Vian dan Putri terlibat pernikahan kontrak yang konyol. Keduanya saling cuek satu sama lain, bahkan memiliki pujaan hati masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Sifat sombong Vian pun terkikis oleh sikap jutek tapi perhatian dari Putri.
Nah lo, jadi, apakah Putri juga punya perasaan yang sama pada Vian? Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Putri berjalan perlahan di belakang Vian. Suhu udara di kota Paris yang rendah membuatnya sedikit kedinginan. Jaket Vian yang di serahkan padanya justru tertinggal. Gadis itu memandang ke arah
punggung Vian yang telah berjalan terlebih dahulu dari kepala sampai kaki, Putri mengakui bentuk tubuh lelaki itu cukup menawan di tambah dengan kedudukan yang ia punya, wajar saja, banyak wanita yang terpikat padanya.
Putri tersenyum kecut, jangankan mengoleksi pacar seperti yang di lakukan Vian, sekalipun ia belum pernah pacaran. Karena terhimpit faktor ekonomi, Putri lebih memilih menyibukkan diri, di bandingkan memikirkan seorang cowok. Dekat dengan Raihan sudah menjadi keberuntungan untk Putri, meskipun ia tahu, hubungan yang seperti itu tidak tahu akan berakhir dimana. Terkadang, ia hanya meyakinkan diri, ia pasti bisa memiliki Raihan suatu hari nanti.
Jika di tanya, apakah ia tertarik pada Vian? Tentu saja ia tertarik, karena bagaimanapun ia wanita normal yang suka memandang pria tampan seperti suaminya itu, meskipun pura-pura, status seperti ini sudah lebih dari cukup untuk Putri. Sejujurnya, gadis itu tidak berani untuk berharap lebih terhadap hubungannya dengan Vian, karena ia sadar, dia dan Vian seperti langit dan bumi. Vian hanya bisa ia pandang, tetapi tidak dapat ia raih begitu saja.
Mereka berdua memasuki sebuah resto, Putri hanya mengikuti kemana Vian duduk. Saat melihat
daftar menu, Putri bingung akan memesan apa, seperti yang kalian pikirkan, Putri tidak mengerti makanan apa yang ada di balik nama yang tertera tanpa gambar itu. Melihat gelagat Putri yang bersaha mengerti nama menu makanan membuat Vian tersenyum.
“Kamu suka olahan bebek?” tanyanya kemudian, Putri tidak menyangka, ternyata di balik nama-nama menu yang tidak ia mengerti itu ada hidangan yang
terbuat dari bebek.
“Boleh, aku suka masakan berbahan dasar daging bebek, tetapi, apa di sini benar-benar ada
masakan dari daging bebek?” ujar Putri sedikit berbisik. Vian lagi-lagi tersenyum.
“Kamu pikir makanan dari bahan daging bebek hanya ada di Indonesia? Di negara-negara lain
termasuk Prancis juga menyediakan menu yang terbuat dari olahan bebek.” Vian sedikit menjelaskan.
“Jadi, mau pesan menu makanan apa, Tuan (dalam bahasa Prancis)?” tanya seorang pelayan dengan
sangat sopan.
“Saya mau pesan Fole Gras, Confit De Canard, masing-masing satu porsi, minumannya Citron Presse. Terima kasih (dalam bahasa Prancisl).” jawab Vian sambil mengembalikan daftar men kepada pelayan tersebut.
“Baiklah, silahkan tunggu sebentar, Tuan (dalam bahasa Prancis).” Pelayan itu melangkah pergi meninggalkan Vian dan Putri.
“Kamu pesan apa? Bagaimana bisa tahu itu makanan olahan bebek?” ternyata Putri masih penasaran dengan makanan yang sedang di pesan oleh
Vian.
“Dulu, aku pernah bekerja di sebuah restoran Prancis, jadi sedikit banyak aku tahu, makanan apa yang terbuat dari bahan apa. Fole Gras itu terbuat dari bahan utama hati bebek atau angsa, biasanya di sajikan dengan di panggang, sedangkan Confit De
Canard semacam olahan daging bebek presto kalau di Indonesia, setelah benar-benar empuk, di sajikan dengan di goreng. Gitu deh, kira-kira.” Vian sedikit menjelaskan tentang makanan yang
sedang ia pesan, sementara Putri hanya manggut-manggut. Ia tidak percaya, seorang Vian sempat bekera di sebuah resto.
“Kamu beneran pernah kerja di resto, Vian?” tanyanya penasaran, Vian tersenyum, ia tahu, Putri pasti tidak mempercayainya, melihat posisinya
sekarang.
“Benar, aku pernah bekerja di sebuah Resto masakan Prancis. Kamu pasti tidak menyangka, kan? semua yang aku miliki sekarang semuanya berasal dari bawah terlebih dahulu. Meskipun nenek juga membantu, tetapi tidak semuanya modal aku dapatkan dari nenek. Aku bekerja cukup keras untuk mendapatkan posisi ini,” Vian tersenyum tipis, ia sudah terbiasa tidak dipercaya seperti ini karena latar belakang keluarganya yang kaya. Neneknya lebih sering memantau, tidak sepenuhnya memenuhi keinginan Vian, bahkan, warisan dari kedua
orangtuanya pun belum bisa di berikan padanya.
“Kamu benar, Vian. Aku juga tidak menyangka, di balik sikapmu yang menyebalkan ternyata ada beberapa hal yang pantas untuk di kagumi.” Setelah sekian lama, barulah hari ini ia mengakui bahwa Vian memiliki hal yang pantas untuk di kagumi olehnya, terlepas dari seberapa rupawan dan berapa banyak harta yang ia miliki, Putri pada dasarnya menyukai seseorang yang suka bekerja keras.
“Memang aku ini penuh pesona, Putri. Kamu saja yang tidak pernah menyadarinya sejak awal.” Vian kembali berkelakar, membuat Putri sedikit
menyesal memujinya.
“Selain kerja kerasmu, aku tidak perduli dengan pesonamu yang lain. “ sahut Putri singkat. Terang saja ia tidak bisa mengakui yang sebenarnya di hadapa Vian, karena ia takut itu menjadi salah paham.
“Oh ya? Aku berharap suatu hari kamu mengagumi semua yang ada padaku.” Kata Vian asal dan itu justru menarik perhatian Putri.
“Maksud kamu apa?” Putri menuntut penjelasan dari Vian atas perkataannya barusan.
“Lupakan saja, bagaimana kalau kita membahas keluargamu?” Vian segera mencari topik bahasan lain. Vian tidak ingin Putri menyadari perasaannya yang ia sendiri belum yakin. Perasaannya pada Putri lebih spesial daripada ke pacar-pacarnya, sehingga ia tidak mengerti, apakah perasaan seperti itu bisa di sebut dengan jatuh cinta.
“Benar juga, kamu belum tahu apapun tentang keluargaku. Jadi, apa yang kamu ingin tahu? Tanyakan saja, aku pasti akan menjawabnya.” Beruntung, Putri tidak menyadari apa yang sedang di pikirkan oleh Vian. Pria itu menghembuskan nafas lega.
“Apakah orangtuamu masih lengkap?” pertanyaan pertama yang di ajukan oleh Vian cukup membuat Putri tertegun, bayangan kedua orangtuanya terngiang dalam ingatannya. Bagaimana ia yang sudah
terpisah lama dengan keduanya menjadi sangat rindu.
“Put... kamu dengar kan apa yang aku tanyakan? Kalau kamu tidak ingin menjawabnya, tidak usah di
jawab, bisa jadi itu privasi untukmu, kan?” Vian sedikit tidak enak, ia takut pertanyaanya mengganggu perasaan Putri.
“Oh, itu... maaf, aku hanya rindu pada mereka berdua, sudah hampir dua tahun aku tidak pernah pulang ke rumah, seperti apa mereka, aku tidak tahu, yang aku tahu, ayahku sedang sakit sekarang.” Mata Putri berkaca-kaca, Vian menyadari itu. Ia tahu bagaimana rasanya rindu pada orang yang terpenting. Beberapa hari tidak bertemu dengan
neneknya sudah membuatnya rindu, apalagi Putri yang sampai bertahun lamanya.
“Kalau begitu, setelah pulang dari sini, kamu pulang. Aku akan mengantarmu pulang.” Vian iba melihat Putri yang tampak sangat merindukan
orangtuanya.
“Beneran? Makasih Vian...! kamu baik banget!” tanpa sadar Putri mendatangi Vian dan
memeluk lelaki itu dari belakang. Beberapa
saat kemudian keduanya sadar dan terjebak dalam kecanggungan.
“Ma-af... aku tidak bermaksud...” Putri tidak mampu melanjutkan kalimatnya, ia merasa apa yang ia lakukan adalah hal yang salah.
“Santai, jangan panik, aku tahu, itu terjadi karena kamu terlalu bahagia.” Keduanya terdiam, suasana mendadak sepi saat Putri kembali ke
tempat duduknya.
Peluk suami sendiri tidak masalah kan, ya?
mulai suka dan coment.
lanjut....