Garin Antonio telah mencapai titik terendah dalam hidupnya setelah kehilangan istrinya dua tahun lalu. Maudy, cinta pertamanya, telah pergi selamanya, dan Garin yakin bahwa takkan ada cinta lain yang bisa menggantikannya.
Suatu hari, nasib membawa Garin bertemu dengan Saraswati. Saras, seorang guru kelas dua putranya yang baru, datang ke Gajakarta setelah mengalami perceraian yang sulit di Desa Cijengkol. Ia mencari kehidupan baru dan lingkungan yang lebih positif untuk memulai kembali.
Mungkin karena keduanya telah merasakan luka emosional yang mendalam, Saras merasa terhubung dengan kesedihan yang terpancar dari mata Raka, putra Garin. Dan dari situlah, ikatan di antara mereka mulai terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imazarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resah Gelisah
Salah satu kebiasaan dalam perasaan paranoid.
Garin menghela nafas, akhirnya membuka file itu kembali, terfokus pada halaman-halaman di dalamnya.
Ada satu detail tentang kecelakaan yang terasa tak masuk akal. Selama bertahun-tahun, Garin telah menandai dengan tanda tanya beberapa poin di sekitarnya.
Dia mengetahuinya saat dia dibawa ke tempat kecelakaan terjadi.
Yang aneh, siapa pun yang menyebabkan kecelakaan itu telah menutupi tubuh Maudy dengan daun pisang dan memberi alas pada kepalanya. Fakta ini tidak pernah muncul di surat kabar.
Sejenak, ada harapan bahwa daun pisang itu akan memberikan petunjuk tentang identitas pelaku. Namun, itu hanya daun pisang biasa yang tumbuh liar di kebun milik warga yang terbengkalai dan telah diambil dengan sangat berhati-hati. Tidak ada sisa sidik jari atau semacam petunjuk yang ditinggalkan pelaku.
Tidak ada cara untuk melacaknya.
Tapi... mengapa?
Bagian inilah yang terus mengganggu Garin.
Mengapa menutupi tubuh, lalu kabur? Tidak masuk akal. Ketika dia membawa masalah ini kepada Sutrisno, Sutrisno mengatakan sesuatu yang menghantuinya: "Seperti pelaku mencoba meminta maaf."
Atau mengalihkan perhatian kita?
Beberapa sosiopat yang membunuh untuk kesenangan. Dia pernah mendengar tentang orang-orang seperti itu.
Garin tak tahu apa yang bisa dipercayai.
Namun, dia akan menemukan pelaku itu, tak peduli seberapa tidak mungkin, karena dia takkan menyerah.
Kemudian, hanya kemudian, dia bisa membayangkan dirinya melanjutkan pencarian.
🍂•••••••
Pada Jumat malam, tiga hari setelah berjumpa dengan Garin Antonio, Saraswati merasa sendirian di ruang tamunya. Dia meneguk tolak angin yang kedua, merasa sangat buruk. Walaupun dia tahu tolak angin tidak akan membantu, dia merencanakan untuk minum sachet ketiga setelah sachet ini habis. Walaupun dia tidak merasa masuk angin, hari itu terasa begitu buruk.
Sekarang, dia hanya ingin melarikan diri. Namun, semuanya tidak dimulai buruk. Dia merasa cukup baik di pagi hari dan selama sarapan. Namun, sepanjang hari, semuanya merosot dengan cepat.
Beberapa waktu sebelumnya, pemanas air di apartemennya rusak, memaksa dia mandi air dingin sebelum pergi ke sekolah. Di sekolah, tiga dari empat muridnya di depan kelas sedang pilek dan batuk, mengarahkan itu ke arahnya.
Sisanya juga tampak mengikuti contoh mereka, dan hari itu tidak berjalan seperti yang dia inginkan. Setelah sekolah, dia berusaha mengejar beberapa pekerjaan, tetapi ketika dia siap pulang, ban mobilnya bocor. Dia harus menunggu hampir sejam sebelum bantuan jalan tiba, dan ketika dia kembali, jalanan telah ditutup untuk Festival Perayaan Kemerdekaan, memaksa dia harus memarkir tiga blok jauhnya.
Dan pada puncak semuanya, sepuluh menit setelah dia tiba di rumah, seorang kenalan cece Marlina, memberitahunya bahwa mantan suaminya akan menikah lagi pada bulan Desember. Itu adalah saat ketika dia membuka sachet pertama jamunya orang pintar itu.
Sekarang, merasakan efek jamu pintar, tenggorakannya mulai terasa panas dan perutnya agak bergejolak, dorongan buang angin yang kuat dari atas dan bawah.
Saras berharap bengkel mang Acip melakukan pekerjaan lebih lama dengan ban-nya, sehingga dia tidak ada di rumah untuk menjawab panggilan telepon.
Sebenarnya dia tidak dekat dengan cece Marlina yang meneleponnya itu, karena awalnya mereka hanya terhubung melalui keluarga mantan suaminya, dia merasa curiga. Meskipun kabar itu disampaikan dengan simpati, dia tak bisa tidak mempertanyakan apakah wanita itu akan melaporkan tanggapan Saras kepada mantan suaminya setelah telepon ditutup. Beruntung dia mampu mempertahankan sikap tenangnya selama bertelepon tadi.
Tiga sachet tolak angin kemudian, rasanya semakin sulit. Dia ingin menghindar dari kabar tentang mantan suaminya. Mereka sudah bercerai secara hukum dan emosional, dan tidak seperti pasangan bercerai lainnya, mereka tidak berbicara sejak pertemuan terakhir mereka di kantor pengacara hampir setahun yang lalu.
Saat itu, dia merasa lega dan hanya menandatangani dokumen tanpa banyak bicara. Rasa sakit dan kemarahannya telah berubah menjadi apati, membuatnya merasa bahwa dia tidak pernah benar-benar mengenal mantan suaminya. Setelah itu, mereka tidak berkomunikasi sama sekali. Dia kehilangan kontak dengan keluarga dan teman-temannya, dan mereka seperti tidak pernah menikah. Setidaknya, itu yang dia katakan pada dirinya sendiri.
Dan sekarang mantan suaminya akan menikah lagi. Meskipun dia seharusnya tidak terganggu, tapi kenyataannya lain. Dia merasa terganggu oleh pernikahan yang akan datang itu.
Meskipun demikian, dia tahu bahwa jika ada, dia lebih kesal pada kenyataan bahwa itu mengganggunya daripada pada pernikahan itu sendiri. Dia sudah tahu bahwa mantan suaminya akan menikah lagi, dia sudah memberitahunya.
Ini pertama kalinya dia benar-benar membenci seseorang dengan begitu mendalam. Kebencian itu muncul karena ada hubungan emosional di masa lalu. Dia tidak akan membenci mantan suaminya sebanyak itu jika dia tidak pernah mencintainya.
Pada awalnya, dia mungkin berharap hubungan mereka abadi. Mereka telah berjanji saling mencintai selamanya, mengikuti contoh keluarganya yang telah menjalani pernikahan lama. Meskipun ada masalah, dia percaya bahwa mereka akan seperti keluarganya.
Meskipun berat, Saras memilih pandangan keluarganya dan meninggalkan janji yang telah diberikan kepadanya. Namun, dia merasa tidak dihargai.
Tapi sekarang, dia tidak harus terganggu jika dia telah melupakan semuanya. Saras minum tolak angin terakhirnya dan berdiri dari sofa. Dia tidak ingin mempercayai atau mengakui perasaan ini. Dia sudah melupakan semuanya.
Jika mantan suaminya kembali dan meminta maaf, dia tidak akan memaafkannya. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan cinta yang telah hilang. Dia bisa menikahi siapa pun yang dia suka, tapi itu tidak akan berdampak pada Saras.
Di dapur, dia menuangkan gula ke dalam teh. Saat mencoba mengaduk tehnya secara perlahan dia kembali menyadari bahwa mantan suaminya akan menikah lagi.
Meskipun berusaha menahan air mata, Saras tidak bisa.
Dia tidak ingin menangis lagi, tetapi harapan lamanya hancur. Saat meletakkan gelas, gelasnya jatuh dan pecah. Ketika dia meraih pecahan kaca, tangannya terluka dan mulai berdarah.
Satu lagi masalah pada hari yang sudah buruk ini.
Dia mengambil napas dalam-dalam dan menutup mata, menekan tangannya ke matanya untuk mencegah air mata keluar.
keesokan hari...
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya ibunya.
Dalam kerumunan orang, suara itu terdengar samar. Untuk ketiga kalinya, "Aku baik-baik saja, Bu. Sungguh."
Ibunya merapikan rambut Saras dari wajahnya. "Tapi kamu kelihatan pucat, seperti orang yang akan jatuh sakit."
"Aku hanya lelah, itu saja. Aku begadang semalaman untuk kerja."
Meskipun tidak suka berbohong pada ibunya, Saras tidak ingin memberi tahu tentang tolak angin semalam. Ibunya tidak paham mengapa orang minum obat warung, dan jika Saras menceritakan tentang itu, ibunya akan khawatir dan bertanya banyak. Bagi ibunya, obat haruslah dengan resep dokter yang terpercaya dan dari hasil pengecekan oleh ahlinya.
uraian kata dan. kalimatnya
nyastraaa....
Emosi si kang mas Garin