Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
suara di ujung telpon
Mereka tidak butuh sampai akhir minggu.
Malam itu juga, sepulang dari kantor Tantri, Alya duduk sendirian di studio Alinea yang sudah kosong dimas dan Rani sudah pulang, tapi Alya memilih tinggal, dengan alasan yang ia sendiri tidak sepenuhnya jujurkan ke dirinya sendiri: ia butuh waktu sendirian sebelum memutuskan sesuatu yang akan mengubah delapan tahun keheningan yang sengaja ia jaga.
Ia membuka laptop, mencari nomor yang sudah lama tak pernah ia hubungi nomor yang masih tersimpan di kontak lamanya dengan nama singkat, tanpa embel-embel apa pun Reza W.
Jarinya berhenti di atas tombol panggil selama hampir semenit penuh.
Lalu ia menekannya.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum diangkat.
"Alya." Suara di seberang tidak terdengar kaget, seolah sudah menduga panggilan ini akan datang cepat atau lambat. "Delapan tahun, dan kamu masih simpen nomor aku."
"Aku nggak nelpon buat nostalgia, Reza."
"Aku juga nggak berharap itu." Ada nada geli di suaranya yang membuat Alya semakin yakin bahwa keputusannya menelepon malam ini bukan kesalahan. "Kudengar Alinea lagi rame diomongin klien-klien kreatif Jakarta. Selamat, ya. Kamu berhasil bangun sesuatu tanpa Werkstatt."
"Kenapa Ruma, Reza? Dari semua studio kecil yang bisa kamu incar, kenapa harus klien pertama aku?"
Jeda singkat di ujung telepon, lalu tawa pelan yang lebih dingin daripada geli. "Karena bisnis, Alya. Vertex lagi ekspansi ke sektor kreatif, dan Ruma salah satu target yang paling logis secara angka. Kalau kamu pikir ini personal, mungkin kamu yang terlalu lama mikirin aku."
"Kamu tanda tangan sendiri kontrak penawarannya," kata Alya, suaranya mulai mengeras. "Direktur kreatif sebesar kamu, biasanya nggak turun tangan langsung buat akun sekecil Ruma. Kecuali kamu emang mau aku tau kamu yang di baliknya."
Hening cukup lama di seberang telepon, cukup untuk membuat Alya yakin ia baru saja menyentuh sesuatu yang benar.
"Oke," kata Reza akhirnya, nadanya berubah, lebih rendah, lebih jujur dari kalimat-kalimat sebelumnya. "Kamu mau jujur-jujuran? Aku emang yang minta pegang akun ini sendiri. Bukan karena dendam kayak yang mungkin kamu bayangin di kepala kamu. Tapi karena aku penasaran, Alya. Delapan tahun lalu kamu keluar dari Werkstatt dengan cara paling berantakan yang pernah aku liat—hampir dituntut, keluar tanpa apa-apa. Dan sekarang kamu punya studio sendiri, klien-klien loyal, orang-orang yang percaya sama kamu. Aku cuma mau tau, apa itu beneran, atau cuma keberuntungan yang bakal runtuh begitu ada tekanan sedikit lebih gede."
"Jadi ini eksperimen buat kamu," kata Alya, suaranya bergetar menahan marah. "Kamu main-mainin hidup orang, klien-klien yang kerja keras bangun bisnis mereka, cuma buat mastiin rasa penasaran kamu?"
"Aku nggak lihat gitu," kata Reza. "Aku lihat ini kesempatan buat liat apakah Alya yang aku kenal dulu—yang brilian tapi gampang panik kalau ditekan—udah beneran berubah, atau masih orang yang sama yang bakal collapse begitu tau siapa yang di balik semua ini."
Alya menutup mata sebentar, mengumpulkan sesuatu di dalam dirinya yang terasa seperti tenaga yang sudah lama tidak ia pakai.
"Kalau begitu," katanya, suaranya kini kembali tenang, lebih tenang dari yang ia rasakan sesungguhnya, "kamu bakal dapet jawabannya minggu ini. Bukan lewat aku yang telepon nangis minta kamu berhenti. Tapi lewat somasi resmi dari kuasa hukum Alinea, atas nama percobaan gangguan bisnis yang nggak sehat terhadap klien-klien kami."
Diam sesaat di seberang telepon—diam yang terdengar berbeda dari diam-diam sebelumnya, lebih seperti kejutan yang tidak disiapkan Reza.
"Kamu serius mau bawa ini ke jalur hukum?" katanya, nada mengejek yang tadi sempat hilang sedikit demi sedikit kembali muncul, tapi kali ini terdengar dipaksakan.
"Aku serius," kata Alya. "Dan satu hal lagi, Reza—kamu bilang tadi kamu penasaran apa aku udah berubah. Jawabannya iya. Alya yang dulu bakal telepon kamu nangis, minta baik-baik supaya berhenti. Alya yang sekarang nelpon buat kasih tau kamu, secara langsung, sebelum surat somasi itu sampai ke meja kamu besok pagi."
Ia menutup telepon sebelum Reza sempat menjawab, tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang baru pertama kali ia rasakan sejak keluar dari Werkstatt delapan tahun lalu, rasa yang lebih dekat dengan sesuatu yang mirip kekuatan daripada ketakutan.
Ponselnya bergetar lagi lima menit kemudian. Bukan dari Reza.
Pesan dari Dimas.
Gimana? Kamu jadi telepon dia?
Alya menatap layar itu, lalu mengetik balasan, jarinya masih sedikit gemetar tapi senyum kecil mulai muncul di wajahnya untuk pertama kalinya sejak pesan Bu Sinta datang tengah malam kemarin.
Udah besok pagi kita ajukan somasi resmi dan Dimas makasih udah nemenin aku ngadepin ini. Delapan tahun aku pikir aku harus hadepin Reza sendirian kalau saatnya tiba. Ternyata nggak.
Balasan Dimas datang cepat.
Kamu nggak akan pernah sendirian lagi, Alya. Selama aku masih di Alinea.
Alya menatap pesan itu lama, merasakan sesuatu hangat menjalar di dadanya perasaan yang sudah beberapa minggu ini ia coba abaikan di tengah semua kepanikan bisnis, tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya benar-benar merasakannya.