Vivian Adison adalah seorang agen yang diutus ke Amerika untuk mencari seorang penjahat paling berbahaya dari Amerika. Selama penyelidikan, targetnya tertuju pada seorang Mafia yang ada di Amerika dan tanpa sengaja, dia bertemu dengan orang yang dia curigai.
Pertemuan pertama mereka begitu tak terduga apalagi pertemuan kedua mereka, semakin membuat Matthew tergoda tapi Vivian tidak tertarik dengannya karena Vivian memiliki masa lalu yang kelam.
Demi membuktikan diri jika dia bukan target yang dicari Vivian, Matthew membantu Vivian dalam misinya dan tanpa mereka sadari mereka punya musuh yang sama.
Seorang penghianat yang ada di organisasi selalu menggagalkan misinya dan pil pahit harus Vivian telan saat mengetahui siapa sebenarnya target yang sedang dia cari. Cinta yang dia pertahankan, hancur berantakan.
Akankah Matthew memenangkan hati Vivian? Bagaimana kisahnya? Jangan lupa dengan Michael, dia selalu membantu kakaknya dari belakang. Apa dia juga akan mengalami kesulitan dalam percintaan seperti kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang sudah ketahuan
Vivian segera kembali kekantor setelah makan siang, saat dia kembali waktu hampir menunjukkan pukul dua siang.
Vivian berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang rapat, jangan sampai dia terlambat. Entah kasus apa yang akan dibahas tapi dia rasa kasus ini ada hubungannya dengan pria berinisial M yang jadi buronannya.
Dia harap dia bisa segera mendapat petunjuk mengenai orang ini sehingga dia bisa menyelesaikan misinya dan cepat kembali.
Dia sudah sangat merindukan kakeknya dan sudah ingin bermain anggar lagi dengan kakeknya jadi dia harap, di misi kali ini dia bisa mendapatkan sedikit petunjuk mengenai pria berinisial M yang dia cari.
Vivian langsung masuk kedalam ruangan dimana rapat akan digelar di sana. Para rekannya sudah berkumpul dan Vivian segera duduk si samping Patrik.
"Sory jika aku terlambat," ucapnya.
"Tidak Angel, kami baru saja berkumpul," jawab Patrik.
"Baiklah, jadi kasus apa yang akan kita bahas?"
"Sebentar lagi kau juga akan tahu, kapten masih dikamar mandi dan sebentar lagi akan datang," jawab Patrik sedangkan Vivian terkekeh.
Mereka menunggu kapten yang masih menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan setelah beberapa menit menunggu, sang kapten masuk kedalam ruangan dan semua yang ada di dalam ruangan langsung bangkit berdiri dan memberi hormat.
"Maaf telah membuat kalian menunggu," ucap sang kapten seraya menyimpan beberapa berkas di atas meja.
Para agen kembali duduk dan pada saat itu sang kapten menyalakan monitor dan dari layar yang ada di depan mereka muncul gambar sebuah pelabuhan.
Semua mata langsung tertuju kearah layar dan sang kapten memberi penjelasan sambil menunjuk kearah layar.
"Ada informasi jika besok akan ada sebuah kapal yang akan berlayar dari Port Hueneme dan kapal ini akan membawa senjata seludupan dan obat-obatan. Barang-barang ini akan dibawa ke Moskow dan menurut informasi kapal akan berangkat jam delapan malam!" jelas sang kapten.
Dari layar muncul gambar beberapa kapal besar yang berlabuh di sana dan para agen yang ada melihat kearah layar dengan begitu serius.
"Para petugas pelabuhan sudah diperintahkan untuk mengecek setiap barang yang masuk kedalam pelabuhan tapi kita harus tetap waspada dan aku ingin kalian membagi kelompok dan menggagalkan penyeludupan yang menurut informasi barang-barang yang ada di dalam kapal berjumlah ratusan juta dolar!"
"Kita akan bersiap-siap dan menyusun rencana dengan matang. Aku ingin kalian mengepung pelabuhan dan ingat, tangkap tersangka agar kita bisa mengetahui siapa pemilik kapal ini!" perintah sang kapten.
"Siap kapten!" jawab agen yang ada di sana dan mereka mulai menyusun rencana untuk melakukan menyergapan dan menggagalkan penyeludupan.
Sebuah peta berada di atas meja dan mereka menentukan beberapa lokasi untuk penyergapan nanti dan mereka mengatur team siapa saja yang akan mengintai dari lokasi-lokasi yang telah mereka tentukan.
Mereka menyusun rencana mereka dengan matang selama berjam-jam, jangan sampai misi mereka gagal sehingga mereka tidak bisa menemukan titik terang siapa sebenarnya pria berinisial M yang mereka cari.
Vivian memberikan banyak pertanyaan kepada Patrik karena dia ingin mempelajari denah lokasi pelabuhan Hueneme dengan baik. Jangan sampai saat dia bertugas dia tidak bisa menguasai medan dan seperti orang yang tersesat.
Bahkan saat rekan-rekannya sudah membubarkan diri, Vivian masih berada diruangan rapat dan melihat peta lokasi dengan serius.
Dia hanya pendatang dan jangan sampai karena satu kesalahan yang dia buat mencelakai rekan-rekannya karena setiap misi yang mereka dapat, mereka menjalaninya dengan mempertaruhkan nyawa karena mereka bisa saja tertembak oleh musuh kapan saja.
Vivian berusaha dengan keras tapi sayang, setelah beberapa jam rencana penyergapan yang telah mereka susun dengan matang, rencana mereka sudah bocor dan sudah diketahui lawan.
Seorang pria berada di sebuah gudang barang, pria itu sedang mengawasi barang-barang miliknya yang akan diseludupkan ke Moskow dan pria itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telephone selulernya.
Tentu saja orang itu yang memberikannya informasi apa saja yang telah direncanakan oleh para agen dan apa yang akan mereka lakukan.
"Mr M, para agen sudah menyusun rencana untuk menyergap dan menggagalkan pengiriman barang-barangmu agar tidak keluar dari pelabuhan. Mereka sudah membentuk beberapa team yang akan mengepung pelabuhan dan mereka akan berada di pelabuhan saat jam dua siang agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka dan mereka akan berpencar di beberapa titik yang sudah ditentukan," orang itu sedang memberitahukan apa yang telah direncakan oleh para agen.
"Bagus, apapun yang mereka rencanakan kau harus memberitahuku dan aku akan memberikan bagianmu dan kau juga akan mendapatkan apa yang kau mau."
"Terima kasih Mr M, aku akan selalu memberikan informasi untukmu dan setelah ini aku akan mengirimkan rancangan rencana mereka." ucap orang itu lagi.
"Aku tunggu!" pria itu tersenyum dan mematikan ponselnya.
"Bos, bagaimana?" seorang anak buah menghampirinya.
"Rencana sedikit berubah, jalankan kapal saat jam dua siang dan ingat, masukkan barang-barang antik itu saat pagi untuk mengelabuhi petugas yang ada di pelabuhan."
"Aku punya kenalan di pelabuhan yang akan membantuku sehingga barang-barang itu bisa masuk kedalam kapal dan saat tengah malam nanti aku ingin semua senjata dan obat-obatan itu sudah berada di dalam kapal dan lakukan dengan cepat!" perintahnya.
"Siap bos!" jawab anak buahnya.
"Dan satu hal lagi?" pria itu berjalan mendekati sebuah meja dengan seringai di wajahnya dan anak buahnya mengikutinya.
Di atas meja terdapat dua buah bom dan pria itu mengusap benda itu.
"Aku ingin kau memasang benda ini ditempat yang sudah aku tentukan dan kirimkan surat untuknya! Dia dan para agen lainnya tidak akan pernah ke pelabuhan dan mencegat kapalku karena jika dia ingin menyelamatkan nyawa orang-orang maka dia harus menemukan dua benda ini!"
"Baik bos!" jawab anak buahnya.
"Ingat kirimkan surat itu untuknya di saat waktu yang tepat!" perintah pria itu lagi, anak buahnya mengangguk dan melangkah pergi.
Pria itu masih memandangi bom dengan senyum di wajahnya, "Angel, kau tidak akan bisa menggagalkan bisnisku dan kau juga tidak akan bisa menangkapku," gumam pria itu dan tidak lama kemudian api kemarahan dan kebencian terpancar dari matanya.
"Untuk saat ini aku hanya akan bermain-main denganmu tapi pada saat kita bertemu, aku akan membuat perhitungan dan membalas dendamku padamu jadi tunggu hari itu tiba!" ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya.
Hari itu tanpa ada yang tahu jika rencana mereka sudah dibocorkan oleh seseorang, para agen kembali kerumah mereka karena hari sudah sore. Mereka sangat yakin bisa menggagalkan penyeludupan tapi sayang, mereka akan menghadapi sesuatu yang telah disiapkan oleh pria berinisial M.
Vivian juga pulang kerumahnya, dia ingin mempelajari lokasi dengan lebih baik lagi di rumah. Saat Motor yang dia bawa sudah berhenti dan pada saat dia sudah membuka helm yang dia pakai, tiba-tiba saja dari dalam rumah terdengar suara barang pecah.
Vivian mengernyitkan dahinya dan tidak lama kemudian, terdengar lagi suara barang pecah.
Vivian langsung berlari menghampiri pintu, jangan-jangan Freddy dibunuh oleh debcolector karena mereka sudah menemukan keberadaannya.
As far as
Pecundang