# YANG GA SABAR SAMA JALAN CERITANYA PASTI NYERAH DI TENGAH JALAN... #
( Bikin bingung kalo bacanya dari tengah. Saran penulis ikuti dari awal yaa. mksh...🙏😊)
Berawal dari misteri tentang kehamilan seorang gadis yatim piatu bernama Gendis akibat perbuatan seorang pria yang membuatnya terpuruk.
Dan pengalaman aneh yang dialami oleh sang adik yang bernama Patih, karena menolak cinta seorang wanita, membuatnya harus berjuang untuk bisa lepas dari pengaruh ilmu hitam.
Juga kehadiran anak indigo yang akan membantu mengungkap kisah mistis yang mewarnai perjalanan hidup para tokohnya, membuat kisah ini makin menarik.
Mau tahu...?
Simak kisahnya yuk...
( Mohon bijak dlm berkomentar. Kalo ga suka diskeep aja. Gampang kan ...? )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 ( Dateng Juga )
Patih memberi kabar tentang kelulusannya pada Gendis. Gendispun melonjak gembira saat mendengar Patih akan kuliah di Jakarta.
" Kenapa Ma, Om Patih mau tinggal disini juga ya sama Kita...?" tanya Farah anak tiri Gendis.
" Belum tau Sayang, tapi kalo Om Patih di Jakarta, Kita bisa sering ketemu kan...?" kata Gendis sambil memeluk Farah.
" Asyik, berarti Aku bakal punya temen main bola dong Ma...," kata Fajar senang.
" Om Patih kesini buat belajar, bukan main bola...," sela Darius sambil mengelus kepala Fajar.
" Yaahh, gagal dong Fajar punya temen main bola...," keluh Fajar.
" Kan ada Papa...," kata Farah melihat kembarannya kecewa.
" Papa kan sibuk. Kalo diajak maen alasannya capek mulu...," gerutu Fajar sambil melangkah ke kamarnya.
" Iya maaf. Minggu besok kita maen ya, sepuasnya, kalo perlu seharian...," janji Darius.
" Jangan janji kalo ga bisa nepatin Pa...," kata Gendis mencubit kecil pinggang suaminya.
" Aww, iya Ma. Papa besok libur kok...," kata Darius sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan Gendis.
Farah tertawa melihat tingkah Darius yang kesakitan. Lalu ia memeluk Gendis dengan sayang sebagai ungkapan terimakasih karena sudah membela dia dan kembarannya. Gendis pun balas memeluk sambil mencium kening Farah.
" Aku sayang banget sama Mama, cuma Mama yang ngerti apa mau Aku sama Fajar...," kata Farah sambil memeluk Gendis.
" Mama juga sayang sama Farah. Mama bakal lakuin apapun biar Anak-anak Mama seneng dan tertawa...," kata Gendis sambil tersenyum.
" Bagus ya. Papa sekarang jarang dipeluk, Papa ngambek aja...," kata Darius pura-pura marah.
Tingkah Darius yang lucu membuat Gendis dan si kembar tertawa geli. Darius pun ikut tertawa.
\=\=\=\=\=
Patih berangkat seminggu kemudian dari rumahnya di Lampung.
Dalam perjalanannya dengan kapal laut, Patih mengingat percakapannya dengan orangtuanya yang penuh petuah bijak. Hingga Patih hampir bosan karena mendengarnya berulang kali.
" Hati-hati disana ya Nak. Jangan lupa sholat, ngaji, jangan bergaul sama sembarang orang...," kata Oyoh sambil memasukkan baju Patih ke dalam tas.
" Iya Mak...," jawab Patih.
" Liat-liat kalo temenan, kalo bikin curiga ga usah dideketin...," kata Oyoh lagi.
" Iya Mak...," jawab Patih lagi.
" Harus tau, narkoba itu bahaya buat hidup Kita. Kalo udah kena narkoba jangan harap hidupmu bisa normal lagi kaya biasa...," nasehat Oyoh.
" Iya Mak, kan udah diomongin berkali-kali kemaren. Masa masih diulangin lagi. Patih udah denger Emakku Sayang...," kata Patih sambil memeluk Oyoh memohon agar Oyoh menghentikan nasehatnya itu.
" Iya Mak, Saya aja bosen dengernya. Abisnya yang diomongin sama kaya kemaren, dan kemarennya lagi. Ganti dong Mak...," canda Oding mendukung sang anak.
" O, udah pada bosen denger Emak ngomong ya...?!" kata Oyoh marah.
" Bukan Mak...," jawab Oding dan Patih bersamaan.
" Ya udah. Emak ganti. Denger baik-baik. Jangan pacaran sebelum kerja. Cari perempuan baik-baik buat dijadiin istri. Kenalin dulu sama Emak model perempuan yang mau Kamu nikahin. Jangan kepincut sama cewek yang bajunya ga di jahit sama baju kurang bahan...!" kata Oyoh berapi-api.
Oding dan Patih terdiam sejenak saling tatap. Kemudian tawa pun pecah di kamar Patih. Sedangkan Oyoh kesal dan meninggalkan kamar sambil menghentakkan kakinya.
" Patih belom kepikiran nikah Mak...!" seru Patih sambil memegangi perutnya yang kram karena kebanyakan tertawa.
" Tapi pesen Emak bener juga Tih. Ingat itu...," kata Oding sambil menepuk pundak Patih lalu menyusul istrinya yang ngambek.
Patih tersenyum sambil geleng-geleng kepala saat mengingat kelucuan emaknya.
\=\=\=\=\=
Kapal yang ditumpangi Patih merapat di pelabuhan Tanjung Priok.Patih turun kemudian melanjutkan perjalanan dengan Taxi. Sekarang Patih sudah ada di depan rumah Gendis.
Gendis pindah dari rumah kakeknya di kampung ke Jakarta mengikuti Darius yang dipindah tugaskan oleh perusahaan.
Anak-anak juga ikut dan terpaksa pindah sekolah mengikuti ayah mereka.
Pintu terbuka dan tampak Fajar dan Farah berlari menyambut kedatangan Patih.
" Oomm...," teriak si kembar bersamaan.
" Hai, keponakan Om yang ganteng dan cantik, gimana kabar Kalian...?" tanya Patih sambil memeluk kedua keponakannya itu.
" Alhamdulillah baik Om...," jawab si kembar kompak.
Patih tertawa mendengar kekompakan anak kembar di depannya itu.
" Ayo masuk Om, Mama masak banyak hari ini buat nyambut Om lho...," ajak Farah ceria.
" Waah, masa sih. Jadi seneng nih, ntar kalo Om betah dan ga mau pindah jangan salahin Om ya, salahin Mama Kamu yang masakannya enak itu...," canda Patih.
" Tenang aja Om. Kan masih banyak kamar kosong buat Om, biar Om bisa pindah-pindah jadi ga bosen tinggal disini ...," kata Fajar semangat.
" Emang iya...?" tanya Patih yang mengingat hanya ada satu komor kosong di rumah Gendis.
" Iya Om, di gudang, ha ha ha...," jawab Fajar tertawa dan langsung lari menghindari kejaran Patih yang gemas karena dikerjai keponakan laki-lakinya itu.
Setelah berhasil menangkap Fajar, Patih dan si kembar pun memasuki rumah sambil terus bergurau.
Di dapur tampak Gendis sedang memasak dibantu Darius yang ikutan sibuk, sibuk gangguin Gendis he he he....
" Kayanya udah dateng deh Ma...," kata Darius.
" Iya Pa, coba Kita liat yuk...," ajak Gendis sambil mematikan kompor.
" Mama, liat Om Patih udah dateng nih. Bawa oleh-oleh banyak lho Ma buat Aku...," kata Fajar senang.
" Buat Aku juga lah...," sela Farah tak mau kalah.
Gendis tersenyum dan langsung menghambur memeluk Patih. Diciuminya wajah sang adik sambil menangis terharu. Suasana sejenak pun ikut larut dengan tangis Gendis.
" Mmm, Kak. Udahan dong meluknya. Malu tau. Aku kan udah gede, masa diginiin...," kata Patih yang membuat semua tertawa mendengarnya.
" Buat Kakak, Kamu tuh tetep Adik kecil Kakak, mau segede apa pun Kamu nantinya...," kata Gendis tersenyum sambil mencubit pipi Patih dengan gemas.
" Iya terserah Kakak aja. Bang Darius...," kata Patih lalu memeluk kakak iparnya dengan hangat.
" Welcome to the jungle...," canda Darius sambil menepuk pundak Patih bangga.
" Makasih Bang...," jawab Patih sambil nyengir kuda.
" Mana Om oleh-oleh buat Aku dari Nenek sama Kakek...," pinta Farah manja.
" Tenang Anak-anak, ada di sini kok. Buka aja sendiri. Om mau ke kamar mandi dulu ya, kebelet pipis...," kata Patih sambil ngacir ke kamar mandi.
" Hore...!" seru si kembar senang.
Mereka pun membuka bawaan Patih dengan semangat. Sesekali Darius mengingatkan agar si kembar tak membuka barang pribadi milik Patih.
" Jangan lupa telephon Nenek ya, bilang kalo udah terima hadiahnya, biar Om ga diomelin sama Nenek ...," kata Patih yang baru saja selesai mandi.
" Siap Om...!" jawab si kembar kompak.
Patih hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kelucuan si kembar diusianya yang sudah delapan tahun itu.
Patih lalu masuk kamar yang disediakan untuknya selama kuliah di Jakarta, merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian terlelap.
bersambung