paling tidak Angel mulai ceria lagi dan tidak kehilangan masa kanan - kakaknya karena trauma.
"Kita mau kemana, sayang?" tanya Richard ketika kami sudah berada didalam mobil. Satu tangannya menyetir sebelah lagi mengenggam tangan gue.
"Appa, menyetir yang benar."
"Ini sudah benar. Katakan kita akan kemana? hem? Seminggu ini ayo kita pacaran."
"Benarkah?" Richard mengangguk. "Baik. Ayo kita kencan."
"Siap, nyonya Lee." gue selalu tersipu saat Richard bersikap manis seperti itu.
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..