Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Gemuruh suara riuh dan kasak-kusuk ketakutan seketika memenuhi seluruh ballroom. Para petinggi bisnis dan anggota elit Cleopatra Holding saling pandang dengan raut wajah panik. Dua sosok Tuan Alexander dengan wajah yang persis sama kini berdiri berhadapan, satu di atas panggung dengan setelan mewah namun wajah pucat pasi, dan satu lagi di ambang pintu dengan balutan jas hitam serta sorot mata penuh pembalasan.
Alexandro mencengkeram tepi podium kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya mendelik tajam, tak mempercayai penglihatannya sendiri.
"P...penipu! Pria tua berjanggut itu penipu!" teriak Alexandro dengan suara melengking, menunjuk ke arah Alexander asli. "Kalian semua jangan percaya! Dia hanyalah orang gila yang mencoba merusak nama baik keluarga Sanjaya!"
Alexander asli menyunggingkan senyum tipis penuh kepahitan. Ia melangkah semakin dekat menuju panggung, tak gentar sedikit pun.
"Lima belas tahun aku mengurung diri dalam kegelapan yang kau ciptakan, Alexandro..." ujar Alexander asli, suaranya mantap dan menggema tegas melalui pengeras suara. "Kau mengambil posisiku, memalsukan identitasku, dan melampiaskan keserakahanmu dengan menyembah Dewa Dedun! Tapi kau lupa satu hal... seorang peniru tidak akan pernah bisa menghapus jejak pemilik aslinya."
Clarissa melangkah maju, mengangkat sebuah flashdisk hitam dan setumpuk dokumen bukti di tangannya.
"Semua transaksi keuangan rahasia, rekaman penyadapan, hingga daftar nama korban persembahan sekte iblis ini sudah berada di tangan kepolisian dan kejaksaan!" seru Clarissa dengan suara lantang, matanya menatap Alexandro penuh rasa benci dan penyesalan. "Aku yang menjadi saksi kunci kejahatanmu! Kau membodohi ayahku, membodohiku, dan berniat menumbalkan kami semua!"
Saat itu juga, Jordan dan Adrian memberi isyarat. Puluhan petugas kepolisian berpakaian taktis langsung menyebar dan mengepung seluruh ruangan. Senjata api terarah tepat ke arah Alexandro dan para pengawal pribadinya.
"Tuan Alexandro atau siapa pun nama aslimu, kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana, penculikan, dan tindak pidana kejahatan terorganisir!" tegas AKBP Rama yang memimpin pasukan.
Melihat situasinya yang semakin terkikis, raut wajah wibawa yang selama ini dipasang Alexandro runtuh sepenuhnya. Matanya membara merah, dipenuhi kegilaan.
"Tidak! Ini semua milikku! Aku yang membangun kekuasaan ini!" jerit Alexandro histeris. Tiba-tiba, ia menarik sebuah pistol rahasia dari balik jasnya dan mengarahkannya langsung ke arah Bunga! "Jika aku harus hancur malam ini, maka tumbal terakhir ini harus tetap mati denganku!"
"Bunga, awas!" teriak Keanu.
Dor!
Suara tembakan menggema keras membelah ballroom.
Namun, peluru itu tidak pernah menyentuh Bunga. Keanu dengan sigap melempar tubuhnya untuk melindungi sang istri, sementara pasukan kepolisian bergerak secepat kilat menembak lengan kanan Alexandro.
Pistol di tangan Alexandro terlempar, dan ia jatuh tersungkur ke lantai panggung seraya merintih kesakitan. Petugas dengan cepat menerjang dan mengunci kedua tangannya dengan borgol besi.
Di bawah panggung, Bunga meremas kemeja Keanu erat-erat, air matanya menetes lega. Di dalam hatinya, rasa syukur yang mendalam membuncah, doa dan ayat-ayat suci yang terus ia rapalkan sepanjang malam akhirnya dikabulkan. Ia menatap Keanu, lalu membentuk isyarat tangan dengan jemarinya yang gemetar:
“Terima kasih... Terima kasih sudah melindungiku, Kak...”
Keanu merengkuh tubuhnya Bunga dengan erat, mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang. "Kau dan calon anak kita aman sekarang, Bunga..."
Alexander asli berjalan perlahan mendekati Alexandro yang terbaring tak berdaya di atas panggung. Ia menatap adik kembarnya itu dengan pandangan duka dan ketegasan yang mutlak.
"Penderitaan yang kau ciptakan belasan tahun ini berakhir malam ini, Alexandro," bisik Alexander asli serak. "Sisa hidupmu akan kau habiskan di dalam sel yang jauh lebih gelap daripada tempat yang kau siapkan untukku."
Alexandro hanya bisa mengerang dan menatap saudara kembarnya dengan penuh rasa benci yang tak terbalaskan saat para petugas menyeretnya keluar dari ballroom.
Suasana ruangan yang tadinya penuh ketegangan perlahan mereda. Tuan Alexander asli membalikkan badan, menatap Keanu dan Bunga yang berdiri di hadapannya. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, sebuah pelukan hangat keluarga yang sesungguhnya terjalin di antara ayah, putra, dan menantunya, mengakhiri mimpi buruk dan kembalinya kebenaran di atas kegelapan.
*
*
Beberapa minggu telah berlalu sejak malam pembantaian sandiwara Alexandro terbongkar. Di halaman depan kantor polisi, suasana terasa lebih tenang. Clarissa melangkah keluar dengan pakaian kasual yang rapi, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit sisa kelelahan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan sebagai saksi kunci.
Di dekat mobil dinasnya, Detektif Jordan berdiri bersandar sembari memperhatikan wanita itu. Ada tatapan yang berbeda dari bola matanya, bukan lagi tatapan curiga seorang penyidik, melainkan tatapan kekaguman yang mendalam. Keberanian dan ketangguhan Clarissa untuk berdiri membongkar kejahatan sekte iblis tersebut, bahkan di saat nyawanya sendiri terancam, telah menggetarkan hati sang detektif.
Jordan melangkah mendekati Clarissa, mengulas senyum tipis yang hangat.
"Pemeriksaan hari ini sudah selesai?" tanya Jordan penuh perhatian.
Clarissa mendongak, menyapu rambutnya ke belakang telinga lalu mengangguk pelan. "Sudah, Detektif. Semua keterangan yang dibutuhkan sudah saya serahkan sepenuhnya."
"Terima kasih, Clarissa," tutur Jordan lembut, menatap tepat ke dalam mata wanita di hadapannya. "Jarang sekali saya menemui seseorang yang seberani Anda. Jika bukan karena keberanian dan keputusasaanmu untuk berbalik meloloskan Tuan Alexander, mungkin cerita malam itu akan berakhir sangat berbeda."
Pipi Clarissa sedikit merona mendengar pujian tulus itu. Ia menunduk tipis, tersenyum pahit namun lega. "Saya hanya ingin memperbaiki kesalahan masa lalu, Detektif. Saya terlalu lama terbuai dalam kebohongan."
"Panggil saja Jordan," pangkas Jordan cepat dengan nada suara yang lebih santai. Ia menyodorkan sebotol air mineral dingin padanya. "Dan kau tidak perlu terus menyalahkan dirimu. Mulai hari ini... jika kau butuh seseorang untuk menemanimu menata kembali hidupmu, aku siap mendampingi."
Clarissa mendongak, menangkap ketulusan dalam tatapan Jordan yang tegas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terjebak dalam obsesi dan kegelapan, Clarissa merasakan desiran hangat di dadanya.
*
*
Sementara itu, di lantai teratas gedung utama Alexander Group...
Dampak dari pengungkapan skandal besar malam itu terasa begitu dahsyat. Saham perusahaan milik keluarga Alexander mengalami penurunan yang sangat anjlok. Hal ini merupakan imbas besar dari penangkapan para investor utama mereka, yang ternyata merupakan para pengikut fanatik sekte Dewa Dedun. Satu per satu dari mereka ikut terseret dan dijebloskan ke dalam jeruji besi atas kejahatan terorganisir yang telah berjalan belasan tahun.
Keuangan perusahaan berada di titik terendah. Kerajaan bisnis yang dulu dibangun di atas fondasi kelam dan darah para korban kini hancur berkeping-keping.
Di balik jendela kaca besar ruangan kerja utama, Tuan Alexander yang asli berdiri menatap pemandangan kota. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan perusahaan berada di ambang kebangkrutan, tidak ada raut keputusasaan di wajahnya. Di sampingnya, Keanu berdiri tegap bersama Bunga yang memegang erat jemari suaminya.
Alexander membalikkan badan, menatap putra tunggalnya dengan sorot mata yang penuh kebanggaan dan kepercayaan yang mutlak.
"Keanu, kita mulai lagi dari nol!" ucap Alexander dengan suara mantap dan penuh optimisme.
Keanu menatap ayahnya, lalu beralih menatap Bunga yang mengangguk lembut memberinya kekuatan. Senyuman hangat terkembang di wajah Keanu. Rasa berat karena kejatuhan harta sama sekali tak mampu menggoyahkan kebahagiaan mereka yang akhirnya bisa lepas dari cengkeraman iblis.
"Siap, Pah," jawab Keanu mantap, mengangguk dan tersenyum tulus ke arah sang ayah yang menatapnya penuh rasa percaya. "Tanpa kebohongan, tanpa darah tak berdosa. Kali ini, kita bangun kembali semuanya dengan cara yang benar."
Tuan Alexander merangkul bahu putra dan menantunya penuh kasih. Di atas puing-puing kehancuran takhta palsu Alexandro, sebuah awal yang baru dan penuh keberkahan kini siap mereka ukir bersama.
Bersambung...
wahh kisah tentara lg aku suka klu ada kisah tentara 😁
makasih yx kak buat cerita Keanu dn bungaa ,,
cerita ny bagus ,,
sukses trus buat karya2 selanjutnya kak ,, 😁😁🤗🤗