Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Nama yang dihapus
Perjalanan kembali menuju gubuk berlangsung dalam keheningan yang panjang.
Matahari mulai condong ke ufuk barat, membiaskan warna keemasan di sela-sela ranting pohon. Burung-burung petang berkicau riang, seolah-olah teror yang baru saja terjadi di kediaman Pak Lurah hanyalah sepenggal angin lalu.
Jayengrana menyelaraskan langkah di samping Ki Jagabaya.
"Guru."
"Hm?"
"Apakah anak kecil tadi benar-benar melihat sosok Penunggang Perjanjian?"
Ki Jagabaya menggeleng halus tanpa menghentikan ayunan langkahnya. "Aku tidak tahu pasti."
"Tetapi..."
"Bisa jadi yang ditangkap oleh mata batinnya hanyalah bayangan dari pendar kontrak darahmu."
Jayengrana mengernyitkan dahi. "Bayangan?"
"Setiap ikatan gaib yang terjalin dengan alam kelam selalu meninggalkan jejak," terang Ki Jagabaya pelan. "Semakin pekat dan kuat perjanjian yang dibuat, semakin mustahil jejak itu disembunyikan dari pandangan orang-orang berkelebihan."
"Lantas bagaimana cara menghapus jejak itu dari raga saya?"
"Tidak bisa."
Jawaban gurunya amat singkat, namun cukup untuk menyadarkan Jayengrana bahwa sejak detik ia bangkit dari keliang kuburan, jalan hidupnya tak akan pernah lagi bisa kembali seperti sediakala.
Senja baru saja menyelimuti tatkala mereka bertandang kembali di pelataran gubuk. Namun, persis di ambang pintu kayu yang terkelupas, tergeletak sebuah buntalan kain berukuran kecil.
Langkah Ki Jagabaya terhenti seketika. "Jangan disentuh dulu."
Jayengrana mengamati gulungan itu dari jarak dua langkah. "Apakah itu titipan warga?"
"Bukan."
Ki Jagabaya meraih sebatang ranting kayu kering, lalu membuka gulungan kain itu secara perlahan dari kejauhan. Di dalamnya tersembunyi selembar kertas lontar berstempel lilin dan sebuah lencana tembaga berukir flora melati.
Jayengrana mengenali perhiasan logam itu seketika—itu adalah lencana dinas milik perwira penjelajah kerajaan.
Ki Jagabaya memungut kertas lontar tersebut. Guratan aksara di atasnya tertulis dengan begitu rapi. Ia membacanya dalam hati, dan perlahan-lahan, raut wajah sang veteran perang mengeras membatu.
"Ada apa, Guru?"
Tanpa bersuara, Ki Jagabaya menyodorkan lontar itu. Jayengrana menerimanya dan mulai menyapu deretan kalimat yang tertera:
《Atas titah sah Dewan Perang Mataram》
Bekas Senopati Raden Jayengrana dengan ini resmi dinyatakan berkhianat kepada mahkota dan negara. Seluruh gelar kebangsawanan, penganugerahan kehormatan, tanah pertapaan, serta hak-hak sipil bagi keluarganya dicabut tanpa sisa.
Barang siapa terbukti memberi perlindungan, makanan, atau menyembunyikan raga sang pengkhianat akan dijatuhi hukuman gantung sebagai pemberontak kerajaan.
Jayengrana menuntaskan kalimat terakhir. Jemarinya tak bergetar, raut mukanya pun tetap tenang tanpa gejolak pasang. Namun sorot matanya yang semula redup perlahan berubah—menjadi amat dalam, membeku, dan dingin menyengat.
"Mereka bergerak amat cepat..." bisik Jayengrana.
Ki Jagabaya mengangguk seraya mendesah panjang. "Mereka berniat membunuhmu dua kali, Jayengrana."
"Dua kali?"
"Pertama, mereka membantai ragamu di medan pertempuran. Dan kini... mereka berniat membantai namamu dari sejarah."
Jayengrana melipat kembali lembaran lontar itu.
Seorang prajurit sejati boleh saja gugur dan membusuk di tanah, namun nama dan kehormatannya akan tetap diagungkan. Kini, bahkan harga diri terakhir yang ia sisakan bagi anak cucunya pun dirampas secara licik oleh orang-orang keraton.
"Bagaimana dengan nasib anak dan istri saya, Guru?"
"Itulah yang paling kurisaukan," Ki Jagabaya memandang jauh ke arah langit sore yang kian menghitam. "Jika mereka sampai berani menghapus namamu dari lembaran istana, mereka tak akan ragu membungkam siapa pun yang berpotensi menyuarakan kebenaran."
Jemari Jayengrana mengepal kuat-kuat—bukan dipicu oleh letupan murka, melainkan oleh kecemasan mendalam yang menusuk dada.
Istrinya... anak kandungnya... mereka tak tahu-menahu soal intrik busuk Dewan Perang. Namun detik ini, keselamatan nyawa mereka justru berada di ujung tanduk.
Ki Jagabaya menatap lurus ke dalam manik mata muridnya. "Langkah apa yang hendak kau ambil?"
Jayengrana membisu untuk tenggat waktu yang lama, menimbang wacana di kepalanya.
"Aku tidak akan langsung menyusup dan berburu leher Wiradipa," ucapnya tegas.
"Bagus."
"Aku harus memastikan keselamatan anak dan istriku terlebih dahulu, apa pun taruhannya."
Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, sebuah ukiran senyum tipis terlukis di bibir Ki Jagabaya. "Itu baru jawaban sejati dari seorang Senopati."
Sebab seorang pemimpin sejati bukanlah dia yang terbakar oleh hawa nafsu balas dendam.
Malam sepenuhnya merayap turun.
Di dalam keremangan gubuk bambu, Jayengrana duduk seorang diri seraya mengelus bilah tombak pusakanya.
Dahulu... ia mengacungkan senjata ini demi menjunjung titah sang Raja dan panji Mataram.
Namun kini, ia menyadari dengan penuh kesadaran: perjalanan gelap yang akan ia tempuh ke depan Adalah demi melindungi senyum orang-orang yang masih memercayai nama baiknya—serta merebut kembali kehormatan yang telah diinjak-injak oleh para pengkhianat.
Ayam jantan baru dua kali memecah kesunyian subuh saat Jayengrana menuntaskan ikatan zirahnya. Tali kulit ditarik kencang untuk menyatukan bagian pelindung dada yang koyak bekas sabetan senjata. Sisa-sisa darah kering telah ia bersihkan seadanya, menyisakan serat besi kusam dan bekas luka tempaan pertempuran.
Tombak pusakanya tersandar mantap di bahu.
Ki Jagabaya melangkah keluar dari keremangan gubuk sambil mengulurkan buntalan kain. "Bekalmu selama di jalan."
Jayengrana menerimanya tanpa banyak sanggah. Di dalamnya tersimpan beberapa keping uang perunggu, nasi kering, sepotong dendeng rusa, dan kendi kecil berisi air bersih.
"Guru..."
"Jika kau masih menganggapku sebagai orang tua yang membentukmu, simpan ucapan terima kasih itu," potong Ki Jagabaya halus, menahan niat sang murid.
Jayengrana akhirnya memilih membungkuk dalam. "Aku pasti kembali."
"Belum tentu," sahut Ki Jagabaya datar, memicu senyum tipis di bibir Jayengrana.
"Sebelum pemberangkatan, Guru selalu punya cara unik untuk merusak suasana."
Lelaki tua itu terkekeh pelan sebelum sorot matanya berubah serius. "Dahulu aku menempamu agar sanggup memenangkan perang atas nama kerajaan. Hari ini, aku cuma punya satu Nasihat untuk menyambung nyawamu."
Jayengrana bergeming, menyimak setiap kata yang hendak diuraikan sang guru.
"Jangan pernah menyerahkan kepercayaanmu utuh pada siapa pun lagi. Terutama orang-orang yang merasa paling dekat denganmu."
Kalimat itu hinggap dengan bobot yang amat berat. Mengingat bagaimana raga dan kehormatannya dihancurkan oleh sahabat yang telah ia anggap saudara sendiri, Jayengrana sadar peringatan itu bukan sekadar bualan tua.
Ia mengangguk pelan, menyimpan teguran tersebut erat-erat di dalam dada.
Jalan tanah menuju Kotaraja membentang panjang di balik kabut tipis. Pepohonan jati meliuk pelan dihantam angin pagi, menaungi beberapa pedagang yang mulai menuntun gerobak sapi menuju pasar terdekat. Jayengrana mengambil lajur paling tepi, menundukkan pandangan setiap kali siluet manusia melintas dari arah berlawanan. Poster buronan berwajah dirinya kini mungkin telah tersebar di tiap sudut dusun. Berhati-hati adalah satu-satunya pelindung terbaik dari pertumpahan darah yang sia-sia.
Saat sang surya tepat berada di puncaknya, langkah Jayengrana terhenti di sebuah gardu peristirahatan jalan raya. Tempat itu cukup riuh; beberapa pengembara tampak mengunyah perbekalan, sementara sepasang kusir kereta meluruskan kaki seraya menyeruput wedang hangat di pojokan.
Jayengrana mengambil tempat duduk di bangku kayu terluar, menarik caping bambu yang tadi sempat ia beli dari seorang petani agar menutupi sebagian besar parasnya. Dari posisinya, percakapan kedua kusir itu terdengar sangat jelas.
"Kabar dari Kotaraja makin tidak masuk akal," cetus kusir yang berusia lebih muda. "Kabar bahwa Senopati Jayengrana membelot ke pihak musuh sudah jadi bahan pembicaraan di balai kota."
"Jangan menelan mentah-mentah berita bentukan orang keraton," timpal kusir berambut ubanan di sebelahnya. "Aku ini bekas prajurit yang pernah berbaris di bawah panjinya pada Perang Wilwatikta. Beliau sosok pimpinan yang keras, tapi tak pernah satu kali pun menumbalkan anak buahnya. Mana mungkin orang seperti beliau menjual negara?"
"Tapi pengumuman itu dikeluarkan langsung oleh Dewan Perang."
"Lalu kenapa tidak ada proses persidangan terbuka? Kenapa vonisnya mendadak hukuman mati, dan saat ditanya mana jasadnya, orang-orang istana cuma bilang tubuhnya lenyap dimakan binatang hutan?" Kusir tua itu terkekeh sinis. "Ada yang tidak beres di dalam tembok keraton."
Jayengrana mengunyah nasi keringnya dalam diam. Setidaknya, nurani dan akal sehat rakyat belum sepenuhnya terbius oleh kebohongan yang disebarkan Wiradipa dan para petinggi dewan.
Namun ketenangan kecil itu hancur berantakan ketika derap kencang belalasan teracak kuda menggetarkan tanah di sekitar gardu. Debu jalanan membumbung tinggi tatkala enam prajurit berkuda Mataram mengepung area peristirahatan tersebut.
"Buka mata kalian dan perhatikan gambar ini!" teriak perwira di barisan terdepan seraya membentangkan gulungan kertas berstempel kerajaan.
Para pengembara dan warga desa seketika bergeser ketakutan. Di atas kertas tersebut, terlukis dengan sangat akurat paras bernas seorang pria berahang tegas dan berjanggut tipis—wajah asli Senopati Jayengrana.
"Siapa saja yang melihat keberadaan pengkhianat ini, segera melapor ke barak prajurit terdekat!" seru sang perwira. "Imbalannya lima puluh keping perak tunai!"
Angka yang terucap membuat para pengunjung gardu saling melempar pandang. Lima puluh keping perak sanggup mengubah hidup satu keluarga petani selama bertahun-tahun.
Jayengrana tetap membatu di posisinya. Jemarinya merayap turun, menyentuh kain pembungkus tombak di samping kakinya untuk menyiapkan ancang-ancang terburuk.
Prajurit Mataram itu melangkah menyisir bangku demi bangku, meneliti satu per satu wajah pengunjung gardu. Langkah sepatu boot kulitnya kian mendekat.
Satu orang lagi.
Lalu sosok tinggi tegap berzirah lengkap itu berhenti tepat di hadapan Jayengrana.
"Hei, kau yang di sana," bentak perwira itu dingin seraya menunjuk dengan ujung cambuknya. "Angkat kepalamu."
Jayengrana menghembuskan napas pelan, membiarkan dadanya beradaptasi dengan ketegangan yang merayap. Tanpa terburu-buru, ia menengadahkan wajahnya, menatap lurus ke arah sang perwira dari balik bayang-bayang tepi caping bambunya.