Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.KEDATANGAN MERTUA
Siang itu, matahari Jakarta membakar terik di luar jendela kaca penthouse. Nadira yang baru saja ditinggal Abiyasa ke kantor, berjalan pelan kembali ke kamarnya untuk kembali beristirahat. Tubuhnya memang sudah membaik, tetapi sisa-sisa lemas akibat demam masih bersarang di persendiannya.
Baru saja Nadira hendak menarik selimut, suara pintu utama yang terbuka menggunakan kode pin terdengar nyaring. Langkah kaki tergesa-gesa di atas lantai marmer bergema, disusul suara kehebohan yang familier.
"Nadira! Sayang! Kamu di mana, Nak?"
Nadira terperanjat. Ia mengenali suara itu. Itu adalah suara Mama Rahmi—mama dari Abiyasa, seorang wanita paruh baya anggun bersanggul modern yang memiliki watak sangat hangat, penyayang, dan terkadang sedikit dramatis.
Belum sempat Nadira turun dari ranjang, pintu kamarnya sudah terdorong terbuka. Mama Rahmi muncul dengan raut wajah penuh kecemasan. Di belakangnya, dua orang asisten rumah tangga paruh baya mengikutinya seraya membawa beberapa rantang makanan dan tas belanjaan besar.
"Aduh, anak mantu Mama!" seru Mama Rahmi langsung menubruk tempat tidur. Ia merengkuh bahu Nadira, lalu menempelkan kedua telapak tangannya yang halus ke pipi gadis itu. "Ya ampun, kamu pucat banget! Abi itu bener-bener ya, tega-teganya ninggalin istrinya yang lagi sakit sendirian di rumah sebesar ini!"
"M-Mama?" Nadira tertegun, matanya membelalak kaget. "Mama kok bisa ke sini? Tahu dari mana kalau Nadira sakit?"
"Dari siapa lagi kalau bukan dari Pak Maman!" cerocos Mama Rahmi seraya duduk di tepi ranjang. Ia mengisyaratkan asistennya untuk menaruh rantang-rantang di atas meja. "Tadi Pak Maman nelepon Mama, bilang kalau Abi batalin rapat cuma buat nungguin kamu demam. Mama kaget setengah mati! Anak Mama yang otaknya cuma isi kerjaan itu bisa-bisanya teringat urusan rumah tangga. Tapi pas tahu kamu sakit, Mama langsung minta Pak Suma antar ke sini!"
Mama Rahmi menarik selimut Nadira dan membenahi posisinya dengan sangat keibuan. "Kamu sudah makan, Sayang? Bi Murni bawa sup ayam kampung hangat sama bubur halus. Abi ada kasih kamu obat, kan?"
Nadira menelan ludah, merasa kehangatan yang menjalar di dadanya. Sejak menikah, ia memang sangat beruntung memiliki ibu mertua seperti Mama Rahmi yang sama sekali tidak memandangnya sebelah mata meski ia hanya seorang anak SMA dari keluarga biasa.
"Sudah makan tadi, Ma... dibuatkan... eh, Mas Abi nungguin sampai jam satu tadi," jawab Nadira jujur, pipinya agak merona.
Mata Mama Rahmi seketika membulat gembira. "Demi apa?! Abiyasa nungguin kamu sampai jam satu siang? Anak itu bahkan nggak pernah mau nungguin Mama kalau lagi arisan keluarga!"
Wanita anggun itu tertawa renyah, menepuk tangannya kegirangan. "Bagus! Berarti kakekmu nggak salah pilih. Tembok es anak itu mulai meleleh gara-gara kamu, Nadira."
"Nggak kok, Ma. Mas Abi cuma... merasa bertanggung jawab aja," cicit Nadira membela diri.
"Halah, Mama yang melahirkan dan membesarkan Abi, Nadira. Mama tahu betul tabiat anak itu," tanggap Mama Rahmi seraya tersenyum penuh arti. "Abi itu kalau nggak peduli, mau orang di depannya pingsan pun paling cuma dipanggilkan ambulans terus ditinggal kerja. Tapi kalau dia sampai rela batalkan rapat investor Korea—iya, Hendra cerita ke Mama soal rapat itu—berarti kamu punya arti yang sangat besar buat dia."
Nadira terdiam. Kalimat ibu mertuanya itu menghantam hatinya cukup telak. Apakah benar Abiyasa mulai peduli padanya? Ataukah pria itu hanya menjalankan tugasnya sebagai suami di atas kertas?
Selama tiga jam berikutnya, penthouse yang biasanya sunyi dan berasa dingin seperti galeri seni mendadak hidup. Mama Rahmi benar-benar mengambil alih peran sebagai pengurus rumah. Ia menyuruh asistennya membalur kaki Nadira dengan minyak aroma terapi, menyuapinya sup ayam hangat, dan bahkan memotongkan buah-buahan segar untuknya.
Sikap penuh kasih sayang dari Mama Rahmi membuat Nadira teringat pada ibunya sendiri. Kerinduan yang terpancar di mata Nadira tak luput dari pengamatan sang ibu mertua.
"Kangen Ibu ya, Nak?" tanya Mama Rahmi lembut seraya membelai rambut panjang Nadira yang bersandar di bahunya di sofa ruang tengah.
Nadira mengangguk pelan. "Sikit, Ma. Biasanya kalau Nadira sakit di rumah, Ibu selalu buatin teh jahe hangat sama ngelus-elus kepala Nadira sampai ketiduran."
Mama Rahmi tersenyum teduh, mengusap puncak kepala Nadira dengan penuh kehangatan. "Sekarang Mama adalah ibumu juga, Nadira. Kamu tidak sendirian di sini. Walaupun pernikahan kalian terjadi karena amanat almarhum Kakek, Mama benar-benar bersyukur kamu yang menjadi pendamping Abi."
"Tapi Ma..." Nadira menunduk, meremas jemarinya. "Mas Abi dan Nadira itu beda banget. Mas Abi itu hebat, pintar, CEO sukses. Sedangkan Nadira cuma anak SMA yang sering ceroboh, suka makan boba, dan bikin repot."
"Hus! Jangan bicara seperti itu!" tegur Mama Rahmi lembut namun tegas. Ia mengangkat dagu Nadira agar mata mereka bertatapan. "Abi itu memang pintar dalam bisnis, tapi dalam hal kehidupan dan perasaan, dia itu sangat miskin, Nadira. Dia dibesarkan dalam tekanan untuk menjadi sempurna sejak kecil oleh Kakek. Dia lupa caranya tersenyum tulus. Tapi sejak ada kamu di hidupnya, Mama bisa lihat perubahannya. Mata anak itu hidup kembali."
Nadira menyimak kata demi kata dari ibu mertuanya dengan hati bergetar.
Pukul lima sore, pintu utama penthouse kembali terbuka.
Abiyasa melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah setelah menyelesaikan tumpukan berkas dan penjadwalan ulang rapat yang tertunda. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti begitu menyaksikan pemandangan di ruang tengah.
Di atas sofa, ibunya sedang duduk bersandarkan bantal, sementara Nadira tertidur lelap dengan kepala bersandar nyaman di pangkuan ibunya. Pemandangan itu begitu hangat—sesuatu yang sangat asing bagi penthouse mewahnya.
"Mama? Sedang apa di sini?" bisik Abiyasa dengan suara dipelankan, berjalan mendekat.
Mama Rahmi meletakkan jarinya di depan bibir.
"Ssshh! Jangan keras-keras, Abi. Nadira baru aja ketiduran setelah makan sup."
Abiyasa menatap istrinya yang terlelap tenang. Wajah pucat Nadira kini sudah berganti dengan warna kemerahan yang sehat, napasnya teratur dan halus. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menatap ibunya dengan alis terangkat.
"Mama tidak perlu repot-repot datang ke sini. Ada Pak Maman dan dokter pribadi keluarga kalau ada apa-apa."
"Kamu ini memang anak tidak tahu untung ya," omel Mama Rahmi pelan namun tajam. "Istrimu lagi sakit, butuh kasih sayang! Masa kamu cuma tinggalin obat terus ngacir ke kantor?!"
Abiyasa berdeham canggung, melirik ke arah lain. "Saya ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditunda lagi, Ma."
"Pekerjaan terus yang dipikirkan!" Mama Rahmi memutar matanya bosan. Ia dengan hati-hati memindahkan kepala Nadira ke atas bantal sofa, lalu berdiri menghampiri putra tunggalnya itu. Ia menarik kerah kemeja Abiyasa agar pria jangkung itu menunduk.
"Dengar ya, Abiyasa," bisik Mama Rahmi penuh penekanan di depan wajah putranya. "Nadira itu anak yang sangat baik dan tulus. Jangan pernah kamu sakiti hatinya dengan sikap dingin dan kejammu itu. Kalau kamu sampai bikin dia menangis atau merasa tidak dihargai di rumah ini, Mama sendiri yang akan seret kamu keluar dari Mahendra Group!"
Abiyasa menghela napas pasrah. "Ma, saya tidak pernah menyakiti Nadira."
"Bagus kalau begitu. Sekarang gendong dia ke kamarnya. Biarkan dia tidur di ranjang yang empuk, bukan di sofa," perintah Mama Rahmi tanpa bisa bantah. Ia merapikan tas tangannya.
"Mama mau pulang sekarang. Ingat pesan Mama!"
"Saya antarkan ke bawah," tawar Abiyasa.
"Tidak usah, Pak Suma sudah menunggu di basemen. Kamu urus saja istri kecilmu itu," pungkasi Mama Rahmi seraya menepuk lengan Abiyasa gemas, lalu melangkah pergi meninggalkan penthouse.
Setelah ibunya pergi dan hening kembali menguasai ruangan, Abiyasa berdiri mematung di samping sofa. Ia menatap gadis yang sedang terlelap di hadapannya.
Perlahan, Abiyasa berlutut di samping sofa. Jemarinya yang panjang dan terampil terangkat, mengusap beberapa helai rambut yang menutupi dahi mulus Nadira. Sentuhannya begitu pelan, seolah-olah ia takut membangunkan atau merusak kepolosan gadis itu.
"Kamu selalu membuat hidup saya yang teratur jadi kacau, Nadira," bisik Abiyasa pelan pada heningnya ruangan.
Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Abiyasa menyusupkan lengannya di bawah tubuh Nadira dan mengangkatnya kembali ke dalam dekapan hangatnya. Nadira yang merasa tubuhnya melayang refleks bergumam halus,
menyembunyikan wajahnya di celah leher Abiyasa, menghirup aroma sandalwood yang menjadi ciri khas suaminya.
Jantung Abiyasa mendadak berdegup kencang secara tidak teratur saat merasakan deru napas hangat Nadira menerpa kulit lehernya. Pria itu menahan napas sejenak, menguatkan pegangannya, lalu melangkah menuju kamar tidur.
Ia meletakkan Nadira di atas tempat tidur dengan sangat lembut, menyelimutinya hingga sebatas dada. Namun, saat Abiyasa hendak menarik tangannya kembali, jemari kecil Nadira mendadak bergerak dan meremas pinggiran lengan kemeja Abiyasa.
"Jangan pergi... Ibu..." gumam Nadira dalam tidurnya, mengira sosok di sampingnya adalah sang ibu.
Abiyasa membeku. Ia menatap jemari kecil yang mencengkeram kemejanya erat-erat. Bukannya melepaskan diri secara paksa seperti yang biasa ia lakukan pada orang lain, Abiyasa justru mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Pria bertubuh tegap dan berhati dingin itu merengkuh jemari mungil Nadira dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, memberikan rasa aman yang dibutuhkan gadis itu.
"Saya di sini," bisik Abiyasa lembut, sebuah janji tersirat yang mengalir tulus dari dalam dadanya. "Saya tidak akan ke mana-mana."
Di bawah remang lampu kamar, sang CEO bertahan di posisi itu selama berjam-jam, menemani istri kecilnya melewati malam, tanpa menyadari bahwa hatinya telah sepenuhnya menyerah pada ikatan pernikahan yang semula ia anggap sebagai beban belaka.