Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Pesan Tak Dikenal
Malam telah turun sepenuhnya di atas mansion. Hujan yang sempat mengguyur sejak sore juga telah berhenti. Hanya menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah yang menyusup melalui celah jendela.
Di dalam kamar, Ara duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah novel terbuka di pangkuannya. Namun, sejak beberapa menit terakhir, tak satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke dalam pikirannya.
Sesekali tangannya meraih ponsel baru yang tergeletak di sampingnya. Itu bukan ponsel lamanya. Itu ponsel yang pernah ia sengaja tinggal di mansion.
Ara menghela napas. Dante sepertinya masih berada di ruang kerja bersama Luca. Mungkin mereka masih membahas masalah pekerjaan atau dunia kekuasaan bawah tanah. Siapa yang tahu apa yang dua laki-laki itu bicarakan. Bukannya ia cemburu, tetapi entah di kantor atau di rumah, Dante lebih sering menghabiskan waktu bersama Luca. Dan baginya itu bukan masalah.
Sedangkan untuk hubungan diantara mereka, setelah semua yang terjadi, masih sulit baginya mempercayai kebebasan yang diberikan Dante. Entah kenapa ia memiliki feeling Dante sedang menebar jala lebih luas, hanya saja ditujukan untuk siapa jala itu, ia juga belum tahu.
Ara kembali membaca. Baru beberapa halaman, ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk. Ara melirik layar. Nomor tidak dikenal. Alisnya langsung berkerut. Dengan was-was, ia membuka pesan itu.
## Kau pikir Dante bisa dipercaya? ##
Jantung Ara berdetak sedikit lebih cepat. Matanya kembali membaca kalimat itu sekali lagi. Ia mengangkat kepala dan menatap pintu kamar. Jarinya bergerak cepat, mengetik balasan.
## Siapa ini? ## Pesan terkirim. Tidak ada jawaban.
Ara mulai kehilangan kesabaran. Ia hendak meletakkan ponselnya ketika layar kembali menyala.
## Tidakkah kau ingin tahu siapa yang sebenarnya mengawasimu, maka datanglah menemui ku. ##
Ara terdiam. Bulu kuduknya berdiri. Pengirimnya tahu bahwa Ara sedang diawasi. Dan lebih buruk lagi—pengirim itu seolah tahu bahwa Ara sendiri sudah menyadarinya. Padahal sebenarnya Ara sendiri tidak tahu siapa yang berani mengintainya.
Ara menggigit bibir bawah. Mungkin ini jebakan. Mungkin salah satu musuh Dante sedang mencoba memancingnya keluar. Atau mungkin dia hanyalah seseorang yang tak sengaja mengetahui terlalu banyak tentang kehidupannya.
Ia hendak memblokir nomor itu. Namun sebuah pesan baru masuk. Ia menatap layar.
## Kau masih suka memanggang roti?##
Darahnya berdesir. Tangannya membeku. Ia menatap layar cukup lama. Tidak ada alasan seseorang mengirim pertanyaan seperti itu. Kecuali—orang itu adalah dia yang membuat nya menjadi pengganti.
Lalu pesan berikutnya masuk.
## Dulu kau selalu mencuri bagian pinggir rotiku. ##
Ponsel itu terlepas dari tangannya. Bruk! Benda tersebut jatuh ke atas kasur.
Ara tidak bergerak. Wajahnya pucat. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Bagian pinggir roti," gumamnya mengulang. Kenangan itu muncul begitu jelas. Sebuah dapur kecil. Meja kayu ek tua. Aroma roti yang baru keluar dari oven. Seorang gadis kecil yang diam-diam mengambil bagian pinggir roti milik kakaknya. Suara protes dan teriakan.
"Ara, itu punyaku!"
"Sedikit saja."
"Kau sudah mengambil dua!"
"Ini yang terakhir."
Kenangan yang begitu lama terkubur. Itu terjadi pada masa kecilnya.
Ara perlahan meraih ponselnya. Tangannya gemetar. Matanya terpaku pada nomor tidak dikenal tersebut. Ia tidak ingin mempercayai pikirannya sendiri. Tidak mungkin. Bukankah kakaknya telah kabur di hari pernikahan. Sudah beberapa bulan berlalu tanpa kabar dari Alessia.
## Kau dimana, Alessia?##
Sekali lagi pesan terkirim. Ara mengetik dengan jari gemetar. Ia tanpa ragu langsung menyebutkan nama. Ia sangat yakin pengirim pesan anonim ini adalah kakaknya.
Tidak ada jawaban. Detik demi detik berlalu. Ara bahkan tidak sadar ia sedang menahan napas.
Kembali layar ponselnya menyala. Sebuah balasan muncul.
## Akhirnya kau mengingatku. ##
Ara membeku. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya membaca kalimat itu berkali-kali. Pengirim pesan itu benar-benar Alessia. Perempuan yang justru menghilang pada hari pernikahannya dengan Dante. Perempuan yang seharusnya berdiri di altar. Perempuan yang meninggalkan semua tanggung jawab pada Ara tanpa penjelasan. Dan karena kepergiannya—Ara dipaka menggantikannya. Pertanyaannya kenapa sekarang tiba-tiba dia muncul. Apa yang diinginkan kakaknya.
Selama bertahun-tahun, Ara selalu mengalah untuk kakaknya. Bahkan ia memilih pergi dari keluarga Milano karena tidak mau bersaing atau berebut dengan kakaknya.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, sebuah kemungkinan yang jauh lebih mengerikan terbersit di benaknya.
Alessia tidak mungkin muncul jika tidak sesuatu terjadi padanya. Atau dia sedang mengincar sesuatu. Dan mungkin apa yang sedang Alessia ambisikan ada di tangan Dante.
## Kau tidak ingin tahu kenapa aku pergi?##
## Tidak !! ## jawaban itu diketik dengan cepat.
## Kau tidak ingin menemui ku? ##
## Belum untuk saat ini. ##
Meski Ara adik, ia tidak bodoh, ia sangat mengena kakaknya. Lagipula ia juga masih ingin menjaga kewarasan dan hatinya. Ia tidak ingin terlibat dalam apapun yang mungkin seorang Alessia bisa rencanakan dan pikirkan.
Sementara untuk pernikahan, saat ini sudah sangat terlambat jika Alessia ingin mengklaim balik kesepakatan pernikahan ini. Nasi sudah menjadi bubur. Kakaknya sendiri yang sudah mendorong adiknya sampai ke titik ini. Untuk berbalik ke titik semula rasanya sulit. Apalagi jika hal itu menyangkut Dante.
Pesan kembali masuk.
## Bagaimana rasanya menggantikan posisiku? ##
Alis Ara mengernyit.
## Dante tidak pernah menganggap ku pengganti ##
Layar ponsel sekali lagi menyala.
## Kau masih saja naif. ##
Ara mematikan ponsel sebelum ia meletakkannya di kasur. Sudah cukup malam ini. Ia tidak ingin mengingat dan diingatkan hari pernikahan itu. Seharusnya ia menolak datang pada hari itu sehingga ia tidak mungkin berakhir disini sekarang.
Sementara Ara sedang berkutat dengan emosinya. Dante dan Luca di ruang kerja ikut membaca isi pesan yang masuk ke ponsel Ara. Seperti dugaan Ara, ponsel jika sudah di tangan Dante, ponsel itu sudah bukan ori setelan pabrik lagi. Dante kemungkinan besar sudah memasang chip di dalamnya. Itu juga alasannya Ara tidak pernah membawa ponsel ini kabur. Karena Ara jelas sadar ponsel itu bakal membocorkan lokasinya.
"Selidiki dimana Alessia dan cari tahu apa alasannya menghubungi Ara." Dante memerintahkan Luca begitu layar laptop di depannya mati.
"Apakah kita perlu menangkapnya?" tanya Luca.
"Belum." Dante merenung. "Aku hanya ingin tahu apa yang direncanakan wanita itu."
"Baik, Tuan," jawab Luca menyanggupi.
"Juga Keluarga Milano. Aku ingin tahu apakah mereka ada hubungannya dengan kemunculan wanita itu." Dante berkata lebih dingin.
"Pelajaran seperti apakah yang ingin Tuan berikan pada mereka?" tanya Luca memberanikan diri mencari tahu.
"Kita tunggu dan lihat. Apa yang kau temukan." Matanya menatap tajam kearah Luca. Sebenarnya sejak mereka di rumah tua, Luca sudah melaporkan ada pihak lain yang mengawasi rumah tua milik nyonya itu dari jauh. Tetapi penyelidikan belum menemukan siapa orangnya dan kebetulan Alessia muncul dalam pesan-pesan anonim untuk Ara. Namun bagaimanapun ia tidak akan menyimpulkan terlalu cepat. Ia perlu melihat bukti dan fakta di lapangan yang ditemukan Luca.
***