NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Pengemis Bermata Serigala

Tiga tahun berlalu seperti helaan napas bagi sang penguasa yang tertidur. Di siang hari, Pangeran Ketiga Lin Chen adalah permata Istana Kerajaan Chen anak laki-laki berusia tujuh tahun yang pendiam, gemar membaca di perpustakaan, dan sangat disayangi oleh ayahanda, ibunda, serta kakak-kakaknya. Ia berlatih pedang kayu dengan malas-malasan bersama Lin Feng, dan memakan kue teratai buatan Lin Xue dengan senyum lugu.

Namun, saat bulan purnama menggantikan matahari, sang Pangeran Ketiga menghilang ke dalam pekatnya malam.

Udara di Kerajaan Chen telah berubah. Bocoran Qi dari robekan dimensi tiga tahun lalu perlahan mempertebal esensi spiritual di udara. Meski masih terlampau tipis bagi kultivator sejati, bagi Lin Chen, untaian Qi itu bagaikan tetesan air di padang pasir. Dantian-nya yang merupakan peleburan dari Hawa Kekacauan perlahan mulai terisi, memutar hukum alam semesta di dalam tubuh  tersebut.

Di atas atap istana yang dingin, Lin Chen membuka mata keemasannya. Ia menghembuskan napas pelan, dan sebuah panah udara melesat dari mulutnya, membelah daun gugur di kejauhan dengan presisi mematikan.

Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tiga, batin Lin Chen menilai kemajuannya. Sangat lambat karena dunia ini kekurangan energi, namun cukup.

Lin Chen bangkit. Ia menarik jubah hitam sederhana yang sengaja ia sembunyikan di balik genteng istana, mengenakannya, dan menutupi wajah mungilnya dengan kain penutup berwarna senada. Hanya menyisakan sepasang mata emas yang dingin.

Dengan gerakan seringan daun yang jatuh, ia melompat dari atap setinggi lima tombak. Tubuhnya tidak terbanting, melainkan mendarat tanpa suara layaknya hantu. Kekuatan fisik dan Qi-nya memungkinkannya melampaui batasan gravitasi yang mengikat para pengawal istana.

Malam ini, seperti puluhan malam sebelumnya, Lin Chen menyusup keluar dari istana menuju sudut tergelap Ibukota.

Pasar Bawah Tanah Ibukota Kerajaan Chen bukanlah tempat bagi manusia berhati lurus. Di tempat ini, para bangsawan hidung belang membeli budak, preman menjual selundupan, dan anak-anak jalanan diadu layaknya anjing untuk kepingan perak.

Lin Chen berjalan menyusuri gang sempit yang bau pesing dan darah. Tubuh mungilnya tersembunyi di balik bayang-bayang. Ia tidak sedang mencari masalah, ia sedang menyeleksi bibit.

Aku butuh pedang yang tidak pernah berkarat, dan tameng yang tidak pernah hancur, pikir Lin Chen, matanya memindai kerumunan para pengemis anak yang sedang meringkuk kedinginan.

Tiba-tiba, suara cambukan dan tawa kasar menarik perhatiannya.

Di sudut sebuah lorong buntu, tiga preman bertubuh kekar dari Geng Kapak Darah sedang mengelilingi seorang bocah laki-laki kurus kering yang kira-kira berusia sembilan tahun. Bocah itu mengenakan karung goni compang-camping, tubuhnya dipenuhi luka cambuk yang berdarah.

"Dasar tikus tengik! Berani-beraninya kau mencuri dompet Tuan Muda Bangsawan Liu?!" seorang preman yang wajahnya dipenuhi bekas luka meludah ke arah bocah itu. "Serahkan emasnya, atau aku akan memotong jarimu satu per satu!"

Bocah kurus itu tidak menangis. Ia bahkan tidak memohon ampun. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu gelap menatap tajam ke arah preman tersebut, memancarkan keganasan seekor serigala yang kelaparan. Tangan kanannya mencengkeram erat dompet sutra merah, sementara tangan kirinya memegang sepotong pecahan kaca tajam.

"Uang ini... untuk membeli obat adikku," suara bocah itu bergetar karena rasa sakit, namun nadanya sedingin baja. "Maju selangkah lagi... dan aku akan menusuk mata babi-mu."

"Hahahaha! Kau pikir pecahan kaca bisa menembus kulitku?!" Preman itu tertawa meremehkan. Ia mengayunkan tongkat kayunya keras-keras ke arah kepala bocah tersebut.

Namun, sebelum tongkat itu menyentuh sehelai pun rambut si bocah, sebuah kerikil kecil melesat menembus kegelapan.

TRANG! KRAAAAK!

Kerikil itu menghantam tongkat kayu dengan kekuatan kinetik yang mustahil. Tongkat itu hancur berkeping-keping. Bukan hanya itu, sisa tenaga kerikil tersebut menembus bahu preman berbekas luka itu, melubanginya hingga tembus ke belakang.

"AARRGGHHH!" Preman itu menjerit histeris, jatuh berlutut memegangi bahunya yang menyemburkan darah. Dua temannya mematung panik, mencabut golok mereka sambil menoleh ke segala arah.

"S-Siapa di sana?!" teriak salah satu preman dengan suara gemetar.

Dari balik bayang-bayang lorong, sesosok anak kecil berjubah hitam melangkah keluar. Ia hanya setinggi pinggang mereka, namun aura Hawa Dingin yang merembes dari tubuhnya membuat suhu di lorong itu anjlok.

"Tikus berani menggonggong di malam hari," ucap Lin Chen datar.

Ia tidak membuang waktu. Dengan kecepatan yang membuat mata para preman itu tidak bisa menangkap pergerakannya, Lin Chen melesat maju. Jari-jari mungilnya, yang dialiri oleh Qi Kondensasi Tingkat Tiga, menotok titik mematikan di leher kedua preman tersebut dalam satu kedipan mata.

Bruuk. Bruuk.

Kedua preman itu ambruk ke tanah, pingsan dengan mulut berbusa tanpa sempat berteriak. Preman pertama yang tertembak kerikil mencoba merangkak kabur, namun Lin Chen menginjak pergelangan kakinya, mematahkannya tanpa ampun hingga preman itu jatuh pingsan karena syok.

Keheningan kembali menyelimuti lorong.

Lin Chen perlahan menoleh, menatap bocah laki-laki bermata abu-abu yang masih mencengkeram pecahan kaca. Bocah itu gemetar, namun ia tidak mundur. Ia mengarahkan pecahan kacanya ke arah Lin Chen.

"Siapa kau?" tanya bocah serigala itu, penuh kewaspadaan.

Lin Chen tidak menjawab. Ia berjalan mendekat. Saat jarak mereka hanya satu jengkal, Lin Chen dengan mudah menepis pecahan kaca itu dari tangan sang bocah, lalu menjatuhkan sekantung kepingan emas murni di depan kakinya. Emas itu jauh lebih banyak dari yang ada di dalam dompet curian tersebut.

"Ambil ini. Beli obat untuk adikmu," ucap Lin Chen dengan nada memerintah yang kuat.

Bocah itu menatap emas di bawah kakinya, lalu menatap mata keemasan dari balik kain penutup wajah Lin Chen. Insting bertahan hidup jalanannya menjerit, mempertanyakan dari mana datangnya kebaikan mendadak ini.

"Apa maumu dariku?" tanya bocah itu serak. "Tidak ada yang memberikan emas secara cuma-cuma di pasar ini."

"Aku memang tidak memberikan emas secara cuma-cuma," Lin Chen tersenyum tipis di balik kainnya, mengenali potensi pembunuh sejati dari tatapan bocah tersebut. "Siapa namamu?"

"Gou'er (Anjing). Mereka memanggilku begitu karena aku makan sisa-sisa," jawabnya dengan rahang mengeras.

"Mulai malam ini, namamu adalah Mo Ying (Bayangan Tinta)," Lin Chen mendekatkan wajahnya, memancarkan tekanan Qi tipis yang membuat Mo Ying tanpa sadar menahan napas. "Obati adikmu. Setelah ia sembuh, temui aku di Kuil Tua di Bukit Barat saat bulan purnama. Berikan nyawamu dan kesetiaanmu padaku, dan aku berjanji kau tidak akan pernah perlu mencuri untuk bertahan hidup lagi. Kau akan mencabut nyawa mereka yang membuatmu menderita."

Lin Chen berbalik, jubah hitamnya berkibar menyatu dengan bayangan malam. Sebelum ia melompat ke atas atap, ia menyisakan satu kalimat terakhir.

"Jika kau tidak datang, aku akan menganggapmu benar-benar mati sebagai anjing jalanan."

Mo Ying menatap kepergian sosok misterius itu. Tangan kurusnya mencengkeram erat kantong emas di tanah. Tatapan serigalanya tidak lagi memancarkan keputusasaan, melainkan api baru. Ia tidak tahu siapa anak berjubah hitam itu.

Tiga jam kemudian, saat fajar mulai menyingsing, Lin Chen sudah berada kembali di dalam selimut sutranya di Istana. Jubah hitamnya telah disembunyikan rapi.

Pintu kamarnya berderit terbuka pelan. Lin Xue, yang kini berusia tiga belas tahun dan semakin cantik anggun, masuk membawakan nampan sarapan berisi bubur ayam dan roti hangat.

"Chen'er, adik kesayangan Kakak, bangunlah," Lin Xue mengguncang pelan tubuh adiknya.

Lin Chen pura-pura mengucek matanya yang mengantuk, lalu bangkit dan memeluk leher kakaknya dengan manja. "Pagi, Kak Xue."

"Pagi, Jagoan Kecil," Lin Xue mencubit hidung adiknya. "Cepat makan sarapanmu. Ayah berkata bahwa bulan depan, utusan dari Kekaisaran Yan akan datang berkunjung untuk melakukan pertukaran kebudayaan. Ayah ingin kau dan Kak Feng bersiap, karena mereka mungkin membawa pangeran-pangeran mereka yang sombong."

Lin Chen mengunyah rotinya perlahan. Matanya keemasannya menyipit tipis di luar sepengetahuan kakaknya.

Kekaisaran Yan, batin Lin Chen, mengingat penjelasan Lin Yue beberapa tahun lalu. Kekaisaran terbesar di benua ini yang menunggangi gajah besi. Mungkin ini saat yang tepat untuk melihat seberapa luas dunia fana ini, dan seberapa kuat 'manusia' mereka.

Sang Tiran cilik menelan makanannya, lalu tersenyum lugu pada Lin Xue. "Chen'er siap, Kak! Chen'er akan melihat gajah dari dekat!"

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!