NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28 Pertama Kalinya Arkan Muncul

Kalau mau berbohong…” suaranya rendah, namun aura intimidasinya sangat terasa bagi mereka bertiga“…minimal jangan sebodoh itu.” Lanjutnya.

Deg.

Ketiga pria itu mundur perlahan karena aura pria di depan mereka benar-benar berbeda.

Mereka bisa merasakan bahwa saat ini mereka berada di dalam bahaya. Insting mereka menyuruh mereka segera pergi dari sana.

Di dalam rumah Alkina yang sedang tertidur di sofa terbangun karena suara gaduh samar dari luar. Ia mengernyit pelan lalu berjalan menuju jendela, namun sebelum sempat membuka tirai, Mira sudah muncul cepat.

“Jangan lihat keluar.” Cegah Mira.

Deg.

“Kenapa nek?” Alkina justru malah semakin penasaran.

“Masuk kamar sekarang.” Suara Mira sangat serius.

Dan itu membuat Alkina langsung tegang.

“sebenrnaya ada apa ini nek?”

Namun Mira tidak menjawab, tatapan wanita itu tertuju ke arah luar rumah dengan wajah dingin.

Karena ia tahu Arkan akhirnya bergerak sendiri malam ini.

Sementara itu di luar salah satu pria suruhan Hendro mencoba melawan. Yang ia pikirkan sekarang adalah menyelamatkan diri.

Ia mengeluarkan pisau kecil, namun sebelum sempat bergerak

Bugh!

Tubuhnya langsung jatuh setelah Arkan menghantam perutnya keras. Pria itu tersungkur sambil muntah.

Dua lainnya langsung panic ketakutan.

“Kita mundur!” perintah seorang laki-laki yang merupakan ketuanya.

Namun orang-orang Arkan sudah mengepung mereka, sudah tidak ada jalan keluar. Arkan berjalan mendekat perlahan lalu mencengkeram kerah salah satu pria itu.

“Kirim pesan ke Hendro.” Perintah Arkan dengan tatapan tajam penuh ancaman.

“Kalau dia menyentuh adikku sekali lagi…” nadanya rendah namun bagi pria itu tetap saja menakutkan.

Napas pria itu tercekat sangat ketakutan sekarang.

“…aku pastikan dia kehilangan lebih dari sekadar uang.” Ucap Arkan tidak main-main.

Tubuh pria itu langsung gemetar hebat karena mata Arkan benar-benar terlihat seperti seseorang yang bisa menghancurkan hidup orang lain tanpa ragu.

Sementara di tempat lain…

Hendro menerima telepon dengan wajah tegang namun beberapa detik kemudian wajahnya langsung pucat.

“Ada apa?” tanya Livia panik.

“Jawab dong, kenapa?” tanya Livia tidak sabaran.

Hendro berdiri mendadak, membuat livia semakin penasaran akan apa yang terjadi.

“Semua orang kita sudah tertangkap.”

“Apa, Siapa yang melakukannya?”

Napas Hendro memburu lalu perlahan ia mengingat satu wajah dari laporan lama yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu. Wajah anak laki-laki yang seharusnya mati dalam kecelakaan itu.

“Tidak mungkin, ini mustahil…”

“kamu kenapa sih?” livia tidak paham, kenapa suaminya begitu ketakutan.

Tatapan Hendro berubah penuh ketakutan. Sementara Livia semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Apalagi jawaban Hendro yang tidak jelas menurut Livia.

“Arkan Wiratmaja…”

Tubuh Livia langsung dingin, sekarang ia paham kenapa reaksi suaminya seperti itu.

“Di, dia masih hidup?”

Sekarang kedua orang itu benar-benar panik karena jika Arkan hidup berarti mimpi mereka menguasai keluarga Wiratmaja benar-benar selesai.

Sementara itu Arkan masih berdiri di luar rumah Mira hujan semakin deras bahkan Jas hitamnya sudah basah kuyup terkena air hujan namun tatapannya masih tertuju ke rumah itu.

Ke kamar lantai dua tempat Alkina berada sekarang, begitu dekat, hanya beberapa meter dan setelah bertahun-tahun Arkan berada sedekat ini dengan adiknya.

Tangannya perlahan mengepal langkahnya bahkan sempat bergerak maju.

Satu langkah, dua langkah, namun kemudian ia berhenti, karena ketakutan itu kembali datang.

Bagaimana kalau Alkina melihatnya lalu kecewa? Bagaimana kalau adiknya menangis? Bagaimana kalau dirinya justru mengingatkan Alkina pada semua luka lama?

Arkan memejamkan mata kuat-kuat lalu perlahan mundur lagi.

Dari jendela lantai dua…

Alkina menuruti perintah Mira untuk pergi ke kamarnya. Alkina diam-diam membuka tirai samar-samar melihat sosok pria tinggi berdiri di bawah hujan.

Wajahnya tidak terlihat jelas namun entah kenapa dadanya terasa sangat sesak seolah hatinya mengenali seseorang itu.

Alkina masih berdiri di balik tirai dengan napas tidak teratur. Sosok pria di bawah sana sudah mulai berjalan menjauh, namun entah kenapa hatinya terasa panic dan tanpa sadar

“Tunggu…” Bisikan kecil itu keluar tanpa sadar.

Dadanya sesak. Tangannya gemetar meski wajah pria itu tidak terlihat jelas namun Alkina merasa sangat mengenalnya. Perasaan itu terlalu kuat untuk dijelaskan.

ceklek

Bahkan Alkina tidak menyadari pintu kamarnya terbuka pelan. Mira masuk dengan wajah serius, namun langsung berhenti saat melihat Alkina berdiri dekat jendela.

“Apa yang kamu lihat Alkina?”

Alkina menoleh perlahan ketika mendengar suara Mira.

“Ada seseorang tadi nek…” jawaban itu membuat Mira sedikit tegang. Tatapan Mira sedikit berubah.

“Apa kamu melihat wajahnya?”

Alina menggeleng kecil.

“Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas…” Namun beberapa detik kemudian, suaranya mulai bergetar.

“Tapi… aku merasa kenal nek.”

Suasana mendadak sunyi.

Mira menghela napas panjang pelan karena ternyata hubungan darah memang tidak bisa dibohongi.

"Sudah, lebih baik kamu istirahat." Mira tidak mau lebih lama bicara, ia takut keceplosan.

"Baik lah nenek." ucap Alkina menurut.

Alkina naik atas kasurnya, membaringkan tubuhnya.

"Tidur lah, hari sudah semakin larut."

"Ya nek, selamat malam." ucap Alkina.

"Malam sayang." Setelah mengelus pelan rambut Alkina, Mira pergi keluar kamar Alkina.

"Semoga kalian berdua cepat bertemu kembali." ucap Mira penuh harap.

Sementara itu Arkan sudah kembali masuk ke mobilnya.

Hujan membasahi seluruh rambut dan bajunya namun pria itu sama sekali tidak peduli. Tatapannya kosong menatap rumah Mira dari kejauhan.

“Tuan muda…” Anak buahnya terlihat ragu untuk bertanya.

“Kenapa berhenti tadi?”

Arkan memejamkan mata sebentar.

“Aku tidak bisa...”

“Karena takut di benci?” ucap anak buahnya.

Pertanyaan itu membuat suasana mobil langsung sunyi dan beberapa detik kemudian Arkan menjawab lirih,

“Iya.”

Ini pertama kalinya pria yang ditakuti banyak orang itu terdengar begitu rapuh.

“Aku lebih takut menghadapi Alkina daripada menghadapi musuh mana pun...”

Karena musuh bisa ia hancurkan namun tatapan kecewa Alkina itu sesuatu yang tidak yakin bisa ia hadapi.

“Aku belum siap melihat tatapan kecewa Alkina, aku belum siap mendengar saat adik ku mengucapkan kata benci.”

“Maaf jika saya lancang tuan muda... tapi menurut saya lebih baik tuan muda menemui nona berbicara dari hati ke hati... dan menurut saya nona muda sama sekali tidak akan membenci tuan muda.”

“Untuk saat ini aku benar-benar belum siap, aku butuh waktu...”

Sementara di rumah keluarga Wiratmaja…

Ranti dan Setiawan juga akhirnya menerima kabar tentang insiden yang terjadi di rumah Mira malam ini, namun mereka belum mengetahui bahwa di rumah itu ada Alkina.

“Orang-orang Hendro ditangkap.” lapor kepala keamanan keluarga.

Setiawan langsung mengangkat kepala, tatapannya berubah serius.

“Siapa yang menangkap mereka?”

Kepala keamanan keluarga terlihat ragu sesaat sebelum menjawab,

“Diduga… tuan muda Arkan.”

Tubuh Ranti langsung membeku.

1
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
Ds Phone
yang sorang menesal yang sorang tamak harta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!