Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Ruang yang Terlalu Putih
“Rumah sakit selalu memiliki dua pintu. Satu menjadi awal harapan, satu lagi menjadi awal kehilangan.”
--
Hujan turun begitu deras malam itu, butiran air menghantam kaca jendela rumah sakit tanpa henti, menyisakan suara gemuruh yang bercampur dengan langkah-langkah tergesa para tenaga medis di sepanjang lorong. Bau antiseptik memenuhi udara, menusuk hingga ke dada, seolah ikut mengingatkan bahwa tidak semua orang yang ke tempat itu akan pulang dengan senyuman.
Alina Maheswari berdiri membeku di depan ruang perawatan intensif. Tangannya dingin, bukan dingin karena cuaca atau pendingin ruangan, melainkan dingin yang lahir dari rasa takut yang memenuhi hati dan pikirannya.
Jemari Alina gemetar, napasnya terasa berat seolah seseorang sedang memeras paru-parunya dengan paksa. Tidak tahu apa yang sedang terjadi dibalik pintu, dan ia juga tidak tahu apa yang tengah dilakukan para dokter dan perawat terhadap kakaknya.
Beberapa meter darinya, tubuh Birendra Adhyaksa masih dipenuhi bercak darah yang bukan miliknya. Kemeja putih yang biasanya selalu rapih kini terlihat kusut, basah oleh hujan dan ternoda merah di bagian lengan serta dada.
Sejak menerima telepon tentang kecelakaan Keira, mereka bertiga berlari tanpa sempat berpikir apa pun. Alina bahkan masih mengenakan pakaian yang sama ketika mereka makan malam bersama beberapa jam sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya terasa kosong, ia tidak mampu membayangkan apa pun selain wajah kakaknya yang terus muncul di kepalanya. Malam yang seharusnya dipenuhi tawa, dan menjadi salah satu kenangan terindah berubah menjadi malam yang mengoyak segalanya.
Malam itu, Alina baru menyadari betapa rapuhnya hidup manusia. Beberapa jam yang lalu, ia masih duduk di meja makan seraya tertawa bersama Birendra dan ayahnya. Keira mungkin juga sedang tertawa di dalam mobil bersama Raka, membicarakan hal-hal sederhana yang bahkan tak akan mereka ingat esok hari.
Tidak ada yang menyangka bahwa tawa-tawa kecil itu akan menjadi kenangan terakhir sebelum semuanya berubah menjadi duka. Ia menatap pintu ruang tindakan yang tertutup rapat. Di balik sana, kakaknya sedang berjuang antara hidup dan mati.
Pintu ruangan tindakan akhirnya terbuka, seorang dokter keluar dengan langkah pelan seraya melepaskan masker yang sejak tadi menutupi wajahnya. “Keluarga pasien Keira Maheswari?” Alina langsung berdiri dan menghadang dokter yang baru saja keluar.
“Saya… saya adiknya, Dok.” Dokter itu menarik napas panjang.
“Pasien berhasil kami selamatkan. Tapi…” satu kata terakhir itu terasa lebih mengerikan dari pada suara petir yang mengguncang langit. “… suaminya tidak berhasil kami selamatkan.” Lanjutnya lagi.
Dunia mendadak menjadi sunyi. Alina tidak lagi mendengar hujan yang masih mengguyur deras di luar sana. Hendra menahan isak tangisnya hingga perlahan jatuh terduduk di kursi ruang tunggu, ia pun tak mendengar apa-apa seolah suara-suara itu tak sampai ke telinganya, yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang luas dan dingin.
Alina teringat wajah Raka saat berpamitan beberapa hari lalu. Senyum hangat pria itu, cara ia menggenggam tangan Keira, dan janji sederhana untuk pulang dengan selamat, kenangan itu datang bertubi-tubi, membuat dadanya semakin sesak.
Air mata Alina jatuh tanpa bisa ditahan, tubuhnya goyah dan Birendra segera memeluknya erat, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya dibahunya. “Aku disini,” bisiknya lirih. Kalimat sederhana itu biasanya selalu berhasil menenangkan Alina. Malam itu pun ia berpegangan pada suara tersebut seolah itu satu-satunya hal yang masih nyata di dunia yang baru saja runtuh.
Tangis Alina pecah tanpa suara, bahunya bergetar hebat, sementara jemarinya mencengkram erat kemeja Birendra seolah takut pria itu ikut menghilang. Birendra tidak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya membiarkan Alina menangis di pelukannya, membiarkan kesedihan itu keluar sedikit demi sedikit.
Setelah dokter pergi, seorang perawat datang meminta tanda tangan beberapa dokumen administrasi, Hendra berdiri dengan langkah yang terasa jauh lebih lemah dari beberapa jam sebelumnya.
Kini punggung Hendra sedikit membungkuk, tatapannya kosong, dan jemarinya bergetar saat memegang pulpen. Alina ingin membantu, tetapi kakinya seperti tertanam di lantai, ia hanya mampu memandang ayahnya dalam diam seraya terus menangis pelan.
Birendra mengambil alih beberapa berkas yang bisa ia bantu urus. Malam itu ia bergerak ke sana kemari seperti anggota keluarga sendiri, ia akan berbicara dengan perawat, mengurus administrasi, mengambil obat, hingga memastikan Hendra terpenuhi cairannya.
Melakukan semua itu tidak sedikit pun membuat Birendra mengeluh. Di sela kesibukan itu, pandangannya selalu kembali mencari Alina. Setiap kali mata mereka bertemu, Birendra mengangguk kecil seolah berkata bahwa ia masih ada disana, bersamanya. Namun semakin lama, Alina justru semakin takut, takut bahwa semua ini terlalu besar untuk mereka hadapi.
Beberapa jam kemudian, seorang dokter lain menghampiri mereka. “Pasien sudah dipindahkan ke ruang intensif. Kondisinya stabil, tetapi masih belum sadar.” Terang dokter tersebut.
“Apa kak Keira bisa di temui?” Tanya Alina dengan suara paraunya dan dokter dihadapannya hanya menggeleng pelan.
“Untuk sementara ini belum, kami harus memantau kondisinya terlebih dahulu.” Alina mengangguk lemah, setidaknya Keira masih hidup, dan ia masih punya kesempatan memeluk kakaknya lagi. Pikiran itu sedikit menghangatkan dadanya sejak tadi terasa beku.
Menjelang tengah malam, hujan mulai reda. Lorong rumah sakit menjadi lebih sepi, beberapa keluarga pasien tertidur di kursi tunggu, sementara lampu putih tetap menyala tanpa terkecuali. Hendra akhirnya tertidur dalam posisi duduk setelah kelelahan menangis dan berdo’a.
Alina berdiri di depan jendela panjang rumah sakit. Kota di luar tampak basah dan suram, lampu-lampu jalan memantul di genangan air seperti serpihan cahaya yang pecah. Birendra datang membawa secangkir teh hangat.
“Minum sedikit.” Alina menerima cangkir itu dengan kedua tangan, hangatnya merambat pelan ke jemarinya yang dingin.
“Aku takut,” bisiknya nyaris tak terdengar.
“Aku juga.” Balas Birendra yang kini menatap Alina dengan begitu lekat.
Alina menoleh ke arah Birendra, wajah pria itu tampak lelah, matanya memerah, dan noda darah di kemejanya masih belum dibersihkan. Tiba-tiba ia sadar bahwa Birendra pun kehilangan seseorang malam ini.
Raka bukan hanya kakak iparnya kelak, tetapi juga sahabat yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Tanpa sadar, Alina menggenggam tangan Birendra lebih erat.
Di dalam ruang intensif, mesin monitor berdetak pelan mengiringi napas Keira yang masih belum sadar. Wanita itu belum mengetahui apapun, dan belum tahu bahwa ketika membuka mata nanti, dunia yang ia kenal sudah tidak ada lagi.