Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Asisten Titipan
Keesokan dini hari, namaku kembali terseret masalah laki-laki.
Kali ini bukan Surya. Sebuah akun gosip mengunggah foto tangan Denny Haryanto dengan cincin di jari manis. Keterangan fotonya bertanya apakah artis dua puluh juta pengikut itu diam-diam sudah bertunangan.
Rio, asistennya, menelepon dengan suara hampir menangis.
"Kak Anji, fotonya diambil waktu Mas Denny buka pintu mobil. Saya lupa ingatkan soal cincinnya."
"Hubungi tim publisitas. Satu suara saja: itu properti syuting untuk kampanye perhiasan. Jangan tambah cerita."
Denny dan Amara memang bertunangan diam-diam sebelum akhir tahun. Mereka belum siap mengumumkan karena kontrak iklan Denny masih menjual citra lajang. Cincin cadangan yang disimpan Rio tertinggal di kantor, jadi aku membawanya ke rumah Denny sebelum rapat pagi.
Amara yang membuka pintu.
"Denny lagi mandi," katanya tanpa mempersilakanku masuk. "Kak Anji sering datang sepagi ini?"
"Kalau artis lupa barang yang bisa menghancurkan kampanye, iya."
Kuberikan kotak cincin. Amara tidak mengambilnya segera.
"Orang-orang kira Kak Anji pacarnya Denny. Kakak senang, ya?"
"Kalau kamu merasa aman, komentar orang tidak akan membuatmu menunggu di pintu seperti ini. Rasa aman nggak dicari dengan menyerang orang yang bekerja untuk pasanganmu. Cari dari pasanganmu sendiri."
Wajahnya menegang. Aku pergi sebelum Denny keluar dari kamar mandi.
Lima menit kemudian, Denny menelepon.
"Kak Anji, Amara bilang Kakak kasar."
"Dia menuduhku menikmati rumor pacaran denganmu. Kalau kamu ingin pertunangan ini bertahan, beri dia rasa aman dan jangan biarkan aku terus membereskan barang pribadimu."
"Gue lagi banyak kerjaan."
"Aku juga. Bedanya, aku nggak punya tunangan yang harus menebak posisinya. Umumkan setelah tim legal menyelesaikan kontrak lajangmu, lalu berhenti main rahasia-rahasiaan."
Denny terdiam sebelum berjanji akan bicara dengan Amara. Aku menutup telepon dengan firasat bahwa cincin itu bukan masalah terakhir mereka.
Pekerjaan yang bertambah membuatku langsung mendatangi ruang Bu Kanya di Semesta Talenta.
"Saya butuh asisten manajer," kataku. "Bukan anak magang yang harus diajari dari nol."
Bu Kanya, perempuan yang hampir tidak pernah tersenyum, justru mengangkat sudut bibir. "Kebetulan ada titipan. Masuk."
Pintu terbuka.
Radit berjalan masuk mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan senyum orang yang tahu dirinya akan membuat hidupku kacau.
"Selamat pagi, Kak Anji."
Aku melihat Radit, lalu Bu Kanya. Saat berdiri berdampingan, kemiripan mereka terlalu jelas. Bentuk mata, garis hidung, bahkan cara menahan senyum hampir sama.
"Adik Ibu?"
"Radhitya Sanjaya," jawab Bu Kanya. "Adik saya. Baru pulang setelah menyelesaikan dua gelar arsitektur. Dia ingin belajar bisnis operasional sebelum menentukan langkah berikutnya."
"Kenapa belajar di meja manajer artis?"
Radit menjawab, "Karena saya sudah kenal atasannya."
Aku menatapnya. "Kita bertemu kemarin."
"Cukup buat tahu Kak Anji kompeten."
Bu Kanya menyerahkan berkasnya. "Kalau dia merepotkan, laporkan langsung ke saya."
Titipan orang dalam biasanya menjadi beban. Radit justru menyelesaikan ringkasan tiga naskah sebelum makan siang, menemukan riwayat sengketa salah satu sponsor, dan mengurutkan jadwal promosi tanpa satu pun benturan. Ia bahkan tahu kontrak mana yang punya klausul eksklusivitas.
Saat kuminta menjelaskan alasan menolak satu proyek, ia membuka laporan keuangan rumah produksi itu dan menunjukkan tiga pembayaran kru yang tertunda.
"Kalau Denny masuk sekarang, namanya dipakai untuk mencari investor baru," katanya. "Risiko reputasinya lebih besar daripada honornya."
Analisisnya tepat. Aku membatalkan pertemuan dan menyadari gelar ganda yang disebut Bu Kanya bukan sekadar hiasan keluarga kaya.
"Kenapa arsitek bisa membaca kontrak artis?"
"Karena Kak Anji pasti menguji aku. Aku belajar semalaman."
"Kamu tahu aku akan jadi atasanmu?"
Radit tersenyum tanpa menjawab, membuat kecurigaanku tumbuh bersama debar yang tidak kuinginkan.
Masalah pertama datang dari staf promosi yang menaruh setumpuk dokumen di mejanya.
"Tolong fotokopi dua rangkap. Habis itu ambil kopi."
Radit baru berdiri ketika aku menghentikannya.
"Dia asisten manajer, bukan mesin fotokopi. Materi kampanye yang kalian susun sendiri masih salah tanggal. Perbaiki sebelum menyuruh orang lain."
Staf itu mengambil kembali dokumennya dengan wajah malu. Radit mengikuti aku ke ruang kerja.
"Kak Anji membela aku."
"Aku membela pembagian kerja."
"Tetap manis."
"Satu kalimat lagi, aku kembalikan kamu ke Bu Kanya."
Beberapa hari kemudian, aku mewakili Denny di acara syukuran setelah syuting. Malam itu juga ulang tahun Amara, tetapi Denny masih bekerja di luar kota dan hanya hadir melalui video call. Radit ikut membawa dokumen sponsor.
Di sisi lain ruangan, Selvi sedang makan bersama tim agensinya. Surya muncul dari belakangnya dan langsung berjalan ke arahku.
"Anji, kita bicara."
Ia hendak memegang lenganku. Radit menepis tangannya dan berdiri di depan tubuhku.
"Jangan sentuh Kak Anji."
Surya menatapnya dari atas ke bawah. "Asisten baru? Jangan ikut urusan orang dewasa."
"Saya cukup dewasa untuk tahu kata putus artinya selesai."
Surya tertawa mengejek. "Lo tahu perempuan ini dekat banget sama artisnya sendiri? Tengah malam masuk rumah Denny, ke luar kota berdua, pegang semua uangnya. Jangan kaget kalau nanti lo cuma jadi penutup gosip."
Radit tidak menoleh kepadaku untuk meminta penjelasan. "Pekerjaan manajer memang mengurus artis. Selingkuh di apartemen bukan pekerjaan pacar. Jangan campur dua hal supaya kesalahan lo kelihatan kecil."
Jawaban itu membuat Surya kehilangan senyum. Aku sendiri merasakan sesuatu menghangat di dada. Radit baru bekerja beberapa hari, tetapi kepercayaannya tidak goyah oleh tuduhan yang sengaja diarahkan ke titik paling sensitif dalam pekerjaanku.
Selvi mendekat dengan pipi yang sudah tidak merah, tetapi sorot matanya penuh dendam.
"Dia sengaja bikin drama. Surya cuma mau menjelaskan."
Aku mengangkat ponsel. "Utang sudah lunas, jadi nggak ada urusan tersisa. Sekali lagi ganggu aku, videonya kukirim ke tante Surya dan grup keluarga."
Surya merendahkan suara. "Mama gue nggak setuju kita putus."
"Mama kamu tidak menjalani hubungan ini."
Beberapa tamu mulai memperhatikan. Selvi menarik Surya pergi sebelum aku benar-benar membuka video.
Acara selesai hampir tengah malam. Aku hanya minum satu gelas minuman ringan bercampur sedikit alkohol, tetapi tubuhku lelah setelah berhari-hari kurang tidur. Radit mengambil kunci mobil dan meminta sopir acara mengantar mobilnya sendiri.
"Aku bisa menyetir," kataku.
"Kakak menguap empat kali dalam satu menit. Tidur saja."
Di perjalanan, aku sempat terbangun ketika Radit berhenti di minimarket. Ia kembali membawa air mineral dan salep untuk goresan tanganku.
"Plesternya harus diganti," katanya.
"Kamu diterima sebagai asisten, bukan perawat."
"Uraian kerja bisa berkembang."
Aku membiarkannya mengganti plester setelah ia bertanya. Sentuhan jemarinya ringan, tetapi tatapannya menggelap setiap kali melihat bekas kuku Selvi.
Aku tertidur sebelum keluar area parkir.
Saat mobil berhenti di depan rumah, suara rendah membangunkanku.
"Jani."
Mataku terbuka. Itu nama yang dulu hanya digunakan Surya.
"Jangan panggil begitu."
Radit mencondongkan tubuh. Tangannya menekan tombol sabuk pengamanku hingga terdengar bunyi klik.
"Kalau aku tetap mau?" bisiknya, wajahnya semakin dekat.