Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Sesaat
Langkah kaki Winta terasa berat menuju lorong toilet yang sedikit terpencil di sudut pusat perbelanjaan itu. Setelah Dinda dan cucunya selesai, giliran Winta yang pamit sebentar untuk membasuh wajahnya yang terasa panas. Ia butuh pasokan udara segar; tatapan mata Rangga di lorong toko mainan tadi telah berhasil mengacak-acak dadanya hingga bergemuruh hebat.
Namun, takdir seolah sedang gemar bercanda dengan cara yang sangat kejam.
Baru saja Winta memutar tubuhnya di lorong sempit yang remang menuju area toilet, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari toilet pria. Langkah mereka terhenti seketika. Jarak di antara mereka tak lebih dari dua meter.
Di lorong yang sepi dan hanya berlatar suara sayup-sayup musik swalayan dari luar, Rangga dan Winta kembali berhadapan. Tanpa ada Viona. Tanpa ada Dinda, atau cucu-cucu mereka. Hanya mereka berdua, dua jiwa beruban yang mendadak gagap di hadapan perasaan sendiri.
Dada Rangga berombak tajam. Degup jantungnya menghantam rongga dada begitu kuat hingga telinganya berdenging. Keputusan yang baru beberapa jam lalu ia ikrarkan di dalam hati, untuk menutup mata hatinya demi Thresia, lebur seketika begitu melihat binar terluka di mata Winta dari jarak sedekat ini.
"Umi..."
suara Rangga lolos begitu saja, parau dan bergetar, seperti bisikan beribu penyesalan yang tertahan di tenggorokan.
Winta membeku. Jemarinya mencengkeram erat tali tas sandangnya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah, rasa jengkel, dan kerinduan yang membakar sejak tadi malam mendadak meledak menjadi satu adonan emosi yang memabukkan.
"Jangan panggil Umi," bisik Winta tegas, meski getar di ujung suaranya mengkhianati ketegangan itu. Ia berusaha melangkah melewatinya, menatap lurus ke depan seolah Rangga adalah kasatmata.
Namun, reflex Rangga jauh lebih cepat dari akal sehatnya. Sebelum Winta benar-benar melewatinya, tangan Rangga bergerak mencengkeram lembut pergelangan tangan Winta. Sentuhan kulit yang hangat itu bagai sengatan listrik yang menyengat keduanya, menghentikan langkah Winta seketika.
Rangga melumat bibir lembut Winta saat tak seorangpun ada dilorong itu.
"Lepaskan, Rangga! Nanti ada yang lihat!"
Winta berdesis setengah berbisik, panik luar biasa. Ia berusaha menarik tangannya, tapi Rangga justru mempererat genggamannya tanpa menyakiti.
"Ponsel Abi pecah, Umi!"
Rangga menyela cepat, bicaranya berpacu dengan waktu sebelum ada orang lain yang masuk ke lorong tersebut. Mata Rangga menatap dalam-dalam ke manik mata Winta, menyalurkan seluruh keputusasaan yang menyiksanya semalaman.
"Ponsel Abi jatuh dan layarnya hancur saat aku mau meneleponmu tadi malam. Abi di depan gerbang rumahmu sampai larut malam, Umi ! Abi tidak pernah bermaksud mengabaikanmu... demi Tuhan, tidak pernah!"
Kata-kata Rangga menghantam dada Winta bagai gada berat. Napas Winta tertahan. Ponselnya rusak? Dia ada di depan rumah?
Pertahanan Winta yang dibangun kokoh sejak semalam mendadak retak.
Prasangka yang membakar hatinya perlahan luruh, berganti dengan rasa sesak yang kian mendalam. Namun, bayangan Viona yang tadi menggandeng mesra lengan Rangga mendadak berkelebat di benaknya, membakar kembali cemburu yang terlarang.
"Lalu apa bedanya, bib?"
Winta menatap Rangga dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menyembunyikan kerapuhannya di balik tatapan tajam.
"Abi di sini bersama istrimu. Bersama anak bi. Dan aku di sini bersama keluargaku. Ponselmu rusak atau tidak, kenyataannya kita ini cuma dua orang yang konyol! Lepaskan tanganku..."
"Aku memang konyol, Umi ! Aku hampir gila semalaman!"
Rangga menolak melepas genggamannya. Langkahnya maju separuh, mengikis jarak hingga Winta bisa merasakannya, napas Rangga yang memburu dan aroma parfum familiar yang selalu meluluhkan hatinya.
"Melihat Umi bersama anak cucu tadi... rasanya dadaku mau pecah. Aku sadar aku salah, tapi hatiku tidak bisa diajak kompromi, Mi. Jangan blokir aku lagi, tolong..."
"Abi , kita tidak punya masa depan!"
suara Winta menyayat, air matanya menetes satu titik melintasi pipinya.
"Lihat rambut ku, lihat cucu-cucuku, lihat anakmu!"
"Tapi perasaan ini tidak pernah memilih umur, Umi!"
potong Rangga cepat, suaranya sarat akan keputusasaan yang mendalam.
Tiba-tiba, dari arah ujung lorong depan toko mainan, terdengar langkah kaki mendekat disertai suara beradunya sol sepatu yang nyaring.
"Mama? Mama masih di toilet?"
Suara Dinda bergema, mencari keberadaan ibunya!
Jantung Rangga dan Winta serasa berhenti berdetak secara bersamaan. Panic merayapi lorong sempit itu. Winta menarik tangannya dengan sentakan kuat, dan kali ini Rangga terpaksa melepaskannya. Winta dengan cepat menyapu air mata di pipinya menggunakan telapak tangan, mengontrol napasnya yang memburu, lalu berbalik membelakangi Rangga menuju cermin basuh.
Rangga langsung berbalik memutar tubuhnya seolah-olah baru saja selesai mengeringkan tangan di bawah mesin pengering.
Dinda melangkah masuk ke lorong toilet dan menghentikan langkahnya sejenak saat melihat seorang pria berjalan melewatinya dengan menundukkan kepala. Dinda sempat menatap punggung Rangga dengan kening berkerut curiga, ia merasa pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi pikirannya terlalu terdistraksi oleh keberadaan ibunya.
"Ma? Kok lama banget? anak-anak sudah menunggu di depan,"
ujar Dinda menghampiri Winta yang berpura-pura merapikan kerudungnya di depan cermin.
Winta menelan ludah, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar sama sekali.
"Iya, Dinda... ini Mama baru selesai membasuh muka. Agak pusing sedikit tadi."
Saat berjalan keluar lorong mengikuti langkah Dinda, mata Winta sempat melirik jauh ke arah keramaian toko mainan. Di sana, Rangga sedang berdiri kaku di samping Viona yang sibuk memilihkan mainan untuk Thresia. Rangga menoleh perlahan, dan untuk sekian detiknya, pandangan mereka kembali bertemu dari kejauhan.
Penjelasan singkat di depan toilet tadi tak menyelesaikan rumitnya benang kusut di antara mereka. Namun satu hal yang pasti, kebohongan Rangga tentang ponselnya telah terbongkar, dan api di hati keduanya justru berkobar kian hebat, membakar benteng ketahanan yang coba mereka bangun rapat-rapat.
Bersambung