Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Little Lie
"Billby, bangun Billby." Jack menggoyang-goyangkan lengan Billby untuk membangunkan gadis itu.
Lampu kamar ini pun sudah dinyalakan semua. Namun, karena Billby menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut tebal, alhasil ia sama sekali tidak merasa terganggu.
Tanpa sengaja, mata Jack menangkap sebuah benda di atas nakas. Sebuah jam digital roda alias Clocky.
"Wah... kamu punya ini? Dari mana? Kalau gitu Om gak usah susah-susah bangunin kamu lagi," ujar Jack semringah, siap untuk menyalakan jam weker tersebut.
Namun sebelum tangan Jack menyentuhnya, sebuah tangan kecil sudah lebih dulu merampas benda itu dengan cepat. Tentu saja itu Billby. Ia tidak mau Jack membangunkannya dengan barang laknat itu. Enak saja, baru bangun tidur masa sudah disuruh kejar-kejaran dengan jam weker yang tingkahnya mirip anak nakal.
"Jangan! Suaranya jelek. Aku udah bangun nih!" seru Billby defensif.
Jack tertawa lepas. "Ya jelek lah suaranya. Orang fungsinya buat ngebangunin, bukan buat ngelonin. Dari mana kamu dapet itu?"
"Dari—"
Jack mengerutkan keningnya curiga. Kenapa Billby mendadak menggantung kalimatnya? "Dari siapa?"
"Haaaah..." Billby sengaja berpura-pura menguap lebar demi mengulur waktu.
"Dari Nenek," balas Billby cepat. Hampir saja ia keceplosan mengatakan bahwa barang itu adalah pemberian dari Vahan, teman sebangkunya.
"Oh, ya udah... buruan mandi, habis itu langsung turun sarapan."
Billby mengusap dadanya lega setelah Jack berbalik pergi. Untung saja omnya itu langsung percaya. Billby segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Hal pertama yang ia lakukan tentu saja menggosok gigi.
Sesekali ia terkekeh sendiri mengingat betapa mudahnya ia membohongi Jack barusan. Billby memang tergolong cukup pandai berbohong. Mungkin karena didukung oleh wajahnya yang imut dan polos, orang-orang jadi sulit untuk berpikiran buruk kepadanya.
Namun, ceritanya akan berbeda jika korban kebohongannya adalah sang om. Entah Jack menggunakan mantra ajaib apa, sampai-sampai ia selalu sulit untuk dikelabui. Makanya, jika Billby berhasil mengelabui omnya itu, ada rasa kepuasan tersendiri yang membuncah di hatinya.
***
Setelah usai sarapan, Billby segera berangkat ke sekolah bersama Jack. Tak lupa, ia juga menyempatkan diri mampir ke minimarket seperti biasa untuk menyetok camilan.
Setibanya di sekolah, Billby sempat mengekor omnya menuju ke ruang guru yang terletak di lantai paling atas. Di sana, telinganya menangkap obrolan beberapa guru yang sedang membahas kasus siswa yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah.
Apakah... itu teman-temannya Vahan? batin Billby menebak-nebak. Jujur, ia selalu bingung kenapa pihak sekolah bisa mengetahui hal-hal sedetail itu secara cepat, padahal jelas-jelas saat kejadian situasi sekolah sudah sangat sepi. Apakah ada petugas khusus yang kerjanya hanya melototi layar CCTV setiap hari?
Waktu kejadian kemarin, Billby memang melihat sendiri kalau teman Vahan sempat merokok di area parkiran sambil menunggu Vahan menyelesaikan ujian susulannya. Jack sebenarnya juga melihat hal itu. Namun, Billby yakin omnya bukan tipe orang yang sengaja mencari gara-gara atau memulai masalah tersebut. Selama masalahnya tidak bersinggungan dengan Billby, Jack tidak akan pernah peduli.
"Sini, Pak Jack. Ada siswa yang ketahuan melakukan pelanggaran berat nih," ucap salah satu guru pria seraya menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya.
Jack mengangguk sopan lalu mengambil tempat duduk di sebelah guru tersebut. Salah satu dari mereka mulai menceritakan kronologi kejadian dengan bersemangat. Katanya, ada seorang guru yang tidak sengaja menemukan puntung rokok di parkiran. Setelah ditelusuri lewat rekaman CCTV, pelakunya ternyata adalah murid sekolah sendiri, berjumlah tiga orang.
Jack mendadak menepuk jidatnya, berakting seolah-olah baru saja melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Ah, iya... kalau soal itu, saya juga sempat melihatnya sendiri kemarin. Memang ada tiga orang di lokasi, tapi yang merokok sebenarnya cuma dua orang. Saya sampai lupa mau membahas soal ini," ujar Jack memberikan klarifikasi.
Billby yang berdiri tidak jauh dari sana seketika terkekeh pelan. Bohong banget, batinnya.
Billby berani sumpah pocong kalau omnya tidak mungkin melupakan kejadian tersebut. Omnya hanya teramat cuek. Dan Jack sengaja angkat bicara sekarang karena para guru mengira ada tiga orang yang merokok, padahal kenyataannya hanya dua. Jack hanya ingin menyelamatkan satu siswa tak bersalah dari tuduhan keliru tersebut. Coba kalau informasi para guru sejak awal sudah sesuai kenyataan, sudah pasti Jack akan memilih pura-pura tidak tahu dan menutup mata.
***
Lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi nyaring, Billby berpamitan kepada omnya untuk pergi ke kelas.
Jack menepuk puncak kepala Billby penuh kasih sayang. "Nanti tolong bawain makan siang Om ke ruangan ya, Sayang. Om lagi banyak urusan hari ini, gak bakal sempat turun ke kantin."
Di sekolah ini, para guru memang terbiasa makan di kantin yang sama dengan murid. Salah satu alasannya adalah untuk memantau secara langsung perilaku para siswa.
Billby mengangguk patuh. "Iya, Om. Nanti aku bawain."
Setelahnya, ia keluar dari ruang guru dan langsung melangkah menuju kelasnya sendiri.
Kelas 3A
Billby duduk di kursinya yang terletak di barisan paling belakang. Vahan ternyata sudah berangkat dan berada di tempatnya. Cowok itu menatap Billby cukup lama dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lalu tiba-tiba, "Umur lo berapa?" tanya Vahan acak.
Billby menoleh, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Umur Billby? Kenapa tiba-tiba tanya umur Billby?"
Vahan refleks menggigit bibir bawahnya. Sial, imut banget, batinnya bergejolak saat mendengar gadis itu berbicara dengan menyebut namanya sendiri.
"Gak kenapa-napa. Cuman menurut gue, lo kelihatan jauh lebih kecil dibanding siswa-siswi lain di sini," jawab Vahan jujur.
Dan tebakan itu seratus persen benar.
"Kelihatannya umur berapa?" Billby balik bertanya, memancing.
Vahan berdecak sambil menimbang-nimbang. Ia menatap lekat wajah Billby seolah sedang menilai sebuah mahakarya. "Kayak anak 13 tahun sih. Tapi kalau emang iya, harusnya lo masih duduk di bangku SMP."
Billby seketika menelan ludahnya susah payah. Ia terkejut bukan main karena Vahan bisa menebak usianya setepat itu. Jangan-jangan cowok ini juga bisa menebak ukuran dalaman aku? pikir Billby horor. Mengerikan sekali. Bulu kuduk Billby mendadak merinding.
"Mungkin segitu," balas Billby ambigu. Ia segera membuka tas ranselnya lalu mengeluarkan sebuah buku. Novel milik mamanya. Hehe.
Ia merasa membaca di sekolah jauh lebih aman dibanding membacanya di rumah. Karena di rumah, Jack sering sekali asal nyelonong masuk ke dalam kamarnya tanpa aba-aba ataupun ketukan pintu.
"Kamu jangan lihat-lihat, ya. Ini novel dewasa," peringat Billby ketat karena menyadari pandangan Vahan masih saja tertuju padanya.
"Kamu?" beo Vahan, agak asing dengan perubahan kosa kata gadis itu.
Billby langsung manyun seketika. Ia mendadak teringat kejadian kemarin malam, di mana Jack memarahinya habis-habisan karena tidak sengaja mendengar Billby berbicara kepada salah satu pembantu rumah tangga menggunakan kosa kata 'lo-gue'.
Waktu itu, Billby yang baru selesai membaca sebuah novel bertema bad boy berniat mengajak salah satu pembantunya untuk menilai aktingnya.
"Apa lo lihat-lihat?! Mau gue bikin buta mata lo?!" Ujar Billby menirukan ucapan si karakter *bad boy* dengan ekspresi yang dibuat segarang mungkin. Baru saja ia ingin bertanya, “Gimana, Bi? Udah keren dan slebew belum?”
Tapi tiba-tiba...
Ehem!
Billby langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari asal suara dehaman tersebut. Hingga akhirnya, tatapannya berhenti tepat pada sosok seorang pria yang sedang menatapnya tajam dari lantai dua.
Billby menggeram kesal dalam hati. Kenapa omnya itu selalu saja ada di sekitarnya di waktu yang salah? Iya, itu Jack. Habis sudah riwayatmu, Billby!
Setelah kesadarannya kembali penuh, Billby langsung berteriak histeris dan berlari sejauh mungkin. "KYAAAAAA!"
Namun, sejauh apa pun ia berlari di dalam rumah, tetap saja pada akhirnya ia akan bertemu lagi dengan pria itu. Namanya juga orang sekeluarga, serumah pula. Mau bagaimana lagi? Buktinya saja tadi pagi mereka masih berangkat ke sekolah bersama.
Dan ya, akhirnya Billby harus menerima hukumannya. Walaupun semua anggota keluarganya yang lain sangat menyayangi dan memanjakannya, sosok Jack ini memiliki standar yang sedikit berbeda. Ia punya sisi tegas yang tidak bisa diganggu gugat. Jika Billby terbukti melakukan kesalahan, Jack tetap akan menghukumnya secara objektif. Dan jika itu sudah terjadi, tidak akan ada gunanya bagi Billby untuk meminta bantuan kepada siapa pun. Karena siapa pun yang berani membela Billby, pasti akan terkena cipratan amarah Jack, termasuk orang tua Billby sendiri.
Hingga saat ini, Billby masih mengingat jelas suara Jack yang malam itu terdengar lirih namun sukses membuat atmosfer ruangan menjadi tegang mencekam. “Berasa keren ngomong pakai lo-gue? Sopan ngomong kayak gitu ke orang yang lebih tua?”
Ya, kali itu ia memang melakukan dua kesalahan fatal sekaligus.
Billby akhirnya terkekeh hambar di depan Vahan. "Aku gak boleh pakai kosa kata lo-gue. Kemarin aja aku baru dihukum suruh ngebersihin tai kucing sama lari di treadmill selama setengah jam gara-gara kedengeran ngomong pakai lo-gue."
Ia kesal, sangat kesal jika mengingat hukuman itu. Walaupun Billby menyukai hewan berbulu tersebut, jelas ia sangat tidak sudi jika harus membersihkan kotorannya. Iiieuw.
Dan satu lagi, berlari di atas treadmill. Itu adalah jenis olahraga yang paling ia benci karena memicu keringat berlebih dan membuat tubuhnya terasa lengket.
Tapi kalau lari-larian biasa tanpa alat, ia justru sangat suka. Selain itu, ia memang tidak menyukai olahraga apa pun terkecuali berenang dan bersepeda.
Vahan mengangkat sebelah alisnya tak percaya. "Seriusan? Sampai segitunya? Bukannya di zaman sekarang itu hal yang biasa, ya?"
"Ya begitulah... Omku emang agak rada-rada."
Vahan menimpali dengan pertanyaan polos yang spontan, "Keluarga lo... ternyata sopan banget, ya?"
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.
good story