"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Kehangatan yang sempat tercipta di antara Bita dan Ibra ternyata hanya menjadi ketenangan sebelum badai besar datang menerjang. Pernikahan dua dunia yang berbeda tidak pernah se-sederhana itu. Riak kecil di kafe tempo hari belum ada apa-apanya dibanding hantaman godam yang menghancurkan kedamaian rumah mereka hanya dalam waktu satu malam.
Seminggu setelah kepulangan Umi, hubungan mereka sedang manis-manisnya. Bita mulai terbiasa bangun subuh tanpa mengeluh, dan Ibra selalu menemukan cara kecil untuk membuat istrinya tersenyum sebelum berangkat kuliah. Namun, segalanya berubah drastis pada suatu malam Jumat.
Pukul sepuluh malam, Bita sedang bersiap-siap untuk tidur, sementara Ibra masih memeriksa beberapa berkas kerja di meja belajarnya. Tiba-tiba, ponsel Ibra yang tergeletak di atas meja nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Abang Yusuf'—kakak sepupu Ibra yang mengelola bagian humas dan media sosial Pondok Pesantren.
Ibra berjalan mendekat, mengangkat ponselnya dengan kening sedikit berkerut. "Waalaikumsalam, Bang? Ada apa malam-malam begini?"
Bita yang sedang memakai night cream di depan cermin menoleh sekilas. Namun, gerakan tangannya langsung terhenti saat melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah suaminya. Rahang Gus Ibra yang biasanya relaks, seketika mengeras sempurna. Sepasang mata tajamnya menggelap, dan tangan kirinya yang memegang ponsel mencengkeram perangkat itu dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kirimkan tautannya ke saya sekarang, Bang. Jangan biarkan santri atau pengurus lain menyebarkannya lebih jauh," ucap Ibra dengan suara bariton yang mendadak berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan sarat akan tekanan emosi yang tertahan. "Iya. Assalamualaikum."
Bita menelan ludah dengan kaku. Rasa tidak enak langsung menyergap ulu hatinya. "Gus... ada apa? Kok muka lo tegang banget gitu?"
Ibra tidak langsung menjawab. Pria itu menatap layar ponselnya yang baru saja menerima sebuah pesan WhatsApp berisi beberapa tautan dari kakak sepupunya. Begitu membuka tautan tersebut, napas Ibra sempat tertahan sedetik.
Melihat suaminya hanya diam dengan aura yang mendadak berubah mencekam, Bita beranjak dari kursi rias. Ia mendekati Ibra dengan langkah bimbang. "Gus, ada apa sih? Jangan bikin gue takut deh."
Tanpa berkata apa-apa, Ibra menurunkan ponselnya, mencoba menyembunyikan layar itu dari pandangan Bita. Namun, insting Bita bergerak lebih cepat. Ia menyambar ponsel di tangan Ibra, dan dalam satu kedipan mata, dunianya serasa runtuh seketika.
Di layar ponsel itu, sebuah utas di platform X (Twitter) dan potongan video di TikTok sedang menjadi trending topic. Judulnya sangat provokatif: "Sisi Gelap Menantu Kiai Besar Pesantren: Dari Klub Malam Jakarta ke Pesantren Elit."
Di bawah tulisan keji itu, terpajang dengan sangat jelas foto-foto dan potongan video pendek masa lalu Bita. Foto saat ia berada di sebuah kelab malam mewah di Jakarta beberapa bulan lalu, mengenakan gaun merah ketat yang mengekspos bahu dan paha atasnya, sambil memegang gelas minuman dengan latar belakang lampu disko yang remang-remang. Bahkan, ada satu video yang sengaja dipotong secara culas—menampilkan Bita yang sedang merangkul Reno di tengah lantai dansa, tertawa lepas di bawah pengaruh atmosfer pesta.
Napas Bita seketika tercekat di tenggorokan. Seluruh pasokan oksigen di kamar itu seolah lenyap dalam sekejap. Ponsel di genggamannya merosot jatuh ke atas kasur. Tubuhnya bergetar hebat, dan wajahnya mendadak pucat pasi.
"Ini... ini gak bener, Gus..." bisik Bita, suaranya bergetar penuh keputusasaan. "Ini foto lama waktu ulang tahun temen gue... dan video itu... gue gak pernah ngapa-ngapain sama Reno, demi Allah! Itu cuma dipotong pas kita lagi bercanda..."
Bita mendongak, menatap Ibra dengan mata bulat yang kini sudah dipenuhi air mata yang mendesak keluar. Ketakutan terbesar dalam hidupnya akhirnya menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan. Masa lalunya yang kelam kini dikuliti di depan publik, menghancurkan martabat dan nama baik keluarga suaminya yang merupakan ulama terpandang.
"Gus... lo percaya kan sama gue? Tolong jangan diem aja, Gus..." tangis Bita akhirnya pecah. Ia mencoba meraih ujung baju Ibra, namun rasa bersalah yang teramat besar membuat tangannya tertahan di udara. "Gue... gue emang cewek kotor, Gus. Gue emang hancurin nama baik lo, nama baik Abi, nama baik pondok... Gue pantes dibenci..."
Ibra menatap Bita. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Bita melihat sorot mata suaminya memancarkan luka yang teramat dalam—bukan luka karena kecewa pada Bita, melainkan luka karena melihat wanita yang dicintainya harus menanggung penghinaan sekeji itu dari dunia luar.
Ibra maju selangkah, lalu dengan kedua tangannya, ia langsung mendekap tubuh Bita yang gemetar hebat ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, seolah-olah ingin melindungi tubuh rapuh itu dari seluruh badai yang sedang mengamuk di luar sana.
"Astaghfirullahaladzim... diam, Tsabita. Menangislah, tapi jangan pernah sebut dirimu kotor," bisik Ibra tepat di samping telinga Bita. Suaranya terdengar bergetar, menahan gejolak amarah dan rasa sakit yang bergemuruh di dalam dadanya. "Saya tahu siapa kamu. Saya tidak pernah meragukan kesucianmu, walau hanya seujung kuku."
"Tapi dunia tahu, Gus! Santri-santri lo, Abi, Umi... mereka pasti udah lihat foto-foto menjijikkan itu!" raung Bita di dada Ibra, mencengkeram kemeja suaminya dengan keputusasaan yang memuncak. "Gue hancurin reputasi keluarga lo! Lo seorang Gus, masa depannya pondok, tapi lo punya istri yang hancur kayak gue! Kenapa lo gak ceraikan gue aja dari awal?!"
Mendengar kata 'cerai' meluncur dari bibir Bita, tubuh Ibra seketika menegang. Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Bita dengan kedua tangannya. Kali ini, tidak ada lagi kelembutan yang santai di matanya. Yang ada adalah ketegasan seorang imam yang sedang menghadapi ujian hidup mati.
"Dengarkan saya, Tsabita Azzahra!" ucap Ibra dengan suara bariton yang bergetar namun sarat akan otoritas mutlak. "Pernikahan kita bukan main-main yang bisa kamu akhiri hanya karena ketakutanmu! Demi Allah, saya menerima kamu dengan segala masa lalumu. Jika dunia menghujatmu, maka saya yang akan berdiri paling depan untuk menjadi perisaimu!"
Tepat saat kalimat Ibra selesai, ponsel Ibra kembali berdering nyaring. Kali ini, layar ponsel menampilkan nama yang membuat dada mereka berdua semakin sesak.
Abi.
Bita menatap layar itu dengan tatapan horor. Air matanya semakin deras mengalir. "Gus... Abi telepon... Abi pasti mau marah..."
Ibra menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan emosinya yang sempat tersulut. Ia mengambil ponselnya, mengusap air mata di pipi Bita sekilas dengan ibu jarinya, lalu menggeser tombol hijau. Ia menyalakan fitur pengeras suara agar tidak ada rahasia di antara mereka.
"Assalamualaikum, Abi," sapa Ibra, mencoba menjaga suaranya tetap tenang.
Dari seberang telepon, suara Kiai besar yang biasanya penuh dengan keteduhan, malam ini terdengar sangat berat dan penuh dengan beban yang menekan. "Waalaikumsalam, Ibra. Kamu... sudah lihat berita yang beredar di internet tentang istrimu?"
Ibra melirik Bita yang kini menunduk dalam-dalam sambil meremas selimut, menyembunyikan isakannya. "Iya, Abi. Ibra baru saja melihatnya."
"Bagaimana ceritanya sampai foto-foto seperti itu bisa tersebar, Le? Pengurus pondok dan para alumni malam ini terus-menerus menghubungi Abi. Ini fitnah yang sangat keji dan bisa meruntuhkan marwah pesantren kita," tutur Abi dengan nada bicara yang sarat akan kedukaan seorang ayah sekaligus pemimpin umat. "Abi tahu Bita anak baik yang sedang berproses, tapi masyarakat luar tidak mau tahu soal itu. Mereka hanya melihat apa yang tampak di layar."
"Abi..." Ibra menjeda kalimatnya, matanya menatap lekat pada Bita, memberikan kode lewat tatapan mata bahwa segalanya akan baik-baik saja. "Ibra yang bertanggung jawab penuh atas Tsabita. Foto-foto itu adalah masa lalu sebelum Bita menikah dengan Ibra, dan video itu telah dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ibra jamin, istri Ibra tidak serendah apa yang dituduhkan di internet."
Hening sejenak di seberang telepon. Helaan napas berat Abi terdengar begitu jelas. "Abi percaya padamu, Ibra. Tapi situasi di pondok sedang tidak kondusif. Besok pagi, Abi minta kamu dan Bita pulang. Kita harus mengadakan rapat dewan pengurus darurat untuk menyelesaikan masalah ini sebelum menjadi bola liar yang menghancurkan pesantren."
"Baik, Abi. Besok pagi-pagi sekali, Ibra dan Bita akan berangkat ke pondok," jawab Ibra patuh.
"Ya sudah. Tenangkan istrimu, jangan sampai dia tertekan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambungan telepon terputus. Keheningan yang teramat mencekam kembali menguasai kamar utama mereka. Bita mendongak, menatap Ibra dengan pandangan mata yang sepenuhnya kosong dan dipenuhi ketakutan.
"Kita... kita harus ke pondok besok, Gus?" tanya Bita lirih, tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga. "Gue... gue gak siap menghadapi tatapan mata ribuan santri di sana. Gue gak siap melihat Umi kecewa..."
Ibra tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menaruh ponselnya, lalu kembali duduk di sebelah Bita. Ia menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, mengecup puncak kepala Bita dengan sangat lama dan penuh rasa takzim.
"Saya akan selalu ada di sampingmu, Bita. Apapun yang terjadi besok di pondok, sekeras apa pun badai yang menghantam kita... tangan saya tidak akan pernah melepaskan tanganmu," bisik Ibra teramat dalam, menyalurkan seluruh kekuatan dan rasa aman yang ia miliki ke dalam jiwa istrinya yang sedang hancur.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar mereka di Jakarta, Bita menyadari bahwa cobaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ini bukan lagi sekadar tentang ego atau cemburu buta, melainkan tentang perjuangan mempertahankan kehormatan, cinta, dan pernikahan mereka di hadapan ribuan pasang mata yang siap menghakimi.