NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Suatu pagi di sebuah SMA Nusa Bangsa, suasana koridor lantai dua terasa berbeda begitu melintas sosok yang menjadi pusat perhatian seluruh sekolah. Lexa berjalan menyusuri lorong dengan langkah anggun, seragam yang disesuaikan sempurna, dan tatapan mata yang selalu meremehkan siapa saja di sekitarnya. Di belakangnya, tiga orang temannya hani,Aurel,Lana yang lebih mirip pengawal setia dibanding sahabat selalu mengiringi tiap langkahnya. Mereka adalah kelompok paling ditakuti, dibenci, sekaligus dikagumi di SMA Nusa Bangsa.

Bagi Lexa, sekolah bukanlah tempat untuk menuntut ilmu, melainkan panggung tempat ia memegang kendali penuh. Ia kaya, memiliki paras yang memikat, dan kedudukan sosial yang tidak tersentuh. Namun, di balik seluruh kesempurnaan yang ia pamerkan, ada satu hal yang selalu mengusik ketenangannya, keberadaan Maya.

Maya adalah kebalikan dari Lexa dalam segala hal. Ia memakai kacamata berbingkai tebal yang sedikit miring, seragam kusam yang tampak sudah dipakai bertahun-tahun, serta selalu membawa tas ransel berat berisi buku-buku pelajaran. Maya miskin dan tak punya kuasa, tetapi ia memiliki satu hal yang paling tidak disukai Lexa kepintaran yang luar biasa. Setiap kali hasil ujian keluar, nama Maya selalu berada di urutan teratas, menggeser nama Lexa yang hanya mengandalkan nilai dari hasil memanipulasi atau bantuan dana dari keluarganya. Kepintaran Maya yang pendiam itu rasanya seperti tamparan keras bagi ego Lexa. Oleh karena itu, Maya menjadi sasaran empuk untuk dilampiaskan setiap kekesalan Lexa.

Langkah kaki Lexa mendadak terhenti di depan sebuah loker di ujung koridor. Di sana, Maya sedang berdiri sendirian, merapikan beberapa buku tebal ke dalam ranselnya. Lexa melirik ke arah ketiga temannya, memberi isyarat tak kasatmata yang langsung dipahami oleh mereka. Tanpa buang waktu, kelompok itu bergerak mendekat, mengepung Maya hingga gadis itu terkunci di sudut koridor.

"Aduh, pintar banget ya pagi-pagi udah belajar," suara Lexa mengalun manis, namun sarat akan ejekan yang menusuk.

Maya tersentak. Tangannya yang memegang buku seketika bergetar. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menatap lantai koridor dan berusaha keras agar tidak bertatapan mata dengan Lexa. "Aku cuma mau merapikan buku..." cicit Maya pelan.

"Siapa yang suruh kamu jawab?" potong salah satu teman Lexa sambil mendorong bahu Maya hingga punggungnya membentur loker besi dengan suara dentangan nyaring. ketiga temannya tertawa renyah, menikmati pemandangan gadis tak berdaya di depan mereka.

Lexa maju satu langkah, menarik tali ransel Maya hingga tubuh gadis itu terdorong ke depan. "Kamu tahu kan, Maya? Orang miskin kayak kamu itu harusnya sadar diri. Mau kepintaran kamu dipamerkan seperti apa pun di sekolah ini, kamu bakal tetap jadi bukan siapa-siapa. Nilai kamu itu nggak ada harganya."

Tanpa rasa iba, Lexa mengambil tumpukan buku catatan dari tangan Maya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Lexa melempar buku-buku itu ke lantai, lalu sengaja menginjaknya dengan sepatu bersihnya. Teman-temannya ikut tertawa gemas, menyenggol tubuh Maya hingga ranselnya terjatuh dan isinya berserakan di lorong yang mulai ramai oleh siswa lain. Tak ada seorang pun yang berani menolong semua murid memilih melangkah menjauh atau berpaling pura-pura tidak melihat.

Maya hanya bisa berlutut di lantai, memunguti lembaran kertasnya yang kotor terinjak, sementara air mata mulai menetes membasahi pipinya. Lexa menatap pemandangan itu dengan kepuasan dingin sebelum akhirnya berbalik meninggalkan tempat kejadian bersama kelima pengikutnya yang bersorak bangga.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!