Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: CARA
VALENTINA SIERRA
Aku tak percaya aku bisa sebodoh itu. Sungguh, entah apa yang merasuki pikiranku sampai aku memakan cokelat-cokelat itu. Aku menghabiskan setengah kotak dan lihatlah akibatnya.
Hari ini aku terbangun tanpa sehelai benang pun, sakit di sekujur tubuh seolah baru saja digilas truk, selangkanganku terasa perih dan basah, dan kurasakan ada sesuatu yang keluar dariku, yang saat kulihat ternyata berwarna putih.
Aku menuduh Dorian memerkosaku dan pada akhirnya justru aku yang jadi wanita gila seks yang melecehkan. Bisakah aku lebih malu lagi di hadapannya? Sekarang aku bahkan tak sanggup menatap mata dokter itu.
Aku menonton video itu dengan tercengang. Di sana ada aku, di atas ranjang, telanjang bulat dan sulit dikenali. Sebegitu berubahkah seseorang saat mengonsumsi obat-obatan semacam itu?
Yang paling parah, semuanya terekam dan aku tak bisa menyalahkannya, sebab pada akhirnya akulah yang harus mengeluarkan zat itu dari tubuhku atau aku akan mati. Bukan dengan cara itu aku merencanakan kematianku, bukan pula dengan cara itu aku ingin kehilangan keperawananku, tapi waktu yang telah berlalu tak bisa kembali.
Di dalam video, jeritan dan desa*anku terdengar jelas, memalukan sekali. Dia menatapku, menyentuhku di bawah sana, memasukkan jarinya, bahkan membawa mulutnya ke sana. Aku paham dengan ukurannya seperti itu wajar kalau aku kesakitan, apalagi aku menariknya masuk secara tiba-tiba padahal seharusnya berlangsung lebih lembut, setidaknya untuk gerakan-gerakan pertama. Tampaknya rasa sakit adalah hal yang paling tak kupedulikan gara-gara gairah yang membakar.
Cara-cara Dorian yang tak lazim itu membuatku hancur berantakan dan kelelahan luar biasa. Kurasa buang air kecil pun akan terasa sakit, dan yang lebih menyebalkan lagi, dia bilang untuk menghapus video itu kami bisa melakukannya lagi tapi kali ini tanpa obat. Dia benar-benar sudah gila.
Saat dia ke kamar mandi, dengan hati-hati aku bangkit dari ranjang dan mengenakan jubah mandi. Kulihat pakaianku tercabik-cabik di lantai dan kondisi tubuhku tidak dalam keadaan terbaik. Aku begitu kotor, ranjang berantakan dan bernoda. Kalau nanti para pelayan mencuci seprai ini, paling tidak aku harus pindah rumah karena saking malunya.
Yang membuatku penasaran adalah berapa lama durasi video itu.
Aku masuk ke kamar mandi begitu Dorian keluar, dan kuhindari menatapnya. Kukunci pintu lalu duduk untuk buang hajat. Kulihat cairan-cairan berjatuhan dari tubuhku dan kukutuk dia, cokelat-cokelat itu, dan si boneka plastik keparat yang membawanya. Kalau saja Dorian yang memakannya, setidaknya implan perempuan itu akan meletus.
Setelah masuk ke shower, mandi, lalu berendam di bak untuk berusaha membersihkan bagian dalam tubuhku, aku keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian dan mendapati Dorian bersama dokter yang muncul di video itu di dalam kamar.
"Aku memanggil Orlando untuk memeriksamu setelah apa yang kita lakukan dan untuk memastikan tanda-tanda vitalmu setelah dosis tinggi yang kamu konsumsi." Seandainya ada benda di dekatku, sudah kulempar ke kepalanya.
"Tidak perlu, kubayangkan videonya pun sudah kamu tunjukkan padanya."
"Orlando, beri kami waktu sebentar," pintanya sambil mengertakkan gigi, dan sang dokter menurut. "Kalau kamu pikir aku akan menunjukkan bagaimana kita saling membunuh di ranjang ini, kamu salah besar. Video itu hanya boleh kita berdua yang menontonnya. Lagi pula durasinya terlalu panjang."
"Bukankah itu yang tadi kamu tunjukkan padaku saja?" Dia mulai tertawa di depan wajahku.
"Kamu terlalu bergairah dan kelaparan, kamu mengalami org*sme satu demi satu. Aku sudah selesai tapi kamu masih ingin lagi, sampai aku sempat berpikir untuk memakan satu atau dua cokelat supaya bisa tahan lama."
"Aku tidak akan memakannya lagi, dan kalau kamu yang memakannya, pastikan jangan saat ada aku, untuk berjaga-jaga."
"Kita bisa memakannya bersama," katanya lalu membuka pintu agar sang dokter masuk.
* * *
Pertanyaan-pertanyaan dokter itu membuatku tak nyaman: apakah aku merasa sakit, perih, apakah ada pendarahan, bahkan apakah aku sempat melakukan sks anl mengingat kadar obat dalam tubuhku.
Di luar semua pertanyaan yang begitu memalukan yang tak pernah kubayangkan akan kujawab dalam situasi semacam itu, dia pergi setelah meninggalkan krim untuk kupakai, beberapa pil untuk mencegah kehamilan, dan obat pereda nyeri. Tekanan darah dan denyut nadiku lebih dari normal, jadi tak ada yang perlu kukhawatirkan.
Aku tetap di kamar sambil berusaha tidak memikirkan apa yang telah terjadi, setelah meminum pil yang diberikan dokter. Aku akhirnya tertidur, dan seolah itu belum cukup, Dorian datang mengangguku saat aku terbangun. Ketenangan sudah tinggal kenangan.
"Aku menemukan sesuatu yang pasti kamu suka," katanya sambil tersenyum.
Dorian ceria? Itu lebih aneh bin ajaib, dan kalau dia tersenyum, itu hanya untuk membuatku gila dengan cara yang buruk.
"Apa itu?"
"Momen persis saat kamu mencakariku seperti kucing berahi." Komentarnya kubalas dengan tamparan dan tawa terbahak darinya.
"Enyah kau. Kalau saja kamu tidak membiarkan para simpananmu yang gila itu masuk ke sini, aku pasti sudah baik-baik saja sekarang," protesku tersinggung.
"Itu seru dan kita menikmatinya. Kamu bisa memakan cokelat-cokelat itu untuk ulang tahunku, akan jadi hadiah yang bagus kalau kamu membebaskan sisi liarmu itu. Ulang tahunku sebentar lagi."
"Pergi ke neraka."