Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Suamiku, Kamu Masih Lemah Ya
Menjelang siang harinya.
Su Wanwan duduk di samping Huo Beichen yang masih terbaring-- menstabilkan napasnya. Menatap Huo Beichen dengan mata bersinar seolah bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Suamiku, kamu masih lemah ya..."
"Padahal dengan tinggi di atas 1,8 dan otot-otot padat ini aku kira kau akan sedikit lebih kuat. Tapi masih kalah seperti dulu." Tangan Su Wanwan mengelus dan memainkan otot perut itu hingga ke penti-l.
Huo Beichen menghela napas pelan, seolah bersedih. "Huh, kamu selalu menindas ku seperti ini. Kapan aku pernah mencoba di atas? Jika di atas aku pasti akan bertahan lebih lama..."
"Pernah" ucap Su Wanwan menatap Huo Beichen.
"Kapan??" Huo Beichen menatap istrinya dengan bingung.
Bibir Su Wanwan terangkat ke atas. "Saat malam pertama, saat itu kamu bergerak dengan pelan takut aku merasa sakit. Tapi baru dua jam sudah menyerah, sampai aku yang harus lembur di atas tubuh mu."
Wajah Huo Beichen seketika memerah bagai semut, ia menutup wajahnya dan berbalik tidak ingin menatap istrinya lagi. Saat itu adalah saat pertama kalinya ia malu dalam hidupnya sebagai pria dan pertama kalinya ia menjadi suami penurut istri.
Meskipun ia tidak menyesal menuruti istri, namun rasa malu karena kekurangan nya sebagai pria membuat nya malu besar. Padahal saat itu dia berpikir bisa membuat istrinya memohon ampun meminta berhenti, namun malah sebaliknya. Malah dia yang memohon berhenti karena hampir di hisap kering, sampai sedikit trauma dan menjalani program olahraga agar menjadi lebih kuat dan gagah.
Namun sekeras apapun mencoba, ia masih tetap kalah di ranjang istrinya.
"Aduh, cup-cup. Kamu sudah banyak berkembang kok, setidaknya sekarang kamu bisa 3 sampai 4 jam bertahan lebih lama. Sudah cukup membuatku puas." Su Wanwan mengusap-usap kepala suaminya, menenangkan nya seperti dulu.
"Benarkah?"
"Yah, sebenarnya tidak puas-puas amat. Tapi lumayanlah..."
Huo Beichen menghela napas lemas. Menatap istrinya tanpa daya, "Istriku, kamu kan sudah di tahap fondasi sementara aku masih tahap bawah Qi. Tenaga dan stamina kita berbeda jauh..."
"Baiklah-baiklah, jadi ayo kita berhenti dan bersih-bersih?"
"Tidak-tidak." Huo Beichen langsung bangkit dan memeluk istrinya dari belakang. "Aku masih merindukan mu, masih belum puas!"
"Oh? Ingin aku menggoyangkan perut mu lagi?"
"Tidak-tidak! Istriku, apa kamu tidak kasihan padaku? Sudah puluhan tahun aku merindukanmu, kali ini... Aku yang pimpin, boleh yaa..." Ia menatap istrinya dengan tatapan berkaca dan memakai segala pesona nya.
Su Wanwan menghela napas pasrah dan tersenyum santai seolah tanpa daya. Ia kemudian berbaring pasrah dalam pelukan Huo Beichen, seolah pasrah atau menyetujui keinginan suaminya.
Mata Huo Beichen berubah bersinar seperti anak kecil di traktir coklat sepuasnya, ia menatap istrinya yang memejamkan mata-- seolah pasrah ia perlakukan, menatap ke atas hingga ke bawah... Wajahnya berubah memerah, napasnya berat dan memanas serta detak jantung nya berdetak lebih cepat.
Namun semua hal yang di rasakan nya berubah menjadi euforia tersendiri baginya. Jika bukan karena sudah memiliki pengalaman, mungkin ia akan keburu lemas daripada langsung beraksi.
"Istriku, aku ne*n yaa..."
Hap!
***
Sore harinya, sekitar jam 5 sore.
Su Wanwan merasakan isapan geli di dada kanannya serta usapan lembut di perut dan wajahnya secara bergantian. Saat usapan itu berubah arah dan dirasakan mulai menyentuh bagian dada kirinya, mata Su Wanwan seketika terbuka lebar.
Tangan itu seketika di hempaskan nya dari tempat yang tidak seharusnya itu. "Berhenti bermain."
Huo Beichen tersenyum dan kemudian menjauhkan mulutnya dari benda yang berbentuk dot bayi itu.
Su Wanwan beranjak bangun dari ranjang sambil meregangkan tangannya ke atas. "Sudah puas?"
"Ehehehe, lumayan... Tapi tidak puas!"
Bola mata Su Wanwan memutar malas, ia menyentuh luka-luka merah di leher dan bagian tubuh lainnya. Suaminya ini memang seperti anjing kecil, selalu saja suka menggigit dimana-mana. Dengan satu lambaian bekas-bekas tanda merah itu segera menghilang, dan kulitnya kembali mulus tanpa noda.
Su Wanwan segera beranjak dari tempat tidur nya dan membuka pintu dimensi. Huo Beichen segera ikut berdiri dan memeluk istrinya dari belakang dengan wajah yang berseri-seri, sambil tersenyum malu dan sedikit canggung dengan tanda-tanda merah yang sudah menghilang itu.
Begitu masuk ke dalam ruang, Huo Beichen sempat panik karena istrinya tiba-tiba menghilang. Ia mencari dan melihat kesana kemarin selama beberapa detik hingga akhirnya istrinya kembali membawa sebuah... Bak mandi?! Dari sebuah pintu lain.
"I-istriku..."
Huo Beichen segera memeluk istrinya erat-erat, seperti anak anjing yang ketakutan menemukan babu nya menghilang.
"Istriku, aku pikir kamu pergi dan mewariskan ruangan ini kepadaku. Huhuhu, jika sampai kamu pergi, aku akan menderita sendirian lagi."
Tak!
Su Wanwan menjitak kepala Huo Beichen sekali, melihat nya sedikit meringis dengan mata menyedihkan ia pun memutar matanya. "Sudahlah, ayo masuk bathtub dan mandi."
Su Wanwan masuk ke dalam bathtub dan memejamkan matanya-- merasakan air hangat membasahi kulit nya.
Di susul Huo Beichen yang masuk ke dalam bathtub, dan seperti lintah yang tidak bisa tanpa benda. Ia langsung memeluk Su Wanwan dari belakang.
Su Wanwan melirik nya dengan wajah datar.
"Eh??" Huo Beichen tidak mengerti dan merasa bingung mengapa istrinya menatap nya seperti itu.
"Kua... Tidak ingin bertanya darimana bathtub ini berasal?"
"Darimana lagi, tentu dari ruangan mu kan?"
"CK!" Su Wanwan menyikut perut suaminya pelan. "Sama sekali bukan!"
Tadinya Su Wanwan ingin suaminya sendiri yang bertanya mengenai kemana ia pergi dengan pintu itu dan darimana bathtub ini. Namun sepertinya suaminya terlalu menganggap ruangan ini seperti kantong Doraemon, alhasil ia sendiri yang harus menjelaskan nya dari J sampai Z.
"Dengarkan aku... Sebenarnya ruangan ini terhubung dengan zaman kuno dan rumah villa ku di zaman modern."
Huo Beichen. "?!"
"Aku bisa masuk ke sana, namun meskipun aku mencobanya beberapa kali kamu tetap tidak bisa masuk." Ia sudah mencoba mengajak tubuh Huo Beichen masuk sejak pertama kali masuk ke dalam ruang dimensi, namun tetap tidak bisa.
Su Wanwan kemudian menjelaskan semuanya, dimulai dari prolog ia tiba-tiba ada di zaman kuno ini hingga bisa sampai berkultivasi. Ia juga menjelaskan jika sebenarnya ia masuk dalam sebuah alur cerita dan menjadi antagonis, Su Wanwan menceritakan banyak hal sampai mulutnya mengering karena haus barulah ia berhenti.
Ia menggerakkan sebuah air gelas ke tangannya dan langsung meminumnya. Setelah itu kembali menatap suaminya.
"Lu Minghan, tidak! Huo Beichen... Dengarkan aku, meskipun kau seorang bangsawan. Namun jika sampai memiliki banyak perempuan ataupun selir, maka aku tidak akan segan-segan pergi ke zaman modern dan hidup selamanya disana."