NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam turun lebih cepat di lereng Watu Ireng. Kabut tipis kembali turun dari puncak bukit, menyelimuti atap-atap desa hingga hanya lampu minyak di jendela-jendela yang masih terlihat. Di luar, dua pemuda bersenjata tetap berjaga di depan rumah Ki Sura. Mereka tidak bicara, tetapi mata mereka tidak pernah lepas dari gelapnya hutan.

Di dalam rumah, istri Jayengrana duduk di sudut ruangan bersama Jaka. Ia membungkus selimut tipis di bahu anak itu, meski udara belum terlalu dingin. Jaka tidak tidur. Matanya terus menatap ke arah dinding kayu yang retak, seolah menunggu sesuatu muncul dari sana.

Pengemis Tua sudah pergi sejak sore. Ia hanya berkata singkat sebelum meninggalkan rumah, “Aku akan berkeliling. Ada yang harus kuperiksa.” Kemudian ia menghilang ke dalam kabut tanpa menunggu jawaban.

Ki Sura muncul di ambang pintu dalam ruangan belakang. Ia membawa sebuah lampu minyak kecil.

“Ikut,” katanya kepada Jayengrana.

Jayengrana menoleh ke istrinya. Perempuan itu mengangguk pelan, meski kekhawatiran masih jelas di matanya. “Hati-hati.”

“Aku tidak akan lama,” jawab Jayengrana.

Ia mengikuti Ki Sura masuk ke ruangan yang lebih kecil. Dindingnya penuh dengan rak kayu yang berisi lontar-lontar tua dan beberapa senjata yang sudah berkarat di ujungnya. Bau kertas tua dan minyak kayu memenuhi udara. Ki Sura menutup pintu, lalu duduk bersila di depan sebuah meja rendah.

“Duduk.”

Jayengrana menurut. Tombaknya ia letakkan di samping, tetapi tangannya tetap dekat.

Ki Sura menatapnya lama sebelum berbicara. “Air itu tidak pernah bohong. Lambang yang muncul… adalah lambang perjanjian lama. Lebih tua dari Mataram. Lebih tua dari kerajaan mana pun yang kau kenal.”

Jayengrana tidak langsung menjawab. Ia menunggu.

“Aku pernah melihatnya sekali,” lanjut Ki Sura. “Tiga puluh tahun yang lalu. Seorang lelaki datang ke desa ini dengan luka yang tidak bisa sembuh. Di dadanya ada tanda yang sama. Ia bilang ia sudah mati sekali. Kemudian hidup lagi.” Ki Sura menatap lampu minyak. “Tiga hari kemudian, desa ini diserang. Bukan oleh pasukan biasa. Sesuatu yang membawa api legam. Setelah itu, lelaki itu menghilang. Desa hampir terbakar. Aku hanya bisa menyelamatkan sebagian.”

Jayengrana mengerutkan dahi. “Pria bertopeng kayu?”

“Aku tidak tahu apakah itu dia. Tapi jejaknya mirip.” Ki Sura menatap Jayengrana tajam. “Kau membawa hal yang sama. Dan kau datang dengan istri serta anak yang bukan darahmu. Itu membuat jejakmu lebih mudah dilacak. Perjanjian itu… tertarik pada ikatan.”

“Ikatan?”

“Keluarga. Darah. Atau sesuatu yang kau anggap layak dilindungi.” Ki Sura menghela napas. “Semakin kuat ikatan itu, semakin terang jejak yang kau tinggalkan. Itulah mengapa pria bertopeng itu membiarkanmu datang ke sini. Ia ingin melihat seberapa jauh kau akan melindungi mereka.”

Jayengrana menunduk sejenak. Tanda di dadanya berdenyut pelan, seolah setuju.

Suara Penunggang muncul, lebih dalam dari biasanya.

*“Ia berbicara sebagian kebenaran. Tapi tidak seluruhnya.”*

Jayengrana mengabaikan suara itu untuk saat ini. “Apa yang kau tahu tentang Penunggang?”

Ki Sura terdiam cukup lama. “Aku tahu legenda. Bukan kebenaran. Legenda bilang bahwa setiap kali perjanjian itu dibuat, zaman sedang bergerak menuju kekacauan. Dan orang yang menerima perjanjian… jarang mati sebagai manusia biasa.”

“Apa artinya?”

“Artinya,” Ki Sura menatap langsung ke mata Jayengrana, “kau mungkin tidak akan kembali sebagai Senopati. Atau sebagai suami. Atau sebagai ayah. Sesuatu di dalam dirimu sedang berubah. Perlahan. Dan semakin kau menggunakan kekuatannya, semakin cepat perubahan itu.”

Jayengrana mengingat api legam semalam. Mengingat bagaimana ia menahan diri untuk tidak membunuh. Mengingat pilihan-pilihan yang sudah dicatat.

“Aku tidak akan kehilangan diriku,” katanya pelan.

Ki Sura tersenyum tipis, pahit. “Semua orang yang pernah duduk di tempatmu bilang begitu.”

Keheningan kembali. Di luar, angin berembus kencang, membuat lampu minyak bergoyang.

Ki Sura berdiri. “Tiga hari. Aku akan menyiapkan tempat yang lebih tersembunyi di balik desa. Tapi malam ini, kau harus berjaga. Ada yang bergerak di hutan sejak matahari terbenam. Bukan binatang.”

Jayengrana ikut berdiri. “Aku sudah merasakannya.”

“Bagus,” kata Ki Sura. “Karena jika aku bisa merasakannya, berarti mereka sudah sangat dekat.”

Mereka keluar dari ruangan. Di ruang utama, istri Jayengrana langsung menatap suaminya. Jaka masih terjaga.

“Bagaimana?” tanya istrinya pelan.

Jayengrana duduk di sampingnya. “Kita punya tiga hari. Setelah itu, kita harus pergi.”

“Ke mana?”

“Belum tahu.” Ia menatap Jaka. “Tapi kita tidak akan tinggal diam menunggu.”

Tiba-tiba, dari luar rumah, terdengar bunyi lonceng kayu berdentang tiga kali. Bukan angin. Bunyinya terlalu teratur.

Salah satu pemuda penjaga membuka pintu. Wajahnya pucat.

“Ki… ada seseorang di gerbang desa. Sendirian. Tidak membawa senjata.”

Ki Sura mengerutkan dahi. “Siapa?”

Pemuda itu menelan ludah. “Ia memakai topeng kayu.”

Ruangan menjadi hening.

Jayengrana berdiri pelan. Tangannya sudah memegang tombak.

Di luar, di tengah kabut yang semakin tebal, sosok itu berdiri diam di gerbang desa. Api kecil kemerahan menyala di ujung tongkat hitamnya, cukup terang untuk memperlihatkan ukiran topeng kayu yang tidak berubah sejak semalam.

Pria Bertopeng Kayu tidak bergerak maju.

Ia hanya berdiri di sana.

Menunggu.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!