Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Hari Pernikahan
Beberapa hari menjelang hari H, Sam membawa Tia ke sebuah kafe tenang untuk dikenalkan pada sosok yang ia sebut sebagai "paman jauh sekaligus mentor hidupnya". Pria itu tidak lain adalah Hendra.
"Tia, kenalkan, ini Paman Hendra," ujar Sam dengan raut wajah paling polos yang sanggup ia ciptakan. "Paman Hendra ini paman jauhku yang kerja jadi manajer di kota. Beliau yang bantu mengurus beberapa administrasi pernikahan kita."
Hendra yang mengenakan kemeja kasual, agar tidak kelihatan seperti sekretaris direksi bernilai triliunan, tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. "Selamat sore, Tia. Sam ini sudah banyak cerita tentang kamu. Katanya Tia ini wanita mandiri yang sangat luar biasa."
Tia menyalami Hendra dengan canggung. "Aduh, Paman Hendra bisa saja. Saya cuma staf admin biasa kok, Paman. Terima kasih ya sudah mau bantu-bantu Sam."
Dalam hatinya, Sam bernapas lega. Soal keluarga aslinya, Sam sengaja memilih merahasiakan skenario pernikahan ini sepenuhnya dari sang ibu di kampung dan ayah tirinya yang masih dalam pemulihan. Pikir Sam, kalau ibunya tahu ia menikah siri demi drama sewaan, ibunya bisa pingsan betulan tanpa perlu berakting.
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu, sekaligus ditakuti, akhirnya tiba.
Acara digelar di sebuah gedung pertemuan serbaguna yang tampak jauh lebih anggun dan megah dari perkiraan Tia. Berkat campur tangan gaib Hendra di balik layar (yang mengatur piring prasmanan, dekorasi bunga segar beraroma mahal, hingga tatanan pencahayaan tanpa memungut biaya ekstra dari Tia), tempat itu menjelma menjadi lokasi pernikahan impian.
Tia berdiri di atas pelaminan dengan gaun putih gadingnya. Di sampingnya, Samsudin berdiri tegap dalam balutan jas hitam kustom kado rahasia dari Hendra. Ketampanan Sam yang luar biasa, rambut undercut berkilat, rahang tegas, dan dada bidang berotot yang tercetak sempurna di balik jas, membuat seluruh tamu undangan terperangah.
Bu Heni, ibu kandung Tia, duduk di kursi keluarga dengan air mata haru yang menetes tanpa henti. Wajahnya memancarkan kebahagiaan luar biasa yang tak pernah Tia lihat sebelumnya.
Tia menatap ibunya dari pelaminan, merasa heran bercampur bingung. Saat ada jeda tamu bersalaman, Tia berbisik pelan pada Sam.
"Sam... jujur ya, aku heran banget," bisik Tia sambil membenarkan posisi mahkota kecil di kepalanya. "Kenapa sih Ibu sama Tante-Tante itu seperti kejatuhan bulan cuma gara-gara lihat aku berdiri di pelaminan? Seolah-olah kalau aku tidak menikah, hidupku itu bencana nasional."
Sam melirik Bu Heni yang sedang memamerkan foto Sam ke teman-teman arisannya. Sam tersenyum tipis, meremas lembut jemari Tia di atas pelaminan.
"Mbak Tia..." bisik Sam halus. "Orang tua zaman dulu itu logikanya sederhana. Bagi Bu Heni, melihat Mbak Tia menikah itu bukan soal pamer angka atau status, tapi soal kepastian kalau Mbak Tia ada yang menjaga saat beliau sudah tidak ada nanti. Ibu Mbak cuma ingin Mbak tidak sendirian."
Tia tertegun. Kata-kata polos dari pawang buaya di sampingnya itu mendadak menghantam dadanya dengan rasa hangat yang tak terduga.
Namun, momen haru itu seketika buyar ketika rombongan Nia dan Aris si Branch Manager melangkah naik ke atas panggung pelaminan.
Wajah Aris tampak tertekuk kecut, sangat kontras dengan kemeja batiknya yang mahal. Nia berdiri di samping Aris sambil memegangi tas bermereknya, matanya menyapu dekorasi bunga segar dan jajaran makanan mewah di meja katering dengan tatapan tak percaya.
"Selamat ya, Mbak Tia..." sapa Nia dengan suara ditahan, pura-pura tersenyum manis. "Wah... gedung dan dekorasinya lumayan juga ya. Mas Aris saja kaget, katanya kok pawang buaya bisa sewa gedung sekelas ini?"
Aris berdehem sok gengsi, memperbaiki letak jam tangannya. "Iya nih, Mbak Tia. Btw, kateringnya dari mana? Jangan-jangan katering murahan yang bikin perut mules lagi kayak waktu itu?"
Sebelum Tia sempat menyemprotkan omelan pedasnya, Sam sudah melangkah satu sentimeter ke depan, menatap Aris lurus-lurus dengan senyuman karismatik yang sangat menekan.
"Oh, kateringnya dijamin aman dan kelas atas, Mas Aris," sahut Sam dengan suara berat berwibawa. "Dan tenang saja, kali ini saya pastikan tidak ada yang kentut sembarangan lalu menyalahkan orang lain."
Skakmat!
Para sepupu yang berdiri di belakang Nia langsung menahan tawa giginya. Muka Aris seketika memerah padam bagaikan kepiting rebus. Ingatan tentang insiden buang gas di rumah Tante Lies kembali membakar harga dirinya.
"Lagian, Mas Aris..." pangkas Tante Lies yang tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa piring berisi sate ayam tumpah ruah. "Mas Sam ini biarpun pawang buaya, penampilannya jauh lebih gagah dan berkelas dibanding kamu! Lihat tuh dadanya tegap! Kamu baru jadi Branch Manager saja perutnya sudah maju dua senti!"
"Tante Lies!" protes Aris histeris, merasa dikeroyok oleh seluruh silsilah keluarga Tia.
Nia hanya bisa gigit jari, memandangi kerumunan tamu undangan, termasuk kawan-kawan dari kantor Tia dan rekan-rekan pawang kebun binatang yang tampil rapi, yang sibuk memuji ketampanan Sam dan keanggunan Tia.
Mamat pawang ular, Bowo pawang monyet, dan Pak Budi pawang gajah yang datang mengenakan kemeja batik terbaik mereka, melambaikan tangan heboh dari meja prasmanan.
"Udin! Mantap lu, Din! Makanan kateringnya juara!" teriak Mamat tanpa dosa, membuat Aris makin merana dan akhirnya memilih kabur turun dari panggung pelaminan diseret oleh Nia yang cemberut berat.
Tia menatap kepergian Nia dan Aris dengan senyum kemenangan paling puas yang pernah ada dalam 35 tahun hidupnya. Pesta berjalan dengan sangat sukses, meriah, dan berhasil membungkam seluruh prasangka keluarga besar.
Saat musik latar berputar lembut dan tamu-tamu mulai menikmati hidangan, Tia melirik Sam yang berdiri gagah di sampingnya.
"Mas Sam..." bisik Tia dengan rona merah tipis di pipinya.
"Ya, Mbak Tia?"
"Terima kasih ya," ujar Tia tulus, menatap mata tajam sang pawang buaya. "Kamu benar-benar calon suami kredit terbaik yang pernah ada."
Sam terkekeh pelan, menggenggam tangan Tia lebih erat, menikmati momen kemenangan manis itu. Namun senyuman itu tak berlangsung lama, menjadi pudar saat Sam terpikirkan sesuatu.
'Eh tunggu dulu. Kalau aku sudah punya uang, kenapa aku tetap mau jadi suami kreditnya Mbak Tia ya?' batin Sam yang merasa aneh sendiri. Dia baru sadar setelah ijab kabul dia lantunkan.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran