NovelToon NovelToon
Aku Sayang Kakak Iparku

Aku Sayang Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.

Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.

Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.

Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 27

Suasana taman yang sepi dan remang-remang menjadi saksi kesedihan Rara. Ia masih merasakan perih dipipinya. Tangisannya membelah kesunyian taman.

Disisi lain, Rio, kakak iparnya keluar sebentar dari rumah sakit untuk pergi beli makan sebentar. Rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari Velvet & Gold dan restoran yang masih buka malam ini, dekat dari taman.

Saat tepat melewati depan taman, Rio melihat wanita yang duduk menangis sendirian. Jiwa penolongnya pun memintanya untuk berhenti. Ia tidak menyadari kalau wanita itu adik iparnya. Ia kini melangkah mendekat.

"permisi, mbaknya kenapa sendirian disini ?" tanya Rio. Rara seketika mendongak dengan mata yang basah.

"loh, Rara, kenapa sendirian disini ?" kata Rio. Ia mulai panik saat tahu didepannya adalah adik iparnya.

Rara tak menjawab pertanyaan kakak iparnya. Ia kembali menangis dan mengusap pipinya yang masih merah.

"ya ampun, kamu kenapa ?" tanya Rio panik saat lihat pipi Rara.

Rara tak menjawabnya. Ia masih terhanyut dengan kesedihan dan tangisannya.

Rio perlahan duduk disebelah Rara. Ia tidak duduk terlalu dekat, tapi ia beri jarak sekitar 20 cm. Ia mendengarkan tangisan adik iparnya sampai cukup tenang.

"ra, coba cerita, kamu habis kenapa ?" tanya Rio lembut.

Rara yang mulai tenang, perlahan menghapus air matanya. Ia menceritakan semuanya dengan suara parau; mulai dari kelakuan Bramantyo yang melewati batas, ajakan tak senonoh ke hotel, hingga tamparan keras yang ia terima karena menolak.

"tenang ya ra, kamu nggak salah. Kamu memang harus berani menolak ajakan seperti itu. Kamu sudah benar," ujar Rio paham. Ia mencoba membuat Rara untuk menjauh dari rasa sedihnya.

"maaf ya ra, kakak pegang pipi kamu sebentar,"kata Rio. Ia menyentuh pipi adik iparnya dengan lembut. Ia memastikan kondisi pipi Rara yang masih merah.

"masih sakit, ra ?" tanya Rio.

"masih" jawab Rara dengan parau.

"kita kerumah sakit sebentar ya. Periksa pipimu. Habis itu nanti Mas Rio kasih obat," ajak Rio dengan nada pelan.

"nggak usah mas, nanti sebentar lagi juga sembuh," jawab Rara dengan parau dan tersenyum tipis.

"ra ? Kita kerumah sakit sebentar aja, mas periksa pipi kamu. Mas nggak tega lihat kamu begini," kata Rio dengan lembut. Ia masih cemas dengan keadaan Rara, jiwa menolongnya pun tak tega membiarkan pipi adik iparnya sakit.

Melihat tatapan lembut kakak iparnya, Rara seolah melihat malaikat pelindung. Selama ini ia belum pernah ketemu dengan pria selembut ini.

"baik mas," jawab Rara sambil mengusap pipinya yang masih nyeri.

Akhirnya mereka berdua berjalan bersama ke rumah sakit. Rio pun terpaksa menunda makannya, walau perutnya makin terasa keroncongan.

Jam di dinding ruangan menunjukkan pukul setengah 1 dini hari. Rara sudah selesai dilakukan pemeriksaan oleh Rio. Ternyata pipi adik iparnya tidak membengkak dan hanya nyeri ringan.

"pipi kamu nggak apa-apa ra. Perlahan nanti juga nyerinya hilang, tapi bila nanti pagi masih terasa nyeri lagi, mas mohon bilang ya ra, biar bisa mas periksa," jelas Rio.

"baik mas" ucap singkat Rara."mas aku boleh minta sesuatu ?" tanyanya sambil terduduk dipinggir ranjang rumah sakit.

"minta apa ra ?" jawab Rio penasaran.

"tolong ya mas jangan bilang kakak, please ya mas, ini jadi rahasia kita berdua," ujar Rara dengan penuh harap kakak iparnya mengerti.

"memang kenapa ?" tanya Rio dengan heran.

"hmmm, aku nggak mau kakak jadi marah dan batasin aku lagi. Please ya mas, jangan bilang siapa-siapa," kata Rara dengan penuh harapan kakak iparnya mengerti dengan situasinya. Ia seketika meraih tangan kiri Rio.

"tapi mas nggak bisa janji sampai kapan bisa jaga rahasia ini. Kamu suatu hari nanti harus berani cerita langsung ke Nadia, jangan kakak kamu dengar dulu masalah ini dari mas," jawab Rio tegas. Ia melepas genggaman tangan adik iparnya dengan lembut.

"makasih ya mas," jawab Rara. "aku pergi dulu ya mas," tambahnya sambil beranjak dari ranjang rumah sakit.

"kamu mau pergi kemana ?" tanya Rio. Didalam hatinya ia tidak tega adik iparnya berjalan sendirian.

"mau ambil mobil ku, mas" jawab Rara bohong. Mobilnya ada di parkiran apartemen Alisha, sementara ia ke kelab malam pakai mobil temannya itu.

"nggak mau bareng mas aja, mas anterin," ujar Rio. Ia ingin memastikan adik iparnya aman.

"nggak usah mas, aku bisa jaga diri. Terima kasih," ucap Rara sambil menutup pintu. Ia melangkah kembali menuju parkiran Velvet & Gold.

Rara berjalan diatas trotoar, menembus sunyinya malam. Tak banyak mobil yang melintas dijalan. Ia melangkah terus sampai ke mobil Alisha.

Rara memilih tak kembali masuk ke dalam kelab. Ia ingin menenangkan diri diparkiran mobil. Sekarang ia tak mau bertemu Bramantyo, pria yang sudah sangat kasar pada dirinya. Hatinya pun muncul rasa benci padanya.

1
Rumah Pena
lanjutt thorrr..
Pena Biru
jangan lupa like yaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!