NovelToon NovelToon
Sistem Permintaan Tak Terbatas

Sistem Permintaan Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.

Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.

Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.

Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pagi keberangkatan tiba dengan langit cerah dan angin laut yang membawa aroma asin khas pelabuhan. Alex berdiri di dermaga pribadi, menatap sebuah kapal pesiar putih megah yang bersandar tenang di hadapannya, lambungnya berkilau memantulkan cahaya matahari pagi.

Reina turun dari mobil di belakangnya, membawa satu koper kecil, matanya membelalak begitu melihat ukuran kapal yang akan mereka tumpangi.

"Pak... ini kapal siapa?" Reina bertanya, suaranya nyaris berbisik.

"Punyaku," Alex menjawab santai, seolah itu jawaban paling biasa di dunia.

Reina menoleh cepat, memastikan dia tidak salah dengar. "Bapak punya kapal pesiar sendiri?"

"Baru minggu lalu aku pesan," Alex menjawab, berjalan menuju tangga kapal. "Kupikir, daripada sewa, lebih baik langsung punya sendiri kalau memang berencana sering pakai."

Reina mengikuti dari belakang, masih setengah tidak percaya, matanya menjelajahi setiap detail kapal begitu mereka melangkah naik—lantai kayu mengkilap, pagar besi berlapis emas di beberapa sudut, dan seorang kru berseragam rapi yang langsung membungkuk hormat begitu melihat mereka.

"Selamat datang, Tuan Alex, Nona Reina," kru itu menyapa. "Kamar Anda sudah disiapkan di dek atas."

Reina melirik Alex, alisnya terangkat. "Mereka udah tahu nama saya?"

"Aku kasih tahu semalam," Alex menjawab singkat, tidak menganggapnya sesuatu yang perlu dijelaskan panjang lebar.

Kru itu mengantar mereka berkeliling terlebih dahulu, menunjukkan setiap sudut kapal dengan sabar. Ruang makan utama berbentuk oval dengan lampu gantung kristal di tengahnya, dapur kecil di sisi kanan yang sudah dipenuhi aroma roti panggang, dan perpustakaan mini berisi rak-rak buku yang tersusun rapi berdampingan dengan beberapa permainan papan klasik.

"Ini... perpustakaan di kapal?" Reina berhenti sejenak, menyentuh punggung salah satu buku dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.

"Kru yang usul waktu aku pesan kapal ini," Alex menjawab. "Katanya biar gak bosan kalau cuacanya gak mendukung buat di luar."

Mereka melanjutkan tur ke dek atas, melewati kolam renang kecil yang airnya beriak lembut mengikuti gerakan kapal, serta beberapa kursi santai berjajar rapi menghadap laut lepas.

"Ini... beneran cuma kita berdua yang naik kapal sebesar ini?" Reina bertanya, masih belum sepenuhnya percaya dengan kemewahan di sekelilingnya.

"Kru kapal juga ikut, tentu saja," Alex menjawab, sedikit menggoda. "Tapi kalau maksudmu tamu, iya. Cuma kita berdua."

Reina terdiam sejenak, pipinya kembali merona meski dia mencoba menyembunyikannya dengan berpura-pura sibuk mengagumi pemandangan laut di kejauhan.

Kru itu akhirnya mengantar mereka ke kamar masing-masing, dua kabin bersebelahan di dek paling atas, masing-masing punya balkon kecil menghadap laut. Reina membuka pintu kamarnya, terdiam sejenak melihat tempat tidur besar dengan seprai putih bersih, meja rias kecil, dan jendela besar yang langsung memperlihatkan birunya laut lepas.

"Kalau butuh sesuatu, tinggal tekan tombol di samping tempat tidur," kru itu menjelaskan sebelum undur diri. "Kami siap dua puluh empat jam."

...------...

Setelah menyimpan barang bawaannya, Reina keluar lagi menuju dek, mendapati Alex sudah berdiri di pagar dek utama, menyaksikan kru kapal bersiap untuk keberangkatan.

Kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga, sirene keberangkatan berbunyi pendek sebagai tanda perjalanan resmi dimulai. Alex berdiri di pagar dek, menatap garis pantai yang perlahan menjauh, angin laut menerbangkan sedikit rambutnya yang biasa rapi tersisir.

"Kenapa tiba-tiba ngajak saya, Pak?" Reina akhirnya bertanya, berdiri di sampingnya, menatap laut yang sama.

Alex diam sejenak, mencari jawaban yang jujur tanpa terdengar terlalu aneh.

"Karena kau salah satu dari sedikit orang yang aku percaya sepenuhnya," Alex menjawab akhirnya, matanya tetap menatap horizon. "Dan karena Bima bilang, aku terlalu lama gak pernah keluar dari kerjaan."

Reina tertawa kecil, suaranya terdengar lebih ringan dari biasanya. "Pak Bima memang suka usil."

"Tapi kali ini dia benar," Alex menjawab, tersenyum tipis.

Reina memandang laut sejenak sebelum menoleh lagi ke arah Alex, rasa penasaran masih tersisa di matanya. "Pak Bima juga cerita soal keluarganya ya?"

"Iya. Istrinya, anaknya," Alex mengangguk. "Kelihatan dari caranya cerita, dia benar-benar bahagia sama itu semua."

"Bapak pengen yang kayak gitu juga?" Reina bertanya, nadanya ringan seperti sekadar basa-basi, meski matanya menatap serius menunggu jawaban.

Alex terdiam sejenak, angin laut menerbangkan poninya yang sedikit memanjang.

"Mungkin," Alex menjawab jujur. "Aku belum pernah benar-benar mikirin itu sampai kemarin."

Mereka berdiri berdampingan dalam diam beberapa saat, membiarkan angin laut dan suara ombak mengisi kesunyian yang nyaman di antara mereka, jauh dari hiruk-pikuk kantor, jauh dari bayang-bayang keluarga Hartono, jauh dari segala hal yang selama ini membebani pikiran Alex tanpa henti.

Kru kapal muncul membawa dua gelas jus segar, meletakkannya di meja kecil dekat kursi santai sebelum mundur sopan tanpa mengganggu lebih jauh. Reina mengambil salah satu gelas, menyesapnya pelan sambil menatap riak air yang terbentuk di belakang kapal.

"Boleh saya jujur, Pak?" Reina bertanya, masih menatap laut.

"Silakan."

"Ini kayak mimpi. Sebulan lalu saya masih ngelamar kerja bareng ratusan orang di depan gedung, gak tahu bakal diterima atau enggak. Sekarang saya malah lagi naik kapal pesiar pribadi."

Alex tersenyum tipis mendengar itu, ikut menyesap jusnya sendiri. "Hidup memang aneh kayak gitu. Kadang perubahannya lebih cepat dari yang kita siap terima."

"Bapak sendiri gimana rasanya?" Reina bertanya lagi, menoleh sedikit ke arahnya. "Dari... yah, saya gak tahu persis ceritanya, tapi kelihatan banget Bapak juga pernah di titik yang jauh berbeda dari sekarang."

Alex diam sejenak, matanya menatap horizon yang mulai berubah warna keemasan.

"Jauh berbeda," Alex mengulang pelan. "Tapi itu cerita panjang. Mungkin lain kali."

Reina mengangguk, tidak memaksa, hanya tersenyum kecil dan kembali menatap laut bersamanya dalam diam yang terasa nyaman, bukan canggung.

...-----...

Menjelang malam, kru kapal mengetuk pintu kabin masing-masing, memberi tahu bahwa makan malam pertama sudah siap di ruang makan utama. Reina keluar mengenakan gaun sederhana berwarna hijau lembut yang dia bawa dari rumah, sedikit gugup memasuki ruangan dengan lampu gantung kristal yang berkilau lembut.

Alex sudah menunggu di meja, mengenakan kemeja santai tanpa jas, sesuatu yang jarang Reina lihat selama ini.

"Duduk," Alex berkata, menarik kursi di seberangnya.

Makan malam berlangsung dengan hidangan laut segar yang disiapkan koki kapal, diselingi obrolan ringan yang mengalir tanpa terasa canggung—soal rencana perusahaan ke depan, gosip ringan soal Bima yang katanya selalu kalah adu argumen sama istrinya, hingga tawa kecil ketika Reina bercerita soal pengalaman konyolnya waktu pertama kali wawancara kerja di gedung yang penuh sesak.

Ketika makan malam selesai, mereka berjalan bersama menuju dek belakang, menikmati udara malam yang mulai dingin sambil menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit yang jauh dari polusi cahaya kota.

"Besok kita mau kemana, Pak?" Reina bertanya, menyandarkan tubuhnya ke pagar dek.

"Kapten bilang kita akan lewat perairan yang tenang, cocok buat berenang," Alex menjawab. "Habis itu, mampir ke pulau kecil buat piknik, kalau kau mau."

Reina tersenyum lebar, matanya berbinar membayangkan hari-hari berikutnya. "Saya mau, Pak."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kesibukan perusahaan dimulai, Alex tidur nyenyak tanpa satu pun pikiran soal Daniel, Ibu Ratna, atau ancaman yang mengintai dari balik bayang-bayang—hanya suara ombak yang tenang, mengantarnya ke tidur yang sudah lama dia rindukan.

1
Israel
alah bct kwontol. tinggal minta semua kebohongan daniel terungksp di public apasusah nya sih. author alay bau kencur pmo otak isekai. halu 100%
Israel
tlol bet kenapa ga minta regenerasi tanpa batas?
Israel
Tlol
Leonardo Akob
Saya suka baca Novelton
Anonim
bodoh mc nya buat aja permintaan uang tidak terbatas unlimited
Israel: Bullshit
total 5 replies
Ria Gazali Dapson
kasian alex , bertubi² cobaan nya
Syahraman [Hiatus]
pergi ke isekai
Israel: bct lu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!