Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
"Awal baruku."
Suara Viola terdengar pelan di tengah ruangan yang kini terasa jauh berbeda. Beberapa hari telah berlalu sejak proses pindahan dimulai. Semua kardus sudah tidak terlihat. Peralatan dapur tersusun sesuai tempatnya. Oven, mixer, lemari pendingin, hingga meja kerja telah menempati posisi masing-masing. Viola juga bahkan membeli cukup banyak peralatan baru untuk menambah kelengkapan tokonya.
Etalase kaca yang panjang berdiri menghadap pintu masuk. Meja-meja pelanggan sudah tertata rapi. Bahkan beberapa tanaman kecil diletakkan di sudut ruangan agar tempat itu terasa lebih hangat.
Viola berdiri di tengah toko. Matanya bergerak perlahan ke seluruh sudut ruangan.
"Sweet Cake akhirnya punya rumah baru sekaligus harapan baru." Senyum kecil muncul di bibirnya.
Tidak jauh berbeda dari toko lamanya, tetapi tempat ini jauh lebih luas, lebih terang, dan berada di kawasan yang lebih strategis serta ramai.
Rani, Siska, dan Dimas sudah pulang lebih dulu ke kontrakan yang sengaja disewa Viola tidak jauh dari kawasan tersebut. Viola juga sudah memindahkan barang-barang pribadinya ke rumah yang berada tepat di belakang bangunan toko. Seperti sebelumnya, ia tinggal dan bekerja di tempat yang sama.
Selain tetap mempekerjakan Rani, Siska, dan Dimas, Viola juga merekrut beberapa pegawai baru atas saran dan bantuan Asisten Kim. Meski awalnya Viola sempat menolak menambah karyawan karena khawatir tokonya masih sepi dan belum mendapat pelanggan. Namun, Asisten Kim terus meyakinkannya.
"Besok pagi semuanya dimulai." Viola menarik napas panjang. Tangannya menyentuh permukaan meja kerja stainless yang masih bersih. "Semoga semuanya berjalan lancar."
Ia menatap papan Sweet Cake yang terlihat di balik kaca. Ada sedikit rasa takut di dadanya.
Bagaimana kalau ternyata tidak ada pelanggan yang datang?
Bagaimana jika apa yang sudah diusahakannya berakhir sia-sia?
Namun, di balik kekhawatiran itu, ada harapan yang jauh lebih kuat.
Viola mematikan lampu satu per satu. Besok pagi, Sweet Cake akan membuka pintunya untuk pertama kali.
****
"Selamat datang di Sweet Cake!"
Suara Viola terdengar bersamaan dengan dibukanya pintu toko keesokan paginya.
Papan kecil bertuliskan. ' GRAND OPENING ' sudah terpasang di depan.
Untuk menarik pelanggan, Viola sengaja memberikan potongan harga untuk beberapa menu pada hari pertama.
Tulisan ' DISKON KHUSUS ' juga ikut di pajang di depan toko.
Awalnya jalan di depan toko masih terlihat biasa. Beberapa orang hanya melirik papan promosi sebelum kembali berjalan.
Viola berdiri di balik kasir, jemarinya saling bertaut.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita yang sedang berjalan di depan Sweet Cake tertarik saat melihat tulisan dan foto beberapa cake yang dipajang di depan toko. Wanita itu pun membuka pintu Sweet Cake.
"Permisi. Apa semua cake dan roti hari ini mendapat diskon?"
"Sebagian besar menu mendapat diskon hari ini." Viola menjawab dengan senyum ramah. "Silakan dilihat dulu."
Wanita itu mendekati etalase. "Saya mau strawberry shortcake dua dan ...." Ia berhenti sejenak. Matanya berbinar melihat isi etalase yang dipenuhi banyak macam cake maupun roti yang menggugah selera.
"Tambahkan juga tiga tiramisu dan dua cup puding jelly," lanjutnya kemudian.
"Baik." Viola segera mencatat pesanan.
Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Lalu terbuka lagi ... dan lagi. Pelanggan datang berbondong-bondong.
"Bu Viola, Strawberry shortcake hampir habis." Rani melapor dari balik etalase.
"Masih sedang proses membuat lagi." Viola menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan pesanan.
Siska keluar dari dapur membawa beberapa nampak berisi brownies yang baru saja matang. "Bu, browniesnya tersisa sedikit lagi."
"Minta orang dapur membuat adonan lagi," jawab Viola.
"Siap!"
Dimas membawa nampan melewati mereka. "Pesanan meja lima sudah siap!"
"Antarkan dulu. Setelah itu siapkan pesanan lainnya." Lagi-lagi Viola menjawab tanpa menoleh langsung. Tangannya sibuk mencatat pesanan pelanggan lain.
Sejak pintu Sweet Cake dibuka pagi tadi, pelanggan datang silih berganti. Tidak ada jeda panjang yang sempat Viola takutkan.
Satu pelanggan keluar, satu pelanggan lain masuk.
Viola hampir tidak sempat mengangkat kepala. Tangannya terus bergerak mencatat pesanan, mengecek ketersediaan kue maupun minuman. Sesekali ia membantu karyawan di kasir atau ikut membuat adonan di dapur.
"Bu, adonan roti sudah habis." Siska melaporkan situasi di dapur.
Viola melirik arloji di pergelangan tangannya sebagai bahan pertimbangan. Ia tidak boleh salah mengambil keputusan dapur.
"Katakan pada Pak Mario untuk tidak menambah adonan roti."
Siska mengangguk patuh. "Siap, Bu."
Waktu terus berjalan. Satu demi satu kue keluar dari dapur. Sampai akhirnya, menjelang sore, etalase yang tadi penuh perlahan kosong. Ruangan yang dipenuhi pelanggan kini terlihat lenggang.
Rani membalik papan di depan pintu menjadi TUTUP.
"Bu ...." Siska berdiri di depan etalase. "Semua habis."
"Tidak ada satu cake atau roti yang tersisa." Rani ikut menimpali.
Viola terdiam. Ia memandang etalase yang kosong. Beberapa jam lalu, tempat itu penuh berisi berbagai jenis cake, roti, dan dessert. Sekarang hanya tersisa beberapa piring dan remah-remah kecil.
"Baru buka tapi sudah laku keras," celetuk Dimas yang muncul dari dapur.
Viola tersenyum. Rasa lelah yang sejak tadi menumpuk tiba-tiba terasa ringan.
Keempat orang itu berdiri di tengah toko. Mereka tidak pernah membayangkan hari pertama akan seramai ini. Bahkan lebih ramai daripada beberapa hari terbaik di toko lama. Sweet Cake bahkan tutup lebih awal dari waktu yang ditentukan.
"Dimas."
"Iya, Bu." Dimas berjalan mendekat.
"Besok tolong berangkat satu jam lebih awal. Bantu Pak Mario menyiapkan bahan adonan."
"Siap, Bu." Dimas menjawab dengan penuh semangat. Pria muda itu memang lelah tapi juga bahagia. Sweeet Cake ramai bahkan di hari pertamanya.
"Semoga besok dan ke depannya Sweet Cake selalu ramai seperti tadi," ucap Rani penuh harap. Tangannya sibuk membersihkan sisa remah-remah di dalam etalase.
"Semoga saja. Meskipun cape, tapi aku senang." Siska menimpali dengan nada ceria.
"Semoga banyak pesan antar juga. Biar sekalian keluar buat cuci mata," celetuk Dimas.
"Kalau ada pesan antar. Biar Pak Mario atau Agus saja yang antar. Kamu tetap di dapur buat adonan." Viola ikut berkomentar.
Dimas langsung menggaruk tengkuknya. "Yah ... gagal cuci mata," keluhnya pelan.
Rani dan Siska spontan tertawa. Sementara Viola tersenyum sedikit lebih lebar.
Suasana yang terasa hangat itu terhenti saat pintu terbuka. Mereka berempat kompak menoleh.
Asisten Kim berdiri di ambang pintu dengan beberapa tas makanan di kedua tangannya. pria berkacamata itu lalu melangkah masuk.
"Selamat sore, Nona. Anda belum makan siang, bukan?"
Viola spontan mengangguk pelan. Perutnya memang belum sempat terisi apa pun sejak pagi. Hanya air mineral saja yang sempat melewati tenggorokannya.
"Asisten Kim, Anda ...."
Asisten Kim mengangkat beberapa kotak makanan. "Saya membawa makanan."
Mata Rani langsung berbinar. "Makanan dari restoran yang lagi viral itu, kan?"
"Benar. Dan saya membawa cukup banyak untuk kalian semua."
Dimas langsung berdiri. "Kalau begitu ini penyelamat."
Rani tertawa kecil. " Tuan Kim tau saja kalau kami belum sempat makan siang."
Viola sendiri hanya menggeleng kecil. "Kalian bisa makan duluan."
"Bu, sekalian makan bareng saja." Siska langsung mengambil salah satu kotak.
"Kalian makan duluan saja. Ada yang harus saya sampaikan pada Asisten Kim," tolak Viola. Tatapannya lalu beralih pada Asisten Kim yang mengangguk pelan.
Sementara Rani, Siska, dan Dimas menikmati makanannya sambil mengobrol. Viola meminta Asisten Kim untuk berbicara sebentar di meja yang agak jauh dari ketiga karyawan itu. Sementara tiga karyawan yang baru direkrut sudah pulang lebih dulu.
"Bagaimana hari pertama?" tanya Asisten Kim.
"Jauh lebih ramai dari yang saya bayangkan." Viola tersenyum lelah. Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.
"Andalah dalang di balik ramainya toko ini, bukan?"
Asisten Kim terdiam sejenak.
"Kenapa Anda berpikir demikian?" tanyanya akhirnya.
Viola menyandarkan punggungnya pada kursi. "Karena saya mengenali beberapa pelanggan tadi." Ia tersenyum tipis. Ia sempat melihat pelanggan yang datang bersama rekan-rekannya masih mengenakan kartu Identitas yang tergantung di leher. Dan Viola mengenali logo perusahaan itu.
"Mereka bukan pelanggan biasa. Sebagian datang dari salah satu divisi perusahaan yang masih berada di bawah naungan Dhanubrata Group."
Asisten Kim tidak langsung menjawab.
Viola melanjutkan dengan tenang. "Saya memang sudah tidak menjabat CEO perusahaan besar, tapi saya masih tahu bagaimana perusahaan bekerja."
Tatapannya beralih pada cangkir kopi yang berada di atas meja. "Kalau sampai beberapa orang dari perusahaan itu datang bersamaan ke toko yang baru buka, lalu membeli dalam jumlah banyak, rasanya terlalu kebetulan."
Asisten Kim menarik napas pelan. "Anda benar." Ia akhirnya mengangguk. "Mereka datang atas intruksi Tuan Han."
"Tuan Han yang memerintahkan mereka?"
"Benar, Nona." Asisten Kim tidak mencoba mengelak. Ia lebih memilih mengatakan yang sebenarnya.
"Tuan Han memerintahkan beberapa orang dari setiap divisi perusahaan untuk datang dan mencoba produk Sweet Cake."
Viola menatap kosong meja di hadapannya. Ia masih tidak menyangka, kemungkinan yang sempat terlintas di kepalanya ternyata benar adanya. Ada rasa geli, kecewa, dan perasaan lainnya yang bercampur jadi satu.
"Tuan Han tidak ingin membuat Anda kecewa di hari pertama Sweet Cake buka." Asisten Kim buru-buru melanjutkan.
Mengangkat kembali wajahnya. Viola menatap Asisten Kim dengan tatapan yang sulit dibaca. "Tolong sampai rasa terima kasih saya pada beliau."
Asisten Kim mengangguk pelan namun tenggorokannya terasa kering.
"Dan sampaikan juga ... Permintaan maaf saya karena sudah banyak merepotkan beliau."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Asisten Kim itu seperti sebuah isyarat.
Asisten Kim menelan keras ludahnya. "Baik, Nona. Saya akan sampaikan pada beliau."
**
Sementara di meja lain.
Rani, Siska, dan Dimas bergantian mencuri pandang ke arah atasannya.
"Jadi benar, kan?" bisik Rani.
"Apanya?" sahut Dimas.
"Bu Viola dan Asisten Kim." Rani menahan suaranya agar tidak sampai terdengar ke meja Viola.
"Aku juga semakin yakin." Siska ikut berkomentar. "Asisten Kim sangat perhatian sampai membawa makanan buat Bu Viola."
"Menurutku nggak gitu." Dimas kembali berkomentar. "Mereka seperti rekan bisnis biasa."
Rani dan Siska berpandangan sejenak.
"Dimas nggak asik," celetuk Rani.
"Dia nggak bisa diajak gosip bareng," sahut Rani.
Kedua gadis itu lalu berdiri dan meninggalkan Dimas yang menggaruk tengkuknya sendirian. "Aku kan cuma bilang apa yang ada pikiranku." gumamnya sendiri.
***bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor