Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Teratai dan Bunga Mawar
Hari demi hari berlalu, dan keberadaan Liān Huā di istana perlahan menjadi hal yang biasa, namun di sisi lain, juga menjadi sesuatu yang sering dibicarakan orang. Bukan karena dia melakukan hal-hal besar, melainkan karena dia memiliki cara bertindak yang berbeda dari wanita-wanita lain di sana. Dia tidak terlalu berusaha menarik perhatian, tidak terlalu berusaha mencari muka, namun entah bagaimana, dia selalu saja menjadi pusat perhatian tanpa berusaha.
Siang itu, di halaman besar tempat para putri dan wanita bangsawan berkumpul untuk beristirahat setelah pelajaran menari, suasana terasa hangat dan penuh percakapan. Ada yang membicarakan pakaian baru, ada yang membicarakan bunga yang sedang mekar, dan ada juga yang diam-diam membicarakan Kaisar Yuán Zhēn — siapa yang beruntung mendapat pandangan lebih lama, siapa yang berharap bisa dipanggil ke ruang kerja kaisar.
Liān Huā duduk di sudut yang agak sepi, sedang memegang sehelai kain sutra berwarna hijau muda sambil mengamati bunga teratai yang tumbuh di kolam dekat tempat mereka duduk. Bunga itu bersih, murni, tumbuh dari lumpur namun tidak ternoda. Dia teringat ayahnya pernah berkata bahwa itulah sifat yang seharusnya dimiliki setiap orang: tetap jernih dan lurus, tidak peduli seberapa kotor atau rumit lingkungan tempat mereka berada.
“Liān Huā, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu terlihat begitu serius,” suara lembut terdengar dari samping. Itu adalah Putri Měi Yǐng, saudara sepupu kaisar, wanita yang ramah dan baik hati, satu-satunya orang yang sejak awal bersikap bersahabat padanya.
Liān Huā tersenyum, menunjuk ke arah bunga teratai itu. “Hanya berpikir betapa indahnya bunga ini. Tumbuh di tempat yang penuh lumpur, tapi tetap bersih dan cantik. Seolah tidak peduli apa yang ada di bawahnya.”
Měi Yǐng mengikuti pandangannya, lalu tersenyum pahit pelan. “Kamu tahu, di istana ini, ada dua jenis bunga. Ada teratai seperti ini, yang tumbuh tenang dan menjaga kebersihan dirinya sendiri. Tapi ada juga bunga mawar, indah dan menarik, tapi penuh duri. Dan kadang-kadang... orang lebih suka memeluk bunga mawar, karena warnanya lebih cerah dan baunya lebih kuat. Tapi hati-hati, durinya bisa melukai tanganmu sendiri.”
Sebelum Liān Huā sempat bertanya apa maksudnya, suasana di halaman itu tiba-tiba berubah. Semua orang berdiri tegak, menundukkan kepala. Dari arah lorong utama, Kaisar Yuán Zhēn berjalan masuk, diikuti oleh dua orang pejabat tinggi. Wajahnya kembali dingin dan berwibawa, sama seperti saat pertama kali dia dilihat, seolah-olah senyum dan nada suara lembut yang pernah dia tunjukkan di taman itu hanyalah khayalan semata.
Kaisar berjalan perlahan, memandangi para wanita yang berlutut di sepanjang jalan. Matanya bergerak menyapu satu per satu wajah, dan saat sampai pada Liān Huā, tatapannya berhenti sebentar — hanya sekejap, sangat singkat sehingga hampir tidak ada yang menyadarinya. Namun bagi Liān Huā, detik itu terasa seperti berjam-jam. Dia merasakan tatapan itu menembus ke dalam dirinya, menanyakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Kaisar berhenti di dekat kolam teratai itu, menunjuk ke arah bunga yang sedang mereka bicarakan tadi. “Bunga teratai adalah lambang kejernihan hati. Namun di dunia ini, kejernihan saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Harus ada juga keteguhan hati dan kebijaksanaan.”
Dia berbicara dengan suara keras, terdengar oleh semua orang, namun matanya tetap tertuju pada Liān Huā. Gadis itu merasakan panas menjalar naik ke wajahnya, jantungnya berdebar kencang. Dia mengerti seolah-olah kata-kata itu ditujukan khusus untuknya, meskipun semua orang di sana mendengarnya.
Setelah kaisar pergi, para wanita mulai berbisik-bisik satu sama lain. Ada yang iri, ada yang penasaran, dan ada juga yang menatapnya dengan pandangan yang tajam dan penuh kecurigaan.
“Lihatlah dia, hanya putri pejabat biasa, tapi seolah-olah dia sudah menjadi orang penting,” gumam salah satu gadis dengan nada sinis, cukup keras agar terdengar.
Liān Huā tidak menoleh, tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala sedikit, lalu kembali menatap ke arah bunga teratai. Dia ingat kata-kata Putri Měi Yǐng tadi — ada bunga mawar yang penuh duri. Dan sekarang dia mulai mengerti, dia mungkin baru saja menjadi bunga yang mulai diperhatikan, tapi di sekelilingnya sudah tumbuh banyak duri yang siap melukainya kapan saja.
Sore itu, saat dia berjalan pulang ke kediamannya, seorang pelayan datang membawa sebuah kotak kecil berukir indah. “Ini dikirimkan Yang Mulia Kaisar. Katanya... untuk menambah keindahan taman tempat kamu suka duduk.”
Di dalam kotak itu terdapat sebutir benih bunga mawar berwarna merah tua yang sangat indah, namun di sampingnya tertulis secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang kuat dan rapi: “Teratai indah, tapi mawar juga punya keindahannya sendiri. Ingatlah, bunga yang indah pun harus tahu cara melindungi dirinya sendiri.”
Liān Huā memegang kertas itu erat-erat, jari-jarinya menyentuh tulisan itu perlahan. Dia tidak tahu apakah kaisar itu sedang mengajarinya, memperingatinya, atau... hanya ingin mengirimkan sesuatu agar dia memikirkannya sepanjang hari. Yang dia tahu, sejak saat itu, setiap kali dia melihat bunga apa pun, dia akan teringat pada tatapan mata itu, pada kata-kata itu, dan pada perasaan aneh yang terus tumbuh di dalam dadanya — sesuatu yang manis, namun juga sedikit menakutkan, seperti berjalan di tepi tebing yang indah namun berbahaya.