NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: (FLASHBACK) GURU YANG KERAS

Ketika waktu istirahat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Dimas langsung melosor duduk di lantai depan ruang kelas privat. Ia buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus camilan.

​KRAUK! KRAUK!

​"Hmm, enak nih!" gumam Dimas sambil mengunyah rakus. "Mantap... untung aja dikasih jeda. Kalau gak, bisa mati kelelahan gue diperes Pak Taryo."

​Merasa bosan hanya duduk mengunyah, Dimas mengambil ponsel dari saku celananya. "Hmm, gue main game vertikal dulu ah."

​Dimas membuka aplikasi Subway Surfers. Jarinya menari lincah di atas layar, mengendalikan karakternya yang berlari kencang menghindari kejaran satpam. Ia melompati rintangan, hampir menabrak gerbong kereta dari depan, lalu dengan sigap mengaktifkan skateboard untuk meluncur bebas.

​Namun, di tengah fokus tingkat tingginya, sebuah bayangan mendadak muncul dan mengejutkannya. Padahal orang itu tidak bermaksud menjahilinya sama sekali—dasar reaksi Dimas saja yang berlebihan.

​"WHAT! Siapa sih?!" seru Dimas kaget setengah mati.

​Saat mendongak ke atas, pandangannya disambut oleh sosok wanita paruh baya berwajah ramah.

​"Eh... Ibu ternyata. Ada apa, Bu, ke sini?" tanya Dimas sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.

​Ibu itu tersenyum hangat. "Eh, ini Ibu mau ngasih bekal ke suami."

​"Loh, suaminya siapa emangnya, Bu?"

​"Itu... Pak Taryo."

​"Ohh..." Dimas mengangguk pelan. Namun sedetik kemudian matanya membelalak lebar. "HAH?! Serius, Bu?!"

​"Iya," jawab ibu itu terkekeh pelan.

​Dimas menggeleng-geleng tak percaya. "Wah, wah... gak nyangka. Padahal Pak Taryo kan guru killer banget di sekolah."

​"Haha, killer ya?" Ibu itu tertawa kecil, seperti teringat sesuatu. "Beda banget pas dia masih muda dulu."

​Rasa ingin tahu Dimas langsung memuncak. "Hmm... pas muda? Emangnya Pak Taryo pas muda gimana, Bu?"

​"Hmm... saat itu Ibu cuek banget sama dia. Tapi begitu tahu dia bela-belain bantu Ibu, Ibu langsung meluk dia dan menerima cintanya," cerita sang istri dengan tatapan berbinar kenangan.

​"Wow... gak nyangka Pak Taryo dulu usahanya sekeras itu. Tapi kok sekarang berubah galak ya?" gumam Dimas takjub.

​Belum sempat obrolan berlanjut, derap langkah kaki terdengar mendekat. Pak Taryo keluar dari ruangan dan menghampiri mereka berdua.

​"Loh, ada apa ini? Kalian lagi ngobrolin apa?" tanya Pak Taryo penuh curiga sambil menatap Dimas dan istrinya bergantian.

​Istri Pak Taryo hanya tersenyum manis. "Gak usah dipikirin. Nih, Mas, bekalnya," ucapnya menyodorkan kotak makan.

​Wajah tegas Pak Taryo mendadak melunak seketika. "Terima kasih, Sayang."

​"Sama-sama."

​Seusai sang istri melambaikan tangan dan berjalan menjauh, Dimas yang memperhatikan interaksi tersebut langsung memasang ekspresi jijik tanpa sadar.

​"Ihh... udah tua masih aja ngomong sayang," bisik Dimas pelan.

​Nahas, telinga tajam Pak Taryo menangkap bisikan itu. Pria berwajah kaku itu langsung berbalik dengan tatapan tajam menusuk.

​"HAH?! Apa kamu bilang, Dimas?! Mau Bapak tambahin hukumanmu?! HMM?!" gertak Pak Taryo dengan suara beratnya.

​Dimas mendadak kaku, panik setengah mati. "Ehh! Gak, Pak! Terima kasih, hehe..." jawab Dimas cepat-cepat sambil tersenyum paksa, sementara keringat dingin mulai bercucuran deras di pelipisnya.

​"Hmm... Ngomong-ngomong Pak, kenapa udah ke sini? Jam istirahat kan masih lama?" tanya Dimas sambil mengelap keringat dingin di dahinya.

​"Ohh, iya... Bapak baru ingat, Bapak cuma mau ambil barang yang ketinggalan di kelas," sahut Pak Taryo datar.

​Tanpa membuang waktu, Pak Taryo melangkah masuk kembali ke dalam ruang kelas privat untuk mengambil barangnya.

​Melihat sosok kiler itu berjalan menjauh, Dimas bernapas lega. "Nice! Mumpung udah gak ada Pak Taryo, gue langsung lanjut main Subway Surfers lagi, ahh!"

​Dimas menekan layar ponselnya dan melanjutkan sesi larinya. Karakter di layarnya berhasil menyambar roket, melayang tinggi ke udara sambil meraup ribuan koin emas. Namun, beberapa menit kemudian, langkah karakternya terhenti akibat menabrak pembatas jalan saat skornya baru menyentuh angka jutaan.

​"Duh, gila... gue masih belum mecahin rekor," desah Dimas kecewa. Ia mengusap layarnya cepat. "Yaudahlah, mending gue main FF aja."

​Dimas keluar dari aplikasi Subway Surfers dan membuka Free Fire MAX. Begitu masuk ke arena match, ia mengarahkan parasutnya turun ke lokasi yang terpencil dan sepi.

​"Nah, mantap! Gini kan enak, gak usah repot perang dari awal. Apalagi kalau main sama Raka, mainnya barbar mulu!" gumam Dimas puas.

​Karakter game-nya mulai sibuk looting mencari senjata dan armor langka. Setelah persiapan dirasa cukup, Dimas menggerakkan karakternya untuk berburu musuh. Kebetulan, ia melihat satu musuh berlari sendirian di kejauhan. Dimas langsung melesat mengejar dan melepaskan tembakan hingga musuh itu tumbang.

​Nahas, baru saja hendak mengambil loot box, sisa anggota squad musuh mendadak muncul dari belakang. Karakter Dimas langsung ditembak mati seketika.

​"Ahh! Sial, di-bokong mulu!" umpat Dimas gemas.

​Di tengah kejengkelannya pada game, bel tanda waktu istirahat usai mendadak berbunyi nyaring.

​Dimas menghela napas panjang lalu mengantongi ponselnya. "Haa... pas banget lagi bel berbunyi. Semoga gue bisa!" serunya memberi semangat pada diri sendiri, meski ia tahu semangat itu cuma sementara.

​Dan benar saja. Begitu melangkah masuk ke kelas dan disambut oleh tumpukan rumus Matematika serta Fisika di papan tulis, mental Dimas langsung ambruk seambruk-ambruknya. Tanpa ragu, ia secara kiasan mengibarkan bendera putih di hadapan Pak Taryo.

​"Udahlah, Pak... gue nyerah!" keluh Dimas sambil memegangi kepalanya yang pusing.

​Pak Taryo menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Haa... Gimana sih? Gitu aja gak bisa."

​"Bapak mah udah ngerti, lah gue? Masih gak paham!" protes Dimas membela diri.

​Pak Taryo menatap Dimas sejenak, lalu merapikan buku-buku di mejanya. "Hmm... Yaudah, lebih baik kamu pelajari di rumah. Nanti di sekolah Bapak tes lagi."

​Mendengar keputusan itu, mata Dimas langsung berbinar lega. "NAH, itu dia!"

Tepat saat bel istirahat kedua berbunyi, Pak Taryo merapikan berkas-berkasnya dan bersiap meninggalkan ruangan.

​"Yaudah, Bapak pergi dulu. Jangan lupa! Belajar di rumah!" nasihat Pak Taryo dengan nada tegas sembari melempar tatapan memperingatkan.

​"Iya, Pak, iya... tenang saja," jawab Dimas santai sambil melambaikan tangan.

​Sepeninggal Pak Taryo, Dimas merenggangkan badannya yang kaku. "Hmm... setelah ini mau ngapain ya?"

​Dimas menjentikkan jarinya tiba-tiba. "Oh iya, ke kantin aja! Daripada cuma makan cemilan dari rumah di depan kelas, mending gue pakai nih duit jajan biar kepakai."

​"Oke, ini saatnya!"

​Dengan penuh rasa bebas, Dimas melangkah keluar pintu kelas privat dengan mantap.

​Sesampainya di kantin, suasana riuh langsung menyambutnya. Ada siswa-siswi yang sibuk bergosip, kelompok lain yang asyik saling jahil, hingga pembicaraan rahasia di pojok kantin. Namun, dari sekian banyak pemandangan, ada satu hal yang mendadak bikin mata Dimas salah fokus.

​Di salah satu meja, Raka, Alya, dan Aira tampak duduk bertiga.

​Dimas menghentikan langkahnya sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya saat memperhatikan bagaimana cara Aira berinteraksi dan menatap Raka. Sebuah perasaan asing yang tidak bisa Dimas artikan sendiri.

​"Hmm... enaknya mereka bisa bersenang-senang," gumam Dimas pelan. Matanya tertuju pada satu sosok. "Apalagi... Aira senang banget sama dia..."

​"Gak, gak, gak!" Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba berkelebat.

​"Kenapa sih lu, Mas? Gak biasanya..." bisik Dimas pada dirinya sendiri, heran dengan reaksinya sendiri.

​Mencoba mengalihkan fokus, Dimas langsung memutar arah langkahnya. "Mending gue beli nasi goreng!"

​Dimas memesan satu porsi nasi goreng hangat lalu menyodorkan lembaran uang kepada ibu kantin. Aromanya yang gurih langsung menyengat indra penciumannya, sukses menghapus rasa pening akibat rumus Pak Taryo dan kecemburuan misterius tadi.

​"Widih... sedap nih!"

Sembari menyuap nasi goreng hangat ke dalam mulutnya, Dimas menghela napas puas. Persetan dengan rumus Fisika Pak Taryo, dan persetan juga dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat melihat Aira dan Raka. Yang terpenting sekarang, perutnya kenyang dan penderitaan les privatnya selesai—setidaknya untuk hari ini.

1
Myz Pena
dek dimas dek dimas... 😮‍💨
Myz Pena
giliran begini nomor satu 🤧, pelajaran aja nomor -00000
Myz Pena
beginilah kalau nilai ipanya hanya 30.. tong kosong nyaring bunyinya 🤭
Myz Pena
baru juga masuk sekolah sudah di suruh bentuk kelompok kerja.. apa nggak pusing itu kepala 😭
Myz Pena: nggak apa2 , namanya jga dunia novel.. bebas kan 😉
total 2 replies
Myz Pena
ya Allah, IpA mu nilainya hanya 30.... dek dimas dek dimas 🤧
Myz Pena
aduuuuh degdegan gua bacanya padahal udah bukan remaja lagi 🤣
Myz Pena: bagusss.. lebih baik janga tanya umurku 🤭🤣
total 2 replies
Myz Pena
banyak alasan aja itu 🤧
Myz Pena
ada2 aja... bermacam macam suasana sekolah jadi ingat masa SMA.. putih abu2 aduh indahnya masa remaja 😍
Myz Pena: oke kalau begitu smngaaaaattt 💪💪💪
total 4 replies
Myz Pena
emang keramatnya dimana,, perasaan biasa aja deh .🤧
Myz Pena: kirain bakal terjadi sesuatu yang keramat 🤣
total 2 replies
Myz Pena
emang keramatnya dimana ?🤧
Siti Mujaroh
❤️
Fleuriaa
Namanya Raka udah kek nama mantan ku aja 😒
Hamzah: ada nih yang baru siapa tahu minat, cek profilku
total 6 replies
Fleuriaa
🔥👍
Tio Buki
Ikut meramaikan ya🙏🙏🙏
Tio Buki
Lanjut Thor💪👍👍
Tio Buki
Semangat ya🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Hadiah untukmu thor👍👍👍🙏🙏🙏
Tio Buki
Alasan
Tio Buki
Emm. Pagi
Tio Buki
Terus yang mesinnya siapa dong???
Hamzah: wkwkwk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!