**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Suara yang Tak Asing
"Aku bisa melihat satu sampel," jawab Kirana. "Tapi aku tidak menjanjikan tiga puluh topi langsung laku."
Sri hampir memeluk buku stoknya. "Itu sudah cukup."
"Belum cukup," kata seorang lelaki dari belakang meja kasir.
Haryono datang membawa kalkulator dan lembar penerimaan barang. Tatapannya jatuh pada topi di tangan Kirana.
"Kalau saran Mbak dipakai koperasi, pekerjaannya harus dicatat dan dibayar," katanya. "Kami tidak meminta desain gratis hanya karena Sri panik."
Kirana menyukai kalimat itu.
"Bayar setelah satu sampel jadi dan disetujui," jawabnya. "Kalau hanya pendapat lisan, anggap saja saya membantu melihat kesalahan."
Haryono menarik selembar kertas kosong. "Tuliskan perubahan yang diperlukan. Sri membuat sampel bersama perajin. Kalau cocok, kita tentukan biaya desain dan aturan pemakaiannya."
Bagas meletakkan ember serta ketel di lantai. "Berapa lama?"
"Lima belas menit," jawab Kirana.
"Tadi Sri bilang lima."
"Tadi aku belum bekerja."
Ia meminta pensil, penggaris, dan pita yang tersedia. Dalam beberapa garis, Kirana menggambar perbandingan tinggi mahkota dengan lebar pinggiran. Ia menandai bagian yang perlu dibuat seragam, lalu melipat pita agar jatuh mengikuti lengkung, bukan berdiri kaku.
Sri mengamati tanpa berkedip.
"Kalau pitanya diganti, biaya naik," kata Haryono.
"Tidak harus kain mahal. Cari bahan lebih lunak dengan warna tetap. Buat tiga pilihan warna dari satu kelompok bahan agar produksi mudah."
"Biru paling laku," ujar Sri.
"Karena foto pertama memakai biru. Bukan berarti semua pembeli ingin warna sama."
Kirana juga meminta nama pembuat tidak dilepas dari catatan. Jika ada cacat, mereka harus tahu apakah masalah berasal dari pola, bahan, atau pengerjaan, bukan menyalahkan seluruh desa.
Haryono membaca catatan itu dua kali. "Besok siang datang lagi. Kami siapkan satu sampel dan surat kerja sederhana."
"Saya belum tentu bisa setiap hari."
"Tulis jadwal yang mampu. Kesehatan lebih dulu."
"Suratnya harus menyebut desain ini hanya dipakai untuk pesanan koperasi," kata Kirana. "Kalau nanti diproduksi di tempat lain, kita bicara lagi."
Sri tampak bingung. "Gambar sesederhana ini juga punya aturan pemakaian?"
"Yang dibayar bukan jumlah garisnya. Yang dibayar adalah keputusan tentang ukuran, bahan, dan bentuk yang membuat barang lebih mudah dijual."
Haryono mengangguk. "Masuk akal. Untuk sampel pertama, koperasi membayar biaya konsultasi tetap. Kalau penjualan berlanjut, kita buat perjanjian baru dan pisahkan upah perajin dari biaya desain."
"Harga pembeli jangan dinaikkan terlalu tinggi hanya untuk menutup semuanya sekaligus," tambah Kirana. "Uji tiga puluh barang ini dulu. Catat warna mana yang benar-benar dipilih, bukan hanya yang dipuji."
Haryono menoleh kepada Sri. "Dengar? Pujian tidak masuk kas. Pembayaran yang masuk."
Sri buru-buru menulis.
Kirana juga menyarankan agar enam keluarga tidak dipaksa membuat semua bagian dengan cara berbeda. Satu orang dapat menyiapkan pola lingkar, setiap rumah tetap menganyam, lalu pemeriksaan akhir dilakukan sebelum barang dibawa ke kota. Dengan begitu, kesalahan ukuran tidak dibebankan kepada pembuat setelah barang telanjur selesai.
"Mbak pernah mengurus produksi?" tanya Sri.
"Aku pernah membantu melihat sampel kain dan pakaian di usaha keluarga. Lebih banyak belajar daripada memutuskan."
"Tapi Pak Haryono langsung mendengarkan."
"Karena sarannya bisa diuji," jawab Haryono. "Kalau sampelnya gagal, kita perbaiki. Tidak ada orang yang selalu benar hanya karena sekolah desain."
Kirana tersenyum. Ia lebih menyukai sikap itu daripada pujian kosong.
Bagas menatap Haryono dengan sedikit lebih ramah.
Ketika mereka meninggalkan koperasi, Sri sudah berlari mencari pita yang lebih lembut. Wajahnya tidak lagi seperti orang yang akan dikirim ke gudang.
Kirana dan Bagas makan siang di warung dekat halte. Ia memilih mi kuah tanpa cabai, tetapi hanya sanggup menghabiskan setengah mangkuk setelah mencicipi roti dari minibus.
Bagas melihat sisa itu. "Sudah kenyang?"
"Iya."
"Mual?"
"Tidak."
Ia menarik mangkuk Kirana dan mulai menghabiskan sisanya.
"Kamu tidak perlu makan bekas orang," kata Kirana.
Bagas berhenti. "Kamu keberatan?"
Pertanyaan itu membuat Kirana terdiam. "Tidak. Aku hanya tidak terbiasa."
"Kalau tidak nyaman, aku pesan yang baru."
"Habiskan saja. Sayang dibuang."
Bagas kembali makan. Gerakannya biasa, tanpa bermaksud membuat adegan manis. Justru kesederhanaan itu membuat Kirana merasa aneh. Mereka pernah menikah, bercerai, saling curiga, lalu kini berbagi satu mangkuk seperti orang yang sudah lama mengenal kebiasaan masing-masing.
"Apakah gajimu cukup untuk rumah, makan, pemeriksaan, dan dua bayi?" tanyanya.
Sendok Bagas berhenti. "Aku akan atur."
"Itu bukan angka."
"Cukup kalau aku mengurangi beberapa kiriman dan tidak membeli hal yang tidak perlu."
"Aku tidak mau seluruh hidupku bergantung pada pengaturanmu."
Bagas meletakkan sendok. "Kamu mau bekerja di koperasi?"
"Mungkin. Kalau tubuhku memungkinkan dan pekerjaannya jelas." Kirana memainkan ujung tisu. "Aku pernah belajar desain di kampus ternama. Tidak selesai."
"Kenapa?"
"Nama Prawira mulai terseret masalah. Ada laporan anonim ke kampus yang menuduh portofolioku dibantu orang lain dan biaya kuliah berasal dari uang perusahaan yang bermasalah."
"Itu benar?"
"Tidak. Tapi kampus menahan akses studio sambil memeriksa. Berita menyebar lebih cepat daripada hasil pemeriksaan. Aku berhenti datang karena Papa sakit dan Mama butuh bantuan."
"Melati?"
Kirana menatap kuah yang tinggal sedikit. "Aku tidak punya bukti. Tapi dia satu-satunya orang yang memegang salinan portofolio, tagihan kuliah, dan masalah keluarga pada saat yang sama."
Bagas mengusap rahang. Satu lagi bagian hidup Kirana hancur melalui pola yang sama, nama anonim, dokumen pribadi, lalu keraguan publik.
"Kalau koperasi memberi pekerjaan resmi dan kamu ingin mengambilnya, ambil," katanya. "Aku tidak akan menyuruhmu tinggal di dapur."
"Kalau jadwal kontrol dan kondisi tubuhku berubah, aku mungkin harus berhenti sementara."
"Tulis itu di perjanjiannya."
"Kalau pekerjaan pertama gagal?"
"Kamu cari sebabnya. Kalau memang salahmu, perbaiki. Kalau pasarnya yang tidak cocok, jangan menganggap seluruh kemampuanmu hilang."
Kirana memandang Bagas dengan heran. "Itu nasihat dari orang yang dua hari lalu mengira rumah cukup dinilai dari jumlah kamar?"
"Aku belajar cepat."
"Rumah sewa kita memang dapurnya perlu diperbaiki."
"Bukan itu maksudku."
Kirana tersenyum. "Aku tahu."
"Tapi jangan bekerja sampai lupa makan."
"Syaratmu selalu kembali ke makanan."
"Karena mangkukmu masih setengah."
Setelah makan, mereka mengambil minibus kembali. Bagas turun lebih dulu di dekat pos karena Gunawan menelepon bahwa surat izin salinan kamera KUA sudah siap dan harus ditandatangani hari itu.
"Aku antar sampai wisma dulu," katanya.
"Minibus berhenti di depan gang. Bu Marni sudah menunggu. Kamu akan terlambat kalau ikut berputar."
"Telepon begitu sampai."
"Aku akan telepon sebelum kamu sempat bertanya."
Bagas akhirnya turun. Ia tetap berdiri di tepi jalan sampai minibus bergerak lagi.
Kirana tiba menjelang sore. Bu Marni terlihat di balik pagar, sedang berbicara dengan tukang sayur. Jarak mereka tidak sampai dua puluh meter.
Sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan.
Kirana baru melangkah menuju gerbang ketika pintu belakang mobil terbuka. Sepatu hak rendah menyentuh aspal, diikuti ujung gaun mahal berwarna gading.
"Kirana."
Tubuhnya berhenti.
Suara itu lembut, teratur, dan terlalu dikenalnya.
"Ternyata kamu benar-benar mengejarnya sampai Magelang."
Kirana berbalik dan melihat Melati berdiri di samping mobil.