NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK AMPLOP COKLAT BERNODA DARAH

Dengan tangan gemetar aku perlahan membuka amplop cokelat sedikit basah bercampur noda darah.

Foto wanita cantik mengenakan dress dengan sepatu merah berhias berlian, di sampingnya pria tampan berwibawa.

Mereka adalah Alea dan ayahku. Di belakang foto terukir sebuah nama Ajimo Skyvi dan Alea Skyvi. Terukir beberapa bait surat yang berisi:

_Jika kau sudah menemukan foto ini, berarti semuanya mulai terbuka._

_Jangan percaya siapa pun, bahkan orang yang selama ini kau anggap keluargamu._

_Ayahmu tidak meninggalkanmu karena dia tidak menyayangimu._

_Ada alasan mengapa kau dititipkan ke panti asuhan._

Dadaku terasa sesak. Aku membaca kalimat itu berulang kali, mencoba memahami maksudnya.

Terdengar suara deru mobil.

Cuaca hari ini seolah alam tahu merasakan apa yang membuat dadaku sesak.

_Kreekk.._ pintu dibuka.

Puri dan Alex masuk ke dalam rumah.

"Naya..?" Puri memanggilku.

"Iya, masuk Puri." Puri masuk diikuti oleh Alex di belakangnya.

Aku mengusap wajah dengan cepat.

"Naya, kenapa pakaianmu basah seperti itu?" tanya Puri.

Aku terdiam dan menangis beranjak memeluk Puri dengan air di rambutku yang berjatuhan membasahi lantai.

"Naya, ada apa?" tanya Puri seraya membalas pelukanku.

Alex diam mematung dengan raut wajah yang bingung.

"Alea, Puri..." seraya aku menangis, tenggorokanku tercekik, dadaku terasa sesak, ingin bicara pun susah rasanya.

"Naya, ada apa? Jangan membuat kami bingung," ucap Puri seraya melepaskan pelukan.

"Aku duduk dengan wajah tertunduk, selama ini Alea adalah bibiku, Puri," seraya aku menyerahkan amplop yang berisi foto Alea dan ayahku.

Puri dan Alex melihat foto yang diberikan Alea padaku.

"Jadi selama ini Hans adalah pamanmu, Naya, suami dari bibimu Alea," ucap Puri seraya menggeletakkan tas hitamnya di atas meja.

Alex melangkah mengambilkan aku secangkir air putih untukku, "Minum ini Naya, tenangkan dirimu." Alex mengusap pundakku berusaha untuk menenangkanku.

"Ayo bangun, Naya, kita ganti pakaianmu dulu, kamu pasti kedinginan aku takut kamu sakit," ucap Puri seraya menopang tubuhku yang terasa lunglai.

Aku mengganti pakaianku yang basah dengan pakaian yang diambilkan Puri dengan sepasang baju tidur bergambar Pokemon. Puri membaringkanku menyuruhku untuk beristirahat.

"Naya, kamu istirahat, pasti kamu lelah," ucap Puri seraya menarik selimut bermotif ceri itu untuk membalut tubuhku yang terasa lelah.

Tubuh ini mulai mengambil alih seolah memberi sinyal, sudah cukup untuk hari ini, mataku perlahan mulai terpejam.

_Kreeek..._ suara pintu kamar terbuka, Puri keluar dan meninggalkan kamar, terdengar samar suara Puri dan Alex entah apa yang mereka bicarakan, perlahan suara itu hilang, aku mulai terhanyut dalam tidur.

"Alex, bagaimana ini, jika memang Alea adalah bibi Naya berarti Naya dari keluarga elit," ucap Puri seraya duduk di samping Alex dengan cangkir teh di tangannya.

"Naya tidak terluka kan, Puri?" Puri menggelengkan kepala menandakan jawabannya tidak.

"Aku melihat ada noda darah di amplop dan foto itu," ucap Alex kepada Puri.

Puri yang mendengar itu langsung meletakkan cangkir tehnya.

"Kau serius, Lex, aku tidak memperhatikannya," ujar Puri kepada Alex.

Alex mengangguk, "Lihat ini." Alex menunjukkan foto yang ditujukan kepada Naya.

"Lalu darah siapa ini, Lex?" tanya Puri dengan wajah bingung.

"Tidak mungkin, Lex," Puri merubah posisi duduknya menghadap Alex.

Mata mereka beradu, tiba-tiba detak jantung Alex meningkat cepat. Alex, Puri dan Naya sudah lama tinggal bersama tapi kali ini beda, Alex tidak pernah dadanya berdetak cepat ketika menatap mata Puri. Selama ini Alex menganggap Puri sebagai sahabat dan keluarga.

Alex yang gugup langsung merubah posisi duduknya.

"A-a-apa, Puri?" Alex menjawab dengan gagu.

"Bagaimana jika itu darah Alea," ujar Puri terhadap Alex.

"Jika Naya sudah membaik akan kita cari tahu besok," ujar Alex.

Roda waktu terus berputar menunjuk di angka 11:30 malam, Alex dan Puri sudah mulai mengantuk, Puri beranjak ke kamar, teringat dengan anjing Naya Puri kembali beranjak ke ruang tengah memberi makan Choco, anjing Naya. Alex sudah terlelap di atas sofa empuk, mungkin raganya sudah terbang terbuai alam mimpi.

Puri kembali beranjak ke kamar _kreekk.._ suara pintu dibuka, _greekk.._ pintu ditutup.

Puri membaringkan tubuhnya membalut dirinya dengan selimut bermotif ceri itu, penglihatannya mulai kabur menandakan tidurnya mulai terlelap. Suasana malam itu sangat sejuk dengan udara yang sangat dingin, suara rintik hujan yang berjatuhan seolah menjadi irama musik bagi semua orang.

Fajar mulai menyambut, mentari lebih cerah dari biasanya, suara burung yang saling bersahutan dengan alunan angin yang berhembus.

Aku bangun lebih dulu, perasaanku mulai membaik, aku beranjak pergi ke dapur di ruang tengah, tanganku mulai menyulam rempah menaruhnya di atas wajan bulat bergagang (teflon), memotong sedikit lemak putih yang beku (butter) dan meletakkannya di wajan bulat. Aku mengaduk dan memasukkan mie lidi yang sudah kurebus, memasak spageti, aroma rempah serta saus khas membuat Puri dan Alex terbangun.

Puri dan Alex melihatku yang berkutat di dapur membuat mereka tersenyum, lalu mereka duduk di meja makan.

"Naya, bagaimana perasaanmu, apakah sudah membaik dan kamu tidak terluka kan?" tanya Alex.

Aku mengangguk, "Perasaanku sudah lumayan membaik, Lex, terpuruk tidak membuat keadaan membaik seperti semula," ujarku kepada Alex.

Puri membantuku menata piring polos keramik menyiapkan sarapan kami, spageti yang kumasak mulai kutuangkan di atas piring.

"Naya, ceritakan pada kami apa yang terjadi kemarin?" tanya Puri seraya melilitkan menu sarapannya.

"Alea dibunuh oleh Hans, suaminya sendiri. Alea menghubungiku, saat aku mengangkat telfonnya tidak ada suara hanya ada seperti suara pecahan kaca atau benda lainnya, aku datang ke rumah Hans dan menemui ART Alea yang sudah tergeletak dengan tusukan di perut dan dada, Alea pun sama aku datang mencarinya dan Alea sudah tergeletak, darah sudah mengalir di lantai dalam kamarnya, dia sempat bernafas memberiku amplop cokelat yang kalian lihat kemarin, dan mengatakan Velyn adalah sepupuku."

Puri dan Alex mendengar kejadian kemarin membuat mereka mematung dengan lilitan spageti yang porsinya mulai berkurang.

Tiba-tiba terdengar suara deru mobil terparkir di luar, Alex beranjak dari duduknya mengintip dari jendela sedikit membuka gorden. Alex langsung menatapku.

Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!