Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tim Redaksi Pusat Panik
BRUK!
Suara ponsel menghantam meja kaca sampai membuat layarnya retak.
“SUDAH SEBULAN ARKAN TIDAK KIRIM BERITA! GPS MATI! NOMOR NGGAK AKTIF!” bentak Pak Dirman.
Keringatnya jatuh sampai ke dasi. Kemeja putihnya basah di ketiak. Umur memasuki lima puluh tahun,. Tetapi pagi ini dia kelihatan seperti sudah berusia enam puluh tahun.
Ruangan redaksi mendadak hening. Tiga puluh wartawan, editor, desainer, semua berhenti mengetik. Yang terdengar hanya suara AC dan jantung mereka sendiri yang berdetak jauh lebih kencang.
"Mungkin kepincut gadis Kalimantan, dan lupa pulang. Soalnya kabar yang beredar, gadis Kalimantan itu cantik-cantik," celetuk Tania.
Sari langsung mencubit pinggang rekan kerjanya. Membuat Tania meringis kesakitan.
Sari, asisten redaksi usianya sudah menginjak dua puluh enam tahun, langsung buru-buru berdiri. Tangannya gemetar memegang map berwarna coklat.
“Pak... dia terakhir kirim draft jam 23.14 minggu lalu. Judulnya, ‘Menelusuri Kuyang di Pedalaman Kalimantan, Korban ke-lima, dan terus... Menghilang.”
Pak Dirman jalan mondar-mandir. Sepatunya berderit di lantai. “Isi draftnya mana?” tanyanya dengan kening berkeringat. Meskipun AC cukup dingin.
Sari membuka map. Suaranya pelan. “Cuma dua paragraf, Pak. Dia bilang sinyal susah.”
Sari membacanya dengan seksama.
“Desa ini ada di hulu Sungai Mahakam. Warga menyebutnya Kampung Batok Tenevang. Mereka bilang, setiap tiga puluh tahun, Induk Kuyang akan bangun dan meminta tumbal."
Pak Dirman merebut kertas itu. Meremasnya dengan kuat hingga membentuk bola kertas . “Ini! Ini yang membuat dia hilang! Arkan terlalu berani untuk masuk ke dalamnya!” rasa penuh ke khawatiran terpancar di wajahnya.
“Tim SAR gabungan sudah kita kirim 2 hari lalu, Pak. Lewat Samarinda. Tapi mentok di desa terakhir. Namanya Desa Long Melaham.” Sari menelan ludah. “Kepala desanya bilang... ‘Jangan cari orang ke hulu lagi. Itu kampung terkutuk. Siapa masuk, nggak akan bisa keluar."
“TAI KUCING!” Pak Dirman membanting kursi. “Ini 2026! Nggak ada istilah kampung terkutuk! Kirim helikopter! Kirim TNI!”
Kepala Keuangan, Pak Wawan, angkat tangan. “Pak, biaya helikopter ke pedalaman delapan puluh juta per jam. Belum izin terbang. Belum asuransi. Kita majalah, bukan TV nasional...”
“GUE NGGAK PEDULI!” Dirman menunjuk ke dinding. Di sana terpampang dua belas foto sampul 'Nusantara Misteri' selama sepuluh tahun. Semua ada wajah Arkan.
Arkan. Wartawan investigasi terbaik mereka. Rambut di potong rapih. Jaket lapangan lusuh. Dan memiliki dedikasi kerja yang kuat..
Julukannya 'Si Pemburu Hantu'. Dia yang bongkar kasus tuyul di pabrik Cikarang. Dia yang masuk kuburan massal di Aceh. Dia yang selamat dari tsunami di Palu sembari tetap live di akun instagramnya.
Dan sekarang... hilang karena mengejar berita Kuyang.
Sari menunduk. “Pak... ada satu hal lagi.”
“APA LAGI?!”
“Foto terakhir yang dia kirim. Lewat WhatsApp. Sebelum nomornya mati.”
Sari mencolok flashdisk ke layar besar.
Foto muncul di layar.
Arkan. Berdiri di pinggir sungai. Belakangnya hutan. Dia memakai headlamp, sembari tersenyum dengan mengangkat jempolnya.
Tetapi dua meter di belakangnya...
Ada bayangan.
Bukan bayangan Arkan.
Melainkan bayangan kepala dengan rambut panjang menjuntai. Lehernya putus. Ada usus menggantung. Dan matanya... menatap kamera.
Seisi ruangan menahan napas. Mereka menutup mulut dengan rasa penuh kengerian.
Editor Foto, Mas Dimas, berbisik: “Itu... diedit ya?”
“GUE YANG EDIT SENDIRI!” bentak Dirman. “Itu RAW dari kamera Arkan! Nggak ada editan!”
Dimas menutup mata. Menarik napas cukup panjang. Waktu ia membuka lagi, matanya merah menahan kesedihan.
“Dua puluh tahun saya membangun majalah ini. Kita menulis tentang mistis, menyajikan artikel kepada para reader hanya untuk menggaet pembaca tertarik. Tetapi kita nggak pernah percaya tentang hal semacam itu. Kita mencoba mencari fakta. Nah sekarang fakta nya datang menggigit balik.”
Dirman berjalan ke depan. Menghadap tiga puluh orang karyawannya. Wajahnya penuh kegelisahan. Ia merasa bersalah.
“Dengar ya. Arkan itu bukan cuma karyawan. Dia adik angkat saya. Bapaknya teman saya, dan meninggal di Timor-Timur. Saya yang biayain dia kuliah Jurnalistik. Kalau dia kenapa-kenapa...” Suaranya pecah. “...Saya yang gagal.” ia menahan bulir bening di sudut matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan karyawannya.
Mendadak suasana Hening.
“Jadi gini. Tim Dua diberangkatkan malam ini. Bukan SAR. Tim kita. Tim Nusantara Misteri,”
Dirman menunjuk karyawannya satu-persatu.
“Sari. Kau ikut. Kau yang paling paham risetnya.
Mas Dimas. Bawa drone thermal, kamera, dan alat rekam audio frekuensi rendah.
Pak Ustad Rohim. Dari Cianjur. Ahlinya ruqyah dan pagar gaib. Saya sudah bayar lima puluh juta.
Mbah Giyo. Dukun dari Banyumas. Katanya bisa lacak orang lewat nama dan foto.
Dan dua orang security. Bawa ini.”
Dirman membuka laci. Keluar dua pistol. Dan lima bungkus garam kasar, kelor, dan golok.
Ruangan tampak gaduh. “Pak, ini bahaya!”
“LEBIH BAHAYA KALAU KITA CUMA DIEM!” bentak Dirman. “Gue sudah telpon Kapolri. Katanya nggak bisa bantu tanpa koordinat pasti. Jadi kita cari sendiri koordinatnya.”
Dia balik ke meja. Menyalakan laptop. dan membuka peta Kalimantan.
“Titik terakhir GPS Arkan: 0°22'12.4"S 115°30'45.8"E. Tengah hutan. 40km dari Long Melaham. Di sana cuma ada sungai dan tebing kapur.”
Sari maju. “Pak, warga bilang tempat itu namanya _Makam Tua Tebing Kapur Batok Tenevang_. Tempat perjanjian darah dua ratus tahun lalu.”
Dirman terdiam cukup lama. Lalu dia mengetik sesuatu. Kemudian mengirim ke grup WhatsApp redaksi.
Isinya Transfer seratus juta.
Caption, [Untuk keluarga Arkan. Kalau selama tujuh hari kita nggak balik, uang ini buat ibunya.]
“Pak...” Sari mau protes.
“DIAM!” Dirman berdiri. Ambil jaket lapangan. “Saya ikut. Saya yang meminta dia ke sana. Saya yang akan tanggung jawab.”
Mas Dimas berbisik ke Sari. “Gila. Pak Dirman nggak pernah turun lapangan sejak tahun 2015
”Dia keras kepala," sahut Sari dengan berbisik.
****
Waktu memperlihatkan pukul sepuluh pagi.
Tim berkumpul di helipad gedung lantai atas sebanyak enam orang. tiga buah koper alat dan satu dus sesajen.
Sebelum naik ke atas helipad, Dirman berhenti sejenak. Ia menatap foto Arkan di dinding lobi.
Foto itu diambil tiga tahun lalu. Setelah Arkan selamat dari gunung meletus. Di belakangnya ada wartawan lain. Semua luka. Kecuali Arkan. Dia cuma tersenyum sembari memegang mic.
Di bawah foto ada tulisan, 'Berita tidak pernah mati. Wartawannya juga jangan'
Dirman mengelus frame itu. “Bertahan ya, Arkan. Abang jemput kamu. Kamu harus pulang dengan selamat, begitu juga dengan kita.”
Dimas bergegas menyusul ke helipad. Terdengar suara baling-baling
Helikopter lepas landas. Semua kru naik ke dalam helikopter.
darah nya di hisap sampai habis dan Dayang Sari jg mengkutuk wanita itu biar hamil dan anak nya mjd malapetaka 😱😱
apakah itu KK othot