NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 17

Sugi membanting keras kartu di tangan, satu tangan menunjuk dada si bapak-bapak. “Sawahmu ora parah, Kang. Sore tadi aku lihat malah sudah pada menghijau daunnya, lah milikku … garing kemelingking.”

“Sawahnya sampean itu kudu ne kemarin cepat dibajak, biar kalau benar ada bahan kimianya cepat terurai dengan tanah, habis itu tanamin palawija. Jadi tanah bisa kembali subur, siap di pakai untuk musim berikutnya. Saya kemarin heran, kok sawah sudah separah itu masih pakai metode perairan, jelas ndak selamat lah,” sambar Argono.

“Ya mau Bagaimana, saran mantri tani begitu, ketua tani pun bisu,” sungut Sugi.

“Cah bagus iki koyone lebih paham pertanian, waktu kumpulan juga tegas tiap memberikan pendapat. Kudu ne pemimpin itu yang koyok ngene, bukan yang mencla-mencle.” Bapak-bapak setengah baya merangkul pundak Argono, memijat pelan sambil sedikit di goyangkan.

Argono menunduk sekilas, menutupi sudut bibir yang terangkat samar. Telapak lebarnya mengusap wajah kasar.

“Saya ini sekolah dasar saja ndak lulus, Pakde, bagaimana bisa lebih paham dari Nona Anne. Saya berpendapat hanya hasil dari pengalaman saja. Biasa anak ee wong susah, sedari kecil sudah hidup di sawah,” gumamnya malu-malu.

“Justru wong seng biasa hidup prihatin lebih baik dijadikan pemimpin, karena tau piye hidup susah itu. Mengerti isi hati wong cilik, kalau seperti ini … wes perempuan, angkuh dan semena-mena. Mentang-mentang dadi anak londo,” Sahut Sugi

Bapak-bapak dengan kemeja lusuh beranjak dari duduknya, pria paruh baya sering dipanggil pakde Ran itu tersenyum samar sebelum pamit pulang lebih dulu.

“Wes, podo terusno main kartu nya, aku tak pulang duluan, mules tiba-tiba,” ujarnya tanpa menoleh lagi pada kumpulan bapak-bapak.

Sugi berdecak pelan, sudut bibirnya menyungging miring. “Tuwek-tuwek kok trimo dadi jongos ee begenggek.” (tua-tua kok terima jadi babu nya pellacur)

Obrolan pun kembali bergulir, di dominasi ocehan Sugi dan di sambar kata-kata bijak Argono, hingga tak mereka sadari, sedari tadi Anne berada di belakang gardu, tertutup rimbunnya tanaman kopi.

Tangan gadis memakai pakain safari milik sang papa itu menggenggam erat tali kekang temon, kaki dengan sepatu boot siap meloncat turun, namun ditahan oleh cengkraman tangan dingin Hans Williams. Lewat gelengan kepala dan sorot mata, Hans melarang Anne untuk menyerbu, memilih mengajak gadis itu untuk kembali menyusuri perkampungan yang terbilang sepi bila malam hari.

“Kenapa kau menahanku, Hans?! Mulut mereka layak mendapat tinju ku, terlebih pemuda pendatang baru itu. Rasanya ingin sekali aku memasukkan segenggam sampah ke dalam mulutnya,” teriak Anne ditengah derap langkah temon yang membelah gelap malam.

“Tak ada gunanya kau meladeni mereka. Lebih baik kau fokus pada panen raya. Aku tak mau kau jatuh miskin jika nanti ku persunting, sebab aku mengejarmu karena kekayaanmu,” sahut Hans sambil mengerling usil dan menahan tawa.

“Sinting!” Anne menggelengkan kepala, lalu menghentakkan kaki, memerintah temon untuk berlari lebih kencang.

Dua sahabat itu pun mengitari desa hingga ujung perbatasan, menatap datar hamparan sawah yang mengilat oleh cahaya rembulan.

“Apa kau yakin, aku bisa menyelesaikan masalah pelik ini, Hans?” lirih Anne.

“Kenapa harus tak yakin? Kau sudah berkecimpung di lumpur sedari masih balita, Anne. Masalah ini bukanlah persoalan besar untukmu,” ujar Hans seraya turun dari punggung kliwon.

“Maksudku tentang Maria.” Anne menatap sekilas wajah pucat Hans, lalu berpindah pada hamparan padi tertiup angin malam.

Hans berjalan ke barisan bunga gulma, mengambil satu tangkai yang belum mekar sempurna, lalu memberikannya pada sang sahabat. Bibir tipisnya mengulas senyum samar. “Tak perlu kau pikirkan. Cukup perhatikan saja pergerakannya. Kau paham Maria, bukan? Si gadis sembrono yang selalu mengambil keputusan gegabah, berakhir kita juga yang kerepotan dibuatnya.”

Tawa kecil terbit dari bibir Anne, pikirannya menerawang, mengingat masa silam. “Kau ingat, Hans, saat dia begitu berani melempar sarang lebah hanya karena ingin mengambil madunya? Tapi lemparannya malah mengenai kaca rumah?”

“Bukan hanya kaca rumah yang pecah, sekujur badan kita di buat bentol-bentol karena diserang kawanan lebah. Dan dia … menyalahkanmu. Bagaimana mungkin aku lupa, Anne?” ujar Hans, manik beriris biru muda menatap nanar wajah sang sahabat.

“Sampai madam Rose beberapa hari melarang kita bermain bersama. Hanya aku … tidak dengan dirimu,” sambung Anne, air muka nya berubah dingin.

Ia menghela napas dalam, netra sendunya memejam sekilas, menghalau kenangan lama yang sempat membuatnya terpuruk, kecewa dan mempertanyakan pada sang ibu mengapa ia terlahir sebagai pribumi, namun diberi nama dan tinggal dalam lingkungan Londo, Belanda.

Mendung mulai berarak saat Anne dan Hans sama-sama terdiam, bermain dengan pikiran masing-masing. Mereka akhirnya memilih kembali ke rumah, memacu dua kuda jantan yang mereka tunggangi untuk berlari lebih kencang sebab gerimis perlahan datang.

Derap langkah dan suara ringkik kuda yang bersahutan saat melewati rumah penduduk desa, menarik perhatian Tutik yang hendak menutup tirai jendela. Wanita hamil enam bulan itu memicingkan mata, memastikan siapa yang baru lewat di depan rumahnya.

Bibir masih menggamit batang lidi bekas mencongkel sisa makanan di gigi, terangkat tipis. “Jian persis tuwek ane. Tengah wengi kuda-kuda an karo londo. Pantas desa ini selalu ketiban apes!” (benar-benar persis yang tua. Tengah malam kuda-kuda an sama londo)

Di tempat yang berbeda, pendar lampu kuningan menyapu lembut punggung putih pucat beraroma minyak urut yang khas berpadu dengan semerbak bunga mawar. Semilir angin berhembus dari jendela yang dibiarkan terbuka.

Di ranjang lebar berkasur empuk, Maria tidur tengkurap, menikmati pijatan Marni sambil berbincang ringan.

“Kenapa kowe tak meminta bapak Argono bertanggung jawab dan malah pilih minggat pada saat itu?” tanyanya setelah mendengar cerita Marni tentang kisah cintanya dengan Kartijo Suseno—ayah kandung Anne.

“Saya ini masih polos, Non waktu itu. Takut dimarahi orang tua dan dipandang sebelah mata oleh penduduk desa. Pernikahan saya dengan juragan kaya-raya itu tak mendapat restu dari orang tuanya, terpaksa berhubungan diam-diam, menikah pun diam-diam. Janjinya juragan, setelah Argono lahir, saya baru akan dibawa ke keluarganya, tak tau nya justru pengkhianatan yang saya dapatkan,” dustanya dengan mata berkaca-kaca.

“Saya selalu berdoa dalam penantian, memohon agar juragan tersadar dan mengingat saya serta bayi yang saya kandung, tapi tiap kali kami mau mendekat, Sulastri selalu menghalangi. Ditambah tak lama setelahnya dia juga hamil, kami pun semakin terlupakan.” Ia terisak kecil, pijatan di punggung sedikit melemah.

“Saya pikir, sudah tak lagi punya kesempatan untuk balas dendam begitu tau Sulastri mengkhianati laki-laki itu, dan naik ke ranjang tuan londo, saya menemui bapaknya Argono, tapi …,” Ia menjeda ucapannya, punggung tangan terdapat kerutan mengusap pipi seolah telah tergenang air mata.

“Tapi ….”

Bersambung

1
Muhammad Arifin
embo komen OPO
❤️❤️❤️❤️❤️
Anna: Kakak hadir saja author sudah senang, terima kasih, kakak. 🫶
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
sabarr yaa hanss
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
Anna: "Kapan?" tanya Hans.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mbak Wulan
ada info apa
Anna: Sotonya sudah mateng.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
pantesan tak tengok blm ada up
nayla tsaqif
Visualnya gk ada kah,, thorr,,?? 🤭
Anna: Sedang di persiapkan, untuk Anne sama yang ada di cover. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
Kuhadiahi secangkir kopi unt pakde broto dkk biar kuat melek mengawasi cecunguk yg mau menebar pesrisida disawah
Anna: Di sampaikan matur nembah nuwun dari Pakde Broto and the gengsssss 🫶
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat sehat Ndoro
Anna: Sendiko dawuh, Gusti. 🙏
total 1 replies
Lylia Yuu
udah bangkotan bjirrrr masih aja 😭
Anna: Nafsu bagai kuda 🫢
total 1 replies
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
argono anake sopo jane
saudara tiri anne duduu ?
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully: iyyuuhh , gimna itu sii kecebong meluncurr 🤣🤣🤣
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahhhh , .....
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
Anna: Pucek kalo kata anak sekarang. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu ulahmu sendiri man, manukk di umbar sembarangan..
Anna: Di umbar banget nggak tuh 🤣
total 1 replies
Muhammad Arifin
kok gak kapok Kasman iku 😒😒
Anna: kapok lombok kalo kata orang Jawa 🤣
total 1 replies
Lylia Yuu
anak e amina 😭😭
Aisyah Suyuti
good
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
teman tapi menusuk di belakang
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
Anna: real bangetttt, ntar suatu saat tk masukin ke sebuah judul naskah 😆
total 3 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cangkem mu Maria
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅: 🤭 jiian
total 2 replies
Muhammad Arifin
kangenmu ngapusi 😒😒😒
Anna: hanya di bibir saja 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
hansss ohh hanss
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
Anna: Apapun cara akan ditempuh demi sang jelita ... eyaaaaa 🤣
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
siapa yg dendam ke maria
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria
Anna: Tebak. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu pasti pakdhe broto
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!