Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Kecurigaan yang Bangkit
Dua hari setelah infiltrasi, Wulan menemukan sesuatu yang membuatnya langsung menghubungi Raka dan Bara lewat panggilan darurat. "Aku masih memantau sistem internal Cendana dari akses belakang yang kutinggalkan," katanya cepat. "Ada jadwal rapat audit keamanan mendadak besok pagi — bukan rapat rutin bulanan mereka."
"Mereka menyadari sesuatu," gumam Raka, dadanya menegang.
"Log akses malam itu menunjukkan volume data yang disalin jauh di atas rata-rata maintenance rutin," Wulan menjelaskan. "Sistem otomatis mereka menandainya sebagai anomali minor waktu itu, tapi sepertinya seseorang di level lebih tinggi baru sekarang memutuskan untuk menyelidikinya lebih jauh — mungkin karena kewaspadaan ekstra menjelang penandatanganan ulang."
"Dimas," kata Bara, langsung memikirkan konsekuensi paling nyata. "Kalau mereka menyelidiki log itu, namanya yang akan pertama muncul sebagai staf yang bertugas malam itu."
Raka segera menekan earpiece, menghubungi Dimas langsung meski risikonya menggunakan saluran yang kurang aman untuk situasi darurat seperti ini. "Dimas. Ada audit keamanan mendadak besok pagi terkait log akses malam infiltrasi kita. Kau harus siap."
Suara Dimas terdengar panik di ujung telepon. "Siap untuk apa? Aku bukan ahli menghadapi interogasi keamanan!"
"Kau tidak perlu berbohong rumit," Raka menjelaskan tenang, mencoba menstabilkan kepanikan di ujung telepon. "Kalau ditanya soal volume data, jawab jujur bahwa itu bagian dari pembaruan sistem pendingin yang memang butuh transfer data konfigurasi besar — itu bukan kebohongan penuh, dan cukup masuk akal untuk staf teknis sepertimu."
"Dan soal kartu akses supervisorku?"
"Itu bagian paling berisiko," Raka mengakui. "Kalau mereka menemukan itu, kau harus siap mengaku meminjamnya tanpa izin untuk keperluan darurat teknis semata — kesalahan prosedur, bukan pengkhianatan. Itu bisa berujung sanksi, tapi tidak akan langsung mengarah ke tuduhan lebih besar, selama tidak ada bukti lain yang menghubungkanmu ke kami."
Hening sejenak di ujung telepon, Dimas mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Baik. Aku akan coba."
"Ada satu opsi lain," Raka menambahkan, memikirkan langkah pencegahan yang lebih aman. "Kalau situasinya terasa terlalu berbahaya besok, kau bisa mengajukan pengunduran diri mendadak, alasan keluarga atau kesehatan. Itu akan terlihat mencurigakan sedikit, tapi jauh lebih aman daripada menghadapi investigasi mendalam yang mungkin menemukan lebih banyak dari yang bisa kau jelaskan."
"Aku akan pikirkan itu juga," jawab Dimas, suaranya sedikit lebih tenang mendengar ada jalan keluar. "Terima kasih, Raka. Sungguh."
Sementara itu, di Andratama Tower, Setiawan menerima laporan singkat dari kepala keamanan internalnya soal anomali di Cendana — laporan yang, karena protokol keamanan silang antar anak perusahaan, otomatis diteruskan ke mejanya begitu ditandai sebagai "berpotensi sensitif".
"Volume data tidak wajar, malam maintenance rutin dua hari lalu," bacanya pelan, matanya menyipit curiga. Ia mengangkat telepon, menghubungi seseorang yang jarang ia hubungi langsung tanpa perantara. "Kita mungkin punya masalah kecil di Cendana. Aku ingin tahu siapa yang bertugas malam itu, dan siapa vendor yang masuk ke gedung."
Di ujung telepon, suara asistennya menjawab cepat, sudah menyiapkan data itu sebelum diminta. "Nama vendornya PT Cipta Dingin Nusantara, kontrak pembaruan sistem pendingin, Pak. Sudah diverifikasi sistem penjadwalan dua hari sebelum kunjungan."
"Periksa ulang perusahaan itu," perintah Setiawan, insting lamanya sebagai mantan komandan operasi mulai bangkit penuh. "Aku ingin tahu apakah perusahaan itu benar-benar ada, atau cuma nama kosong yang baru dibuat untuk kebutuhan sesaat."
Setelah menutup telepon, Setiawan bersandar ke kursinya, menatap jauh ke luar jendela kantornya. Naluri yang sama yang dulu membuatnya berhasil mengkhianati seluruh unit Garuda Hitam tanpa ketahuan selama bertahun-tahun, kini berbicara jelas dalam kepalanya — anomali ini bukan kebetulan, dan siapa pun di baliknya, kemungkinan besar berkaitan langsung dengan sosok yang sudah lama ia curigai masih hidup dan bergerak diam-diam di sekitarnya.
Naga Hitam, pikirnya, senyum tipis mulai terbentuk di wajahnya — bukan senyum kekhawatiran, tapi senyum seorang pemburu yang menyadari mangsanya baru saja meninggalkan jejak yang lebih jelas dari yang seharusnya.
Kembali di bengkel tua, Wulan menutup laptopnya perlahan setelah mendapat konfirmasi dari akses belakangnya bahwa identitas vendor palsu mereka sedang diperiksa ulang.
"Identitas PT Cipta Dingin Nusantara tidak akan tahan lama diperiksa mendalam," katanya jujur kepada Raka dan Bara. "Aku membuatnya cukup solid untuk verifikasi standar, tapi kalau mereka menyewa investigator profesional untuk menyelidikinya sampai ke akar, mereka akan menemukan itu perusahaan kosong dalam waktu kurang dari seminggu."
"Sama seperti jadwal penandatanganan ulang," gumam Bara, menyadari betapa sempitnya waktu yang tersisa bagi mereka di semua front sekaligus.
Raka menatap peta rencana besar yang sudah tersusun di dinding bengkel — garis waktu yang menghubungkan Alya, Satya, regulator, dan penandatanganan ulang — kini terasa jauh lebih rapuh dari yang mereka kira, mengingat lawan mereka baru saja mulai menyadari bahwa seseorang sedang bergerak melawan mereka dari dalam bayangan yang sama.
"Kita perlu bergerak lebih cepat dari rencana awal," katanya akhirnya, suaranya tegas menyembunyikan kekhawatiran yang mulai tumbuh di dadanya. "Sebelum jejak yang kita tinggalkan, menjadi jalan bagi mereka untuk menemukan kita lebih dulu."