Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah
Sean dan Hanis sudah hendak melangkah keluar dari rumah kontrakan itu ketika ada seorang bapak tua yang datang. Itu adalah pemilik kontrakan yang akan menagih.
Hanis tau tapi dia terlalu sungkan untuk minta uang lagi kepada Sean. Memang kemarin Rino sempat diberi uang oleh Jinny, sayangnya uang itu sudah habis sepenuhnya untuk membayar hutang, beli susu serta keperluan lainnya.
“Mana Rino? Sini bayar tunggakan. Sudah tanggal segini enggak nyicil sama sekali.” Pria itu berhenti tepat di depan Hanis. “ Minimal dua ratus atau tiga bayar lah dikit-dikit, jangan malah ngumpet. Atau ane sewakan ke orang lain aja?”
“Pak… Kami belum bisa sekarang, tolong,” cicit Hanis sambil menunduk.
“Kurangnya berapa?” serobot Sean sebelum sang pemilik kontrakan sempat menyahut.
“Tujuh ratus lima puluh ribu. Sudah baik saya nggak ngasih bunga,” jawab bapak tua itu.
“Saya yang bayar,” ucap Sean. Langsung mengeluarkan dompet dan membayar tujuh ratus lima puluh ribu tunai. “Hanis, bilang ke suami kamu, pindah sekarang. Ikut saya. Bawa yang perlu saja.”
Hanis mengerjap bingung. Tunggakan kontraknya barusan dibayarkan. Tapi kenapa sekarang justru disuruh pindah?
“Pindah kemana?” tanyanya.
“Ayo buruan.”
“Baik.” Hanis berbalik masuk ke dalam rumah, menemui Rino yang tengah menemani Dino di toilet mereka yang bahkan tidak memiliki lampu.
“Mas, ayo kita pergi. Kontrakan sudah dibayar Sean, tapi kita disuruh pindah. Bawa barang yang perlu saja.”
“Lho? Kemana?” bingung Rino.
Namun setelah Sean kembali masuk ke dalam rumah, Rino langsung menurut tanpa banyak tanya. Hanya membawa pakaian seadanya, yang masih bagus dan muat di tubuh anak-anak, serta dokumen berharga.
Kunci dikembalikan Rino ke pemilik kontrakan dan mereka langsung diboyong menggunakan mobil Sean. Rino duduk di samping Sean sambil memangku Icha. Sementara Hanis berdesakan di bangku belakang bersama tiga anak laki-lakinya.
“Kita mau kemana?” tanya Rino setelah mobil melaju cukup jauh.
“Saya ada rumah kosong. Baru beli bulan lalu, full furnish. Hanya bantu kenalan sebenarnya, dia jual cepat karena mau pindah ke luar kota. Bisa kalian tempati,” jawab Sean tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya.
“Terima kasih, Pak…”
“Anggap saja ini tambahan bayaran karena metodenya berubah. Kalian bisa mulai tempati malam ini. Sertifikat akan dibalik nama setelah transaksi selesai.”
Rino membelalakkan mata. Mulutnya terbuka tanpa suara. Mendadak hutang kontrakannya lunas, dan ia akan dapat rumah. Sesuatu yang jauh melebihi ekspektasinya.
Di belakang, meski terlihat sibuk menjaga anak-anaknya agar duduk diam, Hanis mendengarkan. Ia sama terkejutnya. Tak menyangka Sean akan seroyal itu.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan cat putih. Lokasinya berada di dalam perumahan nasional kelas menengah yang asri dan tampak nyaman.
“Ada dua kamarnya. Sudah lengkap semua isinya. Tinggal disapu aja paling,” ucap Sean sembari membuka pintu rumah.
Jelas lebih luas dari kontrakan mereka sebelumnya. Dindingnya tembok kokoh. Bahkan memiliki pagar besi.
“Wah… Ini beneran, Pak? Saya bisa tinggal disini?”
Rino mengerjap kagum. Mulai berjalan masuk dan melihat ke kanan-kiri.
“Iya. Silahkan tempati,” jawab Sean. Ia kemudian merogoh saku dan mengeluarkan uang tunai tambahan untuk Rino. “Ini dua juta lima ratus ribu, untuk beli susu, beli makan, listrik rumah ini, dan untuk daftar sekolah anak.”
Rino menerimanya sambil membungkuk hormat. “Terima kasih… Terima kasih banyak…”
Hanis tidak ikut masuk, ia memilih di teras luar bersama ketiga anaknya yang berlari-larian riang. Sesekali menasehati anaknya agar tidak rewel bersama ayah mereka sementara dirinya bekerja.
...****************...