NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Manja Istri juga diizinkan

Rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Ada tawa, pertengkaran, harapan, dan cinta yang pernah tumbuh di setiap sudutnya.

Dan kini, setelah tiga tahun terpisah, ia kembali melangkah di rumah yang pernah menjadi tempat ia merasa paling aman di sisi pria yang dicintainya.

Haselyn berjalan menyusuri lorong lantai dua hingga berhenti di depan kamar utama. Kamar itu hanya berjarak satu pintu dari kamar Mario.

Ia menarik napas pelan sebelum memutar gagang pintu. Begitu melangkah masuk, langkahnya langsung terhenti. Matanya membulat, lalu tanpa sadar senyum lebar mengembang di wajahnya.

“Ya ampun, Kak…” gumamnya pelan.

Tatapannya terpaku pada sebuah foto besar yang memenuhi hampir seluruh dinding di depan ranjang. Foto dirinya. Bahkan ukurannya nyaris sebesar dinding kamar.

Haselyn terkekeh pelan sambil menggeleng tidak percaya. “Saking kangennya sama aku, ya?” bisiknya. “Sampai bikin foto segede ini tepat di depan ranjang.”

Ia mendekat beberapa langkah, menatap foto itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Selama tiga tahun ia mengira Kevin perlahan melupakannya. Ia mengira dirinya hanya menjadi bagian dari masa lalu pria itu.

Namun, kamar ini bercerita sebaliknya. Setiap sudut ruangan seolah menyimpan jejak tentang dirinya.

Ranjang yang masih rapi, aroma parfum Kevin yang masih sama, dan foto besar yang memenuhi dinding membuat dadanya dipenuhi kehangatan sekaligus rasa bersalah. “Sebegitu rindunya kamu sama aku, Kak?” ucapnya lirih.

Air matanya kembali menggenang. Haselyn mengusap pelan bingkai foto itu, lalu mengembuskan napas panjang.

Hari ini terlalu banyak kejutan. Terlalu banyak emosi yang datang bertubi-tubi hingga pikirannya terasa sesak. Ia memutuskan mengambil pakaian dari lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Haselyn berendam di dalam air hangat. Ia memejamkan mata, membiarkan kehangatan air meredakan tubuhnya yang lelah dan pikirannya yang kacau.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mencoba berhenti memikirkan luka, penyesalan, dan ketakutan. Ia hanya ingin menikmati keheningan. Dan merasakan bahwa, mungkin, kali ini ia benar-benar telah pulang.

*

*

*

Setelah Reza akhirnya meninggalkan rumah itu dengan pikiran yang masih kacau, Kevin memutuskan naik ke lantai dua. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memastikan kondisi Mario baik-baik saja.

Ia berjalan menuju kamar putranya, lalu mengetuk pintu pelan sebelum membukanya. “Mario?”

Anak itu sudah berbaring di atas ranjang, memeluk guling kesayangannya, guling yang selalu Mario peluk ketika singgah di rumahnya. “Apa kamu sudah mau tidur?” tanya Kevin sambil melangkah masuk.

Mario mengangguk pelan. “Iya, Yah. Mario capek banget.”

“Capek kenapa?”

“Di rumah Kakek banyak drama,” jawab Mario polos.

Kevin tersenyum tipis, tetapi keningnya sedikit berkerut. “Rumah Kakek?”

Ia memang mengetahui kondisi keluarga Haselyn. Ia tahu Ayah Mahendra kini hidup bergantung pada Haselyn. Ia juga tahu Haselyn berhasil mendapatkan kembali rumah masa kecilnya dan merenovasinya menjadi tempat tinggal yang nyaman. jadi harusnya itu adalah rumah Haselyn bukannya rumah kakek dari putranya. atau Haselyn membelikan rumah lain untuk ayahnya

Melihat ekspresi bingung ayahnya, Mario langsung menjelaskan. “Itu rumah yang kita tinggali selama ini, Yah. Mama kasih rumah itu ke Kakek.” Kevin terdiam.

“Tadinya Mama mau ngajak Mario pulang ke rumah yang di Cibaduyut,” lanjut Mario, “tapi Mario bilang lebih baik kita tinggal sama Ayah.”

Wajah Kevin perlahan berubah.

“Kan Ayah suami Mama,” tambah Mario dengan senyum polos.

Kalimat sederhana itu membuat hati Kevin menghangat. Ia mengacak rambut Mario dengan gemas. “Anak pintar.” Puji Kevin

Mario langsung menyeringai bangga. “Iya dong. Anak siapa dulu.”

Kevin tertawa pelan. “Ya sudah, sekarang kamu tidur. Ayah mau bicara sama Mama.”

Mario mengangguk, lalu tiba-tiba tersenyum jahil.

“Kalau Ayah mau bikin adik buat Mario juga nggak apa-apa kok. Mario janji nggak bakal ganggu.”

Kevin terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil sambil menggeleng. “Kamu ini.” Ia mencubit pelan pipi putranya. “Anak kecil nggak boleh ngomong begitu.”

“Emang kenapa?”

“Nanti kalau Mama dengar, Ayah yang dimarahin.”

Mario tertawa geli melihat wajah ayahnya yang mendadak canggung. “Oke deh, Yah.”

Kevin tersenyum, lalu mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang.

“Selamat tidur, Jagoan.”

“Selamat malam, Yah.”

Kevin mematikan lampu utama kamar, menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram. Sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Mario yang sudah mulai memejamkan mata.

Senyum tipis terukir di wajahnya. Setelah memastikan putranya baik-baik saja, Kevin melangkah keluar dan berjalan menuju kamar utama. Tempat di mana istrinya sedang menunggunya, setelah tiga tahun penantian yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Kevin berjalan perlahan menyusuri lorong menuju kamar utama. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tiga tahun penantian terasa begitu panjang, dan kini wanita yang selalu ia rindukan benar-benar berada di balik pintu itu. Ia memutar gagang pintu.

Ceklek.

Pintu terbuka perlahan. Haselyn yang baru keluar dari walk-in closet langsung menoleh ke arah pintu. Begitu melihat Kevin, senyum hangat mengembang di wajahnya.

“Kakakmu sudah pulang?” tanyanya lembut.

Kevin tidak menjawab. Dalam beberapa langkah cepat, ia langsung menghampiri Haselyn dan memeluknya erat, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.

“Hasel…” Suaranya terdengar lirih di dekat telinga istrinya. “Apa kamu benar-benar akan tinggal di sini?”

Haselyn membalas pelukannya dengan lembut. “Iya, Kak.” Ia mengangguk pelan.

“Sekarang aku akan tinggal di mana pun Kakak berada.” Jawaban itu membuat Kevin menutup matanya. Rasa lega, bahagia, dan haru bercampur menjadi satu.

Ia perlahan melonggarkan pelukannya, lalu menatap wajah Haselyn yang begitu ia rindukan. “Aku merindukanmu, Hasel.”

Tangannya terangkat, berniat membelai pipi istrinya sebelum mendekat untuk menciumnya.

Namun, Haselyn menahan dadanya pelan. “Mandi dulu Kak.”

Kevin mengerjap bingung, kenapa memintanya mandi, apakah Hasel akan.... “Kakak habis dari luar. Tadi juga sempat gelut sama Kak Reza, jatuh di lantai pula…”

Haselyn mengernyit geli. “Pasti kotor dan bau.”

Kevin tertawa pelan. “Mandiin.” Nada suaranya berubah manja, membuat Haselyn menggeleng tak percaya.

“Kakak ini…” Ia menghela napas kecil, tetapi senyumnya tidak pernah hilang.

“Ya sudah.” Haselyn menggandeng tangan Kevin menuju kamar mandi.

Kevin masih tampak tidak percaya. “Beneran?” Tatapannya berbinar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.

Haselyn meliriknya sambil tersenyum jahil. “Kalau nggak mau, ya sudah. Aku balik lagi ke kamar.” Ia berpura-pura berbalik.

Belum sempat melangkah, Kevin langsung menarik pergelangan tangannya. “Jangan.” Suaranya terdengar cepat, hampir panik. “Aku mau.”

Haselyn tertawa kecil melihat ekspresi suaminya. “Ayo mandiin.” Kevin mendekat, lalu menyandarkan dahinya pelan di kening Haselyn.

“Kalau sama istriku…” Ia tersenyum lembut. “…aku nggak pernah keberatan dimanja sedikit.”

Haselyn memukul pelan lengan Kevin. “Dasar.”

Namun, di balik senyum dan godaan kecil itu, keduanya sama-sama tahu bahwa kebersamaan sederhana seperti ini adalah kemewahan yang telah mereka rindukan selama tiga tahun penuh.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!