Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Reyhan Mengajak Kembali, Tusuk Konde Kayu Itu Muncul Lagi
Arum mengenali Reyhan sebelum lelaki itu menyebut namanya.
Wajahnya lebih kurus daripada saat berangkat ke Jakarta, rambutnya lebih rapi, tetapi cara ia berdiri di tengah jalan masih sama. Seolah Arum pasti berhenti karena ia menunggu.
"Kamu akhirnya pulang," kata Arum.
"Aku pulang untukmu."
Jawaban itu membuat langkah Arum berhenti bukan karena haru, melainkan waspada. Ia menoleh ke gerbang yang berjarak puluhan meter. Dua petugas tampak di pos, cukup dekat untuk dipanggil.
"Kalau mau bicara, di sini saja."
Reyhan melirik gerbang. "Kita bahkan tidak bisa bicara tanpa diawasi Bara?"
"Ini pilihan saya."
"Kamu sekarang bicara seperti orang lain."
"Mungkin karena dulu saya tidak pernah diberi kesempatan bicara."
Reyhan menarik napas, berusaha tersenyum. "Aku tahu kamu marah. Surat Ibu juga banyak yang tidak masuk akal. Tapi aku sudah meninggalkan kuliah sementara dan pulang. Kita bisa mulai lagi."
"Mulai apa?"
"Rencana kita. Setelah keadaan Ayah selesai, aku akan bekerja. Kita bisa keluar dari Malang kalau kamu tidak nyaman."
Arum memandangnya dengan keheranan yang nyaris menyakitkan. Hartono ditahan karena santunan ayahnya, Yatmi diusir setelah delapan tahun menindasnya, dan Reyhan masih berbicara seolah masalah terbesar hanyalah tempat tinggal.
"Tidak ada rencana kita," ujarnya.
"Ada. Sejak kecil keluarga sudah sepakat."
"Keluarga sepakat. Saya tidak."
Reyhan merogoh saku dan mengeluarkan tusuk konde kayu. Benda kecil itu sudah kusam pada ujungnya, tetapi ukiran bunga masih terlihat.
"Kamu ingat ini? Aku memberikannya saat ulang tahunmu yang kedua belas. Kamu tersenyum sepanjang hari."
Arum tentu ingat. Saat itu tak seorang pun di rumah Prasetyo mengucapkan selamat ulang tahun. Reyhan pulang dari sekolah membawa tusuk konde murah dari pasar. Arum menyimpannya bertahun-tahun karena benda itu membuktikan ada satu hari ketika seseorang ingat ia dilahirkan.
Namun, rasa terima kasih seorang anak bukan janji untuk menyerahkan seluruh hidup.
"Saya tersenyum karena itu hadiah pertama yang pernah saya terima," katanya. "Bukan karena saya berjanji menikah dengan kamu."
Reyhan menggenggam tusuk konde. "Jangan bohong pada dirimu. Hatimu jelas masih ada aku."
"Tidak."
"Arum."
"Terhadap kamu tidak pernah ada rasa seperti yang kamu pikirkan. Saya berterima kasih karena dulu kamu kadang bersikap baik. Tapi saya tidak mencintai kamu."
Wajah Reyhan menegang. "Karena Bara lebih kaya? Karena dia bisa membelikanmu pakaian?"
"Karena dia mendengar ketika saya berkata tidak."
Kalimat itu mengenai tempat yang paling ingin Reyhan hindari.
"Aku juga mendengar. Aku hanya tahu kamu sedang bingung."
"Kalau begitu kamu tidak mendengar."
Reyhan menyodorkan tusuk konde lebih dekat. "Dulu kalau Ibu memarahimu, kamu selalu menunggu aku pulang. Kamu duduk di dekat jendela sampai malam. Jangan bilang itu bukan karena kamu butuh aku."
Arum mengingat jendela tersebut. Ia memang sering menunggu. Kadang Reyhan membawa buku bekas, kadang ia mengalihkan perhatian ibunya agar Arum bisa makan. Namun, lebih sering Reyhan pulang, menerima teh yang dibuat Arum, lalu pergi bermain tanpa bertanya mengapa matanya bengkak.
"Saya menunggu karena berharap ada satu orang yang mau bilang perbuatan mereka salah," jawab Arum. "Kamu tidak pernah mengatakannya."
"Aku masih anak-anak."
"Saya juga anak-anak. Tapi saya yang harus bertahan."
Reyhan membuka mulut, lalu menutupnya. Alasan yang selama ini terasa cukup mendadak terlalu kecil ketika disebut di depan orang yang menanggung akibatnya.
"Aku bisa menebus itu sekarang," katanya. "Aku akan melindungimu."
"Dari siapa?"
"Dari pembicaraan orang, dari Bara, dari semua kekacauan ini."
"Pak Mayor tidak pernah meminta saya mencabut keterangan atau berbohong untuk menyelamatkan keluarganya. Ibu kamu meminta kamu membawa saya pulang agar saya melakukan itu, bukan?"
Reyhan tersentak. Diamnya sudah menjadi jawaban.
"Saya tidak akan kembali ke tempat yang hanya menginginkan suara saya kalau suara itu menguntungkan mereka."
"Ibu sedang hancur. Dia tidak berpikir jernih."
"Lalu mengapa saya lagi yang harus membayar?"
Jalan kecil itu diterpa angin sore. Daun kering bergeser di antara kaki mereka. Reyhan menunduk pada benda kayu di tangannya, seakan sebuah hadiah murah dari enam tahun lalu masih mampu mengalahkan semua kalimat Arum hari ini.
Arum menunjuk tusuk konde di tangannya. "Bawa kembali. Saya tidak mau kenangan itu dipakai sebagai utang."
Ia hendak melangkah melewati Reyhan. Lelaki itu bergeser menutup jalan.
"Ayahku ditahan karena kamu. Ibu tinggal di rumah sempit. Setidaknya datang dan bantu kami menjelaskan."
"Ayah kamu ditahan karena bukti."
"Bukti yang dibawa orang Bara!"
"Satu aula melihat. Denpom yang memeriksa. Saya bahkan baru tahu uang Ayah ada setelah dibuka di sana."
"Kamu bisa bilang kamu memaafkan."
"Memaafkan bukan menghapus pemeriksaan."
Reyhan mendekat. "Kalau kamu ikut aku, kita bisa bicara sebagai keluarga."
"Kita bukan keluarga."
"Delapan tahun kamu tinggal bersama kami!"
Arum merasakan luka lama mencoba menariknya kembali menjadi perempuan yang menunduk. Ia menanam kedua kaki di tanah.
"Delapan tahun saya bekerja. Saya sudah membayar setiap piring nasi yang kalian hitung."
Beberapa orang di dekat gerbang mulai memperhatikan. Reyhan menurunkan suara, tetapi amarahnya justru lebih jelas.
"Kamu berubah setelah dekat dengan Mayor itu."
"Saya berubah setelah tahu saya boleh memilih."
"Kamu memilih lelaki yang hampir dua kali usiamu dan mengira itu cinta?"
Arum memandangnya lurus. "Apa pun perasaan saya kepada Pak Mayor, jawaban saya kepada kamu tetap sama. Tidak."
Reyhan mengulurkan tangan, mencoba meraih pergelangannya. Arum mundur cepat.
"Jangan sentuh saya."
"Kita pergi sebentar saja. Kamu perlu jauh dari pengaruh mereka."
"Lepaskan jalan."
Ia tidak menyentuh Arum lagi, tetapi terus menutup jalur menuju gerbang. Arum mengangkat suara.
"Petugas!"
Reyhan panik. "Kenapa harus membuatku seperti penjahat? Aku calon suamimu!"
"Bukan."
"Arum, pikirkan ibuku. Pikirkan semua tahun kita bersama."
"Saya sudah memikirkannya setiap hari selama delapan tahun. Sekarang saya memikirkan hidup saya sendiri."
Reyhan mengangkat tusuk konde itu di antara mereka. "Lihat baik-baik. Kamu tidak mungkin melupakan semuanya."
Arum menggeleng. "Saya tidak melupakan. Saya hanya berhenti menganggap sedikit kebaikan sebagai alasan untuk menerima seluruh luka."
Langkah berat terdengar dari belakangnya.
Reyhan menoleh. Warna mukanya berubah.
Mayor Bara berjalan dari arah gerbang dengan seragam lapangan, langkah kanannya sedikit lebih kaku setelah seharian berdiri di markas. Dua petugas berada beberapa jarak di belakang, tetapi tak perlu berlari. Tekanan di wajah Bara sudah cukup membuat jalan kecil itu mendadak sunyi.
Ia melihat tangan Reyhan yang masih menghalangi, tusuk konde di antara jari, lalu wajah Arum yang tegang.
Bara berhenti tepat di depan mereka.
Tanpa menyentuh siapa pun, ia mengambil satu langkah dan berdiri di antara Arum dan Reyhan.
Udara seolah kehilangan kehangatan.
Bara belum mengucapkan satu kata pun.