Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: DI ANTARA PUING DENDAM LELUHUR DAN SUMPAH DI ATAS DUKA
Udara di Pemakaman Umum Menteng Asri serasa menghanyutkan oksigen dari paru-paru Kirana. Kertas kusam berbau kelembapan tanah di tangannya terasa bagaikan lembaran besi panas yang membakar kulitnya. Setiap goresan tinta hitam milik almarhumah kakaknya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan suara jeritan yang menembus batas kematian—menggugat ketidakadilan yang meremukkan hidup keluarga mereka delapan tahun silam.
‘Kirana, adikku yang lugu... Jika kamu membaca tulisan ini, berarti aku sudah tiada dan Kakek Hendra telah berhasil menjalankan rencana kejinya. Usaha ayah kita yang bangkrut, kecelakaan kerja yang menewaskan Ibu... semua itu bukan musibah. Kakek Hendra yang merancangnya untuk memojokkan keluarga kita, agar aku menyerahkan seluruh hak intelektual atas temuan milik ayah dan mau menikahi putranya demi membayar utang fiktif tersebut...’
Kirana mencengkeram dadanya yang mendadak sesak luar biasa. Suara bisikan kakaknya di ruang ICU delapan tahun lalu mendadak bergema penuh kejelasan yang menghancurkan. Permohonan maaf itu... tangisan ketakutan itu... Kakaknya tidak sedang berdelusi. Kakaknya sedang memperingatkannya agar tidak terseret ke dalam lingkaran setan keluarga Pratama!
"Kirana... Kirana, tatap aku!"
Suara Aris bergema panik, memotong deru angin senja. Pria tegap itu berlutut di tanah yang basah, tidak peduli celana kain mahalnya terendam lumpur. Jemari Aris yang kokoh menangkup kedua pipi Kirana yang pucat pasi, namun untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka, Kirana menarik dirinya ke belakang.
Sentuhan Aris—yang baru tadi malam terasa bagaikan tempat bernaung paling hangat di dunia—kini terasa membakar dengan kenyataan pahit.
"Jangan sentuh aku, Mas..." bisik Kirana, suaranya serak dan bergetar hebat. Matanya yang dipenuhi kabut air mata menatap Aris dengan pendar keputusasaan yang begitu pekat. "Pernikahan ini... kehadiranku di rumahmu... semuanya disetting oleh Kakekmu sejak awal? Kakekmu memusnahkan hidup orang tuaku, memeras Mbakku, dan setelah Mbak meninggal... dia memanfaatkanku untuk menjadi pengasuh gratis, pelindung saham, dan 'penyembuh' bagi anak-anakmu?"
"Tidak, Kirana! Dengarkan aku!" Aris memohon, matanya sendiri mulai memerah oleh derita yang tak tertahankan. Keagungan dan kecerdasannya sebagai Presdir Pratama Corp mendadak runtuh tak berbekas. "Demi Tuhan, aku tidak pernah tahu tentang kejahatan Kakek! Aku swearing demi nyawa Leo dan Maya, aku tidak tahu latar belakang kebangkrutan keluargamu! Demi Allah, Kirana!"
"Tapi darah pria itu mengalir di tubuhmu, Mas!" pekik Kirana, suara tangisnya akhirnya pecah membelah keheningan makam.
Air mata merembes deras membasahi pipinya, membawa serta seluruh kepedihan dari wanita muda yang selama ini bertahan dalam makian, dinginnya penolakan, dan sebutan "pemburu harta".
"Selama ini aku bertanya-tanya, kenapa takdir begitu kejam padaku? Kenapa aku harus dilahirkan untuk menderita? Kenapa aku harus menyerahkan masa mudaku untuk membesarkan anak-anak dari wanita yang merebut kebahagiaan keluargaku, lalu dihina sebagai ibu tiri pengemis?" Kirana meremas buku harian itu di dadanya. "Ternyata takdir sedang tertawa mengolok-olokku! Aku menikahi putra dari keluarga yang menghancurkan hidupku! Aku mencintai pria yang dibesarkan dari uang hasil penderitaan orang tuaku!"
"Kirana, tolong..." Aris berlutut sepenuhnya, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan wajah hancur.
Pria yang tak pernah tunduk pada musuh bisnis manapun kini bertekuk lutut di atas tanah pemakaman, memohon ampun atas dosa yang bahkan tidak pernah ia perbuat.
"Hukum aku, Kirana. Benci aku. Ambil seluruh saham Pratama Corp, ambil seluruh hartaku, kembalikan dendam itu padaku! Tapi tolong... jangan katakan bahwa cinta kita adalah kebohongan. Jangan cabut rasa sayangmu dari hidupku dan anak-anak..."
Di kejauhan, dari balik rindangnya pohon beringin tua, Sheila Kusuma menyaksikan adegan itu melalui lensa kamera gawainya. Senyum miring yang penuh kebusukan melukis bibirnya yang pucat. Ia tertawa tanpa suara, menikmati pemandangan bagaimana sebuah kebenaran sederhana sanggup meremukkan fondasi cinta yang baru saja dibangun dengan air mata.
"Sempurna..." gumam Sheila penuh racun. "Hancurlah kalian. Saling membencilah sampai kalian membusuk di dalam sangkar emas itu!"
Namun, di atas tanah pemakaman yang basah, di tengah badai emosi yang mengamuk di dalam dadanya, Kirana menyapu air matanya dengan punggung tangan. Napasnya naik turun terengah-engah, namun perlahan, pendar keputusasaan di matanya berubah menjadi kilatan ketegasan yang dingin.
Intuisi seorang wanita dewasa yang telah ditempa oleh kejamnya penderitaan menolak untuk membiarkan dirinya hancur begitu saja.
Kirana menatap Aris yang masih berlutut di hadapannya. Pria ini memang keturunan Kakek Hendra, namun pria inilah yang tadi malam merengkuhnya dengan kehangatan murni, pria ini yang berani mempertaruhkan nyawanya melawan panah Hendrawan di sekolah, dan pria inilah yang kini bersedia menyerahkan segalanya demi mempertahankan cintanya.
‘Apakah aku akan membiarkan iblis masa lalu dan ketamakan Sheila menghancurkan masa depan Leo dan Maya?’ tanya Kirana pada dirinya sendiri. ‘Jika aku pergi sekarang membawa dendam ini, Sheila akan menang. Dia akan tertawa di atas kehancuran rumah tangga ini, dan anak-anak Mbakku akan kembali menjadi korban.’
"Berdiri, Mas Aris," kata Kirana dengan suara yang mendadak tenang, meski sisa air mata masih menggenang di pipinya.
Aris mendongak, menatap istrinya dengan keraguan yang menyiksa. "Kirana..."
"Berdiri!" tegas Kirana.
Aris bangkit perlahan, tubuhnya gemetar. Kirana melangkah mendekati pusara kakaknya, meletakkan kembali buku harian itu ke dalam kotak kayu, lalu menutupnya rapat-raptar. Ia berbalik membelakangi batu nisan, berdiri tegap memandang Aris.
"Kakekmu memang seorang penjahat, Mas. Dia telah memanipulasi hidup keluargaku dan mengutuk pernikahan kita dengan kebohongan," ujar Kirana dengan nada dingin namun terukur. "Tapi kamu... kamu bukan Kakekmu. Dan aku bukan lagi Kirana yang naïf dan pasrah menerima pukulan takdir."
Aris menahan napas, menatap mata Kirana yang kini memancarkan keberanian yang luar biasa.
"Aku tidak akan lari," lanjut Kirana, menyenggol dada Aris dengan telunjuknya yang gemetar namun mantap. "Aku tidak akan membiarkan Sheila Kusuma tertawa melihat kita saling menghancurkan. Sheila sengaja meletakkan buku ini di sini hari ini agar aku membencimu dan pergi meninggalkan rumah itu, sehingga dia bisa masuk dan merebut anak-anak serta harta Pratama Corp. Aku tidak akan pernah memberinya kepuasan itu!"
Dada Aris membuncah oleh gelombang keharuan yang tak terlukiskan. Ia meraih tangan Kirana, menggenggamnya erat-erat seolah takkan pernah melepaskannya lagi. "Kirana... kamu..."
"Tapi ingat, Mas," potong Kirana dengan tatapan tajam yang menembus sanubari Aris. "Perjuanganmu belum selesai. Utang darah dan penderitaan orang tuaku atas kelakuan keluarga Pratama harus dibayar. Bukan dengan uang, tapi dengan kesetiaanmu seumur hidup padaku dan anak-anak. Jika kamu pernah sekalipun meragukanku atau menyembunyikan rahasia lagi... aku swear demi nama almarhumah Mbakku, aku akan membawa Leo dan Maya pergi dan menghancurkan Pratama Corp sampai tak bersisa!"
"Aku sumpah, Kirana! Demi nyawaku, demi napas terakhirku!" sahut Aris tanpa ragu sedikit pun, mencium jemari Kirana dengan kehangatan yang memutus hawa dingin pemakaman.
Tiba-tiba, gawai Pak Wijaya yang berdiri beberapa meter di belakang mereka berdering nyaring. Kepala keamanan veteran itu menerima telepon dengan cepat, lalu wajahnya berubah drastis menjadi seputih kertas.
"Pak Aris! Nyonya Kirana!" panggil Pak Wijaya dengan suara panik. "Sinyal gawai Sheila... sinyal itu baru saja aktif kembali!"
Aris langsung memasang mode waspada, merangkul pinggang Kirana secara refleks untuk melindunginya. "Di mana?!"
"Bukan di sekitar sini, Pak..." Pak Wijaya menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap layar tablet dengan gemetar. "Sinyal gawai Sheila terdeteksi bergerak mendekati area Sekolah Internasional Garuda... tempat Leo dan Maya belajar!"
"APA?!" Kirana menjerit, darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin. "Bukankah anak-anak ada di rumah?!"
"Saya baru saja menghubungi penjaga rumah, Nyonya!" suara Pak Wijaya semakin histeris. "Sepuluh menit yang lalu, Bibi Supri menerima telepon yang mengatasnamakan Pak Aris, mengatakan bahwa kondisi di pemakaman sudah aman dan anak-anak diizinkan ikut kegiatan ekstrakurikuler sore di sekolah. Pengawal kita terkecoh dan baru saja mengantar Leo dan Maya ke sekolah!"
"IBLIS!" Aris menggeram hebat, matanya memerah oleh amarah yang membakar.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Aris menarik Kirana menuju mobil. "Wijaya! Hubungi seluruh tim taktis kepolisian! Tutup seluruh akses keluar Sekolah Internasional Garuda sekarang juga! Jika ada satu helai rambut anak-anakku yang tersentuh... aku akan memastikan Sheila dan seluruh anteknya membusuk di neraka!"
Mobil SUV hitam Aris melesat membelah jalanan kota Jakarta yang mulai dipadati kendaraan jam pulang kerja. Sirine darurat yang terpasang di atap mobil melolong nyaring, memaksa kendaraan lain memberi jalan.
Di dalam mobil, suasana begitu mencekam. Kirana duduk di kursi penumpang depan, matanya terus menatap layar gawai yang menampilkan rekaman kamera CCTV Sekolah Internasional Garuda yang terhubung secara real-time.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Sindiran takdir kembali menghantamnya tanpa ampun. Baru beberapa jam lalu ia berdamai dengan kebenaran pahit masa lalu demi melindungi anak-anaknya, kini iblis yang sama kembali mengincar nyawa Leo dan Maya.
‘Tuhan... tolong lindungi anak-anakku,’ doa Kirana dalam hati, jemarinya mengepal hingga kuku-kukunya memutih. ‘Jangan biarkan darah polos mereka menjadi korban dari dendam orang-orang dewasa!’
Aris menekan pedal gas lebih dalam, melompati lampu merah di persimpangan jalan utama. Tangannya yang satu lagi terulur, menggenggam erat tangan Kirana yang dingin. Tidak ada kata-kata yang diucapkan, namun dalam genggaman itu terpatri ikatan batin dua insan yang siap menerjang badai demi mempertahankan keluarga mereka.
Dua puluh menit kemudian.
Mobil Aris berhenti secara mendadak di depan gerbang utama Sekolah Internasional Garuda, menimbulkan suara decitan ban yang memekakkan telinga. Dua mobil polisi dan tiga armada pengawal pribadi Pratama Corp sudah mengepung area depan sekolah.
Aris dan Kirana melompat keluar dari mobil. Pak Wijaya langsung berlari menyambut mereka dengan wajah pucat pasi.
"Bagaimana keadaannya?!" bentak Aris.
"Pak Aris, gedung utama sekolah sudah dikosongkan oleh kepolisian," lapor Pak Wijaya dengan napas terengah-engah. "Tapi... Sheila berhasil menyusup ke dalam lewat saluran ventilasi basement. Dia memegang remote kontrol pemicu bahan peledak rakitan, dan saat ini..."
"Di mana anak-anakku?!" potong Kirana dengan teriakan histeris.
Pak Wijaya menunjuk ke arah gedung auditorium lantai tiga sekolah yang berdinding kaca besar. "Sheila mengurung diri bersama Leo dan Maya di dalam ruang rapat auditorium lantai atas, Nyonya. Polisi tidak bisa mendobrak pintu karena Sheila mengancam akan meledakkan ruangan jika ada yang mendekat!"
Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung berlari menerobos barikade polisi.
"Nyonya Kirana! Berbahaya!" teriak para petugas.
"Kirana, tunggu!" Aris menyusul di belakangnya, mengejar langkah istrinya yang bergerak bagaikan kesetanan.
Mereka menaiki tangga darurat menuju lantai tiga dengan kecepatan tinggi. Di depan pintu ganda besi auditorium, empat petugas kepolisian bersenjata lengkap dan tim pembom tampak bersiap dengan raut wajah sangat tegang.
Melalui jendela kaca kecil di pintu besi tersebut, pemandangan di dalam auditorium terlihat jelas—dan pemandangan itu sanggup menghentikan detak jantung siapapun yang melihatnya.
Leo dan Maya terikat di kursi kayu di tengah panggung auditorium. Mulut kedua anak itu diisolasi erat, mata mereka sembap oleh air mata ketakutan yang luar biasa. Di depan mereka, Sheila Kusuma berdiri dengan rambut terurai acak-acakan, gaun putihnya ternoda lumpur dan jelaga. Matanya menyalakan pendar kegilaan yang murni, dan di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah pemantik pemicu bom rakitan yang terhubung ke beberapa tabung gas di bawah panggung.
"KIRANA! ARIS!" jerit Sheila begitu melihat bayangan mereka di balik jendela kaca. Suaranya bergema nyaring melalui sistem speaker auditorium yang sengaja diaktifkannya. "Kalian datang tepat waktu untuk menyaksikan pertunjukan terakhir!"
"Sheila! Lepaskan anak-anak!" teriakan Aris bergema memukul pintu besi. "Urusanmu adalah denganku dan Kirana! Jangan libatkan anak-anak yang tidak berdosa!"
"Tidak berdosa?!" Sheila tertawa melengking, suara tawa yang begitu menyayat hati dan mengerikan. "Anak-anak ini adalah darah daging dari keluarga Pratama yang sudah menghancurkan hidupku! Karena anak-anak ini, kamu membuangku, Aris! Karena wanita kampung ini, kamu memasukkanku ke rumah sakit jiwa!"
Sheila melangkah mendekati Leo, meraih pisau lipat kecil dari saku gaunnya dan menempelkan matanya ke leher halus anak laki-laki itu. Leo membelalakkan matanya yang ketakutan, air mata menetes deras membasahi piyama sekolahnya.
"Jangan touch anakku!" teriak Kirana seraya menghantamkan tubuhnya ke pintu besi.
Keagungan dan rasa takut dalam diri Kirana mendadak sirna, digantikan oleh naluri buas seorang ibu tiri yang siap mencabik siapa saja yang mengancam keselamatan anaknya.
"Sheila! Buka pintunya!" Kirana menjerit melalui celah ventilasi pintu. "Kamu ingin aku hancur, kan?! Kamu ingin aku menderita, kan?! Ambil nyawaku! Lepaskan Leo dan Maya, lalu bunuh aku di sini!"
Sheila menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah jendela pintu, menatap Kirana dengan pandangan mencemooh. "Kamu mau menggantikan mereka, Kirana? Kamu pikir kamu pahlawan?"
"Aku bukan pahlawan!" tegas Kirana, suaranya bergetar namun sarat dengan kekuatan magis yang membungkam suasana senyap di lorong itu. "Aku adalah wanita yang sama-sama dihancurkan oleh keluarga Pratama! Jika ada orang di ruangan ini yang paling berhak membenci keluarga ini, dialah AKU! Bukan kamu!"
Sheila mengerutkan keningnya, kegilaan di matanya sedikit goyah oleh ketegasan Kirana.
"Aku baru saja membaca buku harian Mbakku di makam!" lanjut Kirana, air mata mengalir di pipinya namun tatapannya tetap terkunci rapat pada Sheila. "Aku baru tahu bahwa Kakek Hendra membunuh orang tuaku dan memeras keluargaku! Aku punya seribu alasan untuk membenci Aris dan membiarkan keluarga ini hancur! Tapi aku memilih untuk BERTAHAN dan MENJAGA anak-anak ini, karena mereka tidak bersalah!"
Kirana menekan dadanya sendiri, menatap Sheila lurus-lurus.
"Kamu bilang kamu mencintai Aris? Kamu bilang kamu pantas menjadi ratu di rumah Pratama? Kebohongan besar, Sheila! Kamu tidak pernah mencintai Aris atau anak-anak ini. Kamu hanya mencintai harta, takhta, dan ego manjamu yang tidak mau kalah! Kamu adalah wanita paling menyedihkan yang pernah aku temui!"
"TUTUP MULUTMU!" jerit Sheila histeris, mukanya memerah padam oleh kemarahan yang meluap. Handheld pemicu bom di tangannya bergetar hebat. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang cintaku! Aku yang mendampingi Aris saat istrinya meninggal! Aku yang merawat rumah itu!"
"Tapi kamu mengajari anak-anak ini untuk membenci!" potong Kirana dengan suara menggelegar. "Kamu membisikkan racun ke telinga Leo dan Maya agar mereka membenci ibu baru mereka! Kamu menggunakan anak-anak sebagai alat politik untuk merebut posisi! Apakah itu yang kamu sebut cinta?! Itu adalah KEJAHATAN!"
Sheila gemetar hebat. Kata-kata Kirana bagaikan sembilu yang menguliti topeng kebenaran palsu yang selama ini diagungkannya.
Di saat Sheila terdistraksi oleh konfrontasi emosional dengan Kirana melalui jendela, Aris memberi sinyal tersembunyi kepada komandan tim taktis kepolisian di sampingnya. Dua anggota SWAT merayap perlahan menyusuri saluran udara di atas panggung auditorium.
"Sheila..." suara Kirana mendadak melunak, berganti dengan nada iba yang begitu dalam. "Lihat mata Leo dan Maya. Apakah kamu tidak melihat ketakutan yang sama yang pernah kamu rasakan saat dikurung di sanatorium? Apakah kamu ingin menjadi monster yang sama seperti Hendrawan?"
Sheila menoleh perlahan, menatap mata Leo yang memancarkan ketakutan luar biasa. Untuk sejenak, ingatan masa kecil Sheila yang pernah menjadi korban kekerasan keluarganya sendiri melintas di benaknya. Tangannya yang memegang pemantik bom mulai mengendur.
"Aku... aku cuma ingin Aris memandangku..." bisik Sheila, suaranya mendadak berubah menjadi lirih bagaikan anak kecil yang tersesat. "Aku cuma ingin diakui..."
"Aris tidak akan pernah memandang seorang penjahat, Sheila," jawab Kirana lembut. "Tapi jika kamu melepaskan pemicu itu sekarang... kamu masih memiliki sisa kemanusiaan di dalam dirimu."
Sheila menunduk menatap pemantik di tangannya. Air mata kebingungan dan kekalahan mulai menetes dari matanya. "Aku... aku sudah terlambat, Kirana..."
"TIDAK ADA YANG TERLAMBAT!"
BARRRR!
Suara ledakan bahan peledak pintu SWAT bergema dahsyat! Pintu besi auditorium hancur terlempar ke dalam. Bersamaan dengan itu, dua anggota SWAT melompat turun dari langit-langit panggung, merubuhkan Sheila ke lantai dan merebut pemicu bom dari tangannya sebelum wanita itu sempat bereaksi!
"LEO! MAYA!"
Kirana menerobos masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi asap putih. Ia melemparkan dirinya ke panggung, berlutut dan membuka ikatan tali serta isolasi di mulut kedua anak itu dengan jemari yang gemetar histeris.
"Mama! MAMA!" Maya menjerit, melemparkan tubuh kecilnya ke dalam pelukan Kirana, menangis sejadi-jadinya.
Leo, anak laki-laki yang berusaha bersikap kuat itu, akhirnya runtuh. Ia memeluk leher Kirana dengan erat, menyembunyikan wajahnya di bahu Kirana sambil terisak keras. "Mama Kirana... Leo takut, Ma... Leo takut..."
"Mama di sini, Nak... Mama di sini..." Kirana merengkuh kedua anak itu ke dalam dadanya, menciumi kepala mereka bertubi-tubi dengan air mata keharuan dan rasa syukur yang membuncah. "Tidak ada yang bisa menyakiti kalian lagi... Mama tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian..."
Aris berlari mendekat, melingkarkan lengan kokohnya mengelilingi Kirana dan kedua anaknya. Pria tegap itu menyandarkan keningnya di bahu Kirana, menangis tanpa suara dalam pelukan hangat keluarga yang baru saja selamat dari jurang maut.
Di sudut panggung, Sheila yang sudah diborgol oleh petugas kepolisian dipaksa berdiri. Saat diseret melewati keluarga Pratama yang saling berpelukan erat di tengah asap auditorium, Sheila menatap Kirana.
Tidak ada lagi kemarahan di mata Kirana. Yang tersisa hanyalah tatapan ketegaran seorang ibu dan wanita dewasa yang telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya. Sheila menundukkan kepalanya, menyadari bahwa ia telah kalah—bukan dari harta atau kekuasaan Pratama Corp, melainkan dari ketulusan cinta seorang wanita yang dulu dihina sebagai ibu tiri.
Satu minggu kemudian.
Malam puncak Perayaan Ulang Tahun Pratama Corp ke-35 digelar di Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta. Ruangan termewah di ibu kota itu dipenuhi oleh ribuan pejabat tinggi, kolega bisnis internasional, dan media massa terkemuka.
Di atas panggung utama yang megah, Aris Pratama berdiri dengan setelan jas hitam elegan. Namun malam ini, ketegasan di wajah sang Presdir dipenuhi oleh aura kehangatan dan kedamaian yang belum pernah dilihat oleh publik sebelumnya.
Di sampingnya, Kirana berdiri anggun dalam balutan gaun malam berwarna biru samudera. Penampilannya yang bersahaja namun memancarkan keagungan seorang ratu membuat seluruh pasang mata di ruangan itu terpana. Leo dan Maya berdiri di sisi mereka, menggandeng jemari Kirana dengan wajah berbinar bangga.
Aris memegang mikrofon, menatap seluruh hadirin sebelum matanya tertuju lurus pada wanita di sampingnya.
"Malam ini, di hadapan Anda sekalian dan para pemegang saham Pratama Corp," suara Aris menggelegar penuh wibawa melalui pengeras suara, "Saya ingin mengumumkan dua keputusan terbesar dalam hidup saya dan masa depan perusahaan ini."
Suasana ballroom mendadak hening. Seluruh kamera wartawan tertuju pada panggung.
"Pertama, sebagai bentuk penyesalan dan pemulihan atas kesalahan sejarah masa lalu, saya atas nama keluarga Pratama menyerahkan 50 persen saham pribadi saya kepada Yayasan Perlindungan Anak dan Wanita Kirana Pratama—sebuah lembaga independen yang akan dikelola sepenuhnya oleh istri saya, Nyonya Kirana Pratama."
Tepuk tangan bergemuruh riuh di dalam ruangan. Kirana menatap suaminya dengan mata berbinar kaget, tidak menyangka Aris akan mengambil langkah sejauh itu.
Aris menggenggam tangan Kirana, menyatukan jemari mereka di hadapan publik.
"Dan yang kedua..." Aris menatap Kirana dengan pendar cinta yang begitu dalam dan suci. "Saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Pratama Corp malam ini bukan karena kekuatan modal atau warisan leluhur. Kejayaan rumah ini berdiri di atas fondasi cinta, pengorbanan, dan ketulusan dari wanita yang berdiri di samping saya."
Aris mendekatkan mikrofon ke bibirnya, suaranya bergetar oleh emosi yang membuncah.
"Kirana... kamu adalah takdir terindah yang pernah dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkan jiwaku dan anak-anak. Dulu aku membiarkanmu menangis dalam dinginnya rumah tangga kita. Namun mulai malam ini, aku bersumpah di hadapan dunia... setiap tetes air matamu yang tersisa hanya akan menjadi saksi dari kebahagiaan kita."
Leo dan Maya mendongak, menyuarakan isi hati mereka bersamaan melalui mikrofon kecil yang dipegang Leo. "Kami sayang Mama Kirana... Terima kasih sudah jadi Mama terbaik untuk kami!"
Air mata keharuan menetes di pipi Kirana. Namun kali ini, itu bukan lagi air mata penderitaan atau penghinaan. Itu adalah air mata kemenangan—kemenangan seorang wanita dewasa yang berhasil meruntuhkan dinding prasangka, menaklukkan sindiran takdir, dan mengukir kisah cinta sejati di atas puing-puing penderitaan masa lalu.
Kirana tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Aris saat tepuk tangan ribuan hadirin membahana memenuhi ballroom. Di balik bayang-bayang kelam yang telah berlalu, fajar kebahagiaan yang hakiki akhirnya terbit menyinari perjalanan rumah tangga mereka.
Namun, jauh di dalam sel isolasi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas I, sebuah amplop tanpa nama tiba di meja penjara, dialamatkan khusus untuk Hendrawan yang sedang menunggu persidangan.
Di dalam amplop tersebut terdapat sebuah foto kecil masa lalu milik almarhum Kakek Hendra, dengan sebuah catatan kecil bertuliskan tinta merah:
'Pemainnya mungkin sudah berganti, tapi permainan terbesar Pratama Corp belum benar-benar berakhir...'
Siapakah pengirim misterius yang kembali menyebarkan ancaman dari balik kegelapan masa lalu Kakek Hendra? Apakah rahasia saham dan takhta Pratama Corp masih menyimpan rahasia kelam lain yang lebih mengerikan? Bagaimanakah Kirana dan Aris mempertahankan kebahagiaan keluarga mereka dari badai baru yang siap mengintai di masa depan?
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘