Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pukul dua belas siang, hujan belum turun, namun langit tetap mendung.
Duke Adrian melangkah masuk ke Paviliun Musim Semi. Pria itu tinggi, dengan bahu yang lebar dan postur yang kaku seperti baja. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan ada bekas luka tipis di rahangnya yang hanya menambah ketampanannya. Jubah perangnya masih berbau debu jalan dan besi.
Ia diharapkan untuk menemui Kaisar. Namun, ketika pintu paviliun dibuka, ia tidak melihat Kaisar Lucian.
Ia melihat seorang wanita yang sedang duduk bersila di atas karpet, memakai gaun katun biru yang warnanya sudah memudar di bagian ujung. Rambutnya diikat asal-asalan dengan sebatang sumpit kayu. Di hadapannya, terdapat mangkuk raksasa berisi mie kuah daging yang berasap, dan ia sedang menghisap mie itu dengan suara slurp yang sangat tidak anggun.
Duke Adrian berhenti di ambang pintu, matanya yang tajam menyapu ruangan dengan insting militer. Ia mencari ancaman. Yang ia temukan hanyalah... seorang wanita yang sedang makan mie.
"Selir Elara," ucap Adrian, suaranya berat dan serak karena lama tidak mengobrol dengan orang istana. "Hamba mengharapkan audiensi dengan Yang Mulia Kaisar."
Elara menelan mienya, lalu menatap Adrian.
Wow, Desainer novel ini benar-benar tidak pelit dalam mendeskripsikan Male Lead kedua. Rahangnya bisa dipakai untuk memotong berlian.
"Kaisar sedang rapat dengan Menteri Keuangan tentang... eh, tentang alokasi dana perbaikan jalan," bohong Elara santai, menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah, Duke Adrian. Kau pasti lelah. Nira, ambilkan mangkuk untuk Duke. Kau mau mie atau nasi?"
Adrian menatap mangkuk mie itu, lalu menatap Elara. Di perbatasan, ia terbiasa dengan prajurit yang makan biskuit keras sekeras batu. Ia tidak terbiasa dengan selir istana yang menawarkan mie di tengah pertemuan resmi.
"Hamba... sudah makan, Yang Mulia," jawab Adrian kaku, namun akhirnya duduk di kursi yang ditunjuk. Ia tetap menjaga posturnya tegak, tangannya resting di atas gagang pedangnya.
"Sayang sekali. Mienya enak. Dibuat dengan kaldu tulang sapi yang direbus dua belas jam," gumam Elara, kembali menghisap mienya. "Jadi, Duke. Kau datang dari Utara. Dua belas ribu ton gandum dari Asosiasi Rempah sudah tiba?"
Adrian mengerjapkan mata. Ia datang untuk melaporkan kondisi perbatasan, dan wanita ini langsung bertanya tentang logistik? "Y-Ya, Yang Mulia. Tiba tiga hari lalu. Tepat waktu. Pasukan... pasukan sangat berterima kasih. Moral mereka naik drastis."
"Bagus. Bagaimana tingkat kerusakan barangnya? Spoilage rate-nya berapa? Gandum basah berjamur itu biasanya rusak sepuluh persen dalam perjalanan jauh."
Adrian ternganga. Spoilage rate? Tidak ada satu pun bangsawan di ibukota yang pernah menanyakan hal itu kepadanya. Mereka hanya bertanya apakah bendera berkibar dan apakah pedangnya tajam.
"Lima persen, Yang Mulia," jawab Adrian, suaranya terdengar lebih hormat sekarang. "Tapi Asosiasi Rempah mengemasnya dengan daun taro ganda, seperti yang Yang Mulia sarankan dalam surat instruksi Anda. Jadi kerusakannya minimal."
"Bagus. Nira, catat itu. Nanti beri bonus pada Ketua Asosiasi Rempah. Oh ya, Duke, bagaimana dengan kuda-kuda perang? Apakah pakan tambahan dari Kongsi Tambang sampai?"
"Kuda-kuda kini makan seperti raja, Yang Mulia," jawab Adrian. Tatapannya kini berubah. Ia menatap wanita di hadapannya bukan sebagai selir yang cantik, melainkan sebagai... komandan logistik yang brilian. "Hamba... hamba tidak tahu bahwa Selir Elara memahami begitu dalam tentang urusan perbatasan."
"Aku tidak memahaminya," Elara menyeka mulutnya dengan punggung tangan. "Aku cuma benci kalau orang lapar. Orang lapar itu rewel, dan kalau prajurit rewel, mereka tidak bisa tidur nyenyak. Dan kalau mereka tidak bisa tidur nyenyak, aku juga tidak bisa tidur nyenyak karena suara mereka berisik."
Adrian tertegun. Lalu, perlahan, sudut bibirnya berkedut. Sebuah senyum tipis, sangat tipis, muncul di wajah kerasnya. "Yang Mulia... sangat... pragmatis."
Sebelum Adrian bisa mengatakan apa-apa, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari luar.
"Yang Mulia Kaisar! Duke Adrian!"
Putri Mahkota Aurelia masuk ke dalam paviliun.
Ia mengenakan gaun putih sutra yang sangat indah, dengan payung kertas berlukis bunga plum di tangannya. Ia terlihat sangat puitis, sangat rapuh, dan sangat siap untuk adegan 'bertemu di bawah hujan'.
Namun, ada satu masalah.
Hujan tidak turun. Dan lebih parah lagi, dari jendela paviliun, terlihat halaman utama yang sedang dicuci oleh dua ratus pelayan. Air sabun yang berbau menyengat menggenang di mana-mana, dan beberapa pelayan sedang terpeleset di lumpur dengan suara pluk yang sangat komedik.
Aurelia berhenti di tengah ruangan. Payungnya yang sudah siap dibuka kini tampak sangat konyol di tangannya.
"Putri Mahkota," sapa Elara datar, tidak berdiri dari duduk bersilanya. "Kau basah? Tapi di luar tidak hujan. Apakah kau baru saja mandi di selokan?"
Aurelia memerah padam. Ia menatap Adrian, berharap pria itu akan datang menyelamatkannya, menawarkan sapu tangan, atau setidaknya menunjukkan simpati.
Namun, Duke Adrian sedang menatap sepatu botnya. Ada cipratan air sabun kuning yang mengenai kulitnya yang berbau tajam. Wajah sang pahlawan perang tampak menderita.
"Putri Mahkota," ucap Adrian dingin, suaranya tidak memiliki kehangatan seperti di novel. "Apakah Yang Mulia sengaja menjebak hamba di tempat yang berbau sabun cuci lantai ini? Di perbatasan, kami membakar bangkai untuk menghilangkan bau, tapi bau ini... ini lebih buruk dari bangkai yang direndam cuka."
Aurelia ternganga. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Pahlawan yang ia impikan untuk jatuh cinta padanya baru saja membandingkan parfum mahalnya dengan bangkai yang direndam cuka.
Di sudut penglihatan Elara, teks bercahaya merah muncul lagi.
[Romance Route B: Failed.]
[Tropes 'Meeting in the Rain': Subverted.]
[System Error: Character Duke Adrian affection for Aurelia dropped to -10.]
Elara tersenyum dalam hati. Yah, namanya juga usaha.
"Putri Mahkota," Elara menatap Aurelia yang kini tampak ingin menangis. "Jika tidak ada urusan negara yang mendesak, tolong permisi. Duke Adrian dan saya sedang membahas... eh, tingkat kerusakan gandum. Sangat membosankan. Kau pasti tidak mau mendengarnya."
Aurelia menatap Elara dengan tatapan yang bisa membunuh. Namun, di hadapan Duke Adrian dan Selir Kaisar, ia tidak bisa meledak. Ia membungkuk kaku, memutar tubuhnya, dan berjalan keluar paviliun dengan langkah yang berusaha terlihat anggun namun gagal karena ia harus melompati genangan air sabun.
Ketika Aurelia pergi, keheningan kembali menyelimuti paviliun, hanya diiringi suara pelayan yang terpeleset di luar.
Adrian menatap Elara. Tatapan itu kini berbeda. Ada rasa hormat, ada kebingungan, dan... ada sesuatu yang berbahaya.
"Yang Mulia Elara," ucap Adrian pelan. "Apakah halaman yang berlumpur dan bau sabun itu... sengaja dipasang untuk mengusir Putri Mahkota?"
Elara menelan ludah. Dia lebih tajam dari yang kukira.
"Duke Adrian," Elara menatapnya dengan wajah polos. "Di desa kuno saya, ada pepatah Kebersihan adalah sebagian dari iman. Halaman istana harus dicuci setiap minggu. Kebetulan saja jadwalnya hari ini. Lagipula, kalau Putri Mahkota mau bertemu denganmu, dia bisa menunggu di ruang tamu yang berkarpet. Bukan di halaman berlumpur."
Adrian menatapnya lama. Lalu, ia tertawa. Tawa yang rendah dan tulus, sesuatu yang konon tidak pernah ia lakukan sejak ia berangkat ke perbatasan lima tahun lalu.
"Yang Mulia," ucap Adrian, membungkuk dengan hormat yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Hamba mengerti. Dan hamba... berterima kasih. Hamba tidak tertarik pada wanita yang hanya peduli pada payung dan puisi."
Adrian berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Untuk masalah logistik bulan depan, hamba akan mengirim laporan langsung ke Paviliun Matahari Terbit. Jika Yang Mulia berkenan... hamba akan membawa oleh-oleh daging rusa dari utara. Katanya baik untuk... eh, menambah nafsu makan."
"Terima kasih, Duke. Pastikan dagingnya diawetkan dengan garam yang cukup. Jangan sampai busuk di jalan," balas Elara, kembali fokus pada mangkuk mienya yang mulai dingin.
Ketika Adrian pergi, Nira masuk dengan wajah pucat namun matanya berbinar.
"Yang Mulia! Hamba mendengar Duke Adrian tertawa! Dan beliau membawa daging rusa untuk Anda! Kaisar pasti... eh..."
Elara mengangkat satu tangan, menghentikan Nira.
"Nira. Catat ini di buku harianmu. Jika ada pria tampan yang mulai membawakanmu oleh-oleh daging, segera tolak. Atau lebih baik lagi, suruh dia mengisi formulir permohonan audiensi rangkap tiga."
Elara bersandar di bantal, memejamkan matanya.
Sistem, Kamu mau main plot romansa? Aku akan main birokrasi. Ayo kita lihat siapa yang lebih cepat lelah.
Teks bercahaya merah berkedip sekali di kegelapan kelopak matanya.
[System Recalculating... Initiating Arc 2: The Border's Whisper.]
Elara mendengus pelan, menarik selimutnya. "Arc 2? Bagus. Semoga di Arc 2 ada kasur yang lebih empuk."