NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Rapat Pemegang Saham

Pukul sembilan pagi, ruang pertemuan terbesar Kantor Hukum Sinar Sentosa sudah penuh.

Di sisi kanan meja panjang duduk para pemegang saham yang selama ini jarang muncul di kantor. Beberapa datang dengan kuasa hukum. Beberapa lainnya terus memeriksa ponsel, seolah angka yang dijanjikan kepada mereka dapat berubah jika rapat terlambat dimulai.

Di sisi kiri, Ratri duduk bersama Mbak Lia dan dua anggota tim hukum. Wira berdiri di belakang kursinya. Baskara memilih tempat di sudut, jauh dari meja utama, mengenakan pakaian sederhana seperti seorang suami yang hanya ikut mengantar.

Tidak ada yang memintanya pergi. Tatapannya membuat permintaan semacam itu terasa tidak bijaksana.

Ratri meletakkan telapak tangan di atas map hitam. Di dalamnya tersimpan hasil pemeriksaan tulisan, salinan register notaris, rekaman kamera, dan percakapan yang cukup untuk menghancurkan seluruh sandiwara di ruangan itu.

Namun, map itu tetap tertutup.

Pintu terbuka tepat sebelum rapat dimulai.

Suryani masuk lebih dahulu dengan kebaya hijau tua dan perhiasan yang sengaja dibuat mencolok. Bimo berjalan di belakangnya, diikuti seorang pengacara keluarga yang membawa koper dokumen. Bahu Bimo masih sedikit kaku akibat luka beberapa hari lalu, tetapi senyumnya sudah kembali pongah.

Orang terakhir yang memasuki ruangan membuat bisik-bisik berhenti.

Sekar Wiryawan.

Ia mengenakan setelan hitam tanpa hiasan. Wajahnya tenang, tetapi cara matanya menemukan Ratri menyimpan kebencian yang telah dipelihara selama tiga tahun.

Larasati memiliki mata yang sama.

Ratri pernah melihatnya pada foto berkas kematian, terbuka dan tidak lagi mampu menuduh siapa pun. Sekar menggunakan mata itu untuk menghukumnya sejak sebelum bukti dibacakan.

"Keluarga Wiryawan bukan pemegang saham," kata Mbak Lia.

Pengacara keluarga mengeluarkan satu lembar surat. "Ibu Sekar hadir sebagai pengamat atas undangan tiga pemegang saham dan sebagai pihak yang berkepentingan terhadap kelayakan reputasi pengurus. Tidak ada larangan selama peserta rapat menyetujui."

Tiga orang di sisi kanan langsung mengangkat tangan.

Ratri menatap Sekar. "Biarkan dia duduk."

Sekar menarik kursi. "Saya tidak membutuhkan belas kasihan Anda."

"Bagus. Saya juga tidak memberikannya."

Mbak Lia membuka rapat dengan membacakan waktu, daftar hadir, jumlah saham yang terwakili, dan agenda tunggal. Keberatan terhadap kehadiran Sekar dicatat. Salinan setiap dokumen yang akan dipakai wajib diserahkan kepada sekretariat rapat dan ditampilkan pada layar.

Ratri meminta semua proses direkam.

Pengacara keluarga sempat menolak. "Ini rapat internal."

"Karena internal, semua peserta berhak memiliki catatan yang sama," jawab Ratri. "Kalau dokumen Anda sah, rekaman hanya akan membantu."

Bimo menyandarkan tubuh ke kursi. "Biarkan saja. Setelah hari ini, rekaman itu akan menjadi kenang-kenangan terakhir Mbak Ratri sebagai pemilik kantor ini."

Suryani tersenyum puas.

Perekaman dimulai.

Pengacara keluarga memaparkan permohonan mereka. Menurut dokumen yang dibawanya, Ratri telah mengalihkan delapan puluh persen saham kepada Bimo sebagai bagian dari penataan aset keluarga Adiningrat. Karena kondisi kesehatan Ratri dianggap tidak stabil, rapat harus mengesahkan perubahan kendali dan menunjuk pengurus sementara.

Dokumen muncul di layar.

Tanda tangan Ratri membesar di depan semua orang.

Ia tidak bereaksi.

"Kami juga memegang kuasa suara dari para pemegang saham yang mewakili jumlah cukup untuk melanjutkan agenda," kata pengacara itu. "Dokumen pengalihan telah ditandatangani dengan disaksikan pihak keluarga dan dikonfirmasi oleh seseorang yang mengenal tanda tangan Ibu Ratri."

"Pihak keluarga yang mana?" tanya Mbak Lia.

"Ibu Suryani dan Bapak Bimo."

Beberapa pengacara muda di belakang meja Ratri menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresi mereka.

Ratri hanya berkata, "Lanjutkan."

Suryani bangkit sebelum pengacaranya mempersilakan. "Semua orang di sini sudah tahu perempuan seperti apa dia. Tiga tahun suaminya menghilang, dan dia hidup sesukanya. Namanya penuh skandal. Dia dituduh membunuh calon istri Baskara, membuat ibu kandungnya mati dalam malu, lalu menyiksa anak saya di rumah keluarga kami."

Baskara mengangkat pandangan.

Udara di sudut ruangan berubah dingin.

Suryani tidak melihatnya. Ia menunjuk Ratri dengan jari berhiaskan cincin besar.

"Perempuan pembawa sial seperti dia tidak pantas mengelola harta sebesar ini. Umurnya juga tidak akan panjang. Untuk apa sebuah kantor besar menunggu pemiliknya mati? Lebih baik kendali diberikan kepada keluarga suaminya sekarang."

Ratri mendengar gumaman setuju dari dua pemegang saham. Yang lain menghindari tatapannya.

Jemarinya menyentuh sisi kiri tas di bawah meja. Keping cendana pemberian Eyang Suryo berada di sana. Di dalam dompetnya, catatan Baskara masih terlipat rapi.

Jangan berdiri terlalu lama.

Ia hampir ingin tertawa. Baskara bahkan tidak tahu bahwa hari ini orang-orang akan menggunakan kemungkinan kematiannya sebagai alasan untuk mencuri miliknya.

"Apakah pidato Bu Suryani termasuk bukti hukum?" tanya Ratri.

"Itu penjelasan kelayakan," jawab pengacara keluarga.

"Kalau begitu, pastikan semuanya masuk notula. Kata demi kata."

Senyum Bimo melebar. Ia mengira Ratri telah menyerah.

Sekar berbicara tanpa bangkit. "Kelayakan memang penting. Terutama jika orang yang memegang kendali pernah lolos dari hukuman atas kematian orang lain."

Ruangan kembali senyap.

Ratri menoleh kepadanya. "Kalau Anda membawa bukti baru tentang kematian Mbak Larasati, serahkan kepada polisi."

"Bukti bisa dihilangkan oleh orang yang punya uang dan koneksi."

"Tuduhan juga bisa dipelihara oleh keluarga yang lebih menyukai musuh daripada kebenaran."

Sekar meremas gagang tasnya. "Kakak saya mati setelah bertemu Anda."

"Dan selama tiga tahun, Anda mengulang kalimat itu tanpa pernah menjelaskan siapa yang mendapat keuntungan dari kematiannya."

Wajah Sekar memucat sesaat. Lalu kebenciannya menutup celah tersebut.

"Hari ini bukan sidang kematian kakak saya," katanya.

"Benar. Jadi jangan gunakan jenazahnya untuk membantu orang lain mencuri saham saya."

Suryani memukul meja. "Jaga mulutmu!"

Ratri tidak berkedip. "Silakan lanjutkan bukti Anda."

Pengacara keluarga mengganti tampilan layar. Ia menunjukkan salinan akta, halaman register, surat kuasa suara, dan pernyataan tertulis Anindya Kusuma. Setiap dokumen diterangkan satu demi satu. Ia bahkan menyebut tanggal, jam, serta tempat yang telah mereka pilih untuk menciptakan kesan resmi.

"Dokumen asli dibawa?" tanya Mbak Lia.

Pengacara itu menepuk koper di samping kursinya. "Lengkap."

"Berarti setelah ditunjukkan, dokumen dapat diperiksa bersama dan dilampirkan pada notula."

Bimo segera menyela. "Tidak perlu diperiksa berjam-jam. Rapat ini bukan pengadilan."

"Benar," kata Ratri. "Karena itu Anda masih duduk di kursi, bukan di depan penyidik."

Terdengar seseorang menahan tawa. Bimo mencari sumber suara, tetapi semua wajah di sisi kiri sudah kembali datar.

Pengacara keluarga berdeham. "Keabsahan akta telah dikonfirmasi. Pemeriksaan tambahan hanya upaya menunda hak para pemegang saham."

"Catat bahwa pihak pengusul menolak pemeriksaan bersama," kata Ratri kepada Mbak Lia.

Mbak Lia mengetik tanpa ragu.

Satu per satu pemegang saham yang semula tampak yakin mulai saling berpandangan. Tidak ada yang ingin namanya tercatat mendukung dokumen yang bahkan tidak boleh disentuh. Suryani menyadari perubahan itu dan memberi isyarat tajam kepada pengacaranya agar segera melanjutkan.

Mbak Lia mencatat semuanya.

Ratri masih belum membuka map hitam.

Dari sudut ruangan, Baskara memahami apa yang sedang dilakukan istrinya. Ia membiarkan setiap orang memasukkan leher sendiri ke dalam jerat. Jika ia menyela terlalu cepat, mereka masih bisa menyalahkan kesalahan administrasi atau bawahan. Setelah seluruh cerita palsu diucapkan di depan kamera, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Ada kebanggaan yang terlalu terang di matanya.

Ratri menangkap tatapan itu dan mengernyit. Baskara segera mengambil segelas air, berpura-pura tidak sedang memperhatikannya.

"Kami meminta keputusan segera," kata Bimo. "Semua dokumen sudah jelas."

"Belum semua," jawab Mbak Lia. "Anda menyebut saksi yang mengenal tanda tangan Bu Ratri. Saksi harus memberi keterangan langsung sebelum agenda masuk ke pemungutan suara."

Suryani menoleh ke pintu samping. "Panggil dia."

Pintu terbuka.

Anin masuk dengan blus krem dan wajah pucat. Langkahnya lambat, seolah jarak dari pintu menuju meja utama lebih panjang daripada seluruh lorong kantor.

Bimo menatapnya dan mengangguk kecil.

Ancaman itu tidak perlu diucapkan lagi. Anin masih bisa membaca pesan terakhir di kepalanya.

Besok bantu aku, atau hidupmu selesai.

Yuliana duduk di baris belakang. Ia tidak tercatat sebagai peserta rapat, tetapi berhasil masuk bersama rombongan Suryani. Ketika mata ibu dan anak bertemu, Yuliana menggerakkan bibir tanpa suara.

Lakukan.

Anin menunduk.

Mbak Lia menunjuk tempat di ujung meja. "Saudari Anindya, sebelum memberikan keterangan, sebutkan hubungan Anda dengan para pihak dan nyatakan bahwa keterangan diberikan tanpa paksaan."

Anin berdiri di depan mikrofon. Kedua tangannya menggenggam tepi meja.

"Saya Anindya Kusuma," katanya pelan. "Adik Ratri Kusuma."

"Adik tiri tanpa hubungan darah," sela Suryani. "Jangan sampai orang mengira dia akan membela kakaknya karena keluarga."

Ratri menatap lurus ke arah Anin.

Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada permohonan. Hanya ketenangan yang lebih sulit dihadapi daripada ancaman Bimo.

Anin melihat kembali malam ketika Ratri membayar uang kuliahnya. Hari ketika Ratri berdiri di depan Hendra agar ia tidak diusir. Malam kemarin, ketika perempuan itu tahu ia berbohong tetapi masih bertanya apakah ia sakit.

Lalu ia melihat Bimo.

Pria itu tersenyum, yakin hidup Anin sudah berada di telapak tangannya.

"Apakah Anda melihat Bu Ratri menandatangani dokumen pengalihan ini?" tanya pengacara keluarga.

Jari Anin bergetar di batang mikrofon.

"Apakah tanda tangan yang tercantum di dalamnya asli?"

Semua orang menunggu.

Bimo bersandar dengan wajah menang. Suryani menyilangkan tangan. Sekar menatap tanpa berkedip. Ratri akhirnya mengangkat dagu sedikit.

Anin menarik napas.

"Tanda..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!