NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Dinding ruang Kepala Sekolah yang dilapisi kayu jati tua menghadirkan atmosfer dingin yang menekan. Bau minyak kayu dan kertas arsip tua memenuhi udara, menambah sesak dada siapa saja yang melangkah masuk.

Pak Tio, Guru BK berbadan tegap dengan kumis tebalnya, membanting robekan foto A3 yang tadi dicabut Bima ke atas meja kaca. Bunyinya menggelegar, membuat vas bunga porselen di sudut meja ikut bergetar.

Di balik meja kerja, Pak Hartawan—Kepala Sekolah SMA Nusantara yang terkenal dingin dan berwibawa—menjalin kedua jemarinya. Matanya yang tajam menatap tiga murid yang berdiri berjejer di hadapannya.

"Saya butuh penjelasan yang masuk akal. Bukan alasan anak kecil," suara Pak Hartawan bernada berat dan tenang, namun mengandung tekanan yang ganjil. "Kirei, kamu Ketua OSIS. Siswi teladan yang disiapkan sekolah untuk olimpiade nasional. Dan Arka..."

Pak Hartawan mengalihkan pandangannya ke arah Arka, menatap celana sekolah cowok itu yang sedikit kumal dan kancing atas kemejanya yang sengaja dilepas. "...kamu murid yang catatan kedisiplinannya sudah setebal kamus."

Bima melangkah maju setengah tindak, membusungkan dada. "Pak Hartawan, ini jelas bentuk intimidasi dan jebakan dari Arka! Arka sengaja memanfaatkan situasi semalam untuk merusak citra Kirei di depan umum!"

"Bima, diam. Saya tidak bertanya pada kamu," potong Pak Hartawan dingin. Beliau menatap Kirei lurus-lurus. "Kirei, benarkah kamu berada di dalam mobil Arka kemarin malam?"

Kirei mengepalkan jemarinya di samping rok abu-abunya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Jika ia mengaku, rumor tentang hubungan gelap akan semakin liar. Tapi jika ia berbohong, ada kamera pengawas sekolah yang membuktikan kebenarannya.

"Benar, Pak," jawab Kirei mantap, mendongak menatap Kepala Sekolah. "Saya berada di mobil Arka."

Bima menoleh cepat, matanya terbelalak tak percaya. "Rei?!"

"Tapi tidak seperti apa yang dituduhkan di foto murahan itu," lanjut Kirei, suaranya tenang tanpa getaran, menunjukkan kelasnya sebagai seorang pemimpin OSIS. "Semalam saya menyelesaikan urusan administrasi proposal di luar. Hujan deras dan tidak ada kendaraan. Arka lewat bersama pamannya yang mengemudi, dan menawarkan tumpangan karena arah rumah kami selaras di kawasan perumahan barat."

Arka yang berdiri di samping Kirei melirik pelan melalui sudut matanya. Ada kilat kepuasan yang tersembunyi sewaktu mendengar alibi cerdas yang disusun Kirei secara spontan.

"Pamannya?" Pak Tio menyela curiga, menyilangkan tangan di dada. "Lalu kenapa ada tulisan 'hubungan gelap' di foto itu?"

"Itu ulah orang penakut yang mau menjatuhkan OSIS, Pak," Arka akhirnya membuka suara. Suaranya santai, namun matanya menatap Pak Tio tanpa rasa gentar sedikit pun. "Kalau saya mau pacaran atau punya 'hubungan gelap' sama Kirei, saya enggak bakal sebodoh itu parkir di area yang disorot dua kamera CCTV sekaligus."

Pak Hartawan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit. Beliau mengetuk-ngetukkan pena emasnya ke meja. Klak. Klak. Klak.

"Lalu siapa yang menempel foto ini di papan pengumuman?" tanya Pak Hartawan.

"Saya sudah minta tim keamanan sekolah memeriksa rekaman CCTV koridor tadi pagi," ujar Bima cepat, memotong sebelum Arka menjawab. "Pelakunya pakai jaket hoodie hitam dan topi rapat. Kejadiannya jam 05.45 pagi, sebelum gerbang dibuka untuk umum. Orang itu punya akses pintu samping!"

Pernyataan Bima membuat ruangan itu mendadak hening. Pintu samping sekolah biasanya hanya bisa dibuka oleh penjaga sekolah atau murid yang memiliki kunci akses khusus—seperti pengurus OSIS dan tim kedisiplinan.

Mata Kirei berkilat. Seseorang di dalam internal sekolah sedang berusaha menghancurkannya. Atau lebih buruk lagi... seseorang mengetahui rahasia pernikahannya dengan Arka dan mulai melancarkan teror secara bertahap.

Pak Hartawan menghela napas panjang. "Foto ini sudah dibersihkan dari papan pengumuman. Tapi rumor di antara murid-murid tidak bisa hilang dalam sekejap. Kirei, sebagai Ketua OSIS, reputasi kamu adalah reputasi sekolah."

"Saya paham, Pak," sahut Kirei tegas. "Beri saya waktu dua hari. Saya dan tim OSIS akan mencari tahu siapa oknum di balik hoodie hitam itu dan membersihkan nama baik sekolah."

"Bukan cuma kamu dan OSIS," potong Pak Hartawan sambil menunjuk Arka dengan penanya. "Arka, kamu terlibat dalam foto itu. Kamu wajib membantu Kirei menyelesaikan masalah ini. Kalau dalam dua hari pelaku tidak ditemukan, kalian berdua akan menerima sanksi skorsing selama dua minggu."

"Pak! Itu tidak adil untuk Kirei!" protest Bima membelalak.

"Keputusan saya mutlak, Bima," tandas Pak Hartawan dingin. "Kalian bertiga boleh keluar."

Koridor di luar ruang Kepala Sekolah sudah agak lengang karena kegiatan belajar-mengajar telah dimulai. Suara guru yang sedang mengajar terdengar samar-samar dari balik jendela kelas.

Bima berjalan cepat mengimbangi langkah Kirei. "Rei, lo enggak perlu kerja sama bareng Arka. Biar gue sama tim keamanan yang selidiki CCTV. Gue yakin ini cuma ulah anak-anak nakal gengnya Arka yang mau memeras lo."

Kirei menghentikan langkahnya di dekat jendela koridor yang terbuka, membiarkan angin pagi berembus menerpa wajahnya yang tegang.

"Bima, makasih atas perhatian lo," ucap Kirei pelan tapi berjarak. "Tapi Pak Hartawan udah ngasih perintah. Arka terlibat di foto itu, jadi dia punya hak buat ikut usut."

Bima menatap Kirei dengan raut kecewa yang mendalam. "Lo berubah, Kirei. Sejak minggu lalu, lo kayak nyembunyiin sesuatu yang besar dari gue."

Sebelum Kirei sempat menjawab, Bima berbalik dan melangkah pergi dengan kekecewaan yang tertumpuk di bahunya.

Kirei menghela napas berat, menyandarkan tubuhnya ke pembatas koridor. Sebuah bayangan tinggi mendadak menutupi sinar matahari yang menembus jendela.

Arka berdiri di sana, menyandarkan punggungnya ke tembok dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

"Alibi yang bagus," gumam Arka tipis, matanya menatap lurus ke depan. "'Ditumpangi pamannya'. Gue enggak tahu Bu Ketua OSIS ternyata pinter bohong."

Kirei menoleh, menatap wajah Arka dari samping. "Gue terpaksa. Kalau gue enggak ngomong gitu, kita berdua udah ditendang dari sekolah ini dan rahasia Kakek bakal terbongkar."

Arka memutar kepalanya, menatap Kirei. Jarak mereka begitu dekat hingga Kirei bisa melihat pantulan dirinya di manik mata cokelat Arka yang pekat.

"Orang yang nempel foto itu... dia tahu sesuatu, Rei," bisik Arka, suaranya berubah menjadi sangat serius dan dalam. Nada ejekannya hilang sepenuhnya. "Dia enggak cuma asal nempel foto. Jam 05.45 pagi, pakai kunci pintu samping... itu orang dalam."

Darah Kirei mendadak berdesir dingin. "Maksud lo... ada orang di sekolah ini yang tahu kita udah nikah?"

Arka tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangannya, merengkuh lembut sejumput anak rambut Kirei yang berantakan terkena angin, lalu menyipitkannya ke belakang telinga cewek itu. Sentuhan jemarinya yang hangat dan agak kasar menyapu kulit pipi Kirei, mengirimkan sensasi aneh yang membuat jantung Kirei melonjak kaget.

Kirei membeku, lupa cara bernapas untuk beberapa detik.

"Gue enggak bakal biarkan siapa pun hancurin kehidupan lo, atau ngerusak perjanjian kita," kata Arka dengan suara rendah yang menenangkan sekaligus berbahaya. "Mulai hari ini, lo jangan jalan sendirian di area sekolah yang sepi."

"Arka... ini di koridor," bisik Kirei gagap, matanya bergerak panik takut ada orang lain yang melihat gestur intim Arka.

Arka tersenyum miring—senyuman khasnya yang mampu membuat cewek mana pun bertekuk lutut, namun kali ini terasa begitu nyata dan melindungi.

"Biarin," jawab Arka santai seraya menarik tangannya kembali. "Biar orang yang ngawasi kita makin panas."

Arka berbalik melangkah menuju kelasnya, meninggalkan Kirei yang berdiri terpaku di koridor. Kirei menyentuh pipinya yang masih terasa hangat bekas sapuan jemari Arka. Di dalam dadanya, benih-benih gila mulai tumbuh—sebuah rasa penasaran yang mendalam, tidak hanya pada sosok misterius ber-hoodie hitam, tetapi juga pada perasaan sebenarnya dari cowok yang kini berstatus sebagai suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!