Luna gadis remaja yang pintar dan ceria diusianya yang terbilang masih muda dia dihadapkan dengan kenyataan keluarga yang berantakan dan ayahnya sakit parah yang membutuhkan banyak uang untuk penyembuhannya, dia mengorbankan segalanya demi kesembuhan sang ayah, sampai merenggut masa depannya. dia bekerja keras demi bisa menghidupi keluarga dan merawat ayahnya seorang diri sampai pada akhirnya yang ia lakukan merubah hidupnya. keputusan yang ia ambil demi ayahnya mengakibatkan banyak hati yang terluka namun ia tetap berusaha tegar untuk melewati semuanya.
dia terpaksa menjual dirinya demi mendapatkan uang untuk biaya operasa ayahnya semua itu bisa terjadi atas bantuan dokter yang menangani ayahnya.
Namun sampai semua itu terjadi dia tak pernah tau siapa lelaki yang sudah membelinya yang pasti lelaki itu sangat tampan. luna berusaha melupakan yang terjadi malam itu dan memulai kehidupan baru tetapi masalalu itu kembali yah lelaki itu muncul dikehidupannya dan itu membuat tak nyaman hidup luna, kehidupan masalalu luna yang kelam benar benar tak ingin kembali dikehidupan nya yang baru, dia tak ingin jika orang lain tahu dan memgambil harta yang berharga yang selama ini dia rahasiakan dari semua orang dia tak ingin kehilangan harta yang ia miliki untuk kedua kalinya. apakah rahasia dan harta yang ia sembunyikan itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putry Jubaidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bad Mood
Billy segera duduk dikursi yang dekat dengan Lala, kini mereka duduk bersampingan, hal itu membuat Lala jengkel moodnya berubah seketika ada Billy apalagi kejadian semalam membuatnya benar benar marah, Billy selalu saja seenaknya memperlakukan Lala.
"*D*asar tukang perusak suasana selalu muncul pada waktu yang gak tepat, bikin badmood ajah" Lala terus menggerutu dalam batinnya.
"Pak Billy mau makan apa biar saya pesanin lagi" Ucap Adam.
"Boleh samain aja sama makanan Pak Adam"
"Pelayaan"
Pelayanpun segera datang dia mencatat dan tak lama pelayan kembali membawa pesanan.
"aini makanan kesukaan saya, pak Adam juga suka makanan ini?" Ucap Billy.
"Saya suka, tapi Lala lebih suka makanan ini" matanya melirik ke arah Lala.
"Ohh gitu, udah lama kalian sampai ?
"Lumayan bentar lagi juga kita balik" ucap Lala menyela pembicaraan mereka.
"Iya saya harus cepat balik kantor karna masih banyak kerjaan, jam makan siang juga udah mau abis gak enak sama karyawan yang lain" ucap Adam.
"Pak Adam hebat yah walaupun sebagai kepala cabang bapak tetap disiplin" ucap Billy memuji Adam.
"Pak Billy bisa sajah, Pak Billy lebih hebat"
"kepala cabang, jadi Adam kepala cabang di PT XXXXX itu rupanya, syukur lah dia sudah sukses aku ikut senang mendengarnya" ucap Lala dalam batin.
"Pak Billy sudah selesai makannya, kalau begitu kita pamit pulang yah" ucap Lala, dia tidak ingin berlama lama berada dengannya.
"Ohh iya" jawab Billy singkat.
"Kita permisi dulu pak Billy" Ucap Adam.
"Iyah saya juga mau balik kantor, Mari pak Adam"
Mereka berdiri dari duduknya dan pergi menuju mobil masing masing.
"Kenapa Dam?"
Lala melihat Adam menendang nendang ban mobilnya.
"Ban nya kempes La"
"Kok bisa"
"Gak tau nih padahal tadi baik baik aja"
"Jadi gimana telpon orang bengkel ajah suruh kesini"
Sebuah mobil tiba tiba nerhenti dihadapan mereka.
"Kenapa sama mobilnya Pak Adam ?" Tanya Billy dari balik kacanya.
"Bannya kempes Pak"
"Ya udah ikut bareng saya ajah"
"Gak usah pak ngerepotin bapak"
"Gak kok gak repot sekalian jalan jalan"
"La kita ikut pak Billy aja yah"
"Terus mobil kamu gimana Dam ?"
"Nanti orang kantor biar yang suruh urus"
"Ohh ya udah deh"
Sebenarnya Lala tidak ingin satu mobil sama Billy moodnya bener bener jelek kalau sudah ada Billy, tapi ia tak bisa menolak karna tidak enak sama Adam.
Akhirnya mereka pulang di antar Billy Adam duduk dijok depan dan Lala di jok belakang, kebetulan kantor Adam lebih dekat Billy mengantar Adam terlebih dahulu.
"Makasih ya pak Billy jadi gak enak sama bapak"
"Gak papa pak Adam saya senang bisa Membantu bapak"
"Saya turun dulu, nitip Lala ya pak"
"Hati hati ya La, maaf gak bisa anter kamu"
"Iya Dam gak papa"
Adam turun dari mobil segera masuk kekantornya namun Billy tak segera menjalankan mobilnya.
"Kenapa gak jalan ?" tanya Lala.
"Pindah kedepan"
"Gak mau"
"Pindah aku bilang"
"Gak mau ya gak mau, punga kuping itu denger gak sih"
Lala hendak membuka pintu mobil dengan segera Billy menguncinya sebelum Lala berhasil membukanya.
"Buka, buka pintunya"
"Gak, pindah kedepan sekarang"
"Kalau kamu gak buka pintunya aku akan teriak"
"Teriak ajah gak akan ada yang dengar mobil ini kedap suara"
"*I*ni orang bener bener nyebelin aku harus gimana males banget berurusan sama dia" Gerutu Lala dalam batinnya.
"Gimana mau pindah kedepan pintunya aja gak bisa dibuka"
"Lewat dari sini kalau lewat pintu kamu pasti kabur"
"Kamu gila yah, yang bener aja masa lewat sini, aku juga kan pakek rok pendek"
"Gak ada masalah kamu lewat sini dengan rok pendekmu itu" mata Billy melirik ke tengah tengah jok dan menepuk nepuk kan tangannya di antara jok.
"Liat kedepan kamu pasti mau ngintip"
"Jangan Ge er siapa juga yang mau ngintip"
dengan sekejap Lala sudah pindah di jok depan.
"Otak kamu kan mesum pasti mau ngintip"
Lala menatap Billy dengan sinis mereka saling bertatapan.
"Tanpa aku ngintip aku udah tau semua bentuk tubuh kamu" Ia memicingkan matanya.
Bbbuuukkkkkkk.
Lala memukulkan tasnya kekepala Billy dengan sangat keras.
"Aduh,,,, Sakit La" Billy mengusap usap kepalanya.
"Mau lagi"
Lala mengangkat tasnya.
"Gak, serius La ini sakit, aduuhhh,,,," ia masih mengelus kepalanya sendiri.
"Sakit,,, kalau gak mau aku pukul kepalamu itu jangan sembarangan ngomong"
"Tapi emang bener aku udah tau semuanya"
"Billy ,,,,,," Lala memukul badan Billy dengan tasnya berkali kali.
"Aduuhh,,, ampun La sakit"
"Rasain, mangkannya punya mulut kalau ngomong direm"
"Awas kalau ngomong kaya gitu lagi aku pecain kepala kamu"
"Cepeet jalan" Lala melanjutkan ucapannya.
Sambil merasa kesakitan Billy menjalankan mobilnya.
"Bil, ini kan bukan arah ke Caffe"
"Emang siapa yang mau ke Caffe"
"Terus mau kemana ?" tanya Lala yang mulai jengkel.
"Rumah Sakit, kepala aku sakit aku harus di periksa"
"Haaahhh,,,,," Lala menghela nafas dengan kasar.
"Turunin aku sekarang, kamu buang buang waktu aku aja" Ucap Lala yang semakin kesal.
"Kenapa si La kamu gak betah banget kalau sama aku"
"Ya pikir aja sendiri mana ada orang yang bakalan betah sama kamu" Lala menaik turunkan matanya ia terus menatap Billy yang menyetir.
"Aku bosen dikantor, aku pengen kamu temenin aku"
"Billy aku tuh banyak kerjaan gak ada waktu buat main main, aku ada janji sama seseorang, aku mau kesuatu tempat"
"Janji sama siapa ?" Billy melirik Lala penuh tanda tanya.
"Kenapa, janji dengan siapa itu bukan urusan kamu"
"Aku bakalan temenin kamu"
"Gak usah mau ngapain sih"
"Ya pengen ikut ajah, kan aku udah bilang bosen dikantor" Billy tersenyum licik.
"Iissshh nyebelin, terserah lah capek ngomong sama kamu" Lala melipat kedua tangannya di dada ia merasa sangat kesal.
"Jadi kita mau kemana?"
"Ke toko Furniture Modern"
"Mau ngapain kesana ?"
"Ya beli furniture lah masa beli sayur"
"Oh kirain mau beli ******" Billy terkekeh dia terus menggoda Lala.
"Billy,,,,, ihhhhhh nyebeliiinnn" Lala memukul Billy dengan tasnya.
"Aww,,,,, sakit aku lagi nyetir bahaya tau"
"Bodo amat"
Lala memalingkan pandangannya ke jendela kaca ia sudah terlalu kesal mengahadapi Billy, Billy terkekeuh ia merasa senang melihat Lala seperti itu, baginya Lala wanita yang apa adanya dia sangat beda dengan wanita lain.
"cuman kamu La yang berani memukulku seperti itu, wanita lain mana ada yang berani, tapi aku suka teruslah seperti ini dan teruslah disampingku" Ucap Billy dalam batinnya ia terus tersenyum sepanjang jalan.