Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Langkah Menuju Pintu Baru
Hari Sabtu berjalan dengan ritme yang tenang dan hangat. Sejak pagi, suasana di kontrakan kecil kami terasa jauh lebih berseri. Undangan makan malam dari Kareen untuk hari Minggu besok menjadi topik pembicaraan yang hangat antara aku dan Rayan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, kami menyempatkan diri pergi ke pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Selatan. Kami berniat membeli kemeja baru yang rapi untuk Rayan, sekaligus berburu buah tangan terbaik sebagai tanda hormat saat bertamu ke rumah orang tua Kareen.
"Mas Reno, kemeja biru gelap ini cocok enggak buat Rayan?" tanya Rayan sambil memegang gantungan baju di depan cermin toko.
Aku mendekat dan memperhatikan potongan kemeja itu. "Bagus sekali, Dek. Pas di bahu kamu, kelihatan rapi dan dewasa."
Rayan tersenyum lebar menatap bayangannya sendiri di balik kaca. Sambil menunggu kasir merapikan belanjaan, ingatan masa laluku berputar kembali. Beberapa bulan lalu, kami bahkan harus menghitung koin di dasar dompet hanya untuk membeli beras dan telur. Kini, berkat ketabahan dan kerja keras yang tak terputus, aku bisa membelikan kemeja baru untuk adikku tanpa perlu dihantui rasa cemas akan biaya makan besok pagi.
Di pasar buah modern tak jauh dari sana, kami memilih keranjang parsel berisi apel fuji segar, anggur hitam, dan buah pir kualitas terbaik. Aku ingin memastikan kehadiran kami sebagai tamu benar-benar menghormati keluarga Kareen yang selama ini begitu baik.
Minggu sore pun tiba. Langit Jakarta dinaungi awan tipis berhiaskan rona jingga sewaktu matahari mulai terbenam di ufuk barat. Angin sejuk bertiup perlahan di antara dedaunan, membawa ketenangan di akhir pekan.
Di dalam kamar kontrakan yang harum, aku dan Rayan sibuk merapikan penampilan. Aku mengenakan kemeja katun abu-abu gelap yang kusetrika licin, dipadukan dengan celana bahan hitam. Sementara Rayan tampak gagah dengan kemeja biru barunya.
"Mas Reno kelihatan tegang banget dari tadi," goda Rayan sambil merapikan rambutnya di depan cermin dinding ruang tamu. "Padahal kita cuma mau makan malam santai sama Mbak Kareen dan keluarganya."
Aku terkekeh pelan sambil merapikan posisi jam tangan di pergelangan kiri. "Bukan tegang, Dek ... cuma agak canggung. Ini kan pertama kalinya Mas bertamu secara resmi ke rumah keluarga Kareen."
"Santai saja, Mas. Mbak Kareen kan baik dan perhatian, pasti orang tuanya juga ramah," sahut Rayan memberi semangat dengan wajah polosnya.
Aku menepuk bahu adikku penuh kasih. "Iya, kamu benar. Ayo, taksinya sudah menunggu di depan."
Sebuah mobil taksi daring membawa kami menyusuri jalanan Jakarta yang berangsur lengang menuju kawasan perumahan tenang di daerah Jakarta Selatan. Di sepanjang jalan, deretan rumah besar berarsitektur elegan dengan pagar besi tempa yang kokoh memberikan gambaran suasana hunian yang mapan.
Selama di perjalanan, Rayan yang biasanya tenang mulai menunjukkan sedikit rasa gugup. Ia berkali-kali merapikan kerah kemejanya dan mengecek kerapian celana panjangnya.
"Mas, pita di parsel buahnya tidak lepas atau miring, kan?" bisiknya pelan sambil memangku keranjang buah di atas pangkuannya dengan hati-hati.
"Tidak, Dek. Pitanya masih terikat rapi," jawabku menenangkan, meski di dalam dada, jantungku sendiri berdegup sedikit lebih cepat. Ada rasa penasaran sekaligus hormat yang membuncah untuk bertemu langsung dengan sosok ayah Kareen.
Taksi akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan sebuah rumah berarsitektur kolonial modern dengan pagar besi tempa berwarna hitam. Dari luar, pekarangan rumah itu tampak hijau dan asri dengan penerangan lampu taman berona kuning hangat.
Begitu kami melangkah keluar dari taksi membawa parsel buah, pintu pagar kecil di samping gerbang utama terbuka perlahan. Kareen melangkah keluar menyambut kedatangan kami. Malam ini ia tampil anggun dan bersahaja dalam balutan gaun kasual berwarna krem. Senyuman manis di wajahnya seketika mencairkan rasa kaku yang sempat membendung di dadaku.
"Reno! Rayan! Akhirnya sampai juga," sapa Kareen penuh kehangatan. "Mari masuk."
"Selamat malam, Reen. Ini ada sedikit buah tangan dari kami buat keluarga di rumah," ucapku menyodorkan parsel buah dengan kedua tangan.
Kareen menerimanya dengan binar mata bahagia. "Terima kasih banyak ya, Reno, Rayan. Padahal kalian tidak perlu repot-repot membawa apa-apa. Ayo langsung masuk, Ayah sudah menunggu di dalam."
Kami melangkah bersama menyusuri jalan setapak berlantai batu alam menuju teras depan. Setiap sudut bangunan rumah ini memancarkan suasana tenang dan damai. Saat kami melangkah melewati pintu jati berukir yang terbuka lebar, aroma harum masakan rumah dan uap teh melati hangat seketika menyergap indra penciuman kami.
"Yah, Reno dan Rayan sudah datang," panggil Kareen dengan nada lembut ke arah ruang tengah yang luas.
Dari balik sofa kayu jati di ruang tengah, terdengar suara langkah kaki yang mantap bergerak mendekat ke arah kami. Seseorang memutar badannya dari balik sekat ruangan. Aku memasang senyum terbaik dan bersiap memberikan salam penghormatan paling santun, tanpa menyadari sama sekali siapa sosok pria yang akan melangkah keluar dari sana.