Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: BERBURU PERABOTAN UNTUK KLUB!
Hari Sabtu akhirnya tiba. Hari yang sungguh indah dan sempurna bagi siapa pun untuk menikmati waktu liburan.
Namun, sesosok makhluk bernama Raka masih saja terdampar di rumahnya. Dengan posisi menyandar malas di sofa, ia sibuk mengunyah camilan sembari menyaksikan serial kartun kesukaannya di layar televisi.
Janjian mereka untuk pergi memburu perabotan klub sebenarnya baru dimulai pukul 08.00 pagi, sementara jarum jam baru saja menyentuh angka 07.00.
Masing-masing dari mereka mengisi satu jam senggang itu dengan kesibukan yang sangat bertolak belakang.
Di rumah mewahnya, Alya tampak fokus menatap layar laptop, menerjemahkan dokumen-dokumen penting untuk perusahaan milik pamannya. Sementara itu, Aira sedang sibuk bekerja paruh waktu di sebuah kafe—beruntung hari ini ia diizinkan pulang lebih awal oleh atasannya karena ada urusan tugas klub pukul 08.00 nanti.
Dan di saat kedua gadis itu berkeringat dengan kesibukan masing-masing, dua cowok di klub mereka justru menikmati hidup tanpa beban: Dimas asyik berteriak-teriak main game di rumahnya, dan Raka masih betah menempel di depan TV.
Tak terasa, jarum jam melesat cepat menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Alya segera merapikan dokumen dan menutup laptopnya.
Aira bergegas mengganti pakaian kerjanya dengan baju santai.
Dimas mematikan konsol PS dan merapikan stik game-nya.
Dan Raka... baru saja beranjak masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi dengan kilat, Raka segera mengenakan pakaian kasualnya. Ia menyambar kunci motor dan melesat menuju lokasi pertemuan mereka: taman kota yang terletak tak jauh dari sekolah.
Setibanya di sana, suasana taman rupanya masih cukup sepi. Mumpung belum ada tanda-tanda keberadaan yang lain, Raka melangkah menuju sebuah kursi kayu panjang dan langsung mendaratkan bokongnya di sana.
Taman itu terasa begitu asri. Udara pagi yang sejuk bertiup pelan, dipadukan dengan kicauan burung-burung di atas pohon yang menambah keindahan suasana. Sensasi nyaman itu mendadak membuat rasa kantuk Raka menyerang kembali.
Namun, tepat saat Raka hendak merebahkan badannya di atas kursi kayu itu... tiga sosok mendadak muncul berdiri di hadapannya secara bersamaan!
Raka tersentak dan seketika terduduk tegap dengan wajah kaget.
"Aduhh... kenapa kalian datang pas gue baru aja mau enak-enakan sih?!" protes Raka mengelus dadanya.
Dimas bersedekap dada sambil terkekeh jahil. "Ya... biar lu gak kelihatan makin malas lah, Rak!"
"Sialan lu, Mas!" umpat Raka gusar. Ia kemudian melirik Alya dan Aira dengan raut wajah malas tingkat dewa. "Yaudah, sekarang kita mau ngapain nih?"
Alya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Raka. "Ngapain? Ya beli perabotan lah! Kan udah janjian!"
Raka menghela napas panjang, meratapi liburan Sabtunya yang terusik. "Jujur ya... malas banget sebenarnya..."
"Udahlah, jangan malah ngobrol di sini. Kita langsung jalan aja ke pasar loak!" potong Aira sambil melipat kedua tangannya di dada.
Dimas melotot kaget. "Jalan?! Gak pake kendaraan?!"
Aira memutar bola matanya malas. "Lah... wong deket gini kok. Malas amat sih jadi cowok!"
"NOOOOOOO—!" jerit Dimas dramatis sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
Dengan gerakan cepat, Raka merangkul leher Dimas dan membekap mulut sahabatnya itu sebelum teriakan dramatisnya makin memancing perhatian pengunjung taman yang lain.
"Udah, udah... Gak usah lebay, langsung aja kita berangkat ke lokasi," potong Raka menyeret tubuh Dimas yang pasrah.
Dimas cuma bisa berdeham lemas dari balik bekapan tangan Raka. "Y..."
Tanpa mengulur waktu lagi, keempatnya mulai melangkah meninggalkan taman. Hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki menelusuri trotoar, rombongan kecil itu akhirnya tiba di tempat tujuan.
Suara hiruk-pikuk pedagang, aroma khas kayu tua, serta deretan barang-barang antik yang menumpuk di sepanjang jalan menyambut kedatangan mereka: Pasar Loak.
"Wah... ini tempatnya?" gumam Dimas begitu langkah mereka terhenti di area pasar loak yang riuh.
Alya mengangguk pelan sembari menguraikan beberapa lembar kertas dari saku bajunya. "Iya. Sekarang kalian bertiga ikuti semua arahan yang udah aku tulis di kertas ini."
"SIAP!" sahut Raka dan Dimas kompak bagai prajurit.
Baru juga berjalan beberapa langkah, mata Dimas mendadak berbinar menatap tumpukan barang bekas di sebuah kios. "Wah, apa tuh, Rak?!"
Raka mengernyit bingung. "Lu nunjuk ke mana sih?"
"Alah, samperin aja deh yuk!" ajak Dimas menarik lengan Raka. Ia lalu menunjuk sebuah benda berdebu di atas meja. "Nih yang gue tunjuk! Ini kan telepon mainan jadul yang suaranya 'Aiya aiya ada telepon dari bapak', gitu gak sih?!"
Raka menepok jidatnya sendiri. "Apalah... bukan gitu bunyinya, kocak!"
"Ya... yang penting gue inget!" kekeh Dimas tanpa dosa.
Alya yang berjalan di belakang mereka mendadak bersedekap dada sambil menaikkan sebelah alisnya. "Udah selesai main-mainnya?"
"Udah... hehe," sahut Dimas menyeringai polos.
"Yaudah, cepat cari perabotan sesuai catatan!" perintah Alya tegas.
"Siap, Boss!"
Raka dan Dimas langsung melesat membelah keramaian pasar loak demi menuntaskan misi di secarik kertas pemberian Alya.
Raka dapat bagian yang cukup santai: berburu buku-buku bekas. Sementara itu, Dimas mendapat nasib paling sengsara karena harus membopong satu unit rak kayu berukuran lumayan besar sendirian.
Melihat sahabatnya berkeringat dingin dan napasnya sudah terengah-engah bak membawa beban hidup, Raka yang tak tega akhirnya ikut turun tangan membopong ujung rak tersebut.
Namun, saat Raka dan Dimas bersusah payah menyelesaikan tugas berat mereka, pandangan Dimas mendadak tertuju pada satu titik di sudut kios kayu. Di sana, Alya dan Aira justru tampak sangat santai... malah keasyikan mengobrol dan berdiskusi sejarah bareng si tukang kayu!
Dimas yang kelelahan dan mandi keringat seketika membakar aura cemburu sosial. Saking emosinya, jemari Dimas tanpa sadar bergerak mencakar lengan Raka yang ada di sampingnya!
"ANJIRRR! Kenapa mereka berdua malah asyik santai-santai sih?!" gerutu Dimas dengan mata berapi-api. "Sial! Sialan!"
"WOI! Sakit, kocak!" jerit Raka memegangi lengannya yang dicakar.
Dimas tersentak kaget. "Eh... maaf, Rak! Habisnya gue kesal banget liat mereka berdua asyik ngobrol, sedangkan kita peras keringat! Kita grebek yuk!"
Raka meringis sambil mengusap lengannya. "Hmm... yuk lah, mumpung tugas kita juga udah selesai."
Dengan langkah lebar dan raut wajah bersungut-sungut, Dimas mendekat lalu menepuk keras pundak Aira dari belakang.
"Oi! Kenapa kalian berdua malah asyik ngobrol bukannya bantuin?!" protes Dimas melotot.
Aira menoleh santai sambil mengibaskan tangannya. "Ya sekali-kali lah! Gantian, ya gak, Kak Alya?"
Alya mengangguk anggun tanpa rasa bersalah. "Yup. Karena hari ini kalian bertiga—terutama kamu, Dimas—memang bertugas jadi babu kami."
"APAAA?!" mata Dimas hampir melompat keluar. "Gue gak sudi ya!"
Aira cepat-cepat merentangkan tangannya. "Wop! Tahan dulu, ini juga ada tujuannya tahu!"
"Apaan tujuannya?!" cecar Dimas masih sengit.
Alya menunjukkan buku catatan kecilnya. "Diskusi sama tukang kayu tadi bisa jadi referensi bagus buat cerita buatan klub kita. Makanya aku bikin catatan."
Dimas mendadak bungkam. "Oalah... bilang dong dari tadi."
"Ini udah gue bilang dari tadi, Mas!" cetus Aira memutar bola matanya.
"Telat! Banyak dramanya!" gerutu Dimas memalingkan wajah.
Aira tertawa geli. "Hahaha! Iya deh, maaf, maaf..."
Raka menunjuk ke arah rak kayu besar dan tumpukan buku di dekat mereka. "Terus ini rak sama buku-bukunya gimana ngangkutnya?"
"Tenang, kita suruh orang jasa pengantar barang aja buat nganterin langsung ke markas klub kita," jawab Alya santai.
Dimas mendadak menghentikan langkahnya, curiga. "Lah... terus yang bayar ongkos kirimnya siapa?"
Alya dan Aira kompak saling pandang, lalu tanpa ragu jemari mereka berdua menunjuk tepat ke arah dada Dimas.
Dimas melotot kaget. "LAH?! Kenapa kalian malah tunjuk gue?!"
Aira tersenyum jahil. "Karena lu kan punya rahasia... pasti uang simpanan lu banyak!"
"Lah, tahu dari mana lu?!" serbu Dimas panik.
"Rahasia~" sahut Aira menjulurkan lidahnya.
Dimas mengelus dadanya yang sesak, lalu menoleh ke Alya. "Apalah... lagian Alya kan anak orang kaya, kenapa gak pake uang lu aja sih, Al?"
Alya mendesah pelan. "Hmm... uang pribadi aku sepenuhnya dipegang dan dikendalikan sama paman aku, jadi aku gak bisa asal pake seenaknya."
Raka manggut-manggut prihatin. "Ngeri juga ya..."
"Yaudah, untuk sekarang tugas kita udah kelar, kita bubar dulu aja yuk," tawar Aira merenggangkan badannya.
"Ets! Tunggu dulu!" tahan Dimas mengangkat tangannya.
Aira menaikkan sebelah alisnya. "Apa lagi, Dimas?"
"Btw... itu meja sama kursi yang gede di sana, siapa yang membopong keluar sampai ke angkutan?" tanya Dimas menunjuk perabotan tebal di sudut pasar. "Bukannya kata Alya tadi gak ada uang?"
Alya menyunggingkan senyum misterius. "Hmm... sebenarnya baru aja ada uang nyasar masuk ke rekening tasku, jadi aku udah nyewa orang-orang pasar buat bantu ngangkut semuanya."
Dimas tertegun, menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah melongo. "Gila... kekuatan uang emang semenakutkan ini kah?"
Raka menepuk pundak Dimas santai. "Gak usah kaget gitu deh, Mas. Kayak gak pernah nonton drama China aja lu."
"Lah... kan emang gak pernah!" sahut Dimas polos.
Tak terasa, setelah serangkaian perdebatan konyol dan drama perburuan perabotan tersebut, jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul 12.00 siang. Terik matahari yang mulai menyengat mengingatkan perut mereka yang sudah keroncongan.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berpisah dan pulang ke rumah masing-masing demi menuntaskan makan siang. Bagi Dimas dan Raka, hari Sabtu ini resmi tercatat sebagai hari yang sangat indah sekaligus buruk... di satu tempat dan waktu yang bersamaan.