Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Jatuhnya Bintang
Hari peluncuran brand ambassador HEALER dimulai dengan karpet putih, kamera, dan senyum Jessica Liem yang terlalu sempurna.
Ballroom hotel bintang lima di Jakarta itu dipenuhi media hiburan, beauty influencer, tamu VIP, dan layar LED raksasa yang menampilkan wajah Jessica di antara botol parfum lini baru HEALER. Live streaming sudah dimulai sejak satu jam sebelum acara utama. Jumlah penonton naik cepat karena skandal kecil antara Jessica dan Vanessa masih hangat di media sosial.
Di depan kamera, Jessica tampak seperti perempuan yang tidak mungkin kalah. Gaun hitamnya berkilau, kulitnya putih di bawah lampu, dan anting mutiara besar di telinganya memberi kesan mahal yang ia suka tunjukkan. Setiap kali fotografer memanggil namanya, ia memiringkan wajah sedikit, memastikan mutiara itu masuk frame.
Keira berdiri di sisi panggung, mengenakan setelan putih gading. Di telinganya, earpiece kecil mengalirkan laporan Tari.
"Ci, media nasional sudah masuk. Viewer live naik cepat."
"Bagus."
"Jessica baru tiba di holding room. Dia pakai anting mutiara."
Keira menatap layar backstage. Di sana, Jessica tersenyum pada kamera rias, menyentuh anting mutiara besar di telinganya seperti menyentuh mahkota.
"Pastikan kamera close-up saat sesi tanda tangan," kata Keira.
"Siap."
Di tengah ballroom, Kevin Widjaja berdiri dengan wajah tenang. Namun ketika ia melihat Keira, tatapannya berhenti setengah detik lebih lama dari biasa. Ia sudah membaca laporan stok lab. Ia tahu ada sesuatu yang tidak disebutkan dalam rundown. Bau samar cactus oil yang melekat di udara backstage membuat rahangnya mengeras.
Ia tidak bertanya.
Belum.
Acara dimulai.
Host membuka peluncuran dengan kalimat yang manis. HEALER disebut sebagai brand yang merawat perempuan modern, kuat, dan bebas menjadi diri sendiri. Kata-kata itu mengalir lancar di layar LED, disambut tepuk tangan yang rapi. Di kursi depan, beberapa investor tersenyum puas.
Jessica naik ke panggung. Ia berbicara tentang kepercayaan diri, aroma yang membebaskan, dan HEALER yang "memahami jiwa modern." Semua kalimatnya rapi. Semua geraknya dilatih. Ia tahu di kamera mana harus menatap, kapan harus tertawa, kapan harus membuat suaranya sedikit bergetar agar terdengar tulus.
Keira mendengarkan tanpa ekspresi.
Lalu menit ke dua belas datang.
Saat Jessica menandatangani papan kampanye, tangannya berhenti sebentar. Ujung penanya menggores terlalu keras hingga kertas kampanye hampir robek. Matanya berkedip cepat. Ia tertawa pada kalimat host yang bahkan belum selesai.
Host menoleh. "Jessica, ada cerita khusus soal parfum ini?"
Jessica menatap host seolah tidak mengenalnya. "Parfum... iya. Baunya seperti... seperti rumah sakit."
Bisik-bisik bergerak dari baris depan ke belakang.
Tari membeku di sisi backstage. "Ci."
"Biarkan kamera berjalan."
Jessica memegang mic lebih erat. "Kalian semua lihat aku, kan? Selalu lihat aku. Vanessa juga lihat. Dia pikir dia lebih bersih dari aku."
Host mencoba tersenyum. "Mungkin kita bisa kembali ke koleksi terbaru HEALER..."
"Diam!" Jessica membentak.
Ballroom pecah dalam suara tertahan. Seorang beauty influencer menutup mulut. Kamera live menangkap semuanya. Mata Jessica melebar, fokusnya hilang. Ia menggaruk telinga, menyentuh anting mutiara, lalu tertawa keras.
"Kalian tahu apa? Dia yang iri duluan! Vanessa selalu begitu, pura-pura suci, padahal dia juga suka kirim orang buat menjatuhkan aku. Dia pikir karena dekat sama Tante Lilian, semua orang harus tunduk?"
Nama Lilian membuat beberapa tamu VIP saling menoleh.
Manajer Jessica berlari ke sisi panggung. "Jess, cukup!"
Jessica mendorongnya. "Jangan sentuh aku!"
Keamanan bergerak, tetapi host masih mencoba menyelamatkan acara. "Sepertinya Jessica kurang sehat. Kita beri waktu sebentar..."
"Kurang sehat?" Jessica tertawa lagi. Suaranya pecah. "Kalian semua yang sakit karena pura-pura tidak tahu. Agensi kasih aku apa supaya bisa syuting dua puluh jam? Siapa yang pakai di pesta Senopati? Siapa yang bayar akun gosip?"
Lampu panggung terasa terlalu terang, membuat keringat di dahi Jessica terlihat jelas. Di layar besar, wajahnya yang biasanya sempurna kini tampak asing. Maskaranya tidak luntur, tetapi matanya kehilangan kendali.
Di kolom live, komentar meledak.
Apa Jessica mabuk?
Ini live?
Matanya kenapa?
HEALER kenapa belum cut streaming?
Vanessa disebut?
Keira mengangkat tangan.
Tari baru memberi instruksi untuk menghentikan siaran setelah kamera menangkap Jessica ditahan kru keamanan. Cukup lama untuk membuat publik melihat. Tidak terlalu lama sampai HEALER terlihat menikmati kehancuran itu.
Di ruang belakang, Jessica meronta saat petugas medis dan keamanan menahannya. Manajernya hampir menangis.
"Dia kecapekan! Ini karena tekanan kerja!"
Kevin masuk bersama tim legal HEALER. "Tes medis diperlukan. Kontrak punya klausul moral."
Manajer Jessica memucat. "Pak Kevin, jangan langsung begini. Dia aset besar. Kita bisa rilis pernyataan dia pingsan atau salah minum obat."
"Acara ini disiarkan langsung," jawab Kevin. "Kami sedang melindungi perusahaan."
Tari menaruh tablet di meja. Komentar masih mengalir bahkan setelah live dihentikan. Potongan video sudah tersebar di TikTok dan Instagram Reels. Ada yang membuat slow motion saat Jessica menyebut Vanessa. Ada yang menulis thread tentang pesta elite. Ada yang membandingkan wajah Jessica sebelum dan sesudah naik panggung.
Keira berdiri di sudut ruangan. Jessica yang akhirnya sedikit sadar melihatnya.
"Kamu," desis Jessica. "Ini kamu."
Keira mendekat. "Aku hanya memilih brand ambassador yang tepat."
"Kamu racun."
"Kamu hanya terlalu suka panggung. Aku memberimu satu."
Jessica mencoba menyerangnya, tetapi keamanan menahan lebih dulu. Kuku Jessica menggores udara, tidak pernah mencapai wajah Keira. Di saat yang sama, ponsel manajernya berdering tanpa henti. Agensi, sponsor, pengacara, semua datang terlambat.
Hasil pemeriksaan awal malam itu menyebar lebih cepat daripada pernyataan resmi HEALER. Jessica positif menggunakan zat terlarang. HEALER memutus kontrak dalam waktu satu jam. Semua billboard digital yang memuat wajah Jessica ditarik dari jadwal tayang. E-commerce menurunkan banner. Brand fashion yang biasa memanggil Jessica ke front row menghapus fotonya dari feed.
Pernyataan resmi HEALER singkat dan bersih.
HEALER menghormati proses hukum dan kesehatan publik. Kerja sama dengan Jessica Liem dihentikan karena pelanggaran klausul moral dan risiko reputasi.
Tidak ada kalimat menyerang. Justru karena tidak ada, pukulannya terasa lebih keras. Publik menyukai perusahaan yang tampak tegas tanpa terlihat kejam.
Di ruang rapat darurat, seorang investor sempat menuntut Keira mundur dari proyek karena memilih Jessica. Keira hanya memutar ulang potongan video saat Jessica menyebut Vanessa, lalu menunjukkan grafik penjualan pre-order yang naik setelah pernyataan HEALER keluar.
"Krisis reputasi milik Jessica," katanya. "HEALER hanya pihak pertama yang cukup tegas memutus tali."
Tidak ada yang membantah lagi. Dalam dunia bisnis, moral sering diperdebatkan. Angka tidak.
Tengah malam, nama Jessica Liem masih berada di puncak trending topic. Media menulis "jatuhnya bintang" sebelum polisi selesai memberi keterangan. Vanessa tidak muncul di depan umum, tetapi akun gosip mulai menghubungkan namanya dengan kalimat melantur Jessica. Rumah kaca yang dulu dipakai mereka untuk melempar batu mulai retak dari dalam.
Di ruang belakang yang sudah kosong, Kevin berdiri di depan tempat sampah logam.
Di telapak tangannya ada anting mutiara Jessica.
Ia menemukannya sebelum polisi menyita semua barang. Salah satu pengaitnya patah saat Jessica meronta. Pada permukaan mutiara itu, aroma samar yang tidak cocok dengan parfum komersial masih tertinggal. Kevin tidak butuh alat untuk memahami garis besarnya. Laporan stok lophophora di lab HEALER, botol kecil yang sempat ia lihat di tangan Keira, dan perilaku Jessica di panggung membentuk satu garis yang terlalu rapi.
Keira muncul di ambang pintu.
"Kamu seharusnya tidak di sini," katanya.
Kevin menatap anting itu. "Stok lophophora berkurang. Anting ini terlalu mudah menjadi bukti."
"Lalu?"
Kevin menjatuhkan anting ke dasar tempat sampah, menuangkan cairan pembersih keras dari meja housekeeping, lalu menyalakan korek kecil. Api biru pendek menjilat mutiara dan logam. Bau hangus tipis naik, bercampur sisa parfum mahal.
"Lalu tidak ada bukti."
Untuk pertama kalinya, wajah Keira berubah.
"Kenapa?"
Kevin menatap api kecil itu sampai padam. Tangannya sedikit gemetar. Di luar ruangan, staf HEALER masih mondar-mandir, menyelamatkan kontrak dan wajah perusahaan. Namun pria di depannya seolah tidak lagi berdiri di hotel, melainkan di depan pintu masa lalu.
"Safira..." Suaranya lebih rendah dari biasanya. "Dia baik-baik saja?"
Nama itu membuat udara ruangan berhenti.
Keira menatap Kevin, dingin, tajam. "Kamu kenal Fira?"
Kevin tertawa tanpa suara. Matanya memerah. "Aku mencari dia bertahun-tahun. Keluarga Surya pindah. Semua orang bilang dia sakit. Tidak ada yang mau memberitahu di mana."
"Siapa kamu untuk dia?"
Pertanyaan itu seperti pisau tipis.
Kevin menunduk. "Orang yang terlambat."
Keira tidak menjawab.
Kevin mengusap wajahnya dengan satu tangan, tetapi air mata tetap jatuh. "Aku dulu pikir aku punya waktu. Aku pikir setelah ujian, setelah ayahku berhenti mengawasi, setelah aku cukup berani... aku bisa datang. Lalu dia hilang. Semua orang tutup mulut."
Di luar, kru masih berlari. Di layar koridor, berita Jessica terus berputar. Dunia sedang merayakan kehancuran seorang aktris, tetapi di ruang kecil itu, ada luka lama yang tiba-tiba membuka pintu.
Kevin menatap Keira. Air matanya jatuh satu, diam, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu izin.
"Safira... dia masih hidup?"
Keira memandang pria di depannya. Sekutu baru atau risiko baru. Namun nama Safira di mulut Kevin tidak terdengar seperti rasa ingin tahu. Terdengar seperti doa yang patah.
"Dia masih bernapas," jawab Keira datar. "Tapi dia belum hidup selama delapan tahun."