“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga diri yang hancur...
Reja merampas nota yang dipegang Celin dan merobeknya di depan wajah gadis itu.
"Balik sekarang," perintah Reja dingin.
"Gue belum selesai," bantah Celin.
Reja tertawa sinis, lalu ia mengeluarkan dompetnya dan melempar beberapa lembar uang lima puluh ribuan ke wajah Celin. Uang-uang itu jatuh berserakan di lantai cafe.
"Itu gaji lo buat sebulan di tempat sampah ini. Sekarang, angkat kaki lo dari sini sebelum gue hancurin meja-meja ini," ancam Reja.
Deo dan Kateo saling pandang, bingung melihat reaksi Reja yang sangat berlebihan. "Rej, santai aja kali. Dia cuma kerja part-time," ucap Kateo mencoba menenangkan.
"Diem lo!" bentak Reja pada Kateo.
Celin menatap uang yang berserakan di bawah kakinya, lalu menatap Reja dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena malu dan marah yang luar biasa. Ia melepas apronnya perlahan, menyerahkannya pada Kirei yang mematung ketakutan.
"Rei, gue balik duluan ya. Maafin gue," bisik Celin.
Tanpa memungut uang yang dilempar Reja, Celin berlari keluar cafe. Reja menatap punggung gadis itu dengan napas memburu.
Sejak saat itulah, Reja mulai menjadikan cafe tersebut sebagai target ancamannya, karena ia tahu itulah satu-satunya tempat di mana Celin merasa sedikit lebih hidup.
Flashback off
Reja melangkah pergi menuju kamar mandi, membanting pintunya keras-keras, meninggalkan Celin yang bersimbah darah di atas dinginnya lantai, meratapi nasibnya yang semakin tenggelam dalam neraka buatan pria itu.
Celin mencoba bangkit dengan sisa tenaganya. Kepalanya pening, dan penglihatannya sedikit kabur karena kehilangan darah.
Dengan tangan yang gemetar, ia merangkak menuju tas sekolahnya, mencari kain atau apapun untuk menyumbat aliran darah di lengannya.
Ia tidak menangis karena rasa sakit fisiknya. Ia menangis karena ia menyadari satu hal—di rumah ini, di bawah atap yang megah ini, ia benar-benar sendirian.
Tidak ada Adrian yang bisa menolongnya setiap saat, dan tidak ada Kirei yang bisa memeluknya.
Setiap tetes darah yang jatuh ke lantai seolah menjadi pengingat, bahwa janji ayahnya untuk melindunginya hanyalah omong kosong yang ditukar dengan lembaran uang judi.
"Ibu..." bisik Celin lirih, memejamkan matanya rapat-rapat. "Bawa Celin pergi, Bu... Celin udah nggak kuat."
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka kembali. Reja keluar dengan wajah yang sudah dicuci, namun aura kemarahan masih terasa. Ia melihat Celin yang masih kesulitan menghentikan darah di tangannya.
Reja berjalan mendekat, melempar kotak P3K ke depan wajah Celin.
"Obatin," perintahnya dingin. "Besok pagi di sekolah, pakai baju lengan panjang. Kalau sampai ada yang liat atau ada guru yang nanya... lo tahu apa yang harus lo jawab."
Celin tidak menjawab. Ia hanya mengambil kotak itu dengan tangan kanannya, mengabaikan kehadiran Reja seolah pria itu hanya udara kosong yang menyesakkan.
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Celin tahu ia harus menjadi lebih keras dari baja agar tidak benar-benar hancur menjadi debu.
Celin duduk bersandar di kaki tempat tidur, menekan luka di pergelangan tangannya dengan kasa yang mulai memerah. Kepalanya berdenyut, bukan hanya karena luka fisik, tapi karena simpul rumit di pikirannya.
Reja benar-benar tahu di mana titik lemahnya. Celin bisa saja tidak peduli jika dirinya sendiri yang disiksa, tapi ancaman tentang ayahnya adalah hal yang berbeda.
Seburuk-buruknya ayahnya, pria itu tetaplah sosok yang pernah menggendongnya saat kecil, pria yang pernah menjadi dunianya sebelum judi merenggut segalanya.
Celin tidak sanggup membayangkan ayahnya yang sudah rapuh itu harus mendekam di penjara atau dihajar orang suruhan Reja.
"Gimana cara gue ke cafe... ?" bisiknya lirih.
Pikiran Celin beralih ke amplop cokelat tebal yang diberikan Adrian minggu lalu di laci meja rias. Uang saku bulanan yang sangat besar, lebih dari cukup untuk membayar utang ayahnya bulan ini.
Namun, menyentuh uang itu bagi Celin sama saja dengan mengakui bahwa dirinya benar-benar telah terjual. Setiap lembar uang itu terasa kotor, seolah-olah berbau keringat dan air mata ayahnya yang kalah judi.
Ia memilih menyimpannya. Ia ingin tetap merasa memiliki harga diri, meskipun hanya sekecil debu. Satu-satunya uang yang ia anggap halal untuk diberikan kepada ayahnya adalah hasil keringatnya sendiri dari mencuci piring dan melayani pelanggan di cafe Ibu Kirei.
Keesokan paginya, suasana di meja sarapan terasa begitu menyesakkan. Celin mengenakan seragam sekolah dengan cardigan hitam tebal yang menutupi seluruh lengannya hingga ke telapak tangan.
Cuaca di luar sebenarnya cukup terik, namun ia tidak punya pilihan. Reja duduk di seberangnya, sesekali melirik sinis ke arah cardigan Celin.
"Kamu sakit, Celin? Kenapa pakai baju hangat?" tanya Adrian lembut sambil menyesap kopinya.
"Hanya sedikit tidak enak badan, Pa. Mungkin kurang tidur," jawab Celin tenang, suaranya tidak bergetar sedikit pun meski pergelangan tangannya terasa seperti disayat sembilu setiap kali ia menggerakkan sendok.
Reja mendengus meremehkan. "Mungkin dia kecepekan main jadi pahlawan di cafe kumuh itu, Pa."
Celin membeku. Ia menatap Reja melalui sudut matanya, memberi peringatan.
Adrian mengerutkan kening. "Cafe? Maksud kamu apa, Reja?"
"Nggak ada, Pa. Reja cuma asal bicara," potong Celin cepat sebelum Reja semakin memperkeruh suasana. "Pa, kalau nanti sore Celin pulang terlambat karena ada tambahan belajar buat persiapan olimpiade bareng Rian, apa diperbolehkan?"
Reja langsung menghentikan gerakan makannya. Ia tahu itu adalah alibi Celin agar bisa pergi ke cafe. Matanya menatap Celin dengan sorot tajam yang seolah berkata 'Lo berani bohong di depan Papa?'
Adrian tersenyum lebar. "Tentu saja boleh, Nak. Pendidikan itu nomor satu. Papa senang kamu semangat sekali."
"Tapi Pa," Reja menyela dengan suara berat. "Bukannya lebih baik kalau belajarnya di sini aja? Rumah ini punya perpustakaan besar. Suruh aja si Rian itu ke sini. Biar Reja pantau... biar nggak macem-macem."
Reja tersenyum smirk ke arah Celin. Ia baru saja menjebak Celin di dalam sangkarnya sendiri. Jika Rian datang ke rumah ini, rahasia pernikahan mereka terancam terbongkar. Jika Celin menolak, Adrian akan curiga.
---
Kirei langsung menghampiri Celin yang sedang membaca buku di kelas. "Celin! Lo gila ya? Panas gini pakai cardigan tebal? Terus... pipi lo kenapa itu? Ada goresan kecil?"
Celin segera menarik rambutnya ke depan. "Gue cuma lagi kedinginan, Rei. Soal pipi, kemarin nggak sengaja kena ranting di jalan."
"Bohong," bisik Kirei, matanya berkaca-kaca. "Gara-gara kejadian semalam di cafe ya? Reja lakuin sesuatu ke lo?"
"Rei, tolong... jangan bahas itu di sini," Celin memohon.
Tiba-tiba, Rian masuk ke kelas mereka dengan wajah tegang. Ia berjalan melewati meja Celin dan menjatuhkan sebuah catatan kecil di atas buku Celin.
'Reja tahu soal gue dan Kirei. Dia nanyain gue terus tadi pagi. Hati-hati, Celin. Dia bener-bener lagi nyari celah buat hancurin apa pun yang deket sama lo.'
Celin meremas kertas itu hingga hancur. Ia menoleh ke arah jendela, melihat Reja yang sedang berdiri di lapangan basket, dikelilingi oleh banyak orang, namun matanya menatap tajam ke arah jendela kelas Celin.
Celin menyadari satu hal, menghindar bukan lagi pilihan. Reja tidak akan berhenti sampai ia benar-benar sendirian.
Jika ia ingin bekerja, jika ia ingin menyelamatkan ayahnya, dan jika ia ingin melindungi Kirei, ia harus melakukan sesuatu yang sangat berisiko.
Ia harus mulai memainkan peran sebagai "Istri Keluarga Bagaskara" dengan sungguh-sungguh, demi mendapatkan kembali kendali atas hidupnya sendiri.
Sepanjang jam pelajaran, pikiran Celin tidak terfokus pada papan tulis. Otaknya berputar cepat mencari celah. Jika ia tetap menjadi Celin yang pasif, Reja akan terus menginjaknya sampai ia hancur berkeping-keping.
Satu-satunya cara untuk keluar dari tekanan Reja adalah dengan menggunakan tameng yang paling ditakuti Reja. Adrian.
Bersambung...